Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 4 CHAPTER 18


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu berlarut-larut, dan enam bulan pun terlewati begitu saja.


Banyak kenangan yang sudah dilewati begitu saja memberikan memori kian berarti.


Kondisi Jasmine yang mengidap PCOS diketahui kedua mertuanya. Saat itu Celia dan Adnan dirembukkan bersama di ruang keluarga.


Jasmine dan Danieal pun lalu menceritakan perihal kondisi yang sebenarnya terjadi. Seketika itu juga Celia serta Adnan terkejut bukan main.


Terutama Celia yang begitu terpukul dengan rasa bersalah terus merundung nya. Rasa sakit merebak memberikan penyesalan begitu kuat.


Ia menangis dan menangis meminta pengampunan pada menantu perempuannya. Menyaksikan mertuanya seperti itu Jasmine ikut menitikkan air mata.


Mereka berpelukan erat dan menangis bersama. Keduanya juga saling minta maaf dan memaafkan.


Hubungan mertua dan menantu itu pun semakin membaik seiring berjalannya waktu. Jasmine serta Celia kerap bersama di manapun berada.


Bagaikan anak dan ibu kandung, keduanya bersama-sama ke manapun berada. Terkadang, Ayana pun sempat iri menyaksikan kebersamaan mereka.


Seketika itu juga Celia dan Jasmine bersama-sama ke rumah Ayana lalu memberikan banyak barang-barang pilihan keduanya. Namun, jauh dari lubuk hatinya paling dalam, Ayana sangat bersyukur bisa mendapati sang ibu juga kakak iparnya begitu akrab.


"Apa yang kamu inginkan? Apa kamu suka baju ini?" tanya Celia mengangkat salah satu abaya di toko langganannya yang berada di mall besar ibu kota.


Hari ini mereka kembali pergi bersama-sama lagi.


Jasmine yang tengah menemaninya berbelanja kebutuhan bulanan pun tersenyum singkat.


"Tidak apa, Mah. Aku baik-baik saja," balasnya.


"Tidak-tidak-tidak, kamu tidak boleh berkata seperti itu. Mamah mengajakmu berbelanja itu bukan untuk sekedar menemani saja... Mamah benar-benar ingin membelikan mu baju. Jadi, jangan menolak apa pun," balas Celia beruntun.


Jasmine lagi-lagi hanya tersenyum haru. Ia tidak terbiasa melakukan aktivitas tersebut dengan mertuanya. Karena selama lima belas tahun ia dikurung, tanpa diberi kebebasan.


Keluar pun hanya sekedar belajar dan itu juga didampingi pengawal agar ia tidak bebas pergi ke manapun.


"Bolehkah? Bolehkah aku melakukan ini? Maksudku... aku belum pernah melakukan ini sebelumnya. Karena... karena-" Jasmine tidak bisa melanjutkan ucapannya sendiri dan menangis begitu saja.


Celia yang mendapatinya seperti itu ikut terenyuh. Ia tahu masa lalu sang menantu. Begitu terjal, begitu runcing, jalan yang harus dilalui.


Seketika itu juga Celia langsung memeluknya erat. Jasmine semakin terisak dan membalas pelukannya tak kalah kuat.

__ADS_1


Seketika itu juga orang-orang yang ada di sekitar toko abaya tersebut memperhatikan keduanya. Ada yang heran, ada pula acuh tak acuh.


Namun, baik Jasmine maupun Celia sama sekali tidak mengindahkan hal tersebut dan terus saling berpelukan erat.


"Mamah sudah menganggap mu seperti anak sendiri, jadi jangan sungkan maupun malu pada apa yang hendak Mamah berikan, okay?"


Celia merenggangkan pelukannya singkat dan kembali memandangi sepasang iris keabuan sang menantu.


Jasmine yang mendengar hal itu dibuat terharu sekaligus senang bukan main.


"Aku minta maaf, Mah. Aku tidak bermaksud untuk seperti ini, hanya saja... hanya saja aku tidak pernah berada di posisi seperti ini. Karena... karena orang tuaku-" Jasmine terisak tak karuan, dan sibuk mengusap air mata tak berkesudahan.


Perasaannya semakin campur aduk, antara senang, sedih, menjadi satu.


Menyaksikan menantunya seperti itu, Celia kembali ikut menitikkan air mata. Ia melepaskan kedua tangan Jasmine dengan mencengkram pelan pergelangannya lalu menariknya pelan.


Ia menangkup wajah cantiknya hangat dan mengusap lembut jejak air mata di pipinya.


"Jangan menangis, Mamah mengerti apa yang kamu rasakan. Karena itu... Mamah minta maaf sudah menyakitimu kemarin-kemarin. Mamah sangat menyesal," ungkap Celia lembut.


Jasmine menggeleng singkat dan membalas tatapannya lagi.


"Aku juga... aku juga minta maaf, Mah. Karena aku tidak bisa memberikan keturunan untuk mas Danieal."


Lagi dan lagi Jasmine menangis sesenggukan. Ia tidak bisa menahan kepedihan dalam dada yang kian merangkak keluar. Ia masih saja merasa kecewa pada diri sendiri atas apa yang terjadi.


Meskipun keluarga besar sudah tahu keadaannya, tetapi Jasmine tidak bisa melupakan begitu saja kondisi tubuhnya.


Mendengar pengakuan tersebut Celia mengulas senyum simpul. Ia mengusap pelan pipi kemerahan sang menantu lembut.


"Jangan berkata seperti itu, apa pun yang terjadi kita akan sama-sama sebagai keluarga. Anak memang pelengkap dalam keluarga, tetapi... semuanya sudah menjadi hak prerogatif Allah semata. Jadi, jangan merasa minder ataupun rendah hati. Karena semua itu sudah Allah tentukan, baik dan buruk, suka maupun duka, mempunyai porsinya masing-masing."


"Mamah juga minta maaf pernah menanyakan kapan kalian punya anak dan menyuruh program hamil. Mamah benar-benar minta maaf," sesal Celia mengatakan maaf berulang kali.


Jasmine hanya menganggukkan kepala beberapa kali dan berusaha mengulas senyum. Mendengar perkataan sang ibu mertua perasaannya berangsur-angsur membaik.


Ia kembali memeluk Celia erat seraya mengatakan, "terima kasih banyak, Mah. Terima kasih." Hanya itu yang bisa Jasmine katakan juga.


"Sama-sama, Sayang. Jangan khawatirkan apa pun," balas Celia lagi mengusap puncak kepala berhijabnya lembut.

__ADS_1


Setelah melewati acara haru biru, mertua serta menantu itu pun melanjutkan belanja mereka. Celia serta Jasmine senang bersama-sama berbelanja ini itu melengkapi kebutuhan masing-masing.


...***...


Kebahagiaan tengah melingkupi perasaan Jasmine. Ia senang bisa menghabiskan waktu bersama sang mertua.


Sedari kepulangannya dari mall, ia melihat-lihat barang belanjaan dari Celia. Ia menyebarkannya di atas tempat tidur sembari bersenandung riang.


Danieal yang baru saja pulang dari rumah sakit mengerutkan dahi lebar. Sang istri tidak mengetahui perihal kepulangan suaminya.


Ia ikut mengembangkan senyum dan menutup pintu perlahan-lahan. Langkah demi langkah kaki jenjang itu mendekati satu sosok yang tengah membelakanginya.


"Apa yang sedang kamu lakukan, Sayang? Sepertinya sangat menyenangkan sekali."


Danieal memeluknya dari belakang sembari meletakkan dagu lancipnya di bahu sempit pujaan hatinya.


"Eh? Mas sudah pulang? Maaf, aku tidak sadar." Jasmine terkesiap seraya menolehkan kepala ke samping.


Secepat kilat Danieal menjatuhkan kecupan singkat di bibir ranum Jasmine. Sang empunya terbelalak lebar, tidak percaya.


"A-apa yang Mas lakukan?" tanyanya terkejut.


"Aku senang, kamu terlihat bahagia. Aku sungguh... sangat bahagia," ungkap Danieal, air mukanya cerah, ikut gembira.


Jasmine melepaskan pelukan suaminya lalu berbalik dan mengalungkan kedua tangan di leher jenjang pasangan hidupnya.


"Aku senang... karena aku bisa menikah denganmu, Mas. Terima kasih sudah menjadikanku istrimu dan mendampingi hidupmu sepanjang hidupku," kata Jasmine tulus.


Bibir keriting sang dokter melengkung sempurna. Rona merah merebak di kedua pipi hingga ke telinga.


"Maa syaa Allah, aku senang Sayang. Terima kasih sudah mengungkapkan perasaan mu." Danieal melingkarkan kedua tangan di pinggang ramping kekasih hatinya.


"Em, sekali lagi terima kasih," ungkap Jasmine kembali.


Danieal semakin melebarkan kedua sudut bibir. Ia semakin mendekatkan kepala ke wajah cantik kekasih hatinya.


Sedetik kemudian benda kenyal mereka saling menempel lalu tidak lama setelah itu permainan pun dimulai. Kepala keduanya saling bergerak ke sana kemari mengikuti keinginan masing-masing.


Pelukan keduanya saling mengerat satu sama lain. Danieal langsung mengangkat Jasmine dan membawanya ke tempat tidur.

__ADS_1


Ia meletakkannya perlahan dan semakin menjamah sang istri. Permainan pun terus berjalan seiring berjalannya waktu, menikmati kesyahduan kian bergelora.


__ADS_2