Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 76


__ADS_3

Senyum yang masih mengembang di wajah pucat Hana Tsubasa menjadi cikal bakal tali penyambung apa yang terjadi.


Ayana masih diam seribu bahasa memperhatikan ekspresi yang ada di wajah cantik itu. Ia terus memperhatikan mencoba mencari tahu apa yang sedang Hana pikirkan.


Setelah tahun berganti, ia tidak pernah menduga bisa bertemu kembali dengan seorang teman yang ditemuinya di rumah sakit.


Ia pikir Hana sudah sembuh dan mendapatkan keinginan terbesarnya.


Hana Tsubasa anak tunggal dari Bagus Prakasa mengidap skizofrenia sejak usia remaja.


Ia sering berkhayal secara berlebihan dan menganggap dirinya bak seorang putri kerajaan. Ia hidup dalam bayang-bayang semu yang berakhir menjadikannya sulit menerima kenyataan.


Saat bertemu Ayana di desa waktu itu Hana benar-benar bermimpi bisa menjadi sosok sepertinya.


Entah kenapa sikap Ayana yang murah senyum dan mudah akrab dengan siapa pun begitu menakjubkan.


Terutama ketika Danieal mengatakan jika Ayana adalah adiknya. Semua kebaikan yang menimpa wanita membuat Hana berang.


Ia terus berkhayal menjadi seorang Ayana hingga membuat kondisinya semakin tidak karuan.


Ia pun dipaksa dibawa pulang dari rumah sakit hendak dioper ke tempat lain. Di sana ia melanjutkan terapi sambil berusaha menjadi seorang pelukis.


Namun, setelah satu tahun kemudian terdengar kabar berhembus seorang pelukis pendatang baru bernama Ghazella Arsyad.


Hana pun semakin menjadi-jadi. Nama belakang pelukis baru itu sama seperti dokter yang pernah menanganinya.


Ia tahu, meski tidak melihat secara langsung bagaimana rupa pelukis tersebut Hana bisa menebak jika itu adalah Ayana.


Melihat anaknya yang uring-uringan tidak jelas dan semakin hari semakin terpuruk, Bagus mencari tahu tentang siapa itu Ghazella Arsyad.


Setahun, dua tahun berlalu, pencariannya membuahkan hasil. Jika sosok Ayana adalah istri sah dari Zidan Ashraf seorang pianis ternama yang sudah mengharumkan nama bangsa.


Namun, Ayana yaitu orang yang selama ini menjadi cikal bakal Hana memiliki mimpi terlampau tinggi.


Hana sering berbicara mengenai khayalannya sendiri dan terus membicarakan dirinya dalam posisi Ayana.


Ia mendapatkan penghargaan, dikenal banyak orang, serta karyanya sering dibeli oleh penikmat seni dengan harga fantastis.


Namun, nyatanya semua itu adalah milik Ayana. Orang-orang sekitar yang sudah tahu bagaimana keadaan Hana hanya maklum saja.


Semakin hari keadaan Hana semakin signifikan. Khayalannya bertambah parah membuat orang sekitar tidak tahu harus bagaimana menanganinya.


Sampai suatu waktu Hana keluar dari ruangan dan bertindak seenaknya. Ia melakukan apa pun yang dirinya suka tanpa mengindahkan keadaan sekitar.


Hingga kejadian tidak diharapkan datang menerjang membuat kedua kakinya tidak bisa digerakkan.

__ADS_1


Hana Tsubasa mengalami nasib malang membuatnya semakin terjebak pada kehidupan layaknya khayalan dan mimpi.


Ditambah dengan sang ibu meninggal dunia, kehidupannya terus menerus berantakan.


Melihat buah hatinya seperti itu Bagus mencari ide guna mengembalikan keadaan putrinya.


Setiap hari Hana terus berperan seperti orang lain, hanya satu nama yang bisa mengembalikannya yaitu Ayana Ghazella.


Itulah kenapa banyak lukisan berlogo sayap di pojok kanvas diberikan pada Ayana. Itu semua ulah dari Bagus Prakasa sendiri untuk memancing Ayana.


Setelah sekian lama takdir mempertemukan mereka lagi. Ayana bisa melihat sendiri seperti apa kehidupan Hana yang tidak bisa dibantah.


Perlahan kedua kakinya menghampiri Hana. Rasanya berat bagaikan ada besi berbentuk bola melingkar di pergelangan.


Setiap langkah yang ia ambil meneteskan buliran air mata kian menganak bagaikan sungai.


Tidak lama setelah itu Ayana berhenti tepat di samping Hana. Melihat kedatangannya, Bagus bangkit lalu undur diri.


Setelahnya Ayana menggantikan posisi tersebut, bersimpuh di hadapan Hana. Tangannya pun menggenggam jari jemari lemas teman masa lalunya.


"Hana? Apa kamu masih mengingatku? Aku... Ghazella. Kamu sering memanggilku Lala."


"Ghazella berarti puisi, kamu sering memberikan bait-bait kata yang mengundang nama kita berdua di dalamnya."


Ia mendongak menyaksikan sepasang iris berwarna cokelat terang beradu pandangan dengan miliknya.


Ayana mengulas senyum kala mendapati sedikit respon dari Hana.


"Kamu, tidak boleh terus terjebak dalam mimpi semu ini. Aku, kamu, kita semua mempunyai kehidupan masing-masing. Percayalah Tuhan akan memberikan kebaikan pada setiap hamba-Nya." Nasehat Ayana.


Hana masih diam seribu bahasa tidak ada niatan untuk menimpali kata-kata yang Ayana curahkan barusan.


Sang pelukis bagaikan melihat raga tanpa nyawa yang terus memandangnya lekat.


"A-yana?" Panggil Hana setelah beberapa saat berlalu.


Ayana mengangguk-anggukan kepala meyakinkan Hana jika itu memang benar dirinya.


"Ayana? Kamu Ayana? Kamu yang sudah merebut kehidupanku. Kamu telah membuat hidupku sengsara. Kamu-"


Hana menarik tangannya kasar beralih ke bahu Ayana dan mencengkeramnya kuat.


Tidak hanya sampai di sana saja, Hana bahkan menggoyang-goyangkan Ayana hingga sang empunya oleng.


Hingga tidak lama berselang pelukis berbakat itu jatuh sedikit keras membuatnya mengaduh kesakitan.

__ADS_1


Buru-buru Jasmine mendekatinya dan membantu sang adik ipar bangkit dari sana.


Melihat itu Hana semakin berang. Ia bangkit dari duduk dan hendak mendorong kedua wanita itu.


Pergerakannya seketika terbaca oleh Jasmine, hingga membuatnya mengangkat senjata dan ditodongkan pada Hana begitu saja.


"Hentikan! Saya mohon hentikan!" teriak Bagus menyaksikan perseteruan mereka.


Ayana dan Jasmine pun terkejut saat melihat Hana berdiri menggunakan kedua kakinya.


"Jadi, kamu? Kamu-"


"Iya, aku sudah sembuh. Dan aku... aku ingin melihat kamu hancur Ayana!" gertak Hana menarik pelatuk senjata api yang disembunyikannya di belakang punggung.


Namun, sebelum itu terjadi Jasmine lebih dulu meluncurkan tembakkan dan sedikit mengenai lengan sebelah kanannya membuat senjata api milik Hana terjatuh.


Sweater yang dikenakannya robek membuat wanita berlandang di bawah bibir melebarkan mata tidak percaya.


Begitu pula dengan Bagus, hampir berhenti bernapas menyaksikan seseorang hendak membunuh buah hatinya.


Jasmine menarik Ayana ke belakang punggung, melindungi adik iparnya yang tengah hamil menjauhkannya dari hal-hal yang tidak tidak diinginkan.


"Saya mohon! Jangan sakiti anak saya!" Bagus mengiba mengatupkan kedua tangan tepat di hadapan Jasmine.


Wanita itu memberikan tatapan nyalang seraya menyeringai lebar.


"Sungguh sangat ironi sekali. Bagaimana bisa pelaku pembunuhan keluargaku bisa mengiba meminta pengampunan pada korban? Apa Anda sama sekali tidak malu?" Jasmine terperangah, mengendus kasar tidak percaya.


Bagus terkesiap dan seketika menjatuhkan kedua kaki lemas nya.


"Saya benar-benar minta maaf. Saya hanya menjadi suruhan Tuan Alexa saja. Saya tidak bermaksud membunuh keluargamu," katanya membela diri sendiri.


"Semua sudah berlalu dan apa Anda pikir... saya akan percaya begitu saja? Apa Anda lupa saya menjadi saksi mata bagaimana kejamnya kelakuan kalian hari itu?" Jasmine semakin murka kala teringat kembali kejadian beberapa tahun silam.


Ia berjalan perlahan menghampiri Hana yang tengah gemetar ketakutan.


Dengan seringaian tajam Jasmine terus mendekat dan mendekat ke arahnya.


Kedua kaki ramping Hana perlahan mundur ke belakang hingga terantuk kursi roda membuatnya terdiam.


Jasmine tepat berdiri di hadapannya. Ia kembali mengangkat tangan kanan yang tengah menggenggam senjata api.


Tanpa gentar Jasmine meletakkan benda itu tepat di atas kepala Hana. Sontak saja perbuatannya menarik teriakan orang nomor satu di negara tersebut.


"Beginilah ayahmu melakukan aksinya pada hari itu!" ucapnya dingin penuh dengan intonasi rasa sakit.

__ADS_1


__ADS_2