Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 84


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, pagutan mereka terlepas menghasilkan saliva panjang membentang di antara kedua benda kenyal mereka.


Napas yang saling memburu menyapu permukaan wajah menawan masing-masing. Kehangatan kian melebur memberikan kenyamanan satu sama lain.


Semburat merah pun merembet dari pipi hingga telinga. Jejak-jejak kenikmatan kesyahduan begitu jelas memberikan ketenangan.


Sebelah tangan Zidan terangkat, mengelus pelipis kekasih hatinya, sayang.


"Aku tidak mau di antara kita membicarakan dia lagi."


Sorot mata serius memandang sepasang jelaga indah di bawahnya. Nada tegas berdengung membentuk ketegasan.


Lengkungan bulan sabit terpendar, Ayana memikirkan ide jahil untuk terus menggoda sang suami.


Ia tahu saat ini Zidan tidak main-main dan hal itu membuat Ayana semakin senang.


"Kenapa? Bukankah Mas dulu sangat mencintai dia? Tidak ada wanita lain, selain Bella."


Ayana dengan gencar menyindir secara gamblang. Zidan terperangah, tidak percaya kekasih hatinya begitu senang menjahilinya.


"Sayang! Aku mohon jangan pernah membahasnya lagi. Aku tahu... dulu aku sangat bodoh tidak melihat siapa yang benar-benar tulus tanpa memanfaatkan keadaan."


"Aku sangat menyesal. Jika waktu bisa diputar... aku berharap tidak pernah bertemu dengan dia."


Zidan mengalihkan pandangan, tidak kuasa menatap iris indah sang pujaan.


Ayana tercengang beberapa saat mendapatkan reaksi kekasih halalnya seperti itu.


Kenangan masa lalu hadir lagi bak kaset kusut yang seolah diputar secara paksa. Kesakitan, penderitaan, marah, kecewa, menjadi satu membentuk suatu penyesalan.


Ia pikir, tidak akan bisa bertemu dengan Ayana lagi dan memperbaiki segalanya. Namun, Allah Maha Sempurna dalam memberikan segala ketentuan.


Apa pun yang terjadi, itulah ketentuan terbaik dari Allah.


"Kamu tahu, Sayang?"


Zidan menjeda kalimatnya seraya beranjak dan duduk di atas tempat tidur. Ayana pun mengikuti hal sama masih memperhatikan pasangan hidupnya lekat.


"Dulu... Gibran sempat mencari mu ke mana-mana dan mengerahkan semua orang. Alhasil mereka menemukan barang-barang mu di sungai Desa X."


"Apa yang terjadi saat itu? Kenapa kita mendapati kamu meninggal dalam keadaan mengenaskan?"


Manik karamel Zidan berkaca-kaca mengingat lagi kenangan menyakitkan melanda diri. Namun, di balik itu semua ia masih memiliki rasa penasaran yang belum sempat terjawab secara nyata.


Ia sangat terpukul dan terpuruk saat orang-orang sang adik menemukan barang-barang Ayana serta jenazah dengan keadaan tidak dikenali.

__ADS_1


Mendengar itu Ayana mengulas senyum simpul penuh makna.


"Aku memang sengaja menyusun rencana itu. Karena aku berpikir kita sebaiknya tidak usah bertemu lagi. Lebih baik jika aku menghilang saja di dunia ini agar kalian bisa bersama tanpa bayang-bayang seorang Ayana."


Nada bicara sendu, sarat akan sebuah luka dalam terdengar jelas. Ayana berusaha menaham segala pengap dalam dada bagaimana rumitnya masa lalu.


Ia bersekongkol dengan Danieal untuk mematikan diri sendiri agar orang-orang yang mengenalnya mengetahui jika Ayana Ghazella sudah meninggal bersama kenangan menyakitkan.


"Kenapa harus sampai sejauh itu? Apa kamu tahu bagaimana terlukanya aku saat mengetahui berita mengejutkan itu terjadi?"


"Aku benar-benar terluka, Sayang. Sangat terluka, bahkan ayah, mamah, dan Gibran menyalahkan ku atas meninggalnya dirimu."


"Aku juga mengalahkan diri sendiri, sebab sudah membuatmu pergi. Aku minta maaf, Ayana. Aku benar-benar minta maaf."


Zidan mengiba kembali meminta pengampunan dari sang istri. Ia tahu kesalahannya begitu besar dan tidak mudah dilupakan begitu saja.


Air mata jatuh menetes menyesali segala perbuatannya di masa itu.


Zidan terlalu dibutakan oleh cinta dan mengabaikan seseorang begitu tulus dalam mencintai serta menyayanginya.


Ia mempertahankan seorang wanita yang hanya memanfaatkannya saja, tanpa melihat ke sisi lain. Penyesalan pun tiada guna jika tidak melihat Ayana lagi.


Namun, takdir serta benang merah masih berpihak pada mereka. Setelah satu tahun berlalu Ayana dan Zidan kembali dipersatukan hingga sekarang.


Cinta dan kasih sayang pun mengikat janji suci kembali dirajut, walaupun Ayana sempat ingin berpisah, tetapi ketegasan serta keseriusan Zidan dalam mempertahankannya membuat hubungan yang sempat redup, bersinar lagi.


Allah sebaik-baik perencana bagi setiap hamba. Ia tahu mana yang terbaik dan tidak, selagi dalam proses berkehidupan di dunia serahkan semua hanya kepada Allah semata.


"Maa syaa Allah... Allah begitu baik. Pada akhirnya Dia mempertemukan kita kembali. Aku sangat bersyukur dan bahagia."


"Aku tidak akan menyia-nyiakan mu lagi, Sayang," ungkap Zidan dengan lirih.


Liquid bening terus mengalir menandakan betapa lega serta bahagianya seorang Zidan kembali bertemu dengan sang istri.


Ia tidak akan lagi menyia-nyiakan wanita sebaik Ayana.


Melihat itu sang pelukis pun kembali tersenyum. Kedua tangannya terulur menangkup hangat pipi putih sang suami.


Ia mengusap air mata di sana lembut dan menariknya pelan lalu memberikan kecupan hangat di dahi tegasnya.


"Lihat aku!" Pinta Ayana.


Zidan pun mengangkat kembali pandangan, menatap iris jelaga menawan di hadapannya lagi.


"Terima kasih sudah meyakinkan ku untuk bisa bersamamu kembali. Hingga akhirnya kita mendapatkan si kecil lagi." Ayana sedikit melirik ke arah perut buncitnya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin membangun keluarga kecil dan bahagia, bersamamu. Sampai saat ini tiba, aku selalu bermimpi seperti itu, sejak awal... kita bertemu."


"Karena hanya kamu satu-satunya pria yang aku cintai."


Ungkapan perasaan terdalam yang begitu tulus tercetus, mencengangkan sanubari seorang Zidan Ashraf.


Ia tidak menduga dan menyangka mendengar sendiri jika sedari dulu Ayana menginginkan bersama dirinya membangun keluarga harmonis.


Namun, ia malah memberikan luka yang tidak bisa dihapuskan begitu mudah.


Sekuat apa pun ia mencoba untuk memberikan kebahagiaan, tetap saja kenangan menyakitkan akan selalu ada dan tetap sama.


"Aku benar-benar minta maaf," ucap Zidan lagi seraya memeluk tubuh sedikit berisi sang pasangan hidup.


Ayana mengangguk singkat di balik dada bidangnya sambil mengembangkan senyum lebar.


Ia membalas pelukan itu tak kalah erat dengan menghirup aroma menenangkan suami tercintanya.


"Aku sangat mencintai mu," kata Ayana lagi mengutarakan sebuah perasaan terdalam yang dulu selalu ada dalam hati.


Zidan kembali dibuat terkesima, terharu, tidak berdaya pada ungkapan begitu menenangkan dari wanita yang sempat dilukainya.


"Em, aku tahu. Aku juga begitu mencintaimu," balas Zidan memberikan kecupan-kecupan mendalam di puncak kepala sang pujaan.


Tiada yang paling membahagiakan selain dibalas dengan perasaan sama oleh orang terkasih.


Kisah yang semua terhenti kini kembali lagi pada muara terindah. Tidak ada yang tahu bagaimana misteri terjalin pada masa depan, kedatangannya menjadi sebuah puzzle membutuhkan potongan-potongan untuk menyusun susunan terbaik.


...***...


Istana putih masih dipenuhi dengan orang-orang yang berkerumun. Mereka menuntut atas penjelasan yang harus dilakukan Hana Tsubasa mengenai keterlibatannya dengan sang ayah.


Wanita berusia tiga puluh tahun itu masih terdiam di tempatnya sejak beberapa tahun lalu.


Semua bermula dari keegoisan sang ayah yang menuntutnya untuk diam tanpa menampakkan diri di manapun.


Bahkan ia sempat diungsikan ke daerah terpencil jauh dari jangkauan para awak media. Ia dituduh mempunyai penyakit mental skizofrenia yang mana hal tersebut adalah ide dari ayahnya langsung.


Bagus Prakasa, sosok orang tua selalu mendoktrin putri sematang wayangnya untuk tetap menjadi seperti yang diinginkannya.


Bak boneka dalam kuasa sang dalang, Hana hanya bisa diam tanpa bertindak apa pun. Karena ia tahu jika dirinya melakukan sesuatu maka ayahnya tidak segan-segan memberikan pelajaran.


Hana selama ini selalu bungkam tanpa menuntut apa pun. Bahkan mimpinya untuk menjadi pelukis harus kandas begitu saja.


Di kamar bernuansa kelam itu Hana memandangi orang-orang di depan kediamannya dalam diam.

__ADS_1


"Mau sampai kapan mereka di sini?" gumamnya pada keheningan.


__ADS_2