
"Jadi, kalian menyembunyikan kebenaran ini dariku?" tanya Ayana memandangi mereka satu persatu.
"Kami minta maaf, Ayana. Kami hanya ingin menunjukkan seberapa besar rasa cinta Zidan padamu," balas sang kakak menengahi.
"Itu benar, jadi kamu tidak usah ragu lagi untuk bersamanya," lanjut Bening kemudian.
Ayana menunduk memfokuskan atensinya hanya pada lantai marmer semata. Jantungnya masih berdegup kencang layaknya habis berlari berkilo-kilo meter jatuhnya.
Keempat orang itu pun saling pandang dan mengulas senyum lembut.
Setelah kericuhan terjadi beberapa saat lalu, Zidan dan Haidan berjalan mendekati orang-orang yang berada di tengah-tengah ruangan.
Ayana, Danieal, Bening, Haikal, dan Gibran pun menoleh kompak kedatangan kedua pria tersebut.
Sorot mata hangat menatap lekat pada sang pianis yang juga tengah memandanginya. Kini pasangan suami istri itu saling berhadap-hadapan menyelami keindahan masing-masing.
Ayana mendongak memandang ciptaan Allah yang satu ini.
"Kenapa Mas melakukan semua ini untukku?" tanya Ayana lembut.
Zidan menoleh pada orang-orang di belakang sang istri dan menyadari mereka sudah menceritakan semuanya pada Ayana.
Tangan kanan kekar itu terulur menangkup sebelah pipi sang pasangan.
"Karena, aku sangat mencintaimu."
Denyut jantung Ayana memompa begitu hebat. Detakannya sangat kencang membuat ia berkali-kali menarik napas dan menghembuskannya perlahan.
"Aku tidak bisa membiarkan pelaku yang sudah bertindak kurang ajar pada istriku terus berkeliaran. Aku tidak ingin melihatmu terus menerus kesakitan, Sayang," lanjutnya lagi.
Setetes air mata penuh haru mengalir di pipi Ayana dan dengan lembut Zidan menghapusnya. Ia kembali memberikan senyum serta tatapan hangat untuk sang pujaan.
Ayana terkesima dan terus menerus mengeluarkan air mata. Tanpa diduga ia pun melemparkan diri ke pelukan sang suami.
Ia menangis sejadi-jadinya di dada bidang pasangan halal.
"Terima kasih ... terima kasih banyak, Mas," ucap Ayana lirih.
Zidan semakin melebarkan kedua sudut bibir lalu membalas rengkuhannya tak kalah erat. Ia hanya bergumam "em" sebagai jawaban.
Bak drama televisi, kelima pasang mata itu menyaksikan langsung adegan romantis tepat di depannya. Mereka saling pandang kembali lalu tersenyum senang ikut lega dengan kembalinya pasangan menikah tersebut.
Selang beberapa menit kemudian Ayana dan Zidan melepaskan pelukan. Sang suami kembali menangkup kedua pipinya dan menghapus jejak air mata.
Ayana terkesiap dengan segala bentuk tindakan lembut yang dilayangkan prianya.
__ADS_1
Tanpa malu Zidan pun membubuhkan ciuman mendalam di dahi lebar Ayana. Sontak kejadian itu membuat kelima orang yang masih ada di sana berdehem pelan.
Mereka tidak menyangka melihat keberanian Zidan mengumbar kemesraan di depan orang lain.
Ayana pun tidak berbeda jauh, ia sangat sangat terkejut akan tindakan tiba-tiba suaminya.
Kini wajah putih itu merah padam bak kepiting rebus. Ia memukul pelan dada bidang Zidan membuat sang empunya mengeluh pelan.
"Kenapa kamu memukulku, Sayang?" tanyanya pura-pura kesakitan.
"Jangan bercanda, Mas harus lihat-lihat kondisinya." Ayana menahan malu, sekilas menoleh ke samping di mana rekan-rekannya berada.
"Tidak usah malu, Ayana. Suamimu hanya sedang mengekspresikan perasaannya saja," kata Bening menahan tawa.
"Itu benar, kami hanya bisa maklum," lanjut Danieal.
"Hm, seharusnya Mas tahu tempat juga." Gibran menguap berpura-pura mengantuk.
Zidan hanya mendengus pelan seraya memandangi mereka satu persatu. Setelah itu hanya ada gelak tawa bergema di sana.
"Terima kasih atas bantuan Anda." Ayana mencela mengalihkan topik pembicaraan seraya menatap salah satu pria di sana.
"Saya tidak menyangka Tuan Haidan adalah orang suruhan Mas Zidan," lanjutnya menoleh pada sang suami sekilas.
"Panggil saya Haidan saja, Nona muda. Saya adalah anak dari Dokter Abizar ... Dokter pribadi keluarga Ashraf," ungkapnya.
Kedua pria itu mengangguk mengiyakan. "Pantas saja aku seperti pernah melihat Anda," ucapnya lagi, mereka saling melempar senyum kembali.
"Kali ini saya akan pastikan Presdir Han bisa menerima balasan atas apa yang sudah dilakukannya," kata Haidan kemudian.
Ayana mengangguk dan menatapnya balik. "Saya mohon bantuannya."
"Saya juga mohon bantuan Nona muda untuk bersaksi," lanjutnya lagi.
Tanpa mengelak Ayana mengangguk kembali. Ia akan pastikan hadir menjadi saksi sekaligus korban yang bisa memberatkan pria tua itu.
Di tempat berbeda, Bella terpaku mendengar pemberitaan Presdir Han ditangkap beberapa saat lalu. Seluruh tubuhnya gemetar hebat menyaksikan tempat penangkapannya berada.
Tanpa menolak sedikit pun pria tua itu digiring oleh para pria berseragam menuju mobil polisi. Lensa kamera terus menyoroti wajah keriputnya tanpa ekspresi.
"Ba-bagaimana mungkin kejadiannya di mansion mas Zidan? Apa mungkin mereka sengaja menjebak Presdir Han? Apa jangan-jangan undangan itu sebenarnya adalah trik mereka saja?" tutur Bella yang menatap undangan tergeletak di atas meja.
Di saat ia hendak pergi memenuhi undangan tersebut, Bella mendapatkan berita itu. Ia pun mengurungkan niat untuk ke sana dan memikirkan cara agar dirinya tidak ikut terseret.
"A-aku harus bersembunyi," gumamnya bergegas pergi dari apartemen.
__ADS_1
...***...
Tujuh jam setelah Presdir Han digiring oleh pihak kepolisian, kini pria tua itu berada di ruang interogasi.
Ia tengah duduk berhadapan dengan seorang jaksa, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Haidan Abizar.
Pria berparas kharismatik dengan rahang tegas serta wajah kecilnya terbingkai kacamata bening semakin menambah pesona sang jaksa.
"Baiklah, Anda bisa memilih menjawab ataupun tidak pada pertanyaan yang akan saya ajukan," ucapnya memulai.
Presdir Han menatap lekat pria muda di hadapannya seraya melipat tangan di depan dada. Sebelah sudut bibir keriputnya terangkat perlahan kala melirik tanda nama di dada sang lawan bicara.
"Jaksa Haidan Abizar? Apa Anda tidak tahu bagaimana ayahmu di masa lalu?" ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Saya di sini tidak ingin membicarakan hal pribadi," jawabnya tegas mengundang gelak tawa pria tua itu.
"Oh sungguh mengesankan, kamu benar-benar anak Dokter Abizar. Tegas dan juga penuh percaya diri," katanya lagi.
"Nama."
"EH?"
"Nama?"
"Ah, Han Bose," jawab Presdir Han menyeringai.
"Apa yang sudah Anda lakukan selama bertahun-tahun ini benar-benar telah merugikan banyak orang. Tidak hanya itu, banyak para korban yang trauma bahkan sampai depresi. Apa Anda-"
Gebrakan meja memutuskan ucapan Hadian, sang pengusaha itu bangkit dari duduk dengan napas tersengal-sengal.
Ia menyangga tubuhnya di atas meja menggunakan kedua tangan. Kepala berubannya mendongak ke atas dan melihat ada kamera di sana.
Ia lalu mencondongkan badan, merunduk tepat di depan wajah Haidan. Mereka berjarak cukup dekat dengan sorot mata nyalang satu sama lain.
Presdir Han mengangguk-anggukan kepala sembari terus menyeringai. Hadian tanpa gentar membalas tatapannya tanpa berekspresi sedikit pun.
Ia sudah mengikuti banyak kasus yang dilakukan Han Bose selama ini. Ia sangat menyayangkan berkali-kali pria tua itu selalu lolos tanpa adanya penahanan.
Terlebih jika korbannya dari kalangan bawah, mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah pada keadaan. Karena kadang kala uang bisa membeli hukum dengan mengabaikan kondisi mental seseorang.
Mereka yang gelap mata hanya menerima uang suap dari sang penguasa tanpa mengindahkan keadaan sang korban.
Satu persatu kasus dibuka, Haidan yang sudah lima tahun menjabat sebagai jaksa ingin memberikan keadilan untuk mereka.
Beruntung ia bertemu dengan Zidan yang memintanya membuka kebenaran mengenai Presdir Han. Niatnya dan sang pianis itu sinkron hingga membuatnya langsung menerima tawaran tersebut.
__ADS_1
"Kali ini aku tidak akan membiarkanmu lolos. Sudah saatnya Anda beristirahat, Presdir Han," benaknya yakin.