Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 55


__ADS_3

Arfan mematung bak patung yang baru saja selesai di pahat. Setelah mendengarkan cerita mengenai Ayana, ia semakin merasa bersalah.


Secara tidak langsung ia ikut menyakiti Ayana atas permainan Zidan dan Bella pada masa itu. Ia meremas kedua tangan kuat menyalurkan amarah pada dua orang tersebut.


"Bagaimana bisa mereka begitu kejam? Aku tidak pernah menyangka jika Bella dan Zidan bisa setega itu pada Ayana? Bagaimana bisa seorang ayah membunuh calon anaknya sendiri? Aku benar-benar tidak habis pikir, dan kenapa juga aku harus terlibat di dalamnya?" Arfan meracau, menatap nyalang lantai di bawahnya, dan mengusap wajah gusar.


"Tidak ada yang patut disesali, semuanya sudah terjadi. Sebisa mungkin kita harus memahami keadaan Ayana jangan sampai dia merasa terkekang, terlebih pada ingatannya di masa lalu," balas Danieal yang juga tahu jika Arfan mantan kekasih Bella.


"Kamu pria yang baik. Keputusanmu untuk meninggalkan wanita itu adalah keputusan yang sangat baik. Semoga kamu bisa mendapatkan penggantinya," kata Celia menyemangati.


Arfan tersenyum hangat dan mengangguk singkat. "Terima kasih, Nyonya. Aku benar-benar menyesal sudah mencintai wanita ular itu. Aku pikir setelah dia berpisah dengan Zidan maka hubungan kami pun akan membaik, nyatanya semakin memburuk. Bella hanya memanfaatkan hartaku saja, dia ... lebih terobsesi pada karier semata."


"Apa? Zidan dan Bella sudah berpisah?" tanya Danieal terkejut.


"Apa kamu baru tahu? Mereka sudah lama berpisah, yah setahun yang lalu," balas Arfan lagi.


Danieal memalingkan wajah dan menatap lekat marmer di bawahnya. "Pantas saja akhir-akhir ini dia mengejar Ayana lagi. Apa mungkin dia kesepian atau benar-benar menyesal?"


"Kita tidak tahu niatnya seperti apa yang jelas ... kita harus mencegahnya bertemu Ayana," kata Arfan lagi.


"Mamah setuju, Ayana tidak boleh bertemu dengannya lagi," timpal Celia kemudian.


"Kalian tenang saja, aku tidak akan membiarkannya menemui Ayana lagi. Bahkan hari ini Ayana sudah mendapatkan surat perpisahan. Dia ingin resmi bercerai dari Zidan," ungkapnya.


Arfan dan Celia terkejut mendengar hal itu. Mereka tidak mengatakan apa pun dan berharap keputusan Ayana bisa membuatnya menjadi lebih baik.


Di lantai atas, Ayana mulai membuka kelopaknya lagi. Rasa perih menjalar di pergelangan tangan kanan membuatnya mengangkat pelan dan melihat ada infusan terpasang di sana.


Ia menghela napas berat dan menutup matanya kembali menggunakan lengan kiri. Tanpa sadar air mata mengalir membasahi hijab yang tengah di kenakannya.


Perasaannya sudah berangsur-angsur membaik dari tadi. Ia bisa mengendalikan dirinya lagi dan tidak terbawa suasana.

__ADS_1


"Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan?" gumamnya lirih.


...***...


Pagi menjelang, cuaca sangat cerah hari ini. Langit biru membentang luas dengan awan berarak serta matahari bersinar terang.


Ayana yang tengah menikmati sarapan disuapi oleh sang ibu sambung pun dikejutkan dengan kedatangan seseorang.


"Kamu sudah sadar?" tanya suara serak itu.


Ayana dan Celia menoleh ke arah pintu mendapati Arfan tengah melipat tangan di depan dada seraya bersandar di ambang pintu. Senyum menawan tercetus semakin menambah ketampanan.


Ia lalu berjalan mendekat dan menyalami tangan Celia lembut. "Bisa aku yang menyuapinya, Mah?" pintanya hangat.


Celia yang semalam meminta Arfan untuk memanggilnya Mamah pun mengangguk. Ia menyerahkan semangkuk bubur pada pria itu dan beranjak dari kursi.


"Mamah siapkan dulu buah-buahan untukmu yah," katanya sembari mengelus pelan pipi pucat putrinya.


Meskipun demikian mereka membiarkan pintu terbuka dan banyak para asisten rumah tanga hilir mudik di sekitar.


"Terima kasih untuk semalam," kata Ayana memulai pembicaraan.


Arfan yang hendak menyendok bubur pun terhenti seketika. Kepala bulatnya mendongak mendapati sepasang manik bulan menatapnya lekat.


"Ah, itu ... tidak apa-apa Ayana. Justru aku yang meminta maaf sudah menyentuhmu tanpa izin. Aku panik saat mendapatimu pingsan di jalan," katanya menyesal.


Ayana menggeleng pelan lalu memalingkan wajah. Ia memandang lurus ke depan di mana ada televisi LCD berukuran besar di sana. Ia melihat pantulan dirinya yang begitu menyedihkan.


"Aku yakin kamu sudah mendengar semuanya semalam. Bukankah aku sangat menyedihkan? Aku datang pada orang yang sudah menghancurkan hidupku. Sungguh sangat menyedihkan sekali, aku gagal menjadi wanita kuat," racau Ayana.


Arfan meletakan mangkuk bubur yang tinggal setengah itu di atas nakas sebelahnya. Ia lalu menatap Ayana yang masih berada di posisinya.

__ADS_1


"Tidak Ayana, kamu salah. Kamu bukan wanita yang menyedihkan justru ... kamu wanita yang luar biasa. Kamu mampu melawan rasa sakit itu dengan datang kepada sumbernya."


"Kamu wanita menawan dan tangguh. Tidak perlu menjadi kuat untuk menjalani semuanya sendiri, sebab kita punya Allah. Allah maha kuat yang akan menjaga kita," balas Arfan menarik atensi Ayana.


Kepala berhijab itu menoleh ke samping melihat sorot mata hangat di sana. Kata-kata yang baru saja didengarnya pun menyadarkan.


"Yah, Mas benar. Aku terlalu terbawa suasana dan berpikir pesimis seperti ini," ungkapnya memaksakan senyum.


"Bagus kamu harus tetap tersenyum dan buktikan pada mereka jika ... kamu mampu berdiri dari rasa sakit yang mereka berikan."


"Jangan tunjukkan kelemahanmu lagi. Aku senang melihatmu yang tangguh dan tidak gentar dalam menghadapi masalah, terutama pada saat berhadapan dengan Bella," kata Arfan lagi.


"Bella dan Zidan sudah berpisah satu tahun lalu. Mungkin tujuannya mendatangimu-"


"Apa? Mereka sudah berpisah?" Serobot Ayana cepat.


"Itu benar, mereka sudah resmi bercerai satu tahun yang lalu," jelas Arfan lagi.


Ayana mematung tidak percaya dengan informasi yang baru saja didapatkan. Ia tidak menyangka jika wanita yang selalu dibangga-banggakan Zidan dilepaskannya begitu saja.


"Aku dengar Zidan sudah tahu kenapa Bella menikahinya. Wanita itu memanfaatkan kepopuleran Zidan semata untuk mendongkrak popularitasnya di dunia musik," ungkap Arfan lagi.


Ayana hanya mendengus pelan lalu menoleh ke samping kiri di mana jendela besar itu memperlihatkan pemandangan luar.


Secercah cahaya ia dapatkan kala mengetahui jika Zidan sudah berpisah dengan Bella. Ia ingin tertawa sekencang-kencangnya tetapi diurungkan, sebab tidak baik tertawa di atas penderitaan orang lain.


"Apa karma tengah menari dalam kehidupannya sekarang? Tidak, balasan atas apa yang dilakukan mereka tengah mendatangi. Ya Allah hamba hanya memasrahkan semua masalah ini pada-Mu semata. Serta bantu hamba untuk benar-benar ikhlas memaafkan mereka. Berikanlah kebaikan pada keduanya," monolognya dalam benak.


Tidak akan ada pelangi sebelum datangnya hujan. Tidak akan ada senyum tanpa tangisan. Baik dan buruk mempunyai waktunya untuk datang.


Sabar serta yakin jika Allah pasti memberikan yang terbaik selepas kepedihan. Kehilangan itu wajar, sebab apa yang berada dalam genggaman bukan milik kita seutuhnya.

__ADS_1


Menangis itu wajar, sebab ada rasa sesak yang harus dikeluarkan. Setelah itu sambut hari yang baru dengan senyuman.


__ADS_2