Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 4 CHAPTER 27


__ADS_3

Keluarga kadang kala menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan, tetapi tak jarang juga menjadi tempat pertama yang menyuguhkan luka terberat.


Bahkan trauma dan depresi seorang anak, bisa berasal dari keluarga.


Dari setiap kejadian hadir di dalam kehidupan, sudah pasti memberikan satu pelajaran. Jika apa pun yang terjadi hadapi dan sabar ketika menjalaninya.


Karena Allah tidak akan terus menerus membiarkan hamba-Nya terpuruk begitu saja.


Laa tahzan innallaha ma’ana “Janganlah bersedih, karena sesungguhnya Allah bersama kita.” (Q.S. At-Taubah: 40)


Tujuan dari ayat di atas adalah sebagai penghibur bagi setiap hamba jika Allah tidak akan membiarkan siapa pun larut dalam kesedihan.


Allah sudah mengatur dan memberikan skenario terbaik bagi masing-masing hamba.


Karena ketika Allah memberikan ujian serta cobaan, itu tidak lepas dari kemampuan hamba-Nya sendiri. Pada saat ditimpa kesedihan teramat dalam sabar dan ikhlas lah dalam menjalaninya, sebab Allah ingin memberikan yang terbaik.


Husnuzan adalah sikap yang harus dimiliki oleh setiap hamba, yang percaya pada setiap ketentuan dari Allah.


Dalam diri Ayana Ghazella, tercetus rasa syukur yang tidak bisa diukur. Hari-hari yang dijalaninya sekarang menyuguhkan suka cita kian mendera.


Rasa sakit yang pernah dialaminya dulu, bagaikan tidak terjadi sama sekali. Namun, diberbagai kesempatan masa itu kadang muncul sebagai pengingat agar ia tidak terlena pada kelimpahan rahmat yang telah Allah berikan.


Hari ini tepat, Ghazali dan Ghaitsa berulang tahun ke satu. Di mansion Zidan dipenuhi dengan jejak pertumbuhan mereka.


Mulai dari foto-foto, mainan, sampai karya anak kembar tersebar di sana-sini. Ayana dan Zidan sepakat untuk lebih mengutamakan pendidikan agamais kepada mereka.


Dari masih di dalam kandungan, Ayana maupun Zidan selalu memperdengarkan buah hatinya murotal Al Qur’an. Sampai di usia mereka menginjak satu tahun, Ghazali dan Ghaitsa senang ketika melihat kedua orang tuanya melakukan ibadah.


Anak-anak mereka juga selalu menirukan gerakan-gerakan orang tuanya. Ayana dan Zidan sangat bangga jika putra-putrinya sudah mengenal gerakan salat.


Di samping itu, bakat alami keduanya pun sudah terlihat. Orang tua mereka yang berkecimpung di dunia seni mengalirkan darah kuat pada anak kembar tersebut.


Ghazali lebih senang bermain dengan peralatan lukisan sang ibu, sedangkan Ghaitsa selalu gembira ketika ayahnya memperdengarkan musik klasik.


Orang tua Zidan maupun Ayana sempat mengatakan buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya. Peribahasa tersebut terlihat jelas bagi kedua cucu mereka.


Mansion Zidan disulap dengan dekorasi-dekorasi hangat bernuansa biru dan pink. Balon-balon tersebar di sana sini dengan berbagai macam jenis boneka juga turut menghiasi.


Satu persatu tamu undangan berdatangan ikut memeriahkan pesta syukuran ulang tahun si kembar.


Dari sekian banyak orang yang hadir, Ayana menunggu kedatangan sang kakak ipar. Di saat batang hidungnya muncul ia bergegas mendekat.


“Jasmine, maa syaa Allah, apa ponakan ku baik-baik saja?” tanyanya langsung seraya mengelus pelan permukaan perut besar kakak iparnya.

__ADS_1


“Alhamdullilah, keponakanmu baik-baik saja. Kata dokter kita hanya menunggu waktu lahiran saja,” balas Jasmine mengembangkan senyum.


“Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. Syukurlah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Ayana mengelus lembut lengan Jasmine pelan.


Sang empunya mengangguk singkat dan melengkungkan bulan sabit sempurna.


Tidak lama setelah itu sang kakak hadir langsung merangkul istrinya, mesra.


“Apa yang kalian bicarakan? Sayang… apa adikku tidak memajak mu, kan?” tanya Danieal, menggenggam dagu sang istri dan menolehkan nya ke samping.


“Apa yang Mas katakan? Aku tidak akan meminta apa pun dari Jasmine, tetapi sebaliknya… aku minta kado untuk keponakan-keponakan mu.” Ayana menengadahkan tangan kanan ke hadapan Danieal.


Dokter menawan itu melebarkan pandangan, tidak percaya.


“Apa? Kamu bisa-bisanya-“ Danieal mengusap wajah gusar begitu saja.


“Aku tidak mau tahu, pokoknya Mas harus memberikan kado terbaik untuk mereka,” tegas Ayana membuat Jasmine tergelak.


Di tengah celotehan mereka, Zidan dan Gibran pun mendekat. Keduanya menggendong Ghazali yang tengah mengenakan jas formal, sedangkan Ghaitsa mengenakan abaya lengkap dengan hijabnya.


Jasmine tidak kuasa membendung kebahagiaan kala menyaksikan kedua ponakan kembarnya.


“Maa syaa Allah, mereka imut-imut sekali.”


“Ya Allah, Sayang kamu sedang hamil. Perhatikan sikapmu.” Ingat Danieal, Jasmine pun kembali terkekeh seraya menoleh ke belakang.


“Benar apa kata Ayana, Mas harus memberikan kado terbaik untuk mereka,” ungkap istrinya langsung.


Jasmine pun memberikan kecupan di masing-masing pipi Ghazali maupun Ghaitsa.


“Cantik, Tante Jasmine,” kata Ghaitsa dengan celotehannya yang belum beraturan.


“Cantik, Jasmine Tante,” lanjut Ghazali yang semakin membuat Jasmine kegirangan.


“Anak-anak saja tahu, aku cantik.”


Heboh ibu hamil satu ini membuat Ayana dan Danieal ikut tergelak senang.


“Kalau begitu kita mulai acaranya, ustadz nya juga sudah datang,” ajak Zidan dijawab anggukan oleh mereka.


Lantunan demi lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an bergema ke segala penjuru mansion. Zidan dan Ayana pun mengundang anak-anak yatim piatu untuk mendoakan putra-putrinya.


Di samping itu keduanya juga ingin berbagi kebahagiaan kepada anak-anak kurang beruntung tersebut. Ayana serta Zidan mencurahkan kasih sayangnya juga pada mereka agar bisa merasakan kehangatan keluarga.

__ADS_1


Di tengah kebahagiaan tersebut, Raima selaku putri angkat pertama mereka ikut memeriahkan. Ia yang sudah berusia tiga tahun memiliki aura sama seperti Ayana.


Anak itu tidak lepas dari ibu sambungnya dan terus berada di dekat Ayana. Sang pelukis yang kini sudah mempunyai tiga orang anak itu pun semakin bertambah bahagia.


Namun, Raima tidak selamanya tinggal bersama mereka. Kadang kala anak itu menginap di rumah ibu maupun ayah kandungnya.


Setelah itu mereka mengantarkan Raima lagi ke mansion Zidan.


Selama satu tahun ini, Ayana serta Zidan bekerja keras dalam memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka.


Beberapa saat doa selesai dipanjatkan, mereka pun makan bersama. Ghazali dan Ghaitsa yang menjadi peran utamanya hari ini nampak gembira.


Keduanya berbaur dengan anak-anak lain dan membagikan kebahagiaannya bersama mereka.


Di tengah suka cita mendera tiba-tiba saja Ayana, Zidan, terutama Danieal dikejutkan dengan keadaan Jasmine.


Wanita itu berteriak kesakitan dan melihat cairan mengalir dari selangkangannya.


“Sepertinya ketuban Jasmine sudah pecah, dia akan melahirkan. Cepat Mas bawa dia ke rumah sakit!” titah Ayana panik.


Tanpa mengatakan apa-apa, Danieal langsung menggendong sang istri menuju mobil. Tidak lama setelah itu keduanya meninggalkan pekarangan mansion adiknya dan bergegas ke rumah sakit.


Ayana dan Zidan pun menyelesaikan syukuran anak-anak mereka terlebih dahulu, kemudian menyusul pasangan itu ke rumah sakit.


Di ruang kandungan, Jasmine berbaring di atas brankar. Ia mengalami kontraksi dan sudah pembukaan lima.


Dokter Binatang yang sudah mengambil alih Jasmine pun bertindak tegas dalam melakukan prosedur melahirkan bagi pasien PCOS.


Danieal setia berada di sampingnya, menggenggam kuat tangan sang pujaan.


“Tida apa-apa, kamu pasti bisa berjuang untuk melahirkan buah hati kita. Tenang saja, tidak usah khawatir, aku berada di sisimu, Sayang.” Danieal memberikan kecupan di dahi tegas sang istri.


Jasmine yang tengah mengalami kesakitan hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Ia tidak mengatakan apa pun selain merintih.


Dari arah luar, Ayana, Zidan, dan beberapa anggota keluarga lain menyaksikan adegan tersebut.


Ayana yang pernah berada di posisi itu ikut merasakan. Di dalam hati ia terus berdoa agar Jasmine tidak mengikuti apa yang menimpanya.


“Ya Allah, selamatkan lah bayi dan ibunya. Ya Allah semoga Jasmine tidak mengalami apa yang sudah hamba alami. Jangan sampai Jasmine mengalami pendarahan sampai koma. Hamba mohon jaga mereka, ya Rabb,” benak Ayana terus berharap tanpa henti berdoa.


Semua orang nampak tegang, mengingat Jasmine ada riwayat PCOS di dalam ovariumnya. Mereka sama-sama berdoa agar ibu serta buah hatinya bisa selamat tanpa ada kendala apa pun.


Mereka ikut tegang apa yang tengah Jasmine rasakan.

__ADS_1


__ADS_2