
Kemelut dalam bayang masih menari indah di atas kepala. Antara yakin dan tidak, hal tersebut memberikan ketidakpercayaan.
Zidan membungkam mulutnya rapat menyaksikan dan mendengar sendiri penuturan wanita bernama Ghazella ini.
Zidan ingin mengakui jika sang lawan bicara adalah orang lain, tetapi hatinya mengatakan dengan jelas wanita di hadapannya ini istri yang sudah ia sia-siakan.
Tanpa sadar ia menggumamkan kembali nama Ayana membuat sang empunya menoleh. Tatapan serius penuh mengintimidasi itu pun memandanginya lekat.
"Ah, maaf aku tidak bermaksud-"
Ayana bangkit dari duduk hingga membuat kursi kayu itu terjengkang ke belakang. Kedua tangan mengepal kuat seraya melangkahkan kaki mendekat. Mereka saling berhadap-hadapan di bawah cahaya bulan.
"Saya tidak ingin mendengar nama itu lagi. Bukankah sudah saya peringatkan jika Anda menyebutkannya lagi ... saya tidak mau melihat Anda di sekitar saya!" tegas nan lugas, Ayana mengucapkan perkataan telak.
Sebelum mendengar jawaban Zidan, ia langsung pergi setelah memberikan delikan tajam. Hawa dingin menyapa menyadarkan sang pianis atas kesalahan yang sudah diperbuatnya lagi.
Buru-buru ia menyusulnya dan menggenggam pergelangan tangan ramping itu kuat. Seketika Ayana mendongak membuat pandangan mereka saling bertubrukan kembali.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku ... aku tidak sadar sudah menyebutkan nama itu. Ghazella ... iya Ghazella, maukah kamu memaafkan ku?" pinta Zidan penuh harap.
Ayana menghempaskan tangannya kasar. "Maaf kita tidak bisa bersentuhan," gertaknya.
Zidan kembali tersadar atas kecerobohan dan mengucapkan maaf berulang kali. Ayana melipat tangan di depan dada masih memperhatikan sang lawan bicara.
"Apa yang sudah Anda lakukan pada dia? Sampai-sampai Anda terus menganggap saya seperti dia," ucapnya dingin nan tajam.
Helaan napas berat terdengar memilukan. Zidan mengusap wajah gusar lalu memijit pangkal hidungnya pelan.
Ia menengadah melihat langit malam yang begitu indah. Bibir menawannya melengkung sempurna dengan air muka kesedihan.
__ADS_1
"Aku sudah melakukan kesalahan yang sangat-sangat fatal. Aku ... menyakitinya berulang kali bahkan-" Zidan tidak sanggup menyelesaikan ucapannya saat air mata keluar dengan sendirinya.
"Aku minta maaf." Ia berujar lirih seraya sibuk mengusap cairan bening itu kasar.
Ayana terperangah tidak percaya. Tepat di depan mata kepalanya sendiri pria yang dulu pernah menorehkan luka teramat dalam memperlihatkan sisi lemah.
Ia melepaskan tautan tangannya dan mengepalkan jari jemari kuat. Tidak ada tatapan iba maupun kasihan di wajah cantiknya, yang ada hanyalah kekesalan.
"Aku memang tidak pernah menyesal sudah jatuh cinta dan bersanding denganmu. Namun, bisakah kamu merasakan bagaimana sakitnya cinta yang dikhianati saat perasaan itu dijaga dengan sepenuh jiwa? Betapa hancur hati ini melihatmu bermesraan bersama wanita lain tepat di depan mataku? Terlebih saat kamu terang-terangan membunuh anak kita."
"Bila saja ... bila saja rasa ini berpihak padamu dan aku yang melakukan itu ... apa kamu masih bisa bertahan? Aku hancur ... aku hancur Mas ... aku benar-benar hancur. Enam tahun jatuh cinta sendirian, nyatanya hanya berakhir tragis. Jangan memperlihatkan kesedihan padaku. Karena aku muak melihatnya dan ... aku tidak peduli." Ayana terus meracau dalam diam menyaksikan keterpurukan seorang Zidan.
Depresi pria itu kembali lagi membuat napasnya terasa sesak. Ia berusaha mengambil pasokan oksigen sebanyak-banyaknya sambil mencengkram dada sebelah kiri kuat.
Ayana hanya berdiri diam menyaksikan Zidan sudah jatuh terduduk di atas rumput. Deru napas sang pianis pun menandakan apa yang sudah dialaminya selama ini.
"Astaghfirullah, ada apa ini?" Suara sang kakak menginterupsi.
Danieal membantu Zidan agar mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia terus mengulanginya berkali-kali hingga membuat perasaannya menjadi lebih baik.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Ayana pergi begitu saja. Danieal menyaksikan sosoknya menjauh dengan tersenyum simpul.
...***...
Sendiri, menyepi, hampa, dan kosong, bukan menjadi hal asing lagi bagi Ayana. Ia duduk seorang diri di sofa besar seraya menggenggam segelas teh hangat.
Gaun besarnya menutupi sebagian sofa membuat ia sedikit terbenam. Ia menggulir-gulirkan gelas di genggamannya menyaksikan cairan keruh itu dalam diam.
"Zidan mempunyai riwayat depresi dan halusinasi. Aku tahu kondisi tersebut masih belum lama disembuhkannya. Seperti sekarang, kondisi mental yang tidak stabil bisa membangkitkan depresi itu lagi," kata Danieal berjalan mendekat.
__ADS_1
Ia lalu bersandar di kayu pembatas antara jendela besar dan ruangan. Ia berdiri tepat di sebelah adik angkatnya memandangi Ayana seraya melipat tangan.
Wanita berhijab itu acuh tak acuh menopang dagu di sandaran sofa. Ia menyesap tehnya singkat tanpa sekali pun memandangi sang kakak.
"Oh begitu, aku turut prihatin untuknya," kata Ayana dingin.
Danieal terkekeh pelan lalu mendongak melihat langit-langit ruangan. Ada lampu besar menggantung di tengah-tengahnya, lorong panjang itu menghubungkan tempat pesta.
Masih terdengar hiruk pikuk tamu undangan yang terus bercengkrama satu sama lain. Kemegahan serta kemewahan tercetak jelas di mansion keluarga Arsyad.
Sejak kecil Danieal hidup dalam kemewahan. Namun, orang tuanya tidak pernah memanjakan kedua anak mereka.
Lina dan Aidan menginginkan Danieal serta Eliza menjadi anak mandiri, bisa mengandalkan diri sendiri.
"Sudah banyak kejadian yang terjadi dalam satu tahun terakhir ini. Allah menghadirkan kamu sebagai pengganti Eliza. Meskipun adik kecilku itu tidak bisa digantikan, tetapi keberadaan kamu mampu menghilangkan kesedihan."
"Keluarga kami beruntung bisa bertemu denganmu, Ayana. Mas harap kamu juga bisa hidup jauh lebih baik. Jangan melihat masa lalu lagi, anggap saja kejadian kemarin sebagai teguran jika ... kamu harus lebih menghargai diri sendiri."
"Kita juga tidak pernah tahu apa yang sudah dilalui mereka ... rasa sakit yang datang adalah hasil dari perbuatannya. Ujian, cobaan, maupun karma memiliki posisinya masing-masing serta dari mana ia hadir. Kamu mengerti maksud Mas?" Danieal menoleh padanya lagi.
Ayana yang sedari tadi memperhatikannya mengangguk singkat. Bibir semerah cherry itu melengkung sempurna memperlihatkan jika ia baik-baik saja.
"Iya aku mengerti. Allah memang adil dalam urusan hamba-hamba-Nya. Aku percaya apa yang sudah terlewat akan mendatangkan kebaikan. Aku tidak peduli apa yang sudah dilewatinya, tetapi ... karma itu memang berlaku," balasnya.
"Penyesalan?" Ayana mendengus pelan, "Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang. Menghadapinya saja aku sudah tidak ingin. Kenapa dia terus datang ke kehidupanku?"
"Itu artinya benang merah masih mengikat kalian berdua. Takdir yang mendatangkan sosoknya lagi dalam hidupmu."
"Yah, kalau seperti itu aku harus memotong benang merahnya saja. Aku tidak mau melihatnya lagi ... hanya mendengar namanya saja rasa sakit itu terus tertanam dalam dada. Aku jadi kembali teringat dengan mendiang anakku. Dia-" Ayana menahan tangis dan berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata.
__ADS_1
Namun, sekuat apa pun ia menahannya liquid bening itu tetap saja meluncur membuat tubuhnya bergetar hebat. Sebagai calon seorang ibu, ia benar-benar terpukul atas kehilangan sang buah hati.
Ayana menangis seraya menangkupkan wajah di tangan kanan. Danieal yang tidak bisa melihat sang adik seperti itu pun, duduk di sandaran sofa dan menepuk pundaknya pelan.