
Ilusi berbisik lirih jika apa yang diharapkan kadang kala hanya mimpi semata. Harapan demi harapan tidak akan mudah terwujud hanya mengandalkan diri sendiri. Bawa dan ikut sertakan Allah di dalamnya, sebab tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak.
Mustahil bagi pandangan manusia, mudah bagi Allah. Ketika Allah sudah berkata kun faa yakun, jadilah! Maka jadilah ia. Terus berharap serta bergantung pada Allah semata. Karena Allah Sang Pemilik Kehidupan.
Kini takdir tengah bermain dalam kehidupan Ayana. Ia terjebak dalam sebuah kepingan yang mengharuskannya menyusun puzzle itu dari awal.
Tidak mudah menata hati kembali utuh seperti semula. Layaknya kaca pecah, meskipun bisa disusun lagi, tetapi terdapat retakan yang menunjukkan kejadian sesungguhnya.
Kepercayaan tidak bisa dibangun lagi. Sekalinya dikhianati, bayangan menyakitkan itu akan terus muncul.
"Jadi, kamu mengakui jika ... kamu Ayana Ghazella? Teman sekolahku dulu?" Bella terus menerus menyudutkan Ayana.
Ayana tidak bergeming sedikitpun, sorot matanya menajam seiring seringaian di wajah cantik lawan bicaranya.
Menyaksikan perubahan tersebut, Bella menyadari jika Ayana tengah berkutat dengan diri sendiri.
"Jangan mengelak, akui saja kebenaranya. Kamu Ayana, istri dari Zidan Ashraf yang sudah disia-siakan." Bella semakin terang-terangan.
"Apa yang Anda ocehkan saya sama sekali tidak mengerti. Siapa itu Anda, Ayana, atau Zidan, tidak ada hubungannya dengan saya."
"Saya tekankan lagi, jika saya adalah Ghzella Arsyad. Anda mau percaya atau tidak silakan. Namun, fakta mengatakan itu kebenarannya."
"Jika Anda masih tidak percaya-" Ayana kembali membuka ponsel dalam genggaman.
Tidak lama berselang ia kembali menunjukkan sesuatu di dalamnya. Sedetik kemudian manik jelaga Bella melebar.
Perlahan bibir semerah cherry terbuka merasakan kejutan yang tidak masuk akal.
Ia melihat hasil tes DNA antara Ghazella Arsyad dan juga Celia maupun Aidan memiliki kecocokan.
"Saya jengah terus menerus diteror oleh kalian yang menyudutkan saya sebagai orang lain. Apa sekarang Anda masih tidak percaya? Silakan bawa saya ke rumah sakit untuk diperiksa ulang," tantang Ayana menyeringai lebar.
Bella menatap nanar memandangi sepasang onyx yang tengah memandanginya tajam.
"Wanita ini? Siapa dia sebenarnya? Aku harus hati-hati, sepertinya dia bukan wanita sembarangan," benak Bella merasakan firasat.
Tanpa mengatakan sepatah katapun, Bella menghentakkan kaki lalu pergi begitu saja.
Ayana menyunggingkan senyum menyaksikan sosoknya yang menghilang di balik mobil.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah kalah lagi darimu, Bella. Aku tidak ingin kamu mengganggu kehidupanku lagi," gumam Ayana.
Bella masih mengatur napasnya yang terasa sesak. Dadanya naik turun seiring cengkraman di stir mobil mengerat.
Ia baru saja mendapatkan sebuah fakta mencengangkan, jika wanita yang mirip dengan mendiang Ayana benar-benar orang lain.
Namun, meskipun demikian masih ada saja keraguan dalam diri Bella.
"Apa tes DNA itu benar? Kenapa aku masih saja ragu?" gumamnya.
...***...
Hari demi hari berlalu, Ayana semakin disibukkan dengan persiapan pameran.
Ia terus kembali bertemu dengan Arfan membuat keduanya semakin dekat. Terkadang pengusaha itu datang ke mansion keluarga Arsyad untuk makan malam bersama.
Tentu saja kedekatan mereka menjadi buah bibir di berbagai kalangan. Sampai berita tersebut hinggap di telinga Zidan.
Ia melihat hasil pengintaian dari orang suruhannya menunjukkan kejadian yang memilukan perasaan.
"Apa-apaan ini? Kenapa mereka semakin dekat? Apa yang sudah Ayana pikirkan? Dia masih istriku, kenapa dia bisa bersama pria lain?" Zidan geram mengepal tangan kanan di atas meja.
"Beberapa hari ini nyonya Ayana memang sering menghabiskan waktu bersama tuan Arfan. Terkadang mereka kedapatan pergi ke keluarga masing-masing," jelasnya semakin membuat Zidan tak karuan.
Ia menarik kepalanya menatap tajam sang lawan bicara.
"Apa kamu bilang? Mereka bahkan sudah mengunjungi kediaman keluarga masing-masing?" Dengan tegas pria itu mengangguk yakin
Zidan menggebrak meja kuat hingga beberapa berkas di atasnya berjatuhan.
"Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Aku tidak mau Ayana sampai bersama orang lain." Zidan langsung beranjak dari duduk lalu menyambar jas di gantungan kayu.
Ia keluar dari ruangan dan membanting pintu keras. Perasaan tak menentu, hanya dengan membayangkannya saja, ia sudah merasakan sakit.
"Tunggu aku, Ayana," benaknya.
Di tempat berbeda, untuk kesekian kalinya Ayana harus berhadapan dengan orang-orang di masa lalu.
Kali ini mantan ibu dan ayah mertuanya datang ke toko. Ayana yang baru saja tiba setelah mengatur rencana dengan beberapa orang di gedung pameran pun terkejut mendapati kedua paruh baya itu di depan toko.
__ADS_1
Ayana memarkirkan mobil dan bergegas keluar lalu mendekati mereka.
"Assalamu'alaikum, maaf apa ada yang bisa saya bantu?" sapa Ayana ramah.
Lina dan Arshan berbalik mendapati sang pelukis tengah menyunggingkan senyum manis.
"Wa'alaikumsalam, Ayana? Eh, em Ghazella?" ujar Lina gugup.
"Ah, Tuan dan Nyonya Arfan, apa yang sedang Anda lakukan di sini? Apa kalian mau melihat-lihat lukisan saya?" tanya Ayana berusaha meyakinkan sebagai orang lain.
Lina dan Arshan saling pandang, air mukanya memperlihatkan kebingungan.
Ayana yang mengerti pun hanya mengulas senyum. Ia menatap mereka dalam diam, meskipun dalam dada begitu bergejolak perasaan bersalah.
"Mamah, Ayah, aku minta maaf sudah membohongi kalian, tapi ... aku tidak punya pilihan lain, selain melakukan ini. Semoga Ayah dan Mamah mengerti. Aku ... sangat menyayangi kalian. Namun, untuk kembali seperti dulu ... maaf aku tidak bisa. Ya Allah ampunilah hamba," monolog Ayana dalam diam.
"Kalau ada sesuatu yang ingin Tuan dan Nyonya katakan, mari silakan masuk ke dalam," kata Ayana melangkahkan kaki melewati keduanya.
Ia menghela napas pelan sembari membelakangi Lina dan Arshan. Ia lalu membuka pintu toko dan mendorongnya ke dalam.
"Silakan masuk," titahnya.
Lina dan Arshan saling pandang lagi dan mengikuti langkah Ayana. Hawa dingin seketika menyambut, pasangan paruh baya itu menyapukan pandangan ke sekitar.
Mereka melihat banyak sekali lukisan terpajang di sana. Dinding bercat putih bersih mendamaikan pandangan membuat keduanya terpaku.
Lina dan Arsha terkagum-kagum dengan setiap karya yang sudah Ayana ciptakan.
"Silakan duduk Tuan, Nyonya," kata Ayana mengejutkan seraya meletakan dua teh gelas green tea di meja.
Lina dan Arsan pun tersadar lalu mengalihkan pandangan pada sang mantan menantu yang tengah kembali menyunggingkan senyum ramah.
Kedua pengusaha itu kemudian berjalan beriringan menuju meja yang sudah Ayana siapkan. Mereka berhadapan dengan Ayana yang tengah memandangi mereka bergantian.
"Jadi, apa Tuan dan Nyonya sudah mau berbicara mengenai kedatangan kalian? Jika Tuan dan Nyonya membutuhkan lukisan, saya bisa merekomendasikannya. Untuk pemula saya memilih lukisan di sebelah kanan kita. Gambar laut itu memperlihatkan ketenangan serta kedamaian."
"Lalu, jika menginginkan yang lebih-"
"Ayana, bisakah kamu berkata jujur kepada Ayah dan Mamah?"
__ADS_1
Pertanyaan Lina seketika menghentikan perkataan Ayana. Ia bungkam kembali menatap kedua mertuanya yang tengah memberikan sorot mata penuh harap.