Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 101


__ADS_3

Setelah Bella mengunjungi rumah sakit, keesokan harinya Kirana datang bersama Raima. Bayi yang sudah diadopsi oleh pasangan Ayana dan Zidan pun langsung mengenali ayah sambungnya.


Seketika itu juga sang pianis menggendong Raima dan kembali menangis, melepaskan rindu serta kekosongan dalam dada.


Reuni antara ayah dan putri sambung itu pun membuat orang-orang yang menyaksikannya ikut terharu. Mereka senang keberadaan Raima bisa mengisi keterpurukan.


Saat ini Kirana berada di ruangan Ayana dan melihat wanita yang pernah bersiteru dengannya tengah terbaring tak berdaya.


Ia benar-benar tidak menduga mendengar keadaan sang pelukis dan langsung bergegas menemuinya di rumah sakit.


"Bangun Ayana, tidakkah kamu ingin melihat Raima? Putrimu setiap hari selalu merengek merindukan ibu sambungnya." Kirana tergelak singkat dan mendongak melihat langit-langit ruangan.


"Setiap hari kami bersama, tetapi putri kita selalu merindukan kalian. Untuk itu Ayana-" Ia menegakkan kembali tubuhnya dan memperhatikan wanita yang masih menutup mata dengan damai.


"Bangunlah, dan kembali pada kami," lanjut Kirana lagi.


Setelah menyampaikan apa yang ada dalam hatinya, Kirana keluar dari sana dan mendapati Danieal tepat di pintu masuk. Pandangan mereka saling bertemu satu sama lain membuat wanita itu terkejut.


"Apa yang Mas lakukan di sini?" tanyanya heran.


"Terima kasih sudah datang, juga... terima kasih sudah membawaku ke rumah sakit saat insiden itu terjadi," kata Danieal baru menyampaikan hal itu sekarang dan mengingat kecelakaan panah terjadi.


Setelah acara empat bulanan Ayana berakhir, Kirana pun kembali keluar negeri dan menyerahkan sepenuhnya sang buah hati pada mereka.


Selama itu pula Danieal belum sempat berterima kasih pada Kirana, sebab sang mantan lah orang yang membawanya ke rumah sakit.


"Em, itu memang sudah sewajarnya. Mas tidak usah berterima kasih padaku," ungkap Kirana menutup ruang inap Ayana dan berjalan menelusuri lorong.


Danieal pun mengikutinya di sisi kanan dan bungkam. Hingga tidak lama kemudian Kirana buka suara lagi.


"Aku bersyukur Mas Danieal bisa mendapatkan pendamping sebaik Jasmine. Aku harap pernikahan kalian bahagia selalu," ujarnya mengulas senyum manis.


"Aamiin, terima kasih," balas Danieal lagi, lega.


Tidak lama berselang mereka tiba di ruang bayi. Di sana keduanya melihat Zidan tengah memperkenalkan dua bayi pada Raima.


Anak berusia dua tahun itu pun berceloteh riang mempertanyakan bayi kembar sang ayah. Dengan senang Zidan menjelaskan sebaik mungkin jika mereka adalah adiknya.


Merasakan keberadaan seseorang, Jasmine yang ada di sana pun menoleh ke samping dan mendapati suaminya.


Danieal berjalan mendekat dan merangkul istrinya, hangat. Kirana yang melihat itu kembali tersenyum dan ikut bergabung melihat kedua buah hati Ayana serta Zidan.


...***...

__ADS_1


Setelah kedatangan Kirana, sore harinya Ihsan pun datang. Ia menjenguk Ayana dan memberikan semangat penuh pada Zidan.


Wali kota itu juga memberikan bingkisan untuk buah hatinya dan melihat keberadaan mereka. Ia berharap Ayana cepat sadar dan bisa kembali pada keluarganya.


Karena kesibukan yang melanda orang penting tersebut, Ihsan tidak berlama-lama di rumah sakit dan langsung kembali melanjutkan perjalanan.


Sampai keesokan harinya Arfan yang sempat bekerja sama dengan Ayana sekaligus mantan Bella pun hadir.


Ia menjenguknya dan juga memberikan kata-kata semangat pada Zidan untuk tetap tabah serta sabar menghadapinya.


Arfan juga senang melihat kedua anak mereka yang sangat imut. Ia bahkan memberikan peralatan bayi dengan harga fantastis untuk anak kembar Ayana serta Zidan.


Keberadaan orang-orang yang pernah berhubungan dengan Ayana membuat Zidan senang. Mereka sangat peduli, sekaligus memberikan doa terbaik untuk istrinya.


Sepeninggalan orang-orang, Zidan kembali duduk menghadap Ayana seraya menggenggam tangannya hangat.


"Sayang, tidakkah kamu ingin membuka mata dan melihat mereka lagi? Bella sampai Arfan pun menjenguk mu dan memberikan doa terbaik."


"Sayang... kapan kamu akan membuka mata? Apa kamu tidak merindukan aku dan anak kita? Ini hampir satu minggu kamu tidak sadarkan diri, Ayana."


"Aku sangat merindukanmu," aku Zidan mengecup hangat punggung tangan Ayana.


Namun, sayang pelukis masih terlihat damai dalam tidurnya. Detak jantung yang terlihat di layar hitam pun masih memperlihatkan denyutan yang sama.


Setiap saat Zidan selalu memperhatikannya dan bernapas lega. Sang istri masih ada di dunia dan ada kesempatan besar untuk berkumpul bersama lagi.


Ia mencondongkan tubuh ke depan dan mengusap pucak kepala Ayana penuh kasih sayang.


"Aku tidak suka kamu berkata seperti itu saat persalinan terjadi. Apa yang kamu pikirkan, hm? Sampai-sampai berkata demikian?"


"Tidakkah kamu ingin membangun keluarga bersamaku?"


"Bukankah kamu sendiri yang ingin menciptakan keluarga harmonis bersamaku? Sekarang kita sudah mempunyai tiga orang anak."


"Bahkan saat Raima ke sini... anak itu tidak mau pulang dan merengek ingin tidur bersamamu. Dia... sangat menyayangi ibu sambungnya melebihi ibu kandungnya."


"Kirana sampai cemburu dan tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya."


"Sayang, kita semua di sini menunggumu. Kami masih membutuhkan kehadiranmu untuk mendengarkan kata-kata semangat."


"Aku dan anak kita sangat membutuhkanmu, Sayang," racau Zidan mengungkapkan uneg-uneg dalam dada.


Ia pun memberikan kecupan mendalam di dahi lebar sang terkasih. Ayana masih diam, tidak melakukan apa pun, seolah nyaman berada di alam lain.

__ADS_1


"Aku membutuhkanmu, Sayang. Aku mencintaimu."


Suara Zidan semakin melemah dan membiarkan kepalanya jatuh di lipatan tangan tepat di samping Ayana.


Beberapa hari ini Zidan terus terjaga untuk mengurus buah hati mereka. Ia kurang istirahat dan bolak-balik ke ruangan sang istri.


...***...


Masa-masa indah yang pernah Ayana rasakan dulu kini kembali. Berada dalam dekapan sang ayah dan ibu memang watu yang paling membahagiakan.


Ia bisa merasakan napas keduanya berhembus di sekitar. Sudah lama ia tidak bertemu dengan orang tuanya dan sekarang waktu kembali mempersatukan.


"Ayana sayang Mamah dan Ayah," ucapnya merangkul mereka, hangat.


"Mamah juga sangat menyayangi, Ayana," balas sang ibu memberikan kecupan di puncak kepalanya.


"Begitu pun dengan Ayah, sangat menyayangi Ayana," timpal ayahnya kemudian.


Ayana terus mengembangkan senyum dan menutup mata merasakan kehangatan orang tuanya.


Bertahun-tahun mereka berpisah, jarak tidak bisa mempertemukannya kembali. Namun, kesempatan yang diberikan kali ini benar-benar membuat Ayana tidak bisa pergi ke manapun.


Ia ingin terus merasakan kehangatan itu untuk selamanya. Namun, perkataan ayah dan ibu kembali mengejutkan.


"Kembalilah, waktumu belum tiba," kata ibunya lagi.


"Masih ada yang menunggumu. Waktumu masih lama, Sayang," lanjut ayahnya kemudian.


Ayana membuka mata, memandangi ayah dan ibu mengulas senyum penuh arti. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan mereka.


Tanpa mengindahkan itu, Ayana kembali memeluk keduanya erat. Lengkungan bulan sabit pun terpendar di wajah cantiknya.


Orang tuanya pun membalas tak kalah kuat, di padang bunga mereka saling berpelukan menyalurkan kehangatan satu sama lain.


Namun, satu yang masih berputar dalam pendengaran Ayana. Ayah maupun ibu terus mengatakan hal yang sama, yaitu ia harus kembali dan waktunya belum tiba.


Ucapan mereka membuat Ayana gamang dan tidak mengerti. Ia pun berusaha tidak mengindahkannya dan menikmati momen berharga tersebut, selagi dirinya bisa.


Hanya ada ketiganya di sana, sebagai satu keluarga utuh hidup dalam keharmonisan.


Kerinduan yang Ayana rasakan selama ini tersalurkan sudah. Ia bisa bertemu dengan ibu dan ayahnya lagi tanpa terhalang jarak maupun waktu.


Ia bisa tersenyum bahagia tanpa beban.

__ADS_1


"Kembalilah aku mohon."


Kalimat itu pun membuatnya terdiam, pandangannya jatuh ke bawah menyelami ucapan yang tiba-tiba saja masuk ke dalam indera pendengaran.


__ADS_2