
Waktu seolah berhenti bergerak, infomasi yang baru saja di dapatkan membekukan diri. Gibran dan Haikal saling pandang berbicara lewat sorot mata masing-masing.
Keduanya pun menatap Zidan yang masih memandangi undangan dalam diam. Tanpa mereka sadari ia mengepalkan tangan kuat menahan segala pengap dalam dada.
Keduanya mengerti apa yang tengah terjadi dalam diri Zidan. Wanita bernama Ghazella itu bagaikan masa lalu yang datang kembali di kehidupan sekarang.
Bunyi nyaring dari gelas yang diletakan Haikal mengundang atensi. Zidan mengangkat kepala memandangi dua orang di sana.
Seolah berbicara apa yang baru saja kamu katakan? Terlihat jelas dalam sorot matanya. Gibran menghela napas pelan dan menyambar undangannya lagi.
"Mas mau datang atau tidak itu terserah, aku sudah menyampaikannya," kata Gibran yang beranjak dari duduk.
Sebelum melangkahkan kaki, Zidan pun berujar yang seketika menghentikannya. "Ghazella Arsyad, apa kamu berpikir jika wanita itu adalah ... kakak iparmu?"
Degup jantung Gibran meningkat tajam, kedua maniknya membulat sempurna, bibir kemerahan itu terbuka mendengar pertanyaan sang kakak.
Ia mengepal kedua tangan kuat melihat pengharapan di sana. Gibran menahan kekesalan saat teringat baru lima bulan lalu Zidan menceraikan Bella.
Ia terus menerus menceramahi kakaknya yang tidak becus dalam berumah tangga dan sudah menyianyiakan wanita sebaik Ayana.
Namun, sekarang ia mendapati sorot mata penuh harap menatapnya lekat. Gibran tahu Zidan berusaha meyakinkan dirinya jika Ghazella Arsyad adalah kakak iparnya, Ayana.
"Apa yang Mas katakan? Mbak Ayana sudah meninggal satu setengah tahun lalu, bagaimana bisa ... bagaimana bisa mbak Ayana hidup lagi. Apa Mas-"
"Aku tahu-" Zidan memotong ucapan adiknya cepat. "Aku tahu jika kakak ipar mu sudah lama meninggal, tetapi ... apa kamu tidak terkejut saat melihat seseorang yang sangat mirip dengan Ayana? Apa kamu tidak berharap jika dia masih hidup? Aku ingin Ayana bisa kembali lagi ke sini ... ke sisiku."
"Sudah cukup, hentikan Mas! Aku tahu Mas menyesal sudah memperlakukan mbak Ayana dengan buruk, tetapi menganggap orang lain sebagai istrimu adalah kesalahan besar."
"Mbak Ayana dan Ghazella, mereka wanita berbeda. Mas jangan berhalusinasi lagi dan bangun dari mimpi konyol itu!" Dengan napas memburu, Gibran pergi dari sana tanpa memberikan kesempatan kakaknya berbicara lagi.
Sepeninggalan Gibran, Zidan menoleh pada Haikal yang sedari tadi terus diam menonton perdebatan mereka.
__ADS_1
Senyum mengembang di wajah tampan nan pucatnya. Haikal terperangah sesuatu dalam diri sang tuan muda kembali mencuat.
"Istighfar Tuan, apa yang dikatakan tuan muda kedua memang benar adanya. Jika ... istri Anda sudah meninggal dunia."
Bagaikan mengundang empedu, kepahitan menyebar dalam diri. Air mata tidak bisa ditahan dan tumpah ruah di kedua pipi.
Zidan menangis dalam tawa memikirkan sebuah harapan yang tidak pernah bisa terjadi. Karena bagaimanapun fakta mengatakan jika Ayana sudah meninggal dunia.
Ia mengusap wajah gusar menahan isak tangis yang terus menerus membuat dirinya tidak berdaya. Haikal menepuk pundaknya pelan menyalurkan kekuatan.
"Istighfar, ingat ... Allah maha pemberi kekuatan. Jangan menyerah pada keadaan, semua akan baik-baik saja," kata Haikal menenangkan.
Zidan menuruti perkataannya dan berbisik lirih, "Astaghfirullah hal adzim ... Astaghfirullah hal adzim ... Astaghfirullah hal adzim."
Di luar, Gibran menghentikan langkahnya. Kepala bersurai hitam legam itu menoleh ke samping kanan menyaksikan lantai sebagai tumpuan.
Ia menghela napas kasar seraya masih mengepalkan kedua tangan kuat. "Aku juga berharap wanita itu adalah mbak Ayana, mas. Karena bagaimanapun juga aku bersalah sudah membiarkannya menanggung kesakitan."
"Mbak ... apa kabarmu di sana? Semoga mbak di tempatkan di sisi-Nya yang terbaik. Aku minta maaf sudah membuat mbak meninggal dengan cara tragis. Jika waktu bisa diputar, aku tidak akan membiarkan mbak pergi," gumamnya lirih.
...***...
Hari yang ditunggu pun tiba, di kediaman keluarga Arsyad semua orang nampak bersuka cita. Dalam lantunan musik jazz lembut para tamu undangan menikmati pesta.
Orang-orang yang datang dari berbagai kalangan, mulai dari pengusaha, musisi, seniman, sampai selebritis turut memeriahkan. Tidak ketinggalan rekan-rekan sesama dokter pun hadir menambah kemeriahan pesta penyambutan putri kedua Celia dan Aidan.
Kegembiraan serta kesenangan begitu kental terasa di sana. Semua orang saling menyapa satu sama lain dan menunggu sampai acara puncak tiba.
Di tengah keramaian, rombongan keluarga Ashraf pun tiba. Nyonya besar Ashraf nampak cantik dengan gaun cokelat muda dengan mutiara-mutiara kecil menghias menonjolkan keanggunan.
Dikawal oleh ketiga pria di sekitarnya, ia masuk dengan penuh percaya diri. Zidan, Gibran, dan juga Arshan begitu gagah menggunakan tuxedo dari perancang busana terkenal.
__ADS_1
Keberadaan mereka menarik perhatian, semua orang mengarah pada pintu masuk dan menyambut kedatangannya.
Keempatnya pun dengan hangat membalas sambutan mereka tak kalah ramah. Hingga percakapan ringan pun terjalin bersamaan dengan acara puncak.
Seketika musik lembut tadi berhenti, sang MC mengambil alih dan mengatakan jika sebentar lagi sang putri semalam akan hadir.
Semua orang nampak tegang melihat ke arah lantai dua. Dalam keheningan suara heels bergema mengantarkan satu sosok dalam balutan gaun bak putri dongeng.
Gaun mengembang berwarna hitam mencolok itu pun memperlihatkan keberadaan putri kedua keluarga Arsyad.
Senyum terbingkai di wajah cantiknya menarik perhatian setiap pandangan. Sorot mata hangat nan tegas menyapu mereka semua. Sampai ia pun berada tepat di tengah-tengah mereka memandangi satu persatu tamu yang datang.
Hal tersebut membuat Lina dan Arshan menegang di tempat. Mereka tidak menyangka jika wanita yang kini berdiri tepat di hadapannya sangat mirip dengan mendiang sang menantu.
Keduanya menoleh pada Zidan yang tidak jauh seperti mereka. Pasangan suami istri itu pun saling pandang menyaksikan keanehan dalam pandangannya.
"A-Ayana?" cicit Lina teredam.
Ayana samar-sama mendengar nama itu terucap pun menoleh padanya. Senyum masih melengkung dari bibir ranum tersebut membekukan Lina.
Mata mereka saling pandang dan berbicara dalam pikiran masing-masing. Ayana tidak menyangka jika ayah serta ibu mertuanya akan datang.
Ia hanya bisa melakukan apa yang harus dilakukan. Ia tidak boleh dan tidak bisa membongkar penyamarannya sendiri.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat malam semuanya. Perkenalkan saya Ghazella Arsyad putri kedua keluarga ini. Terima kasih sudah datang ke acara sederhana kami, dan ... selamat datang. Saya harap kalian semua bisa menikmati jamuan yang diberikan oleh kami," tuturnya hangat dan terdengar berwibawa.
"Wow-wow-wow-wow-wow sungguh penampilan yang luar biasa. Tuan dan Nyonya sekalian, kenalkan beliau adalah putri kedua keluarga Arsyad. Ayah, ibu, serta kakak bisa datang mendampingi putri Ghazella?" kata MC lagi mengambil alih.
Ketiga orang yang disebut pun datang dan berdiri tepat di samping Ayana. Sang ibu, Celia menggandeng erat lengan putrinya sembari menebar senyum kebahagiaan.
Mereka nampak seperti keluarga harmonis menyambut suka cita yang datang mendera. Tanpa menghiraukan keterkejutan di antara para tamu undangan.
__ADS_1