Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 10


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Ayana sudah dikejutkan dengan kedatangan sang ibu. Ia yang baru selesai memasak pun mengajak ibu sambungnya untuk makan bersama.


Namun, Celia membawa putrinya ke belakang rumah. Mereka duduk di bangku taman yang jauh dari penghuni lain agar bisa leluasa bicara.


Sedari tadi Ayana menyimpan tanda tanya besar ada perlu apa Celia mendatanginya tanpa memberitahu kedatangan.


Tidak biasanya hal itu dilakukan oleh sang ibu, kebingungan pun semakin merambat membuatnya penasaran.


Ia diam seraya memperhatikan ibunya lekat. Celia merasa tidak karuan setelah berhadapan dengan anak sambungnya ini.


“Sebenarnya, Mamah mau membicarakan apa denganku? Apa ini sangat penting?” Ayana membuka suara kala tidak mendapati apa pun.


Sekilas Celia menoleh padanya lalu kembali melihat rumput hijau di bawah.


“Mah.” Panggil Ayana sembari menggenggam pautan kedua tangannya.


“Mamah hanya khawatir padamu Sayang,” ungkap Celia pada akhirnya.


“Khawatir? Apa ini ada hubungannya dengan Kirana? Jika tentang wanita itu, Mamah tidak usah cemas aku bisa menanganinya,” balas Ayana menenangkan.


Seketika itu juga Celia menoleh membuat pelukis itu melebarkan manik jelaga. Ia terperangah menangkap kilatan rasa takut di balik mata sang ibu.


“Ma-Mamah?” panggilnya gugup.


“Kamu … tidak tahu bagaimana Kirana sebenarnya. Dia-“


“Kenapa? Ada apa dengan wanita itu?” Ayana memotong ucapan Celia cepat, tidak sadar.


“Kirana-“


Zidan terpaksa sarapan di kantor, membiarkan istri beserta ibu mertuanya berbicara sendiri dan tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka.


Zidan bersyukur Ayana mendapatkan keluarga baru yang benar-benar tulus menyayanginya. Ia lega sang istri berada di tangan yang tepat.


Celia dan Adnan merupakan pasangan serasi serta baik hati. Ia tahu jika keduanya sering menjadi donatur di beberapa panti asuhan.


Keluarga dokter itu pun tidak segan-segan membantu para pasien tidak mampu membuat mereka mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakitnya.


Itu sebabnya rumah sakit milik keluarga tersebut menjadi penyedia fasilitas kesehatan terbaik di negaranya.


“Bismillah,” ucap Zidan seraya memasukan sesendok nasi ke dalam mulut.

__ADS_1


Saat ini ia sedang berada di kantin perusahaan. Ia tidak pernah segan untuk makan di sana bahkan sering menikmatinya bersama beberapa karyawan.


Sosoknya yang dermawan membuat para karyawan tidak menyangka ketika mendapatkan berita miring dari atasannya.


Waktu itu nama baik Zidan tercoreng akibat perbuatannya kepada Ayana. Berita demi berita yang mengatakan pianis tidak bermoral mengecewakan mereka.


Namun, seiring berjalannya waktu berita tersebut mereda dengan sendirinya. Sehingga sosok Zidan pun kembali dikagumi serta disanjung banyak orang.


Keadaan pun sudah membaik dan mereka bisa bekerja sama lagi.


“Tuan makan di sini?”


Suara lembut seseorang menyapa, Zidan mengangkat kepala mendapati model baru perusahaan ada di depannya.


“Oh, Kirana?” sapanya balik.


“Kenapa Tuan makan di kantin?” tanya Kirana heran seraya membawa nampan. “Ah, kalau tidak keberatan apa saya bisa makan di sini?” lanjutnya kemudian.


“Em, silakan,” kata Zidan tidak enak untuk menolak.


Kirana pun duduk berseberangan dengan atasannya seraya makan sarapan bersama.


“Oh ya Allah, saya lupa. Iya, saya makan di sini,” balasnya begitu saja tanpa sedikit pun melihat ke arahnya.


Mendengar jawaban tersebut membuat Kirana tergelak. Zidan terkejut, mengangkat kepalanya lagi melihat sang lawan bicara.


“A-ah, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud menertawakan Tuan Zidan, hanya saja … jawaban Tuan polos sekali,” jelasnya, Zidan pun ikut tertawa pelan.


“Karena ada mertua saya di rumah dan … saya tidak mau mengganggu mereka, jadinya makan di sini saja,” lanjut Zidan mengungkapkan alasan.


Kirana diam seketika, air mukanya berubah datar mendengar penuturannya. Sendok yang hendak masuk ke dalam mulut pun mengambang di udara.


“Me-mertua? Ma-maksud Anda nyonya Celia?” tanyanya gugup.


Tanpa mengelak Zidan mengangguk cepat. “Itu benar … ah, bukankah kamu teman putrinya yang sudah almarhum? Maaf atas kejadian kemarin, saya mendengarnya dari Danieal.”


“Jadi mereka sudah mengatakan siapa aku? Hubungan mereka ternyata baik-baik saja, apa yang sudah terjadi selama delapan tahun aku pergi?” Kirana tenggelam dalam lamunan tidak menyadari Zidan terus memanggilnya.


“Kirana … hei, Kirana.” Zidan mengetuk-ngetuk meja pelan mencoba mengembalikan kesadaran sang model.


“Kirana!” Panggilnya lagi sedikit kencang.

__ADS_1


“Ah, iya? Oh ya Tuhan maafkan saya.” Kirana kelimpungan berusaha menghindari tatapan pemimpin perusahaan tersebut.


“Apa ada yang kamu pikirkan? Aku lihat kamu melamun tadi, oh yah … karena kamu masih ada hubungannya dengan keluarga Arsyad, tidak usah terlalu formal denganku. Khususnya di luar pekerjaan, kamu bisa bersikap santai,” ujar Zidan mengulas senyum ramah.


Kirana terperangah tidak menyangka mendapatkan perkataan seperti itu. Selama ini ia diperlakukan secara kasar, terutama pada saat dirinya belajar menjadi seorang model.


“Baiklah, terima kasih banyak, Mas?”


“Iya benar, seperti memberikan umpan pada ikan. Maka aku akan mendapatkannya,” benak Kirana lagi.


Mendengar kata Mas disebutkan entah kenapa membuat Zidan sangat terkejut.


“Em, senyamannya kamu saja. Kalau begitu aku duluan masih banyak pekerjaan yang harus diurus.”


Zidan pun beranjak dari sana meninggalkan Kirana sendirian.


Sepasang manik abu itu pun mengikuti ke mana sosoknya pergi. Kirana meletakan sendok di atas piring dengan pikiran berkecamuk.


“Kamu sudah mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Maka, tidak apa-apa bukan? Jika aku juga mengambil apa yang kamu miliki?" gumamnya, lalu menyeringai kuat.


...***...


“Eliza tidak pernah tahu jika Kirana adalah wanita yang suka memanipulasi. Anak itu … juga sudah mempengaruhi Eliza. Sampai kekasih yang sangat dicintai Eliza berselingkuh dengannya … wanita itu pandai bermain kata-kata,” ucap Celia mengakhiri ceritanya.


Ayana diam membeku, pandangannya jatuh ke bawah seraya meremas kedua tangan. Ia tidak menyangka bertemu dengan wanita seperti Kirana.


“Jadi, Mamah mencemaskan ku … karena takut mas Zidan diambil olehnya?” Ayana menatap ibunya lagi.


Celia mengangguk singkat. Bibir ranum pelukis itu pun mengembang sempurna, ia kembali menggenggam tangan hangat sang ibu.


“Mamah tidak usah khawatir, aku sudah pernah menghadapi wanita seperti dia. Jadi, jangan mencemaskan apa pun, nanti gula darah Mamah naik lagi,” ucap Ayana mencoba sedikit bercanda.


“Dasar anak ini, bisa-bisanya mencemaskan ibunya di situasi genting. Meskipun kamu sudah berpengalaman, ular masih berkeliaran di luar sana.” Celia memukul pelan kepala Ayana membuatnya terkekeh.


“Maaf-maaf, terima kasih banyak Mamah sudah mengkhawatirkan ku,” ungkap Ayana kemudian.


Celia mengerucutkan bibir dengan manik berkaca-kaca. “Kamu membuat Mamah ingin menangis.” Ia pun memeluk putrinya erat.


Ayana membalasnya tak kalah kuat seraya mengembangkan senyum. “Aku yakin bisa menghadapinya, Mah.”


“Karena ada kalian di sisiku,” lanjut benaknya. “Berada dalam pelukan seorang ibu benar-benar sangat nyaman. Terima kasih ya Allah sudah mempertemukan hamba dengan mereka. Eliza … aku tidak akan membiarkan siapa pun mengusik keluarga kita. Aku janji, tidak ada celah bagi orang lain menghancurkan kebahagiaan kita,” batinnya lagi dan lagi.

__ADS_1


__ADS_2