
Penangkapan Presdir Han sontak mengejutkan seisi negeri. Mereka yang percaya padanya merasa dikhianati dan dibohongi.
Banyak korban-korban yang bermunculan mengutarakan kelakuannya pada masa lalu. Berita itu pun menjadi trending topik pertama setelah beberapa saat diluncurkan.
Media sosial pun banjir kecaman dari para netizen yang ikut geram akan kelakuan sang pengusaha sekaligus penguasa tersebut.
Pemberitaan di mana-mana turut memberikan kabar mengejutkan. Para investor yang masih tersisa di perusahaannya bergegas menarik kembali perjanjian mereka.
Berita itu juga sampai kepada keluarganya, terutama putri kedua Presdir Han, Sabina Barika Bose. Ia yang tengah berlibur di negara kelahirannya terkejut akan adanya penangkapan mengenai sang ayah.
Selama ini ia hanya tutup mata dan telinga pada apa yang dilakukannya. Karena uang selalu mengalir ke kantung pribadi dari Presdir Han bagi keluarga kecilnya.
"A-apa semua ini benar?" tanya seorang pria yang berada di belakangnya.
Sabina yang sedari tadi berada di depan televisi pun berbalik. Ia melihat sang suami tengah menatapnya nyalang.
Mereka saat ini berada di salah satu hotel mewah di ibu kota. Sabina membawa suami dan kedua anaknya berlibur di sana. Karena selama ini mereka menetap di luar negeri, itu dilakukan agar mencegah hal seperti ini terjadi.
Namun, ia tidak pernah menyangka jika liburannya kali ini membawa kebenaran yang mengejutkan sang pasangan hidup.
"Ti-tidak, itu sama sekali tidak benar," balas Sabina takut-takut.
"Bohong, aku sudah mencari tahu sendiri. Ternyata selama ini aku menikah dengan anak penjahat dan lagi ... kamu sudah membantuku dengan uangnya itu, kan? Aku akan mengembalikan secepat yang aku bisa."
Setelah mengetakan itu suami yang sudah hidup bertahun-tahun dengannya pergi begitu saja. Sabina benar-benar tidak menyangka jika dengan adanya penangkapan sang ayah bisa berdampak pada hubungan pernikahannya.
Ia sudah salah menyembunyikan identitas asli Presdir Han.
...***...
Ayana masih mematung di tengah-tengah ruangan. Orang-orang hilir mudik di sekitar menyaksikan yang baru saja terjadi.
Semua orang sangat terguncang akan kebenaran mengenai Presdir Han sebenarnya terungkap. Mereka hanya tahu jika pria tua itu hanya sebagai pengusaha terkenal.
"A-Ayana, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Bening mendekat.
Kepala berhijab merah muda itu berputar perlahan. "Apa aku tidak salah melihat? Ma-Mas Zidan menangkap pria tua itu? Ja-jadi selama ini mas Zidan?"
"Itu benar, Ayana. Mas Zidan selama ini mencari tahu siapa Presdir Han sebenarnya dia juga ... tahu apa yang sedang kamu lakukan di belakangnya," jelas Gibran yang datang bersama Haikal dan juga Danieal.
Mereka bertiga termasuk Bening tersenyum lebar. Ayana menatap mereka satu persatu tidak mengerti maksud dari senyuman tersebut.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya penasaran. "A-apa kalian juga tahu tentang rencananya ini?"
__ADS_1
Keempat orang itu saling pandang lalu tersenyum lebar. Kepala mereka mengangguk perlahan yang semakin membuat Ayana terkejut bukan main.
"Sebenarnya-"
Bening angkat bicara menceritakan beberapa minggu lalu.
Di hari Ayana pergi ke desa tempat kediaman Yara dan Saida berada. Bening bersama Danieal tengah bekerja sama mencari tahu kebenaran mengenai Bella.
Mereka sama-sama terkejut kala mendapati wanita itu pernah mengandung dan menggugurkan bayinya.
Di tengah keguncangan itu, tiba-tiba saja bel apartemen di tekan seseorang. Bening dan Danieal pun saling pandang seraya mengerutkan dahi masing-masing.
"Siapa? Bukankah apartemen ini hanya kita bertiga yang tahu?" tanya Bening menatap lawan bicaranya.
"Benar, dan itu tidak mungkin Ayana. Dia masih berada di perjalanan, kan? juga, dia tahu sandi apartemen ini, jadi tidak mungkin menekan bel," racau Danieal berkecamuk.
Bening pun menganggukkan asumsinya.
Sedetik kemudian wanita itu beranjak dari duduk lalu berjalan menuju depan. Ia melihat tamunya yang datang lewat layar intercom menempel di dekat pintu masuk.
Seketika maniknya melebar sempurna melihat orang dikenalnya datang. Danieal yang merasa curiga pun menyusul dan ikut tercengang kala menyaksikan siapa itu.
"Buka saja, Mbak," titahnya kemudian.
Senyum bertengger nyaman di wajah tampan sang pianis bersama tiga rekannya yang lain.
"Assalamu'alaikum, aku datang ke sini ingin membicarakan sesuatu dengan kalian," ungkapnya.
Bening dan Danieal kembali saling pandang lalu menjawab salamnya bersamaan.
"Wa'alaikumsalam."
"Kalau begitu kita bicarakan di dalam," ajak Bening melengos pergi.
"Zidan? Apa yang akan kamu bicarakan?" tanya Danieal sebelum mereka masuk. "Dan siapa lagi orang asing ini?" Dokter tampan itu menunjuk salah satu orang tak dikenalnya di sana. Ia lalu mengerutkan dahi kala wajah pria itu sama sekali tidak asing.
"Nanti kamu juga tahu," balas Gibran menggantikan sang kakak.
Zidan hanya tersenyum penuh makna memberikan tanda tanya dalam benak dokter tampan itu lagi.
Tidak lama berselang mereka duduk bersama di sebuah ruangan. Keempat tamu prianya saling berdampingan menghadap kedua tuan rumah.
Perlahan Zidan mengeluarkan map yang di dalamnya terdapat berkas-berkas penting.
__ADS_1
Satu persatu ia mengeluarkan foto dan juga informasi yang sudah didapatkan. Bening maupun Danieal melebarkan pandangan saat mata mereka menangkap benda-benda tersebar di atas meja.
"Ba-bagaimana bisa?" cicit Bening terkesima lalu mengangkat kepalanya menatap Zidan.
"Inilah yang ingin aku bicarakan dengan kalian. Selama ini aku sudah mengawasi Ayana, apa yang sedang dia lakukan dan rencanakan."
"Karena aku tidak bisa membiarkan istriku bertindak sendirian. Aku sudah menaruh curiga saat pulang dari rumah sakit. Bisakah kalian membantuku untuk merahasiakan ini darinya?"
"Aku juga sudah mendapatkan banyak informasi mengenai Presdir Han dan dia-" Zidan menjeda kalimatnya memandang ke sebelah. "Dia dari kejaksaan yang akan membantu kita menangkap pria jahat itu," ungkapnya lagi.
"A-apa? Apa kamu tahu bagaimana bejadnya seorang Presdir Han?" tanya Danieal gugup.
"Saya tahu. Karena tidak ada yang bisa lolos dari hukum jika bukti-bukti kejahatannya bisa kita dapatkan, dan lagi ... selama ini Presdir Han lolos sebab uangnya berbicara. Tenang saja pihak kami tidak akan tergiur dengan cara seperti itu. Karena bagi kami kejahatan harus dituntaskan sampai habis tidak peduli statusnya apa, kedudukannya bagaimana, yang namanya kejahatan tidak bisa dibenarkan," tutur pria yang duduk di sebelah Zidan.
Bening dan Danieal terkesiap mendengarnya. Pria itu memiliki aura positif yang sangat besar dan juga menjunjung tinggi keadilan.
"Tunggu dulu, ke-kenapa wajah kalian mirip?" Bening menunjuk pada dua orang yang duduk saling bersebelahan di tengah-tengah Zidan dan Gibran.
"Karena mereka kembar. Haikal Abizar dan Haidan Abizar adalah putra sulung dari Dokter Abizar," jelas Gibran kemudian.
"KE-KEMBAR?" Danieal berteriak mengenyahkan keheningan. "MasyaAllah, pantas saja tadi aku berpikir wajahnya tidak asing. Wah, wakil direktur punya anak-anak yang hebat," ucap Danieal takjub sembari mengacungkan kedua ibu jarinya ke depan.
Bening mengedip-ngedipkan mata tidak percaya. Allah mengirimkan seseorang lagi untuk membantunya.
"Kalau begitu apa rencana kalian?" tanya Bening kemudian.
Zidan mengulas senyum penuh makna kembali. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Setelah itu di ruangan tersebut mengalun suara halus sang pianis. Mereka yang ada di sana mengangguk-angguk setuju.
Mereka percaya jika rencana ini benar-benar dilakukan maka Presdir Han tidak akan lolos.
...***...
Terbukti pada malam ini Presdir Han tertangkap digiring ke kantor polisi untuk diinterogasi.
Ayana yang mendengar cerita tersebut terus menerus terkejut. Bibir ranumnya terbuka lebar tidak menyangka jika selama ini diam-diam sang suami membantunya.
"Mas Zidan tidak ingin pelaku yang sudah jahat padamu terus berkeliaran, Mbak," ungkap Gibran kemudian.
"Itulah kenapa Zidan bersikukuh untuk mencari tahu kebenaran dan menemukan orang yang bisa diajak kerjasama dengannya," lanjut Haikal.
Ayana masih tidak menyangka dan menutup mulut menganganya. Sedalam itu perasaan Zidan untuknya saat ini dan ia beruntung memberikan kesempatan itu padanya.
__ADS_1
"Tidak, aku beruntung mendapatkan kesempatan ini," benaknya.