
Meniti setiap tangga kehidupan kadang kala menghadirkan batu krikil yang melukai telapak kaki.
Kadang juga memberikan luka teramat parah sampai berdarah-darah untuk mencapai suatu tujuan.
Itulah definisi yang kerap kali cobaan datang menghampiri.
Rasa sakit yang datang menerjang tidak bisa diidentifikasi. Keberadaannya sekejap mata menghunus sembilu menghadirkan luka teramat parah.
Hidup memang tidak luput dari sebuah ujian dan cobaan.
Karena hal itu sebagai bentuk kasih sayang Allah, sebab Allah ingin hamba-Nya terus berharap pada-Nya saja.
Di kala napas masih berhembus cobaan serta ujian itu akan tetap ada.
Jalani dan lalui, sebab semua itu juga akan mendapatkan akhir yang telah ditentukan.
Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya berlarut-larut dalam kesedihan.
Jasmine Magnolia Mahesa, menjadi peran utama dalam kisah hidup kelamnya.
Dimanfaatkan serta dipekerjakan seenaknya oleh sang paman telah dilalui.
Dengan kedua mata kepalanya sendiri ia melihat bagaimana kejamnya Alexa membantai orang tuanya.
Darah yang bercucuran serta air mata membahasi sejarah hitamnya sejak usia muda.
Ia melihat seperti apa kejamnya Alexa menghunuskan pedang tepat ke dada sang ayah dan ibu.
Pada saat itu ia bersembunyi di balik tembok memperlihatkan kejadian mengerikan tersebut.
Suara pedang yang saling bersahutan serta teriakkan demi teriakkan mengerikan terdengar memilukan.
Jasmine berusaha menahan tangis melihat ayah dan ibu dihabisi secara kejam.
Di sela-sela kesadarannya, Naura Mahesa, ibu kandung Jasmine mengatakan jika ia tidak boleh menyerah pada keadaan.
Ia harus berjuang sekuat tenaga sesulit apa pun kehidupan yang menimpa.
Berkat adanya petuah sang ibu, Jasmine bisa bertahan sampai sekarang.
Meskipun kadang kala kejadian itu datang menghadirkan air mata tak berkesudahan.
Rasa sakit kehilangan orang tua yang disengaja dan berakhir bersimbah darah menjadi kenangan paling menyakitkan.
Ia tahu bagaimana rasanya saat Danieal menceritakan mengenai kondisi Ayana setelah menyayat lengannya sendiri.
Rasa takut bercampur takut terus melanda, bagaikan mimpi buruk yang tidak pernah dipikirkan.
Setelah peperangan selesai, Alexa mengitari rumah kakak kandungnya dan mendapati Jasmine bersembunyi di dalam kamar.
Ia menangis seraya menutup telinga berusaha melupakan serta tidak mendengar apa yang terjadi di luar.
"Mulai saat ini kamu akan hidup dengan paman." Itulah yang dikatakan Alexa di hari terakhir ayah dan ibu menghembuskan napas.
Sejak diasuh oleh sang paman, ia dididik sedini mungkin untuk menggunakan alat pahat guna menciptakan patung.
__ADS_1
Alexa yang sadar pada kemampuan Jasmine pun memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi.
Ia sama sekali tidak peduli sesusah apa sang keponakan dalam menerima perintahnya.
Sampai kedua tangan Jasmine berdarah-darah pun Alexa tidak membiarkannya beristirahat.
Ia hanya memberikan obat seadanya tanpa pemeriksaan berkala.
Jasmine begitu terluka dan tersiksa oleh keadaan yang selama ini dijalaninya.
"Luka di kedua tanganmu memang sudah lama, tetapi memburuk seiring berjalannya waktu. Jangan menyepelekan lecet kecil seperti ini. Karena suatu hari nanti bisa berdampak besar."
"Bersyukurlah Allah masih menjagamu, sebab luka-luka ini tidak menyentuh titik inti. Jika saja hal tersebut terjadi maka kedua tangan mu bisa diamputasi," jelas Danieal seraya mengobati lecet-lecet di telapak tangan Jasmine.
Mendengar itu Jasmine terdiam sekejap lalu berkata, "Aku berharap... aku tidak mempunyai kedua tangan ini. Jika memang perlu diamputasi lakukan saja, aku tidak akan-"
"Apa yang kamu bicarakan? Seharusnya kamu bersyukur Allah masih memberikan kesembuhan. Jangan berkecil hati, sebab Allah tahu apa yang akan terjadi di masa depan." Danieal memandang nyalang pada Jasmine membuat wanita itu terpekik.
Ia melebarkan kedua mata lebar tidak percaya ada seseorang yang memarahinya seperti itu.
Seketika perasaannya tiba-tiba saja menghangat dengan sendirinya.
Kedua sudut bibir pucat itu pun sedikit terangkat.
Ini pertama kalinya ia diperhatikan sebegitu dalam oleh seseorang.
Selama ia hidup tidak pernah bertemu dengan lawan jenis. Hubungan apa pun itu tidak sekali saja ia rasakan.
Ia hanya terus terkurung dan terkubur di sebuah ruangan kelam seraya berkutat dengan media-media patung.
Jasmine sangat tidak menyukai hal yang dilakukan dengan paksaan.
"Kenapa? Kenapa kamu baik padaku?" tanya Jasmine meluapkan penasaran.
Danieal mengembalikan kain kasa ke kotak obat dan membereskan semua barang-barang medisnya.
Ia lalu kembali menghadap Jasmine seraya menerawang ke atas.
"Em... Karena aku tidak ingin melihat siapa pun lagi terpuruk dan menyerah, pada kesehatan mental. Karena... adik kandungku meninggal disebabkan oleh depresi."
Setelah itu Danieal pun menceritakan sederet kisah yang pernah dirinya lewati dari sang adik.
Meninggalnya Eliza menjadi peristiwa mengerikan pertama yang pernah dialami Danieal.
Sepanjang bibir menawannya menceritakan masa lalu Eliza, Jasmine terus menerus tidak percaya.
Ini kedua kalinya ia mendapatkan kisah menyedihkan lain, selain Ayana.
Ia pun sadar jika semua orang mempunyai catatan hitam dalam sejarah kehidupannya.
"Aku... turut berduka," kata Jasmine menundukkan kepalanya dalam.
"Terima kasih, semua sudah lama berlalu. Untuk itu aku... tidak ingin kejadian seperti Eliza terulang lagi. Karena sangat menyakitkan bagi kami keluarga yang masih hidup. Aku mengangkat Ayana sebagai adik, tidak ingin melihat kejadian sama kedua kali."
"Saat melihat Ayana menyayat pergelangan tangannya pun, bayangan Eliza kembali hadir menyapa kuat membuatku tidak berdaya. Karena aku tidak ingin kehilangan siapa pun lagi," ungkap Daniel sendu.
__ADS_1
Jasmine mengulas senyum hangat dan mengangkat kepala ke depan memandang tembok.
"Mereka... sangat beruntung bisa mempunyai seseorang yang menangisinya ketika tiada," ucapnya kecut.
Perkataan penuh luka kian mendera sampai ke relung hati terdalam Danieal.
Ia menyadari jika Jasmine menginginkan hal yang sama.
Karena selama ia hidup tidak ada seorang pun yang peduli. Satu-satunya keluarga yang Jasmine punya hanya memberikan luka dan luka.
"Kamu jangan berpikiran kecil, Jasmine. Aku dan Ayana... berharap yang terbaik untukmu."
"Karena aku juga tidak ingin melihatmu terus terpuruk," ungkap Danieal tulus.
Jasmine mendengus pelan seraya menggeleng singkat.
"Aku... tidak butuh belas kasih siapa pun," katanya dingin, penuh dusta.
"Tidak Jasmine. Aku tulus mengatakannya. Aku... ingin melihatmu bangkit dan mendapatkan kebahagiaan. Bangkitlah bersamaku," ungkap Danieal lagi hangat.
Jasmine termenung dengan kedua mata melebar sempurna. Degup jantung bertalu kencang seiring dengan kata-kata dokter yang menanganinya terus berputar.
"Aku akan sepenuhnya bertanggungjawab atas kesembuhan mu," kata Danieal lagi.
Jasmine diam seribu bahasa masih memandang satu titik yang sama.
"Bisakah aku berharap mengiyakan perkataannya?" benak Jasmine jatuh ke dalam lamunan.
...***...
Senja kembali hadir ke sekian kali memberikan keindahannya.
Para penikmat semburat orange dan jingga yang melebur di atas cakrawala memandangi dalam diam.
Nikmatnya memberikan kesan mendalam semakin bernostalgia.
Harapan demi harapan semu terus berdengung dan mengudara.
Ayana yang tengah melukis di pekarangan belakang rumah pun menikmati senyapnya senja.
Ia menuangkan pemandangan di depan ke dalam kanvas berukuran sedang.
Ditemani seulas senyum hangat ia begitu bahagia melakukan kegiatannya.
"Aku akan menghadiahkannya untuk Jasmine. Aku ingin dengan lukisan ini bisa memberikan semangat, meskipun hanya berperan kecil," gumamnya semangat.
Di tengah kesendirian tiba-tiba saja suara piano berdenting.
Ayana menoleh ke sisi kanan melihat lewat kaca cekung sang suami tengah menghadap piano.
Seulas senyum lembut terpendar di wajah tampannya saat berpandangan dengan sang istri.
Keduanya saling memberikan tatapan hangat menikmati waktu yang ada.
Di tengah lantunan musik lembut nan merdu itu pun, Ayana menyelesaikan lukisannya.
__ADS_1
Zidan senang melihat semangat membara yang dirasakan oleh sang istri.