
Tidak ada cara lain selain Danieal meminta bantuan pada orang-orang terdekatnya. Beberapa saat kemudian, Celia yaitu sang ibu, Gibran, dan juga Arfan datang ke galeri Ayana.
Mereka terkejut kala mendapati kondisi sang pelukis benar-benar kacau. Celia menangis melihat Ayana yang mengingatkannya pada Eliza dulu.
Menyadari keberadaan orang lain, Ayana semakin tidak karuan. Ia mengamuk dan kembali melemparkan barang-barang didekatnya.
Danieal, Gibran, dan Arfan berusaha untuk menenangkan. Namun, tidak semudah itu membuat Ayana percaya pada perkataan mereka.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Mbak Ayana jadi seperti ini?" kata Gibran di tengah pertempuran.
"Nanti aku jelaskan, yang pasti kita harus membuat Ayana tenang dulu," balas Danieal kemudian.
Di saat mereka tengah berbisik-bisik, Arfan maju ke depan. Perhatian Ayana terfokuskan padanya mencegah pria itu untuk mendekat.
"JANGAN MENDEKAT, JANGAN DEKATI AKU. AKU BENCI KALIAN SEMUA!" Ayana masih berteriak kencang membuat suaranya bergema di sana.
Di pojok ruangan Celia masih menahan isak tangis kala menyaksikan untuk kesekian kalinya Ayana mengamuk seperti itu.
Namun, sekarang lebih parah, rasa sakit yang tercetus di balik sorot matanya benar-benar membuat ia terluka.
"Ayana," gumamnya lirih.
Arfan semakin maju ke depan dan seketika menerjang Ayana. Wanita itu berontak mencoba melepaskan kedua tangan yang mencengkram erat pergelangannya.
Ia menghentakan-hentakkan kaki sembari terus berteriak hingga membuat suaranya serak dan menghilang.
Dari saku jaket denimnya, Danieal mengeluarkan suntikan lain yang di dalamnya terdapat cairan obat penenang.
Ia selalu membawanya ke mana-mana kala mendapati Ayana kembali mengalami depresi. Ia berjalan perlahan dan seketika menyambar tangan kanannya.
"Mas minta maaf, Ayana," kata Danieal langsung menancapkan jarum suntik itu di sana.
Mata merah Ayana terbuka lebar memandang tidak percaya pada kakak sambungnya. Danieal menekan suntikan itu memberikan cairan tadi ke dalam tubuh sang adik.
Secara perlahan mata Ayana terlihat sayu dan bergulir ke sembarang arah. Tidak lama setelah itu ia tidak sadarkan diri.
Danieal langsung menangkapnya dan membawa Ayana ke rumah sakit milik keluarga Arsyad. Celia bergegas mendekati mereka dan sama-sama menyusul sang dokter.
__ADS_1
...***...
Samar-samar bau disinfektan terendus membuat kesadarannya berangsur-angsur kembali. Netra yang semula bersembunyi di kelopaknya perlahan menampakkan diri lagi.
Kelereng beningnya bergulir mencari tahu di mana ia berada.
"Kamu sudah sadar?" Suara halus seorang wanita menyapa.
Ia menolehkan kepala ke samping kanan mendapati mantan istri berada di sana.
Bella berjalan mendekat lalu duduk dan melipat kaki di samping ranjang rumah sakit.
"Apa Mas sadar apa yang sudah terjadi?" tanyanya langsung.
Zidan melepaskan pandangan dan menatap lurus ke depan. Bibir tipisnya terkatup rapat tanpa ada niatan mengucapkan sepatah kata.
Bella menghela napas kasar, tangan lentiknya terulur mengusap anak rambut menutupi dahi tegas sang mantan suami.
"Bagaimana bisa aku mengabaikan mu seperti ini, Mas?" kata Bella lembut.
Zidan langsung menepis tangan itu di atas kepalanya. "Jangan menyentuhku," tegasnya dingin.
"Berhentilah memikirkan Ayana, dia hampir saja membunuhmu," kata Bella menyadarkan Zidan pada kejadian dini hari tadi.
Ia menoleh lagi pada wanita itu yang tengah mengembangkan senyum. Ia menghela napas masih tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Kenapa? Apa Mas menyesal sudah mendekatinya lagi? Dengar yah Mas, Ayana yang sekarang itu sangat berbahaya. Dia bisa saja mencelakai siapa pun, termasuk kamu. Buktinya sekarang Mas berada di rumah sakit dan hampir dibunuh olehnya. Hati-hati Ayana itu-"
"Bisa berhenti bicara tidak? Aku bosan mendengar suaramu," tegas nan jelas, Zidan memberikan ucapan telak.
Bella tidak menyangka pria yang dulu sangat mencintainya sudah jauh berubah. Manik berlensa hitam legam itu melebar sempurna.
"A-apa kamu bilang? Bosan mendengar suara-"
Perkataan Bella terputus begitu saja dengan pintu ruang inap digeser seseorang. Keduanya menoleh ke arah yang sama mendapati tuan dan nyonya Ashraf datang ke sana.
Di belakangnya pria berjas putih menyembul membuat Bella beranjak dari duduk. Matanya beradu pandang dengan kedua mantan mertuanya sendiri.
__ADS_1
"Sedang apa kamu di sini? Pergi! Kehadiranmu tidak diterima, baik sekarang maupun dulu," ungkap Lina mendelik tidak suka.
"Kamu dengar barusan? Cepat pergi dari ruangan ini dan jangan pernah menemui anakku lagi," lanjut Arshan memberikan tatapan tidak bersahabat pada Bella.
"Silakan keluar Nona Bella, sebelum kami memanggil pihak keamanan," timpal Haikal mempersilakan Bella untuk angkat kaki dari ruang inap tersebut.
Bella berdecak pelan dan seketika mengikuti keinginan mereka. Pada saat mengetahui putra pertama mereka menikahi wanita itu, Lina dan Arshan terkejut bukan main.
Mereka bertambah tidak suka pada Zidan setelah menyianyiakan Ayana hingga membuatnya meninggal. Namun, seiring berjalannya waktu rasa benci itu berubah kembali.
Sefatal apa pun kesalahan seorang anak, orang tua tetap menyayangi buah hati mereka. Lina dan Arshan merangkulnya lagi serta memberikan dukungan kala mendapati Zidan mengalami depresi serta halusinasi.
Keputusan Zidan untuk berpisah dari Bella pun disambut antusias oleh kedua orang tuanya. Mereka bersyukur pada akhirnya sang buah hati sadar dari kesalahan.
"Mamah mendengar kamu masuk rumah sakit lagi, kenapa?" tanya Lina duduk di kursi sebelah ranjang.
"Haikal memberitahu kami jika kamu mengalami luka robek di lengan kiri dan mendapatkan delapan jahitan," ungkap Arshan lagi.
Zidan memandangi orang tuanya lekat. Mereka adalah dua orang yang selama ini berada di sampingnya dan memberikan kekuatan hingga ia bisa seperti sekarang.
Tanpa bisa dicegah air mata mengalir mengejutkan mereka bertiga. Lina menggenggam jari jemari hangat sang putra seraya memberikan tatapan hangat.
"Ada apa lagi sekarang, hm?" tanya sang ibu lagi.
Zidan menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia mulai menceritakan apa yang sudah dialaminya selama dua hari ini.
Diawali dengan pesta Presdir Han, Ayana yang hampir dilecehkan, sampai kejadian dini hari tadi di kediamannya, ia ceritakan semua.
Lina dan Arshan saling pandang tidak percaya. Mereka ikut iba atas kejadian yang menimpa Ayana. Keduanya menyayangkan jika kelakuan orang paling berpengaruh di negaranya bisa melakukan tindakan tak senonoh.
"Astaghfirullahaladzim, bagaimana itu bisa terjadi. Apa Ayana tidak apa-apa sekarang?" tanya Lina khawatir.
Zidan menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Aku tidak tahu di mana Ayana sekarang."
"Tadi saya melihat ada beberapa orang membawa pasien baru ke rumah sakit. Dari rombongan mereka, saya melihat ada tuan muda kedua dan juga pemilik rumah sakit ini. Apa mungkin mereka?" Haikal ikut ke dalam pembicaraan.
Seketika itu juga Zidan bangkit dari berbaringnya tanpa mengindahkan rasa sakit berdenyut di pergelangan tangan.
__ADS_1
Ia menatap langsung pada Haikal menuntut jawaban. "Benarkah? Di mana kamu melihatnya?" tanyanya menggebu.
"Saya melihat mereka mendorong brankar itu menuju lantai atas. Di sana ruang VVIP berada dan menjadi tempat rawat pribadi keluarga Arsyad," ungkap Haikal sudah menjelaskan jika orang yang dilihatnya tadi adalah Ayana.