
Pergi menjadi satu alasan untuk meninggalkan segala luka. Meskipun terkadang pilihan itu yang terbaik, tetapi tidak jarang mengundang permasalahan lain datang. Namun, setidaknya bisa menghindari sumber rasa sakit itulah yang terbaik.
Ayana dan Zidan masih membungkam mulut rapat tidak mengatakan apa pun lagi mengenai Jasmine.
Mereka cukup terpukul mendapati Jasmine terluka di leher yang hampir merenggut nyawa. Ia yang baru sadar tadi pagi pun meminta Ayana maupun Zidan untuk merahasiakan hal tersebut.
Ia tidak ingin berita mengenai masuknya ke rumah sakit sampai ke telinga Danieal. Meskipun Jasmine juga belum tahu apakah dokter tampan itu sudah sadar atau belum.
Namun, firasatnya mengatakan ada hal baik tengah terjadi pada pria yang mencintainya.
Diamnya pasangan suami istri itu, mau tidak mau membuat Danieal amat sangat penasaran. Tangan yang dihiasi jarum infus terulur menggenggam jari jemari Ayana.
Sontak sang empunya terkejut dan sadar dari lamunan panjang lalu menoleh kembali pada kakaknya. Ayana bisa melihat sorot mata penasaran begitu kuat di sana.
"Katakan, apa yang sebenarnya kalian sembunyikan. Kamu dan Zidan menyembunyikan sesuatu dariku, kan?" tanyanya lembut. "Ini mengenai Jasmine, bukan?"
"Mas mohon, Ayana. Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Di mana Jasmine? Di mana dia sekarang? Aku ingin bertemu dengannya, Ayana. Mas mohon," pinta Danieal terus menerus memohon agar Ayana bisa memberitahu di mana keberadaan Jasmine sebenarnya.
"Jasmine, ada di ruangan sebelah." Zidan langsung menyambar ucapan Danieal membuat kakak beradik itu menoleh padanya.
Dahi tegas Ayana mengerut dalam dengan tatapan tajam, seolah mengatakan apa yang Mas lakukan? Namun, Zidan hanya mengulas senyum simpul dan sepenuhnya menatap pada Danieal.
"Aku tahu dan paham rasanya kehilangan seseorang. Aku juga pernah di posisimu saat Ayana pergi, jadi... aku tidak ingin kamu sampai kelimpungan... karena tidak tahu di mana wanita yang kamu cintai," jelas Zidan lagi.
Ayana diam mengerti dan tidak bisa berbuat apa-apa, sedangkan Danieal menautkan kedua alis masih dengan memandangi adik iparnya.
"Kamu bilang, Jasmine ada di ruang sebelah. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya lagi yang kian dirundung kekhawatiran.
Zidan menghela napas kasar dan melirik sekilas pada Ayana lalu meremas sebelah bahunya pelan.
"Dia... di rawat di rumah sakit ini juga."
Penjelasan Zidan barusan sontak membuat kedua manik sang dokter melebar. Jantungnya berdebar kencang dan seketika itu juga bangkit dari berbaring.
Ia menyibakkan selimut hingga membuat selang oksigen di kedua lubang hidungnya terlepas begitu saja.
"Apa yang Mas lakukan? Mas mau ke mana?" tanya Ayana beranjak dari duduk dan merangkul bahu sang kakak.
"Tentu saja, aku harus melihat Jasmine. Aku ingin melihatnya dengan kedua mataku sendiri untuk memastikan dia-"
"Jasmine baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir." Zidan memotong ucapannya dan Danieal kembali pada sang adik ipar lagi.
"Tidak! Aku harus menemuinya, sekarang!" tekannya berusaha melepaskan selang infus.
__ADS_1
Ia tidak peduli jika tindakannya tersebut mengalirkan darah lubang jarum infus. Namun, sebelum ia berhasil melakukan hal itu, Ayana lebih dulu mencengkram pergelangan tangan sang kakak, mencegahnya.
"Jangan lakukan ini. Kita akan mengantar Mas Danieal menemui Jasmine."
Mendengar kata-kata itu dari sang adik, Danieal pun mengurungkan niat.
Tidak lama berselang Zidan membawa kursi roda dan membantu Danieal duduk di sana. Selepas itu mereka membawa sang dokter ke ruangan sebelah.
Betapa terkejutnya Danieal saat melihat Jasmine tengah duduk di atas ranjang rumah sakit seraya menoleh ke samping jendela menyaksikan pemandang luar.
Layaknya de javu pemandangan itu pernah ia saksikan beberapa bulan ke belakang.
Merasakan adanya kehadiran orang lain di ruangan, Jasmine menoleh ke arah pintu masuk. Di sana ia mendapati sahabatnya tengah berada di belakang seorang pria duduk di kursi roda.
Sedetik kemudian bibir pucat Jasmine melengkung sempurna. Menyaksikan senyum penuh sayatan luka memberikan efek rasa sakit di dada Danieal.
"Bawa aku mendekatinya!" titah dokter tampan itu.
Zidan kembali mengambil alih Danieal dan mendorongnya mendekati Jasmine.
Sampai tidak lama berselang, kedua insan itu saling bertatapan dengan jarak yang dekat. Danieal memindai Jasmine dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Mendapati hal itu membuat Jasmine sedikit tidak nyaman.
"Kenapa kamu diinfus seperti ini? Kamu sakit apa?" tanyanya semakin khawatir.
Jasmine menggeleng perlahan lalu membawa benda pintar di atas nakas. Ia mengetikan beberapa kata di sana dan menjulurkannya pada Danieal.
Kata-kata itu berbunyi, "Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit kelelahan."
Seketika Danieal menautkan kedua alis, gerak-gerik Jasmine sangat mencurigakan. Terlebih wanita itu membalas pertanyaannya tadi dengan menuliskan kata-kata di dalam ponsel.
Sebagai seorang dokter, Danieal sedikit paham akan situasi tersebut "Maafkan aku." Tanpa diduga ia mengulurkan tangan dan menyingkap hijab instan Jasmine.
Sedetik kemudian sepasang jelaganya melebar sempurna. Pergerakannya membeku melihat kain kasa melilit di leher jenjang Jasmine.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa lehermu di perban seperti ini?" tanyanya khawatir seraya menarik tangannya lagi.
Danieal benar-benar ketakutan apa yang sudah terjadi pada wanita dicintainya. Ia menoleh ke belakang meminta penjelasan pada Ayana dan Zidan.
"Kalian menyembunyikan hal ini? Kenapa? Kenapa-"
Secepat kilat ucapan Danieal terputus saat Jasmine kembali menjulurkan benda pintar itu.
__ADS_1
Sang dokter kembali berpaling padanya lagi dan membawa ponsel milik Jasmine.
"Jangan menyalahkan mereka. Sungguh... aku baik-baik saja. Jika keadaanku sudah membaik dan bisa bicara lagi... ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan. Bisakah Mas menunggu untuk itu?"
Bola mata Danieal bergulir pada Jasmine melihatnya tersenyum manis. Jantungnya kembali berdegup kencang tak karuan.
"Baiklah, jika memang seperti itu, aku akan menunggu." Finalnya.
Jasmine mengangguk singkat dan mengucapkan terima kasih tanpa suara.
Ayana dan Zidan yang sedari tadi menyaksikan keduanya pun ikut terharu. Mereka tidak menduga Jasmine bisa terluka setelah melakukan rencananya sendiri.
...***...
Selepas sadar dari pingsannya dan bertemu Danieal beberapa saat lalu, Jasmine pun mendapati sepupunya datang ke ruangan.
Ia tersenyum pada Darius yang berjalan mendekat. Pria itu duduk di samping ranjang membalas tatapan Jasmine.
"Jangan tersenyum seperti itu... aku benar-benar merasa bersalah," katanya dingin.
Jasmine menggeleng singkat dan mengetikan apa yang hendak disampaikannya dalam ponsel.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, semua ini murni kecelakaan. Aku senang kamu bisa bertemu dengan tante Rusli lagi. Mulai sekarang hiduplah bersama ibumu, jangan memikirkan apa pun lagi."
Darius terkesiap dan kembali memandangi Jasmine. Lagi dan lagi sepupunya itu melebarkan kedua sudut bibirnya tulus.
"Kenapa? Kenapa kamu masih memikirkan kami?"
Jasmine kembali mengetik di ponsel lalu memperlihatkannya lagi pada Darius.
"Karena kalian adalah satu-satunya keluarga yang aku punya."
Kedua mata Darius terbelalak lebar, terkejut bukan main. Di saat terpuruknya pun Jasmine tetap memikirkan kebaikan mereka.
Ia benar-benar merasa bersalah sudah mencelakai Jasmine hingga membuatnya hampir kehilangan nyawa.
"Aku minta maaf... aku benar-benar minta maaf, Jasmine. Aku sudah tahu semuanya dari mamah, jika... ayah memang sangat bersalah," katanya menyesal.
Darius pun menangis dan menyembunyikan wajah berair nya di telapak tangan dengan bertumpu di tepi tempat tidur.
Melihat itu Jasmine pun tersenyum lembut dan memberikan usapan lembut di puncak kepalanya berkali-kali.
Perlakuan hangat yang dilayangkan sepupunya membuat Darius semakin terisak. Ia yang baru pulang dari luar negeri mendapati kehidupan Jasmine hancur disebabkan oleh pamannya sendiri, yaitu ayah yang selama ini Darius kagumi, terkejut bukan main.
__ADS_1
Ia bisa membayangkan seperti apa kehidupan keji yang sudah dilalui Jasmine.