Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 63


__ADS_3

Masa akan datang pada satu titik. Meskipun hati menolak, tetapi jika ikatan benang merah itu masih melilit pada orang yang sama maka akan kembali lagi.


Kelopak mata yang semula tertutup rapat perlahan terbuka. Denyutan di dalam kepala masih terasa ngilu setiap kali ia berkedip.


Bola mata cokelat beningnya bergulir menyapu setiap penjuru ruangan. Ia hapal kamar yang saat ini tengah didiaminya.


"Kenapa aku ada di sini? Apa mas-"


"Kamu sudah sadar?" tanya seseorang yang sedari tadi ada di sana.


Ayana menoleh ke kanan melihat sang kakak sambung berjalan mendekat. Seketika kedua matanya terbelalak, otaknya menyuruh ia untuk waspada.


Tidak lama berselang, Danieal duduk di sofa tunggal di samping tempat tidur menyelami wajah pucat adiknya.


Ada ketakutan, kecemasan, serta kepedihan tersembunyi apik di balik sorot mata itu. Tubuh Ayana kembali gemetaran kala bayangan beberapa saat lalu teringat dalam bayang.


Kepala berhijabnya menggeleng beberapa kali sembari meremas selimut kuat. Ayana menarik dirinya untuk semakin mendekat ke kepala ranjang.


Ia menghindari Danieal yang mencoba lebih dekat padanya. Sang dokter melakukan itu untuk mengecek bagaimana kondisi adik sambungnya ini.


Ia menyadari jika depresi Ayana bangkit lagi. Sang pelukis itu tanpa sadar mengalirkan air mata yang tiba-tiba saja merengsek memaksa untuk keluar.


Ia semakin menggeleng-gelengkan kepala dan bangkit dari berbaring menarik selimut dengan mencengkeramnya kasar.


"Jangan mendekat ... jangan dekati aku. Pergi! PERGI DARI SINI!" teriak Ayana menolak keberadaan Danieal.


"Tenang Ayana, aku tidak akan menyakitimu. Tenang yah," balas Danieal sembari kedua tangan terangkat di depan dada.


Ayana tidak percaya dan menolak dengan melakukan gesture yang sama. Ia begitu waspada kepada siapa pun yang mendekatinya.


"JANGAN DEKATI AKU! PERGI! PERGI DARI SINI! KALIAN JAHAT ... KALIAN SEMUA JAHAT!" Nada suaranya semakin meninggi.


Teriakannya itu pun bergema di ruangan, Zidan yang tengah berada di lantai satu bergegas menuju ke atas.

__ADS_1


Ia khawatir terjadi sesuatu pada Ayana saat mendengar teriakannya. Ia langsung mendobrak pintu kamar tersebut menyaksikan wajah ketakutan yang sama seperti dirinya lihat di kediaman Presdir Han.


Kedua kaki jenjangnya melangkah ke dalam mendekati Ayana berada. Namun, lagi-lagi keberadaannya pun di tolak sang istri.


"PERGI DARI SINI! JANGAN COBA-COBA DEKATI AKU! PERGI KALIAN SEMUA! PERGI AKU BILANG!" Ayana semakin memberontak dan berteriak kencang.


Ia menyibakkan selimut tebal yang membungkus tubuh kurusnya kasar. Ia turun dari tempat tidur dan seketika membanting apa pun yang berada di dekatnya.


Zidan dan Danieal berusaha menghindar kala barang-barang itu di arahkan pada mereka. Sampai tidak sengaja botol parfum kaca mengenai dahi sang pianis sampai pecah, pelipisnya pun robek dan mengeluarkan darah.


Danieal terkejut menyaksikan adegan tersebut tepat di depan mata kepalanya sendiri. Kondisi Ayana semakin tidak terkendali membuatnya harus segera menenangkan sang adik.


Namun, sebelum bisa memberikan obat penenang ia kembali dikejutkan oleh tindakan yang dilakukan Zidan.


Ia terperangah dan berhenti bergerak kala melihat Zidan memeluk istrinya erat. Ayana semakin memberontak, berusaha melepaskan diri dari kurungan pria itu sembari berteriak.


Ia memukul, menjambak, mencakar, bagain-bagain tubuh Zidan tanpa belas kasih. Suaminya hanya bisa diam pasrah seraya terus memeluk tubuh ringkih Ayana.


"Bisakah Ayana tidak usah diberi obat penenang? Aku tidak ingin melihatnya disuntik," kata Zidan lirih.


Membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam lamanya agar Ayana bisa kembali tenang. Wanita itu tertidur di pelukan suaminya, mengalami kelelahan.


Dengan lembut dan penuh ketelatenan, Zidan membopong sang istri lalu membaringkannya lagi di tempat tidur.


Ia menyelimutinya hangat kemudian mengusap pucak kepalanya lembut. Ia pun mengelap keringat di dahi Ayana penuh perhatian.


Tanpa ekspresi di wajahnya, Zidan terus melakukan itu membuat Danieal tercengang. Ia tidak percaya menyaksikan sendiri kebaikan yang dilakukannya.


Sosok Zidan saat ini sangat berbeda jauh dari apa yang sudah Ayana ceritakan. Ia bisa melihat kesungguhan serta kebaikan tercetus dari sorot matanya.


Ada cinta dan penyesalan yang juga terpendam di sana. Danieal hanya terdiam menyaksikan drama rumah tangga adik sambungnya itu.


...***...

__ADS_1


Di titik ini Zidan memahami jika Ayana sudah banyak melewati masa-masa sulit sendirian. Ia pun keluar dari kamar membiarkannya beristirahat.


Ia lalu berjalan ke lantai dua menyaksikan Danieal tengah duduk di meja makan dan hanya ditemani segelas air hangat.


Ia pun mendekat dan memberikan sepiring buah-buah padanya. Dokter tampan itu pun tercengang, mengangkat kepalanya cepat.


"Apa Ayana mengalami depresi?" tanya Zidan to the point.


Danieal memetik sebiji buah anggur dan memakannya perlahan. "Bagaimana kamu tahu?" tanyanya balik.


Zidan duduk di seberangnya menggenggam erat gelas keramik berisi air hangat.


"Aku ... juga pernah mengalami hal yang sama. Setahun lalu aku depresi dan halusinasi," jelasnya membuat Danieal mengulas senyum simpul.


"Aku bisa melihatnya jika jejak itu masih ada dalam dirimu. Ayana memang mengalami depresi dan trauma."


"Kondisi mentalnya yang seperti itu dipicu oleh tekanan serta peristiwa tidak mengenakan. Hal tersebut dilakukan oleh orang-orang terdekat maupun orang lain. Ayana-"


"Apa maksudmu orang lain?" tanya Zidan memotong ucapannya.


Danieal memandang lurus ke depan menyelami bola mata cokelat susu itu. "Kamu pasti tidak akan pernah menyangka jika ... Ayana hampir dilecehkan oleh pria paruh baya sesaat dirinya pergi dari rumahmu."


"Saat itu aku berhasil mencegah perbuatan tidak beradab seorang kakek dan membawa Ayana untuk menyembuhkan luka fisiknya. Ia mendapatkan luka lecet di tangan dan kaki. Namun, setelah itu aku juga mendapati hal lain jika Ayana langsung depresi dan trauma."


Mendengar kisah kelam yang sudah dialami sang istri membuat Zidan tidak bisa berkata-kata. Selain disebabkan oleh dirinya yang terus menerus menyakiti Ayana, wanita itu pun hampir mendapatkan pelecehan dari orang tidak dikenal.


Ia teringat bagaimana ekspresi Ayana pada saat dilecehkan oleh Presdir Han. Tatapan terluka yang amat sangat terluka itu beradu pandang dengannya. Hal tersebut pun membuat hatinya ikut terluka dan sakit.


Kini ia menyadari seperti apa kebodohan yang sudah dilakukannya pada sang istri. Ia mendapati Ayana dengan kondisi mental yang benar-benar kacau.


"Astaghfirullahaladzim, aku sangat berdosa sekali. Aku menyesal sudah membuatnya seperti ini." Zidan mengusap wajah gusar tidak mempedulikan jika ada lebam serta luka di sana.


Danieal kembali menyadari jika luka tak kasat mata di hatinya berusaha ditutupi. Karena Zidan tidak ingin memperlihatkan kelemahannya pada saat mengetahui kondisi Ayana yang sangat hancur.

__ADS_1


"Tidak mudah memang menjalani hidup dalam penyesalan. Namun, tidak ada yang tidak mungkin jika seseorang sudah bertaubat dan mengakui kesalahannya tanpa adanya kesempatan. Allah pun Maha Pemberi maaf pada setiap hamba-Nya, mudah-mudahan Ayana bisa menerima permintaan maaf Zidan dan menjalani kehidupan dengan baik bersamanya. Entah itu bisa kembali sebagai sepasang suami istri sesungguhnya ataupun ... sebaliknya," monolog Danieal dalam diam masih dengan memandangi Zidan lekat.


__ADS_2