Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 55


__ADS_3

Pertemuan antara Ayana dan Basima pun masih terjadi. Sedari tadi kedua wanita berbeda usia itu masih beradu tatap layaknya sedang menghunuskan pedang satu sama lain.


Ayana maupun Basima saling melempar sorot mata tajam mengungkapkan kekesalan.


Selang beberapa detik kemudian, Ayana mengeluarkan kalung berbandul bunga dengan lima kelopak yang mekar sempurna.


Ia pun mengacungkannya tepat di depan mata Basima membuat wanita tua itu melebarkan pandangan.


"Apa Nyonya masih ingat liontin ini?" tanyanya.


"Ah, dari reaksi Anda, sepertinya Nyonya masih mengingatnya," lanjut Ayana kemudian.


"Bandul liontin ini diberi nama namida hana, yang artinya bunga air mata. Itu benar, kan Nyonya?" jelas sang pelukis membuat Basima bungkam.


Ingatan Ayana pun berputar ke beberapa hari yang lalu di mana ia mendapatkan sebuah panggilan dari pihak rumah sakit.


Buru-buru ia yang tengah mengerjakan proyek baru di galeri langsung bertandang di sana.


Sesampainya di rumah sakit, Ayana bertemu dengan seorang doker senior berusia lanjut bernama Abraham.


Melalui juniornya ia meminta untuk bertemu Ayana. Danieal, selaku orang yang ditunjuknya pun mengiyakan permintaan tersebut.


Sampai tidak lama berselang pelukis cantik itu sudah tiba di rumah sakit. Mereka pun berdiri bersama tepat di depan ruang jenazah.


Entah kenapa Abraham meminta bertemu di sana yang membuat bulu kuduk Ayana meremang.


"Alhamdulillah, setelah sekian tahun saya bisa bertemu dengan Anda, Nona," ucapnya membuat Ayana menautkan alis.


"Ah, sebenarnya ada apa yah, Dok?" tanya Ayana langsung.


Dokter berkacamata dengan kepala dipenuhi uban itu mengulas senyum penuh makna. Ia lalu merogoh saku jas dinasnya mengeluarkan sesuatu dari sana.


"Ini... liontin ini adalah milik mendiang ibumu," ungkapnya.


Mendadak jantung Ayana berdegup kencang, tidak percaya. Ia melihat tangan keriput itu menggenggam rantai liontin tersebut kuat.

__ADS_1


"A-apa?" gugup Ayana terkejut.


"Itu benar, ini milik ibumu, Aliyah. Saya adalah dokter forensik yang menangani korban pada saat kejadian pembakaran di perusahaan Nakazima. Semua jenazah langsung diotopsi untuk mencari tahu apa ada kekerasan atau keracunan yang dialami."


"Namun, setelah melalui berbagai proses tidak ada apa pun, mereka semua murni meninggal akibat dilahap si jago merah."


"Di saat saya memeriksa semua korban, salah satu dari mereka memakai liontin ini dan... setelah kejahatan Basima terungkap saya tahu jika benda ini adalah milik mendiang ibumu," jelas Abraham mengatakan penemuan pada hari itu.


"Sebelumnya liontin ini sangat susah dilepaskan mengingat kulit almarhumah sudah menempel," ungkapnya lagi.


Dengan tangan gemetaran Ayana mengambil liontin tadi dalam genggaman sang dokter.


Tatapan matanya begitu pilu saat sekelebat kata-kata Abraham terbayang dalam kepala. Kulit yang menempel, kalimat itu terus menari indah dalam pendengaran.


Bagaimana kejinya kejadian pada hari itu membuat air mata kembali menetes.


"Syukurlah pada akhirnya kebenaran bisa terungkap," lanjut Abraham.


Setelah pertemuan itu, Ayana mulai mencari tahu kenapa liontin itu bisa berada di leher sang ibu. Sampai ia pun sadar pernah meminta pada ibunya untuk membelikan kalung.


Semakin ia mengamatinya semakin Ayana menyadari satu hal jika ukiran bunga itu tidak asing lagi. ia pun bergegas menemui Bening untuk mencari tahu segala kebenarannya.


Hari demi hari terus berlalu, proses pencarian mengenai liontin pun mencapai titik akhir. Bening dan Ayana mendapatkan sebuah petunjuk.


Dari hasil rekaman CCTV sebelum kejadian kebakaran terjadi, Aliyah sempat mendatangi mansion utama keluarga Ashraf.


Pada saat itu Basima mengatakan jika Aliyah menginginkan sebuah liontin dengan rancangannya sendiri.


"Aku bisa mengabulkan permintaanmu, liontin ini sudah jadi, tetapi kamu harus melakukan tugas membawa bunga langka di perusahaan Nakazima. Siang ini tanaman itu mendarat dari negara asalnya, aku ingin kamu, suamimu, dan delapan orang lainnya membawanya. Karena bunga itu sangat langka kalian harus menjaganya bersama. Namanya sama seperti bandul di liontin itu, namida hana, artinya bunga air mata. Aku harap bunga itu bisa menghapus air mata di keluarga kalian." itulah kata-kata Basimah yang tertangkap rekaman kamera pengawas.


Aliyah puh tersenyum senang dan mengucapkan banyak terima kasih atas permintaannya yang terpenuhi.


Setelah itu Aliyah pun menyanggupi perintahnya. Karena tidak ingin kehilangan liontin yang sangat berharga tersebut, ia memakainya di pekarangan mansion.


Pergerakan itu pun terekam jelas lewat kamera CCTV, bagaimana Aliyah memasangkan kalung tadi di lehernya sampai ucapan terakhir yang ia cetuskan.

__ADS_1


"Aku harap Ayana suka dengan liontin ini. Anak itu selalu saja merengek ingin dibelikan kalung, beruntung aku mendapati rancangan bunga ini," ujarnya senang.


Mendengar kata-kata tersebut air mata tidak bisa ditahan. Ayana menangis sejadi-jadinya di apartemen Bening tanpa mengucapkan apa pun.


"Jadi, sebenarnya liontin ini untukmu dan bandul bunga itu adalah rancangan mu?" Bening menatap pada kalung yang tergeletak di atas meja. "Namun, sepertinya itu adalah permainan terakhir tetua Ashraf. Dia sengaja menyanggupi permintaan ibumu untuk memberikan sepenuhnya bunga air mata padamu," ungkap Bening yang hanya dijawab anggukan oleh Ayana.


...***...


"Permainan Anda sungguh luar biasa, Nyonya. Saya sampai terkejut saat mendapati liontin ini, tetapi sayang... saya tidak bisa menerimanya. Saya akan mengembalikannya dan memberikan bunga air mata ini kepada orang yang seharusnya," kata Ayana lagi.


"Apa maksudmu?" tanya Basima penasaran.


"Saya akan menyuruh sipir untuk memasangkan ini di leher Anda, supaya Nyonya bisa terus mengenang almarhumah dan korban yang lain," lanjutnya.


"KAMU!"


Basima kembali menggebrak kaca pembatas kuat membuat sipir yang berjaga di belakang kesal dibuatnya.


"Tahanan satu delapan tujuh tiga harap tenang. Kunjungan Anda selesai mohon kembali ke dalam."


Sipir wanita itu bangkit dari kursi dan dibantu kedua rekannya menyeret Basima pergi dari sana.


"Awas kamu Ayana! Seharusnya aku membunuhmu, seharusnya aku tidak membiarkanmu berkeliaran di keluarga kami. Dasar anak tidak tahu diri!"


Basima terus berteriak sepanjang dirinya diseret kembali ke sel tahanan. Ayana menyaksikan itu dalam diam dengan wajah datar.


Ia menggenggam liontin itu dan membawanya pergi.


"Ancaman tadi aku pikir sudah cukup mengembalikan semuanya. Bunga air mata, bermekaran lah setiap hati, setiap waktu, setiap detik, dan berikan aroma yang seharusnya beliau hirup," gumamnya dalam benak seraya melangkahkan kaki pergi dari sana.


Bunga air mata yang Ayana terima dari keluarga Ashraf begitu tumbuh subur di ladang hati paling dalam. Setiap waktu bunganya bermekaran maka air mata itu akan tumpah ruah.


Sakit yang terus mendatangi diri kian meluap tidak peduli seberapa pun ia terluka. Bunganya akan tetap mekar dengan cepat menyuguhkan aroma air mata yang terus menemani jalannya pernikahan.


Setiap waktu, setiap saat, bunga air mata akan hadir dan tanpa terlepas dari keluarga Ashraf yang diberikan padanya.

__ADS_1


Dari awal ia sudah terjebak jeratan akar bunga yang terus tumbuh memberikan luka.


__ADS_2