Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 35


__ADS_3

"Eh, Mas Ihsan?" Ayana terkejut mendapati sang wali kota yang tadi menyapanya.


Ihsan memandangi Ayana sekilas lalu beralih ke belakang punggungnya. Di sana ia melihat Zidan tengah bersama sang buah hati bermain bersama layaknya ayah dan putri kandung.


Mereka tergelak bersama menikmati wahana permainan.


Ada perasaan iri kian menyapa kuat. Ihsan tersenyum pahit dan kembali pada Ayana.


Meskipun ia ayah kandung Raima, tetapi dirinya tidak bisa seperti itu bersama putri semata wayangnya.


"Kalian mengajak Raima bermain?" tanyanya langsung.


Ayana melirik sekilas dan kembali kepada putri dan juga suaminya yang berada tidak jauh dari mereka.


"Ah, iya. Kebetulan aku dan suami baru saja dari rumah sakit ikut program hamil, dan setelah itu mengajak Raima bermain ke sini. Karena-"


"Apa? Program hamil? Jadi, kamu dan suami mengabaikan Raima begitu saja? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kalian memperlakukannya seperti itu? Apa setelah mempunyai anak kandung, kalian akan melupakan Raima?" Nada suaranya meninggi beberapa oktaf dengan manik terbelalak. Ia terus meracau kala mendengar penuturan Ayana barusan.


Sang pelukis pun sedikit terkejut mendapatkan reaksi dari orang berpengaruh di negaranya.


Ia tidak menyangka Ihsan mempunyai pemikiran seperti itu.


"Tentu saja tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Bagaimana bisa aku mengabaikan Raima? Aku dan suami tetap akan menyayanginya seperti putri kandung kami sendiri. Meskipun nanti kita punya anak kandung sendiri, aku dan mas Zidan tetap akan menyayanginya."


"Kami akan terus bertanggungjawab sebagai orang tua sambung Raima," jelas Ayana menangkap kekhawatiran di wajah tampan itu.


Ihsan berpaling ke arah lain sekilas dan memandangi putri kandungnya lagi.


Tatapan itu terlihat seperti ayah yang sangat merindukan putrinya. Sorot mata penuh kasih sayang terlihat jelas dari raut muka sang wali kota.


Ayana mengerti bagaimana kekhawatiran Ihsan terhadap putri yang dulu sempat tidak pernah diakuinya.


"Moana? Bagaimana kabarnya?" tanya Ayana menarik atensi pria itu lagi.


"Moana... dia baik. Hanya saja kami lebih sering bertengkar tentang masalah anak. Dia juga, terkadang mengungkit-ungkit Raima. Seolah dia adalah sebuah kesalahan," ungkap Ihsan memandang sendu ke arah Raima yang tengah tergelak senang di gendongan dan diayun-ayunkan oleh ayah angkatnya.


"Aku mengerti, memang tidak mudah menerima kenyataan jika suami kita pernah mempunyai anak dari wanita lain. Masa lalu, tidak bisa diubah maupun dihapuskan begitu saja."


"Seorang anak, bukanlah kesalahan, tetapi anugerah yang tak ternilai. Kamu tahu Mas? Bertahun-tahun aku dan suami mendambakan seorang anak, tetapi kami belum juga dikaruniai putra maupun putri."


"Aku sempat mengandung, tetapi Allah lebih menyayanginya dan keguguran pun terjadi. Sampai detik ini kami masih mengharapkan kedatangan buah hati. Namun, Allah menghadirkan Raima sebagai pelengkap keluarga kami. Dia anugerah tak ternilai," tutur Ayana kembali membuat Ihsan terpaku.

__ADS_1


Bibir keritingnya melengkung sempurna membentuk kurva. Ia memasukkan tangan ke dalam saku celana kainnya dengan sorot mata hangat lagi.


"Aku selalu senang mendengar perkataan mu, Ayana. Kamu mampu membuat perasaan gamang menjadi tenang. Iya, kamu benar, anak itu memang bukan sebuah kesalahan."


"Hanya kami... aku dan Kirana yang bersalah. Karena sudah melakukan sebuah hubungan terlarang hingga mendatangkan Raima," aku Ihsan sekilas menyesali masa lalu.


"Iya Mas benar, yang terpenting sekarang Raima bisa diakui oleh keluarga kalian," kata Ayana lagi mendapat anggukan dari wali kota itu.


Hening menyambut mereka, hanya ada gelak tawa menggelegar di sekitar keduanya dari anak-anak maupun orang tua.


Taman bermain menjadi sebuah destinasi penting yang dilakukan oleh orang tua dan anak untuk menjalin hubungan lebih erat lagi.


Seorang ayah dan ibu senang bisa menghabiskan waktu akhir pekan bersama buah hati mereka.


Tidak terpungkiri jika di dalam lubuk hati Ayana mengharapkan seorang anak. Namun, perasaan itu ditampik kuat mengingat keberadaan Raima.


Selang beberapa menit kemudian, Zidan menggendong Raima ke arah mereka.


Ia terkejut mendapati sang istri bersama pria lain. Dahi lebarnya mengerut dalam melihat mereka bergantian.


"Sayang!" Panggilnya menyadarkan kedua orang itu.


Ayana dan Ihsan menoleh ke depan melihat Zidan dengan air muka masam.


Zidan masih menautkan kedua alis yang semakin mengerut dalam menyelami pertanyaan demi pertanyaan sang istri.


"Bukankah dia adalah pria yang waktu itu datang ke persidangan?" tanyanya setelah sekian lama bungkam.


Ayana mengiyakan seraya tersenyum manis. Zidan tercengang dan berjalan ke arah istrinya cepat lalu merangkul bahunya posesif.


Melihat itu baik Ayana maupun Ihsan terkejut dan saling pandang tidak karuan.


"Apa yang Mas pikirkan? Apa Mas cemburu dengan ayah kandung Raima?" tanya Ayana kembali mendongak menatap wajah tampan sang pianis.


"A-apa? Apa yang kamu katakan barusan? Ayah kandung Raima?" Suara Zidan menggelegar di sana menarik beberapa wisatawan yang berlalu lalang.


Mereka menatap heran sekaligus aneh padanya. Ayana dan Ihsan tergelak seketika dibuatnya, Raima pun ikut menepuk pipi ayah sambungnya pelan.


"Apa yang Mas lakukan? Mengganggu pengunjung yang lain tahu." Ingat Ayana membuat kedua pipi putih Zidan memerah.


"Aku hanya... AH! Iya aku ingat sekarang. Kamu-" tunjuknya tepat di depan hidung bangir Ihsan. "Kamu adalah wali kota itu kan? Wah, aku tidak menyangka kita bertemu di sini. Apa yang sedang kamu lakukan? Meninjau taman bermain?" racaunya lagi dan lagi.

__ADS_1


"Tidak, aku sedang mencari keberadaan putri ku," jelasnya.


Hal tersebut tentu saja membuat Zidan terbelalak. Ia memandangi Raima yang juga tengah melihat ke arahnya.


"Maksudmu... kamu mencari Raima untuk membawanya bersamamu? Tidak... aku tidak akan membiarkan kamu memisahkan Raima dengan kami. Dia sudah menjadi tanggungjawab kami, bukankah kita sudah menggelar persidangan juga? Apa kamu-"


Perkataannya terputus saat Ihsan tertawa keras. Sang pianis termangu menyaksikan gelak menggelegar wali kota.


"Apa yang-"


"Tidak, hanya saja... bagaimana mungkin kamu berpikiran sempit seperti itu? Bagaimana mungkin aku memisahkan kalian? Aku datang ke sini memang sedang meninjau salah satu tempat wisata yang akan dijadikan inspirasi untuk di kota kami. Tenang saja aku tidak akan membawa Raima dari kalian."


"Aku tahu, Ayana dan kamu sangat menyayangi putriku. Terima kasih sudah menjaganya dan menjadi orang tua terbaik," ungkapnya memuji mereka.


Zidan tercengang, sedangkan Ayana tersenyum singkat.


"Baguslah, aku pikir kamu memang senagaja mencari Raima untuk dibawa pergi," kata Zidan lagi memeluk erat sang putri.


"Kalau aku mau mengambil Raima tidak akan berterus terang seperti ini," kata Ihsan menimpali.


"APA?" Zidan kembali berteriak membuat Ayana dan Ihsan tertawa lagi.


Kurang lebih lima menit kemudian, mereka pergi makam malam bersama disebuah restoran keluarga tidak jauh dari sana.


Ayana, Zidan, Raima, dan Ihsan menikmati berbagai macam hidangan di sana seraya berbincang-bincang seputar kehidupan.


Raima pun hanya menikmati apa yang ada di depannya tidak ambil pusing pembicaraan orang dewasa di sekitarnya.


"Apa aku boleh membawa Raima beberapa hari ke rumah? Maksudku bukankah kalian mengikuti program hamil?" tanya Ihsan di sela-sela makan.


Ayana dan Zidan saling pandang mengerti keinginan terdalam seorang ayah.


Bagaimanapun juga Ihsan adalah ayah kandung Raima yang memiliki hak sama seperti mereka.


Rasanya egois sekali jika mereka menginginkan Raima hanya untuk diri sendiri.


"Aku serahkan semuanya pada Mas Zidan."


Mendapatkan perkataan seperti itu Zidan melebarkan pandangan.


Ia menoleh pada sang istri yang sedang tersenyum hangat padanya. Zidan mengangguk menimpali lalu kembali pada Ihsan yang duduk tepat di depan mereka.

__ADS_1


Sang wali kota nampak tegang menyaksikan raut muka serius pasangan suami istri tersebut.


__ADS_2