Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 45


__ADS_3

Bunga yang telah layu kini kembali mekar berkat tangan tulus senantiasa merawatnya dengan baik. Semerbak aroma harum terpancar darinya pun mengantarkan pada ketenangan.


Perubahan tersebut menjadikan kecantikannya semakin berkembang pesat. Kelopak demi kelopak yang terbuka menggambarkan sebuah kenangan di masa lalu.


Ayana acuh tak acuh menghadapi orang-orang yang sudah banyak menyakiti. Ia menyesap minumannya singkat lalu memandangi dua pianis itu.


"Jadi, apa yang ingin kalian bicarakan?" tanya Ayana langsung.


Arfan yang mendengar nada tegas itu pun menatap padanya kemudian bergantian pada dua orang lain di sekitar.


"Sepertinya kamu sudah tidak sabar untuk mendengarkan apa yang akan aku katakan, yah?" sindir Bella membalasnya.


"Saya bukannya tidak sabar, tetapi kami masih punya pekerjaan yang harus diselesaikan," timpal Ayana lagi.


Bella mendengus pelan dan menopang pipi menghadap Ayana. Tangan kanannya terulur membelai lembut hijab belakang sang pelukis.


Ayana melihat sikap Bella lewat ekor matanya bersikap waspada. "Apa yang sedang Anda lakukan?"


"Ayana, sudah hentikan permainanmu. Kita sudah tahu siapa kamu sebenarnya," kata Bella kemudian.


Ayana menoleh menyaksikan bibir merah itu tengah mengembangkan senyum. "Oh yah? Apa yang sudah kamu dapatkan?" Ia berubah menjadi in-formal.


Bella terkejut lalu menegakkan tubuh. "Wow, apa kamu sudah mengakuinya sekarang. Ayana-" Ia condong ke depan tepat di samping telinga Ayana.


"Kamu tidak bisa mengalahkan seorang Bella. Aku akan menghancurkan semua rencanamu. Kamu tahu ... menjadi orang lain adalah sebuah rencana yang kekanak-kanakan." Bella menekan setiap kata membuat lawannya terdiam.


Ayana terbelalak dengan jantung berdegup kencang. Bella menyaksikan jika wanita itu meremas kedua tangan erat.


"Kamu sudah salah melawanku," kata Bella lagi.


Ayana menjauhkan diri dan menyeringai lebar. "Kita lihat saja nanti apakah aku akan mendapatkan kekalahan atau justru sebaliknya."


Setelah mengatakan itu Ayana pun beranjak dari sana menyisakan tanda tanya. Bella menyadari ada sesuatu yang salah dalam diri wanita itu.


"Eh, Ghazella?" Buru-buru Arfan menyusulnya meninggalkan mereka.


Zidan yang sedari tadi diam, langsung menyerobot Bella dengan pertanyaan. "Apa yang sudah kamu katakan padanya?"


"Tidak ada hanya memperingatkannya saja," balas Bella acuh.

__ADS_1


Zidan kembali diam dan memandangi Ayana yang tengah berjalan beriringan bersama Arfan. Dadanya bergemuruh, tidak suka kala menyaksikan pemandangan tersebut.


...***...


Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam, akhirnya waktu yang dinanti-nanti pun tiba. Acara puncak yang diadakan di lantai tiga gedung pagelaran itu disulap menjadi pertemuan semua orang.


Di sana terdapat panggung kecil sebagai hiburan untuk tamu yang datang. Mereka duduk bersama di meja bulat yang tersebar seraya menikmati jamuan.


Banyaknya orang-orang yang datang membuat Ayana semakin bersemangat. Ia sedari tadi berada di belakang panggung bersama Danieal menyaksikan para tamu undangan.


"Kamu yakin mau melakukannya? Apa usahamu selama ini tidak akan sia-sia?" tanya Daneal mencoba mengingatkan.


"Tidak ada yang sia-sia, Mas. Bahkan aku sudah berhasil membuat mereka kelimpungan dan sekarang ... aku akan membuatnya semakin kelimpungan," tegas Ayana, bibirnya menyeringai tajam.


"Wah, Mas takut jika kamu sudah seperti ini."


Ayana pun tergelak mendengarnya. "Baiklah tinggal lima menit lagi sebelum semuanya dimulai." Danieal mengangguk dan bersiap di belakang.


Lima menit kemudian tiba-tiba semua lampu di ruangan itu pun padam. Semua tamu yang ada di sana terkejut serta bertanya-tanya. Mereka menatap ke sekeliling mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Sampai tidak lama berselang, satu lampu sorot menyinari sesosok wanita di atas panggung. Atensi semua orang seketika mengarah padanya yang seolah tengah menarik perhatian.


"Untuk itu di momen bahagia ini, saya ingin mengumumkan satu hal yang selama ini ditutup-tutupi. Sebelumnya saya mohon maaf, bukan bermaksud untuk berbohong ataupun memalsukan semuanya, tetapi ... saya punya alasan yang jelas."


"Saya bukanlah Ghazella Arsyad, tetapi ... saya sebenarnya adalah Ayana Ghazella."


Seketika hening menyambut, semua orang yang mendengar itu tidak percaya dengan pengakuan Ayana.


Bella dan Zidan yang ada di sana pun ikut terbelalak dibuatnya. Mulut mereka menganga tidak menyangka jika Ayana bisa mengakui dirinya di depan khalayak ramai.


Di sisi lain, Arfan yang melihat semua itu juga tidak menyangka. Jika selama ini ia sudah bekerja sama dengan sosok masa lalu Zidan.


"Ja-jadi Ayana masih hidup?" gumamnya saat tahu jika istri pertama Zidan bernama Ayana, tetapi dia sudah meninggal akibat kecelakaan.


Karena selama ini ia tidak tahu bagaimana rupa sang istri pertama, Arfan benar-benar terkejut. Ia melihat ke arah panggung dengan tatapan nanar.


"Apa? Jadi selama ini kamu berpura-pura menjadi orang lain?" tanya salah satu dari mereka.


"Kamu benar-benar sudah menipu kami."

__ADS_1


"Apa kamu menganggap kami ini bodoh?"


Berbagai perkataan kurang mengenakan pun terdengar. Bella tersenyum penuh arti menyaksikan pertunjukan yang menurutnya sangat menarik.


"Ternyata bukan dari tanganku dia mendapatkan balasannya," gumam Bella begitu saja.


Ayana yang mendapatkan kecaman seperti itu pun masih memberikan senyuman lembut. Ia menatap mereka satu persatu yang dalam pandangannya begitu menakjubkan.


"Bisa kalian melihat lukisan ini?" Ayana berjalan beberapa langkah ke samping, tanpa mengindahkan perkataan beberapa orang tadi.


Ia menunjukkan sebuah gambar yang dipancarkan lewat proyektor. Lukisan abstrak itu seketika mengalihkan perhatian.


"Lukisan ini saya buat satu tahun yang lalu. Apa kalian semua bisa mengerti apa yang hendak saya sampaikan lewat gambar tersebut?"


"Nama lukisan ini adalah **traged**i, apa yang sudah saya alami selama ini dicurahkan padanya," kata Alina masih menunjuk ke samping.


Orang-orang yang melihat lukisan itu pun menatapnya lekat. Para seniman sudah langsung tahu dan paham apa arti di baliknya. Mereka meyakini jika perjalanan hidup yang selama ini ia dapatkan tengah diungkapkan lewat gambar tersebut.


Beberapa orang dari mereka berusaha menahan air mata kala mendapati makna di dalamnya. Atmosfer di sekitar pun tiba-tiba saja berubah.


Ketegangan yang dirasakan tadi berangsur-angsur membaik. Suasana haru nan kagum menjadi satu, Ayana menatap para tamu undangannya lagi.


"Seperti yang kalian ketahui lewat lukisan ini jika ... saya pernah mengalami kegagalan," ungkapnya.


Tidak lama berselang sebuah artikel mengenai Ayana pun terbit. Danieal yang menyebarkannya atas permintaan Ayana.


Ia tidak menyangka jika wanita itu mendapatkan sebuah keputusan untuk membuka siapa jati dirinya yang sesungguhnya.


Sebagian besar tamu undangan yang menerima artikel tersebut pun terkejut. Mereka tahu apa arti di balik lukisan tragedy yang Ayana buat dan menyambungkannya dengan tulisan dalam ponsel.


Bella dan Zidan yang ikut mendapatan berita itu pun terkesiap. Mereka kelimpungan atas pembicaraan yang dilontarkan pada kolom komentar.


Mereka sudah mencari tahu siapa Ayana di masa lalu. Banyak orang-orang yang bersimpati dan mendukung pilihannya untuk memalsukan kematian.


Bagaimanapun juga pengkhianatan serta kebohongan Zidan dan Bella lakukan terhadap Ayana bukanlah tindakan yang dibenarkan.


Sedetik kemudian lampu di ruangan kembali terang benderang. Mereka menyaksikan Ayana tengah tersenyum sangat lebar, bola mata sang pelukis bergulir ke arah dua sosok yang sudah membuatnya seperti itu.


Bella dan Zidan terdiam kaku atas tindakan Ayana. Mereka tidak menyangka jika ia bisa melangkah sangat jauh.

__ADS_1


__ADS_2