
Hasrat hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai.
Seperti itulah peribahasa yang menggambarkan keinginan terdalam seorang Jasmine Magnolia Mahesa. Ia berharap menjadi seorang ibu dan memberikan keturunan bagi suaminya.
Namun, apalah daya keadaan tidak mengizinkan ia untuk mencapai harapan tersebut.
Ada hambatan yang harus dilewati.
Tidak sekalipun Jasmine terpikirkan akan mendapatkan penyakit serius setelah ia mendapatkan kebahagiaan.
Baru saja mengecap manisnya madu, ia kembali di hadapkan pada akar permasalahan baru.
Penyakit yang tengah dideritanya bagaikan pukulan telak membangkitkan derita tiada akhir.
Ia begitu terpukul dan sangat kecewa pada diri sendiri. Namun, semua itu di luar kehendaknya sendiri.
Ia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap ketentuan Allah.
Namun, sebagai seorang wanita dan istri, Jasmine merasa tidak sempurna. Kesedihan setiap hari membayangi diri, tanpa bisa bercerita pada siapa pun.
Ia terus menyalahkan diri sendiri, telah menjadi beban bagi suami serta keluarga barunya.
Kemungkinan besar ia tidak bisa memberikan kebahagiaan pada mereka.
Sejak pemberitaan yang ia dapatkan dari dokter kandungan, satu bulan pun berlalu begitu saja.
Selama itu pula Ayana, Zidan, dan kedua buah hatinya masih tinggal di mansion Arsyad.
Setiap hari terdengar suara tangis bayi yang menambah kesengsaraan Jasmine. Diam-diam tanpa siapa pun ketahui ia selalu menangis tersedu sedan.
Ia menumpahkan kepedihan di dalam kamar mandi sambil menyalakan shower agar isakan nya tidak didengar siapa pun.
Makan malam sedang berlangsung, sama seperti biasanya mereka selalu bercengkrama membahas kelucuan Ghazali dan Ghaitsa.
Semua orang gemas akan kehadiran bayi kembar Ayana dan Zidan.
"Ayah sedang kerja yah, Sayang? Cucu Nenek, tampan dan cantik sekali," celoteh Celia duduk menyamping menghadap kedua cucunya yang berbaring di stroller.
Setiap mereka makan bersama, Ghazali dan Ghaitsa pasti akan ikut berada di sana memeriahkan suasana kekeluargaan.
Senyum demi senyum yang keduanya berikan meluluh lantakkan perasaan semua orang.
Di meja makan itu hanya ada Ayana, kedua buah hati kembarnya, Celia, Adnan, dan Jasmine, sedangkan Danieal serta Zidan sibuk dengan dunia kerjanya.
Setelah puas memperhatikan cucu-cucunya, Celia kembali memposisikan tubuh ke depan menghadap meja lagi.
Ia melanjutkan makan malam dan memandangi keluarganya satu persatu. Sampai perhatiannya berhenti pada Jasmine.
"Sayang." Panggilnya tegas.
Jasmine yang sedari tadi sibuk menghabiskan makanannya pun mengangkat kepala lalu melirik sang ibu mertua.
__ADS_1
"Iya Mah?" jawab Jasmine singkat.
"Apa kamu dan Danieal sudah ikut program hamil? Kalian kan menikah hampir satu tahun, bukankah sudah seharusnya kalian mendapatkan seorang putra atau putri?" tanyanya untuk kesekian kali.
Ketakutan Jasmine pun terjadi lagi. Selama satu bulan ini ia berusaha menghindari orang tuanya terutama sang ibu agar tidak mendapatkan pertanyaan mengerikan itu.
Di hadapkan lagi dengan pertanyaan itu, Jasmine berusaha mengembangkan senyum, walaupun terasa ada tangan tak kasat mata meremas hatinya kuat.
"Iya Mah, nanti. Aku dan mas Danieal belum membahas untuk program hamil," balas Jasmine masih mencoba mengembangkan senyum seolah baik-baik saja.
"Iya baiklah jangan terlalu santai, kalian harus ingat, tidak muda lagi."
"Mamah bukannya mendesak kalian harus cepat punya anak, tetapi harus ingat umur saja. Tidak baik punya anak masih kecil, tapi kalian sudah berumur," celoteh Celia.
Entah sadar atau tidak ia seperti mertua yang menyebalkan. Jasmine berusaha menahan tangis yang tiba-tiba saja membuatnya sesak.
"Iya Mah aku mengerti, doa kan saja," balas Jasmine tidak tahu harus bagaimana lagi.
Terutama saat ini tidak ada sang suami di sampingnya. Biasanya Danieal akan langsung menenangkan dan membuat ibunya berhenti bertanya seperti itu.
Ia berusaha tegar dan melanjutkan makannya lagi. Namun, seleranya sudah hilang begitu saja.
Ia diam beberapa saat lalu berkata, "terima kasih makan malamnya. Aku ke kamar dulu."
Jasmine melarikan diri dengan membawa sejuta kepedihan dalam dada.
Ayana yang sedari tadi menjadi penonton di sana mengerti bagaimana perasaan Jasmine.
Ia menoleh pada sang ibu dan menggenggam tangannya kuat.
"Bukankah Mamah tahu sendiri bagaimana aku saat itu? Hari di mana keluarga besar mas Zidan menayangkan kapan aku punya anak? Bukankah aku sempat depresi lagi?" tutur Ayana panjang lebar.
Celia terdiam, mencerna baik-baik perkataan putri sambungnya.
Ia meletakkan sendok dan garpu di atas piring seraya menjatuhkan pandangan.
Ia menyelami kata-kata Ayana, terdiam beberapa saat, seolah tersadar akan sesuatu.
"Benar apa kata, Ayana. Kamu terlalu keras pada Danieal dan Jasmine. Aku ingin mencela kata-kata mu tadi, tapi sepertinya... kamu serius," balas Adnan.
Celia semakin bungkam menyadari kesalahan yang berkali-kali ia lakukan.
"Benarkah? Benarkah Mamah sudah keterlaluan?" tanyanya kemudian.
"Em." Ayana dan Adnan mengangguk kompak.
"Aku juga mendapatkan Ghazali dan Ghaitsa tidak mudah, butuh waktu tidak sebentar," kata Ayana lagi.
"Jadi, apa Mamah sudah menyakiti Jasmine?" Celia menoleh membalas tatapan Ayana.
Wanita berhijab yang baru jadi ibu itu pun kembali mengangguk singkat.
__ADS_1
"Sangat, Mah," balas Ayana lagi.
Celia termenung, diam mengingat kembali apa yang sudah dirinya lakukan pada menantu wanitanya.
...***...
Di lantai dua, Jasmine kembali melakukan hal sama seperti malam-malam kemarin. Ia menghidupkan shower dan menangis sejadi-jadinya di bawah guyuran air.
Ia meremas kuat dada sebelah kiri merasakan luka tak kasat mata begitu kuat.
Rasanya sangat sakit, seperti ada seseorang menyayat-nyayat hatinya.
Isak tangis mengimbangi cucuran air di atas kepala. Berkali-kali Jasmine memukul tembok di hadapannya hingga membuat jari jemari itu memerah.
"Sakit sekali," gumamnya.
Ia tidak tahu harus bagaimana untuk menghadapi mertua serta suaminya sekarang. Keadaan yang ia alami begitu berat nan terjal.
Kurang lebih satu setengah jam kemudian, Jasmine selesai mandi dan menangis di sana.
Ia keluar masih menggunakan bathrobe dengan rambut panjangnya basah kuyup.
Tetesan demi tetesan air dari surai lembutnya berjatuhan di lantai meninggalkan jejak sangat jelas.
Baru saja ia melangkahkan kaki ke kamar utama seketika pergerakannya terhenti.
Ia terkejut saat beradu pandang dengan adik iparnya.
Tanpa ia duga Ayana ada di sana tengah melipat tangan di depan dada. Sorot mata wanita itu memandang lurus pada lawan bicara.
"A-Ayana?" Panggil Jasmine pelan dan gugup.
"Aku mengenakan pakaian dulu," lanjut Jasmine menyambar piyama di atas tempat tidur dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Di sana Jasmine memandangi diri sendiri di depan cermin atas wastafel. Ia melihat wajahnya bengkak, dan memperlihatkan jika dirinya habis menangis.
Tanpa mengatakan apa pun, Jasmine menghela napas kasar. Setelah itu ia buru-buru mengenakan pakaian dan mengeringkan rambut menggunakan hairdryer beberapa menit.
Setelah itu Jasmine keluar lagi dan melihat Ayana sudah berada di balkon.
Kembali, Jasmine menghela napas pelan lalu berjalan mendekat. Ia menggeser jendela kamar tidak jauh dari tempat tidur.
Mendengar gerakan seseorang di belakang, Ayana menoleh dan mendapati kakak iparnya muncul.
Senyum pun mengembang, Ayana berjalan ke arah kursi tunggal dan mendudukkan diri di sana.
Jasmine yang melihat itu mengikutinya dan saling berdampingan hanya dipisahkan oleh meja bundar tengah-tengah mereka.
Angin malam berhembus perlahan menyapu wajah putih keduanya. Langit kali ini memperlihatkan keindahannya lagi.
Bulan bersinar terang, menyinari kegelapan yang kian merundung. Sepi mengitari dan hanya sesekali kendaraan berlalu.
__ADS_1
Kedua wanita itu duduk bersama menikmati hening nya malam, sedangkan suami mereka masih sibuk bekerja.
Zidan sedari tadi pagi pergi ke perusahaan sang ibu untuk menerima klien baru yang akan bekerja sama dengannya meninggalkan ketiga orang berharga di rumah mertua.