
Setelah sekian lama vakum dan lebih fokus menjadi seorang ibu rumah tangga, Ayana Ghazella kembali mencuat ke permukaan.
Pelukis berbakat dengan aliran naturalisme itu pun masih diminati di kalangan penikmat seni.
Kali ini Ayana mendatangkan kembali karya-karya terbaru dan berhasil terjual dalam hitungan minggu saja.
Mendengar pelukis kesukaannya kembali lagi, penikmat seni terutama orang-orang yang menyukai karya Ayana pun langsung pergi ke galeri.
Mereka begitu antusias bisa bertemu lagi secata langsung dengan sang pelukis.
Sejak satu bulan lalu galeri Magnolia milik Ayana tidak pernah sepi pembeli. Seruni sampai kelimpungan menerima orderan baru yang tak kunjung usai.
Di samping itu Ayana senang, ternyata masih banyak orang yang menyukai karyanya. Ia akan berusaha melakukan yang terbaik untuk mereka tanpa melupakan jati diri sebagai seorang ibu.
Ia senang, berkat dukungan suaminya juga bisa berjaya lagi. Jika dulu Ayana hanya berjuang sendirian, kini ada Zidan yang selalu memberikan dukungan seratus persen.
Pianis tampan itu tidak pernah lelah memberikan nasehat demi nasehat guna kelangsungan karier sang istri.
Ia juga sesekali melakukan konser dan ditemani oleh Ayana beserta kedua buah hati kembarnya. Kadang kala juga, Raima ikut serta dan semakin memeriahkan kebahagiaan dalam benak Zidan.
Kehidupan rumah tangga mereka pun semakin harmonis dan berjalan dengan baik. Kasih sayang serta kehangatan begitu tercurahkan di sana.
Siang ini galeri Magnolia sama seperti kemarin-kemarin tidak pernah sepi pengunjung. Ayana maupun Seruni melayani mereka dengan sangat baik.
Bahkan Ayana kebanjiran orderan dan meminta para pelanggan untuk menunggu beberapa hari agar lukisan pesanan mereka bisa dikerjakan dengan baik tanpa ditunggu-tunggu.
Karena sudah terlanjur menyukai hasil tangan sang pelukis, mau seberapa lama pun mereka tetap menunggu, bahkan tidak segan-segan memberikan kocek yang tidak sedikit.
"Assalamu'alaikum, bisakah saya memesan lukisan dengan tema bunga air mata?"
Suara lembut seseorang menyapa, Ayana yang memunggunginya dan sedang sibuk berkutat dengan Seruni pun langsung menoleh.
"Wa'alaikumsalam, iya ap-"
Ucapannya seketika terhenti kala manik mereka saling bertemu satu sama lain. Iris karamel Ayana melebar sempurna dengan degup jantung bertalu kencang.
Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Tepat di depan mata kepalanya sendiri, ia melihat mantan madunya berdiri sembari mengembangkan senyum manis.
Ia mematung, membisu, bak pandangan itu menyedotnya pada masa lalu.
"Siapa dia, Mbak? Bawa saja masuk jika dia orang penting," jelas Seruni mengejutkan Ayana yang diam membisu.
__ADS_1
"A-ah, iya. Kalau begitu aku titip galeri," kata Ayana lalu berjalan ke ruangan samping kasir.
"Anda bisa langsung menyusul beliau," jelas Seruni dijawab anggukan oleh wanita berhijab hitam itu.
...***...
Dua gelas green tea dihidangkan ke hadapan mereka. Uapnya masih mengepul dan memberikan aroma menenangkan.
Di ruangan itu terasa sepi, berbanding terbalik dengan keadaan di luar. Di sana hanya ada beberapa kanvas yang ditutupi kain putih, sebagain lukisan selesai dikerjakan dan sebagian besar masih tahap pengerjaan.
Ayana memandangi sosok di depannya ini dalam diam. Bibir ranumnya mengatup rapat masih mencerna apa yang terjadi padanya sekarang.
"Ternyata kamu masih menyukai green tea, Ayana?" tanya sang lawan bicara sambil menyesap minuman berwarna hijau bening itu singkat.
"Bella? Kamu Bella, kan?" tanya Ayana mencoba memastikan.
Melihat sang pelukis nampak ragu, Bella tergelak seketika.
"Itu benar, Ayana. Aku Bella... Bella Ellena, mantan madu mu dan juga... wanita yang pernah memberikan luka di hatimu," jelas Bella mengingatkan mereka akan masa lalu.
Ayana mendengus pelan sembari tersenyum begitu saja.
"Tidak aku sangka, setelah sekian tahun... kamu banyak berubah sekarang. Bagaimana kabarmu?" tanya Ayana penasaran.
"Aku datang ke sini ingin mengucapkan terima kasih, Ayana. Karena berkatmu aku bisa mendapatkan hidayah," akunya tulus.
"Bukan Bella, semua itu berkat Allah. Aku tidak melakukan apa pun. Aku senang melihat perubahan mu seperti ini. Aku benar-benar senang dan bersyukur," balas Ayana terharu.
"Iya kamu benar, semu ini berkat Allah. Bahkan... aku sempat mengalami balasan atas apa yang sudah aku perbuat. Ayana... aku benar-benar minta maaf. Aku sudah-"
"Aku dengar kamu mengunjungi ku di rumah sakit. Apa itu benar?"
Ayana memotong ucapan Bella cepat, wanita itu hanya mengangguk singkat.
"Dan bertemu dengan mas Zidan?"
Kembali, Bella mengangguk mengiyakan.
Ayana menghela napas kasar, dan terus menatap Bella lekat.
"Bella... sejak hari itu, aku sudah memaafkan semua kesalahanmu, terutama... rencana mu yang membuatku keguguran."
__ADS_1
"Aku juga berpikir tidak baik jika terus memendam dendam dalam hati. Karena meskipun aku tidak memaafkan mu, anak itu tidak akan kembali. Jadi, kamu tidak usah minta maaf lagi... karena aku sudah memaafkan mu, Bella."
"Jujur, saat mendengar kamu datang ke rumah sakit dan sudah berhijab seperti sekarang, aku sangat bahagia dan bangga. Karena kamu bisa menjemput hidayah Allah dan berubah ke jalan lebih baik," ungkap Ayana, tulus.
Bella terharu benar-benar terharu atas ucapan yang diberikan Ayana. Selama ini ia terus kepikiran atas kesalahannya di masa lalu.
Mendengar sendiri jika Ayana telah memaafkannya, Bella tidak kuasa menahan air mata. Ia menangis dalam diam seraya terus mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih, Ayana. Terima kasih banyak," ucapnya sambil mengusap liquid bening berkali-kali.
Melihat itu Ayana pun bangkit dari duduk dan melangkahkan kaki begitu saja.
Mantan istri dari Zidan itu terus menunduk, pasrah jika Ayana meninggalkannya sendirian di sana. Namun, ternyata sang pelukis duduk di sampingnya.
Bella terkejut dan seketika mengangkat kepala lalu menoleh ke samping kiri.
Tanpa diduga, Ayana langsung memeluknya erat.
"Terima kasih sudah berubah, Bella. Aku sangat senang melihat kamu berhijab sekarang, semoga kamu bisa istiqamah di jalan Allah dan mendapatkan kebahagiaan," lirih Ayana.
Hatinya benar-benar tergerak, ikut hanyut pada keadaan mantan madunya saat ini.
Bella seketika terharu bukan main. Ia menangis dan menangis lalu membalas pelukan Ayana tak kalah erat.
Dua wanita yang sempat beradu konflik hanya dengan satu pria itu pun kini dipersatukan lagi dengan keadaan lebih baik.
"Sampai kapan pun kamu tetap temanku, Bella," ungkap Ayana lagi.
"Maa syaa Allah, Alhamdulillah, terima kasih, Ayana."
Bella semakin terisak mendengar pengakuan sang sahabat sejak masa sekolahnya dulu. Ia salah, pernah menorehkan luka teramat dalam pada Ayana berkat keegoisannya sendiri.
Ia berpikir jika dengan memanfaatkan Zidan sebagai pasangan hidup sekaligus pianis nya maka akan memberikan kebaikan pada kehidupan serta kedua orang tua. Namun, nyatanya keadaan jauh lebih parah.
Semua orang khususnya mereka yang berada di dunia musik, tidak mengakui keberadaannya lagi. Bella sadar jika orang tuanya memang salah sudah melakukan plagiarisme terhadap Zidan.
Ia malu sendiri kala mengetahui kebenaran tesebut. Hingga pada akhirnya Bella memutuskan untuk kembali ke tanah air dan meminta maaf pada Ayana serta Zidan.
Karena berkat keegoisannya ia sudah menyakiti banyak pihak.
Ayana yang tidak mempermasalahkan hal itu lagi, mencoba lebih berlapang dada dalam menerima permintaan maaf seseorang yang menyesali perbuatannya.
__ADS_1
"Ya Allah, terima kasih atas kebaikan-Mu yang sudah melapangkan hati hamba untuk memaafkan kesalahan-kesalahan mereka. Semoga hamba lebih kuat lagi dalam menjalani semua ketentuan dari-Mu," monolog Ayana dalam benak.
Ia lega, Bella sudah menyesali perbuatannya dan mau memperbaiki diri serta meminta maaf.