Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 23


__ADS_3

Sekujur tubuh Ayana mati rasa. Tidak ada satupun indera yang bekerja kala mendapati kenyataan tepat di depan mata kepalanya sendiri.


Hanya kedua bola matanya saja berbicara yang sedari tadi terus bergulir, memindai semua hal yang terjadi di hadapannya.


Keringat dingin pun seketika bercucuran di pelipisnya dengan degup jantung bertalu kencang.


Ayana tidak menduga begitu cepat mendapatkan hal yang sudah mereka rencanakan dari awal.


"Ayana, Ayana, sayang. Apa kamu baik-baik saja?"


Suara sang suami mengalun, menyadarkan dari lamunan.


"Ah, iya aku baik-baik saja," balas Ayana gugup, berusaha menguasai dirinya lagi.


"Kami sudah melihat apa yang kamu temukan, berhati-hatilah. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi," lanjut Bening kemudian.


"Baik mbak," balas Ayana.


Ia pun kembali menelusuri ruangan yang dipenuhi oleh kerangka manusia.


Banyak dari mereka yang masih menggunakan pakaian lengkap serta ada beberapa senjata pedang yang sudah berkarat di kaki sebelah kanan.


Mereka tergeletak, tersusun rapih di sebuah rak kayu terbuat dari kayu. Ada yang terbalik ada pula tengkurap memperhatikan kondisi terakhir mereka.


Sampai langkah kaki Ayana berhenti di dua sosok yang tengkurap. Pakaian yang mereka kenakan begitu menarik perhatian.


"Pakaian mereka berbeda dari yang lain, apa mungkin kedua jenazah ini adalah-"


"Mereka adalah orang tuaku. Ayana bisakah kamu membawa mereka? Aku mohon... aku ingin menguburkan mereka dengan layak," potong Jasmine membuat Ayana menegang.


"Jadi benar mereka orang tuamu? Astaghfirullahaladzim, ja-jadi selama ini mereka dikurung di sini?" cicit Ayana terkejut.


Ia juga tidak mendengar apa pun lagi di balik earphone.


Sedetik kemudian ia mendengar isakan seseorang. Ayana menyadari jika saat ini Jasmine sedang menangis.


"Tenang saja, kita bisa membawa mereka keluar dari sini," kata Ayana memandangi jenazah yang sudah berbentuk tengkorak itu lekat.


Ia tidak menyangka bisa berada dalam lautan orang yang sudah meninggal.


Bau anyir yang ia dapati tadi berasal dari ruangan tersebut. Ia sengaja menyebutkan bau amis agar tidak dicurigai Alexa.


Tanpa ia duga bau itu memang lebih dominan di lantai satu.


Bertahun-tahun lamanya keluarga Jasmine terkurung di sana. Bahkan setelah menjadi jenazah pun mereka tidak mendapatkan pemakaman yang layak.

__ADS_1


Namun, lebih menyedihkannya lagi adalah ruangan yang ditempati Jasmine untuk mengurang nya di sana bersebelahan dengan jenazah orang tuanya disimpan.


Ia tidak bisa membayangkan jika setiap hari Jasmine bisa mencium bau kurang sedap yang berasal dari orang terkasihnya.


Tanpa sadar air mata menetes, Ayana tidak kuasa menahan gemetar dalam diri dan jatuh begitu saja di sana.


Ia bertumpu pada sebuah kayu, tempat peristirahatan terakhir mereka.


Entah kenapa ia merasa mual dan pusing berada dalam banyaknya orang-orang yang sudah tidak bernyawa lagi.


Terlebih hanya kerangka mereka saja yang tersisa. Ayana semakin pusing seolah bayangan hari itu tergambar jelas dalam pikiran.


"Sayang, kamu baik-baik saja?"


Zidan kembali menghubunginya merasakan hal tidak beres dari sang istri.


Di saat Ayana hendak membalas ucapan suaminya, tiba-tiba saja ia mendengar derap langkah kaki mendekat.


Buru-buru Ayana bangkit dan menoleh ke belakang mendapati Alexa serta beberapa orang suruhannya di sana.


"Wah-wah-wah, coba lihat siapa yang kita dapatkan di sini? Apa lalat ini sengaja masuk ke dalam perangkap?" ujar suara serak nan dalam Alexa.


"Tu-tuan Alexa, kenapa-"


"Ayana-Ayana, apa kamu wanita senaif itu? Bagaimana bisa aku membiarkan seseorang berkeliaran di mansion ini? Aku sengaja memberikanmu izin bukan untuk berkeliaran di rumah orang. Apa kamu tidak diajarkan tatakrama?" Alexa menyeringai lebar mendapati wajah sayu wanita di hadapannya.


Ayana sadar jika semua orang yang menghilang tadi memang sengaja untuk menjebaknya.


"Kamu tahu kenapa aku sengaja menemui mu malam itu?"


Tatapan Ayana terus mengikuti ke mana pria tua itu pergi. Sampai mereka saling berhadapan satu sama lain.


"Karena aku sengaja untuk menjebak mu datang ke sini. Kamu-" Alexa mencengkram belakang kepala Ayana sampai sang empunya mendongak ke atas.


"Kamu sudah menyembunyikan Jasmine," katanya lagi membuat Ayana terbelalak.


Ia tidak menyadari jika sang tetua Mahesa sudah mencari tahu keberadaan Jasmine.


"Kamu salah sudah datang ke sini. Kamu tahu orang yang datang ke mansion kami itu tidak pernah kembali lagi? Dan... mereka dikurung di sini selamanya."


Bola mata Alexa bergulir ke samping kiri seolah mengatakan pada Ayana untuk mengikutinya.


Sang pelukis pun melakukan hal sama, sampai ia terbelalak lebar melihat ada sekitar enam wanita berpakaian minim dirantai dengan posisi berdiri.


Ia tahu mereka sudah tidak bernyawa lagi terlihat lubang besar di dada sebelah kiri.

__ADS_1


"Kamu... benar-benar bajingan. Mereka manusia, sama seperti mu. Bagaimana bisa kamu memperlakukannya dengan sangat kejam?"


Ayana naik pitam menghempaskan tangan Alexa di kepalanya.


Ia mundur beberapa langkah dan diam-diam tangan sebelah kanannya menarik abaya untuk mengeluarkan pistol.


Seketika itu juga Alexa tertawa menggelegar di sana. Ia memandang penuh amarah pada Ayana dan kembali memberikan seringaian.


"Kamu benar-benar luar biasa, Ayana. Aku sudah mencari tahu seperti apa kamu sebenarnya. Wah, melawan presdir Han dan juga tetua Ashraf sendirian? Itu benar-benar mengesankan." Alexa bertepuk tangan mengapresiasi apa yang sudah Ayana lakukan.


"Namun, sayang nasib mu harus berakhir di sini."


Sedetik kemudian Alexa menyuruh anak buahnya untuk mencelakai Ayana.


Dengan sigap wanita itu melawan mereka dan bertarung di sana.


Kemampuannya yang telah ia latih kembali digunakan. Ia teringat pada saat anak buah presdir Han menyuruh beberapa orang untuk menculiknya.


Ia pun melawan mereka sama seperti hari ini.


Baku hantam pun tidak terelakan. Ayana berhasil melayangkan pukulan serta tendangan kepada sebagian mereka.


Para pria itu terpental ke rak-rak berisi jenazah yang membuatnya ambruk mengenai mereka seketika.


Melihat perlawanan Ayana, Alexa semakin tersenyum lebar.


"Wah sungguh wanita luar biasa. Bagaimana bisa kamu melawan enam pria itu sekaligus? Tetapi, apa yang terjadi jika kamu melawan mereka yang bersenjata?"


Ayana dikejutkan dengan kedatangan delapan pria yang masing-masing dari mereka membawa pedang.


Napasnya naik turun dengan keringat membanjiri wajah.


Ia mengusapnya kasar yang meluncur sampai ke dagu. Ia mendesah pelan dan kembali menatap pada Alexa.


"Jika waktuku memang sudah datang maka... aku akan berakhir di sini, tetapi, jika belum maka kamu akan mendapatkan balasan atas apa yang sudah diperbuat," kata Ayana menarik abaya nya dan mengeluarkan pistol untuk berjaga-jaga sebagai tameng melindungi diri sendiri.


Alexa tidak percaya jika selama ini wanita itu menyembunyikan senjata berbahaya.


Sampai untuk kedua kalinya pertarungan antara Ayana dan beberapa pria bersentaja itu terjadi.


Tidak lama berselang pintu di ruangan itu tertutup rapat.


Ayana pun bisa mendengar teriakan sang suami.


"AYANA!"

__ADS_1


"Jangan khawatir aku bisa mengatasinya," kata Ayana disela-sela pertarungan sengit tersebut.


"Aku tidak percaya wanita ini bisa menemukan rahasia besar ku," geram Alexa menghentakkan ujung tongkatnya lagi.


__ADS_2