Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 110


__ADS_3

Kemelut kembali menguasai ruangan interogasi di sana. Presdir Han masih diam mematung bak bongkahan es tidak bergerak se inci pun.


Sudah lima belas tahun sejak pertemuan terakhirnya dengan sang putri, ia tidak pernah melihatnya lagi secara langsung.


Hal itu dilakukan agar dirinya tidak diketahui mempunyai seorang anak yang lumpuh. Ia tidak ingin Saida diejek lagi dan semakin terpuruk.


Namun, tetap saja kehadiran serta keberadaan seorang ayah dibutuhkan bagi seorang anak. Saida kadang kala iri melihat kehidupan saudari kembarnya, Sabina yang selalu terlihat akrab di setiap kesempatan bersama sang ayah.


Dirinya hanya bisa terjebak di sebuah desa asing jauh dari jangkauan orang-orang. Ia bagaikan burung dalam sangkar, tidak bisa pergi ke manapun secara bebas.


Ia juga tidak mau membuat ayahnya kecewa dan berakhir memarahinya.


Selama tiga puluh lima tahun ia hidup dalam pengasingan, hanya bisa memandang gemerlap dunia lewat layar televisi.


Saida berbeda dengan saudari kembarnya. Kekurangan yang ia miliki membuatnya tidak bisa dengan bebas menampakan diri pada dunia luar.


Namun, setelah bertemu dengan Ayana, Saida berpikir jika dirinya ingin memberikan kontribusi dan di sinilah ia berada bersama sang ibu.


Beberapa saat berlalu, Ayana yang masih duduk di kursi seraya melipat tangan di depan dada pun mengulas senyum lebar.


Ia lalu beranjak dan berjalan beberapa langkah mendekat kedua wanita berbeda usia tersebut.


"Assalamu'alaikum, Nyonya besar, Nyonya muda, selamat datang di ibu kota," ucapnya, kemudian menyalami tangan kedua wanita itu.


"Wa'alaikumsalam," balas mereka bersamaan.


Presdir Han yang menyaksikan adegan tepat di depan mata kepala sendiri pun dibuat terkejut. Ia tidak menyangka Ayana bisa menemukan istri beserta anaknya yang disembunyikan di tempat terpencil.


"Bagaimana perjalanan kalian ke sini?" tanya Ayana berbasa-basi.


"Alhamdulillah, lancar," balas Saida sembari mendongak menatap wanita muda di depannya.


Ayana yang tetap menggenggam tangan hangatnya pun seketika bersimpuh di hadapan Saida. Sorot mata hangat memberikan keyakinan pada mereka untuk terus melanjutkan rencana.


"Tenang saja, Kak Saida pasti bisa menunjukkan pada dunia jika ... Kakak sangat luar biasa. Aku yakin itu," kata Ayana lembut.

__ADS_1


Saida mengangguk singkat dan menyunggingkan senyum haru.


Di tengah obrolan ringan mereka, Presdir Han menggebrak meja kasar. Seketika atensi semua orang termasuk dua orang keamanan memandanginya.


"Apa yang sedang kamu mainkan, Ayana?" tanyanya geram menahan emosi yang kian membuncah.


Ayana bangkit kembali menghadap pria tua itu.


"Aku tidak sedang main-main," balasnya acuh tak acuh.


"Ka-"


"Hentikan Mas, sudah cukup! Kamu harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah diperbuat. Berapa banyak lagi korban yang harus berjatuhan akibat keegoisanmu, hah? Bertahun-tahun, kamu melakukan perbuatan keji dan tak bermoral ini, apa kamu lupa mempunyai anak, hah?" Yara menyela ucapan sang suami menggebu-gebu.


Manik kelam sang pengusaha itu bergulir pada istrinya. Ia menyaksikan kekecewaan begitu mendalam, sampai bola matanya beralih ke putri pertama mereka, Saida Baida Bose yang juga memberikan tatapan penuh kecewa.


Kedua tangan pria tua itu pun seketika mengepal kuat. Mulut keriputnya mengatup rapat tidak bisa melontarkan sepatah kata.


Ayana yang menyadari hal itu pun hanya bisa mengulas senyum simpul. Ia tahu keberadaan istri dan anaknya di sana sudah membuat Presdir Han bungkam.


"Sekarang orang-orang di luar sana sudah tahu jika Anda memiliki dua putri kembar, yaitu Saida Baida Bose dan Sabina Barika Bose."


"Tuan, benar-benar memilih nama yang tepat untuk kedua Nyonya muda ini. Saida Baida artinya orang beruntung dan unik. Seharusnya Tuan bersyukur dianugerahi putri istimewa seperti beliau. Karena dengan kekurangan tersebut Nyonya Saida memiliki keberuntungan serta keunikannya sendiri. Beliau pandai bermain biola dan sudah banyak memenangkan penghargaan serta piala di berbagai perlombaan," racau Ayana.


Presdir Han menundukkan kepala, selama ini ia tidak pernah tahu jika sang putri pertama memiliki bakat di dunia musik.


Ia juga tidak tahu jika Saida pun mewarisi darahnya yang menyukai seni.


Saida senang dengan lukisan dan mengagumi Ayana sebagai pelukis pendatang baru.


Han Bose terlalu sibuk dengan dunianya sendiri tanpa memikirkan kedua putrinya, terutama Saida. Ketakutan itu hanya untuk dirinya semata, tanpa memberikan kesempatan pada sang buah hati agar berjuang melawan dunia.


"Sabina Barika yang memiliki arti bunga mekar, beliau memang sangat indah dengan kecantikannya. Anda sangat beruntung dianugerahi kedua putri luar biasa," lanjut Ayana lagi.


Presdir Han semakin menunduk dan menunduk. Kata-kata wanita muda yang sudah dua kali ia permainkan seketika menusuk relung hati terdalam.

__ADS_1


Perkataan memang terkadang lebih kejam dari pada sebuah tindakan.


Pria tua itu terus menerus meremas kedua tangannya erat.


Orang-orang di sana pun menyaksikan tindakan Presdir Han tersebut. Mereka tidak menyangka pria baya yang biasanya selalu bertindak pongah, kasar, dan tidak mau kalah itu diam seribu bahasa.


Haidan memandangi Ayana seraya mengulas senyum lembut. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan wanita tangguh seperti ini.


Merasa ada yang memperhatikan, Ayana menggerakkan kepala ke sisi kanan. Di sana ia melihat jaksa muda itu tengah mengembangkan lengkungan bulan sabit sembari mengangkat ibu jarinya tepat di depan dada.


Ayana hanya mendengus pelan dan ikut tersenyum seraya mengangguk singkat.


"Persidangan akan dilakukan besok. Bersiaplah untuk segala kebenarannya, kami harap Anda bisa bekerja sama," kata Haidan kemudian.


Semua orang yang ada di sana saling pandang dan mengangguk memberikan tanda untuk keluar dari ruangan.


Di sana tersisa keluarga kecil Han yang kembali bisa berkumpul bersama.


Sepeninggalan orang-orang, Presdir Han mengangkat kepalanya lagi. Yara dan Saida tercengang melihat wajah tua itu dipenuhi linangan air mata.


Tanpa mengatakan sepatah kata Presdir Han melangkah perlahan mendekati keduanya. Ia kemudian bersimpuh tepat di depan kaki sang buah hati.


Ia menundukkan kepala di atas pangkuan Saida dan seketika itu juga menangis sejadi-jadinya.


Hatinya terasa sakit setelah semua yang ia lalui. Sudah banyak sekali ia berbuat zalim kepada orang-orang tanpa memikirkan perasaan mereka.


Terutama anak pertamanya, Saida. Ia tanpa sadar telah mengukung kebebasan berekspresinya. Presdir Han hanya menunjukkan Sabina pada orang-orang, jika wanita menawan itu adalah putri tercinta.


Yara yang menyaksikan itu pun seketika ikut memeluk keduanya. Mereka sama-sama menangis berbicara lewat air mata.


Ruangan kedap suara itu hanya diisi dengan isak tangis ketiganya.


Di luar ruangan Ayana menyaksikan semua adegan tersebut. Ia ikut menitikkan air mata, haru sekaligus lega pada akhirnya Presdir Han mau mengakui kesalahan.


Ia pun menghapus air mata lalu berbalik hendak pergi. Namun, di saat kepalanya mendongak manik jelaga itu tidak sengaja memandangi seseorang.

__ADS_1


Pandangan mereka saling bertemu satu sama lain dan terdiam begitu saja.


__ADS_2