Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 24


__ADS_3

Sekian lama mendung menetap nyaman di atas cakrawala. Dinginnya udara menyapa setiap orang mengiringi pada jalan cerita berbeda.


Senyum yang semula tulus kini berganti kepalsuan. Terus menerus disakiti menjadikan pribadi berubah ke dua arah. Entah itu lebih baik ataupun sebaliknya.


Menghadapi masalah demi masalah memang tidaklah mudah, tetapi ketika menggantungkannya pada Sang Pemilik Kehidupan akan berbeda ceritanya.


Allah Maha Pengatur yang luar biasa. Skema-Nya kadang kala tidak bisa ditebak dan kedatangannya bisa mengejutkan.


Ayana diam mematung di tempatnya berdiri. Iris cokelat beningnya masih memandang pria berjas formal yang kini ikut memandanginya.


Di tengah kekakuan itu, seseorang kembali datang. Bola mata Ayana beralih ke belakang pria tadi mendapati suaminya.


Tanpa mengindahkan apa pun, Zidan melangkahkan kaki jenjangnya mendekati sang istri.


"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya mengusap lembut pipi hangat Ayana.


Sang empunya mengangguk lalu mendongak menyelami keindahan manik pasangan hidupnya.


"Aku baik-baik saja, apa Mas mendengar semuanya?" tanya balik Ayana, Zidan mengiyakan tanpa cela.


"Kamu tenang saja, tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi. Aku mencintaimu, Sayang." Zidan memberikan ciuman lembut di dahi lebar Ayana beberapa detik dan setelah itu menghampiri ibu dan neneknya.


Sebelum melangkahkan kaki, Ayana bisa menangkap kilatan dalam sorot mata sang suami. Ini pertama kali baginya Zidan memperlihatkan emosi seperti itu.


"Mamah, Nenek!" Panggil Zidan membuat kedua wanita itu yang menyaksikan adegan singkat tadi terkesiap.


Kepala berhijab Ayana sedikit menoleh ke belakang, sudut bibirnya menyeringai pelan lalu melangkahkan kaki meninggalkan mereka sendirian.


"Mari bicara di galeri," ajak Ayana pada pria yang sedari tadi diam mematung menyaksikan drama tepat di depan matanya.


...***...


"Benar kamu tidak apa-apa, Ayana? Lihat, kamu sudah menghabiskan tiga gelas teh hijau. Bukankah ini sangat pahit?" racau nya mengamati bekas minuman di hadapan mereka.


Ayana mendengus pelan, melebarkan kedua sudut bibir, dan menggeleng tidak karuan.


"Maaf, Mas Arfan harus melihat kondisi keluargaku," kata Ayana lirih.


Arfan, pelukis sekaligus pengusaha itu tidak menyangka mendengar semua pembicaraan rekan kerjanya tadi.

__ADS_1


Ia yang sudah tiba di kafe pun menghentikan langkah kala mendapati Ayana tengah berbicara dengan dua orang wanita.


Ia terkejut saat mengetahui jika mereka adalah ibu dan nenek mertuanya.


Kata-kata yang dilayangkan tadi masih berdengung dalam pendengaran. Ia tidak menyangka mendengar sang tetua Ashraf mengatakan pisah pada pasangan menikah yang saling mencintai.


Ia juga tidak percaya Ayana dituduh bermain api di belakang suaminya yang termasuk dirinya ikut andil.


"Tidak Ayana! Seharusnya aku yang minta maaf, tidak sengaja ... aku mendengar pembicaraan kalian," kata Arfan kemudian.


"Aku benar-benar malu sekarang. Apa yang harus aku lakukan? Mas juga sedikitnya terseret dalam masalah kami." Ayana menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangan.


"Tidak usah malu, Ayana. Masalah di pernikahan itu wajar, tetapi siapa pun tidak berhak ikut campur dalam rumah tangga kalian, termasuk keluargamu sendiri. Aku juga tidak keberatan sama sekali. Karena kita sama sekali tidak melakukan hal salah."


Kata-kata dari Arfan barusan mengalun menendang gendang telinganya. Ayana terpaku, terdiam beberapa saat dan melepaskan tangannya.


Ia melebarkan kedua mata membalas tatapan sang lawan bicara.


"Benar apa kata Mas, siapa pun tidak berhak ikut campur. Karena kami yang menjalankannya bukan orang lain," jawab Ayana tegas.


Arfan mengangguk-anggukan kepala sambil menikmati cemilan manis yang disuguhkan Seruni tadi.


Ia melihat perubahan wajah Ayana yang semula sendu kini tegas kembali. Ia pun terkejut kala baru mengetahui jika suasana hati seseorang bisa berganti dalam hitungan detik.


Ayana mengiyakan tanpa membalas sepatah kata.


Di kafe, Zidan sudah menempati kursi yang tadi diduduki Ayana. Ia memandangi kedua wanita beda usia di depannya lekat.


Ia tidak pernah menyangka ibu dan neneknya bisa menemui Ayana tanpa sepengetahuannya. Beruntung ia kembali ke sana saat mengetahui sapu tangan yang biasa dirinya bawa tertinggal.


Setelah mendapatkan keinginannya, Zidan hendak meninggalkan meja yang beberapa menit lalu ditempati bersama sang istri, samar-samar ia mendengar suara seseorang.


Lengkingan itu mirip neneknya membuat ia melangkahkan kaki mendekat. Sedetik kemudian Zidan terbelalak melihat Ayana tengah bersama ibu dan neneknya.


Ia berdiri tidak jauh dari mereka sembari mendengarkan apa yang dibicarakan. Ia benar-benar terkejut saat neneknya mengatakan perpisahan dan menuduh sang istri tidak benar.


Ia pun menampakan sosoknya dan melihat ada pria lain tengah berdiri di dekat meja mereka. Ia menyaksikan sang istri yang bertatapan langsung dengan sosok itu.


Zidan tahu apa yang dirasakan Ayana pada saat kejadian tersebut.

__ADS_1


"Aku harap Mamah dan Nenek tidak usah ikut campur dalam rumah tangga kami. Aku sudah jauh lebih dewasa menentukan mana yang terbaik dan tidak. Ayana juga tidak pernah bermain api di belakangku, entah itu dulu dan sekarang. Kami-"


"Sampai kapan? Sampai kapan kamu berpikir sudah lebih dewasa? Kamu hanya egois Zidan," sambar Basima cepat.


Bola kelam sang pianis pun bergulir ke arahnya. "Egois? Apa maksud Nenek?"


"Apa kamu tidak memikirkan perasaan ayah dan ibumu? Mereka semakin tua, seharusnya diusia ini orang tuamu sudah menggendong cucu," tegas Basima lagi.


"Mah, aku mohon jangan paksa Zidan. Aku dan mas Arshan tidak terlalu memikirkan cucu, kami-"


"Apa? Lina, dengar yah! Bagi kami keturunan itu penting, apa jadinya jika anak kamu tidak mempunyai anak, hah? Ke mana aset keluarga kita itu akan pergi?" ucap tetua Ashraf menggebu-gebu.


"Apa kalian mau semua aset yang sekarang sudah susah payah didapatkan jatuh begitu saja? Apa-"


"Nek, aku mohon jangan bebankan Ayana terus dengan pertanyaan kapan kami punya anak. Seharusnya kami juga sudah punya, tetapi Nenek tahu sendiri aku ... aku yang membunuh anak itu," ujar Zidan dengan suara yang semakin pelan.


Melihat anak dan cucunya menundukkan kepala dalam, Lina dan Basima terdiam. Mereka tahu bagaimana sulitnya Zidan pasca kejadian itu terjadi.


Ia terus menyalahkan diri sendiri dan kehilangan semangat hidup.


Basima pun berdehem kencang lalu beranjak dari duduk.


"Tapi ingat jangan sampai lalai pada masalah itu. Kalian juga butuh teman hidup."


Zidan mengangkat kepalanya lagi, "Aku harap Nenek maupun keluarga yang lain tidak usah ikut campur urusan rumah tangga kami. Jika sampai ini terjadi lagi aku ... tidak akan tinggal diam!"


Basima terkejut mendapati cucu pertamanya memberikan tatapan tajam. Ia mendengus lalu meninggalkan sejuta kepelikan. Lina yang melihat putra sulungnya seperti itu ikut terkesiap.


"Mamah minta maaf. Mamah tidak bisa berbuat banyak untuk kalian. Mamah juga merasa tidak enak pada Ayana yang terus menerus dipojokan oleh keluarga besar kita. Mamah-"


"Sudahlah Mah, jangan terus minta maaf itu semakin memberatkan bagiku. Aku harap Mamah bisa meyakinkan mereka agar Ayana tidak terus merasakan sakit." Zidan bertatap langsung dengan sang ibu.


Lina mengangguk mengerti. "Kamu tenang saja, mudah-mudahan mereka bisa mengerti. Kalau begitu Mamah susul dulu nenekmu. Jika keadaan sudah lebih baik mari kita bertemu dengan Ayana, pastinya, yah?"


Zidan mengiyakan tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Ia menyaksikan ibunya beranjak dari duduk dan mulai pergi meninggalkan.


Helaan napas terdengar berat, Zidan tidak pernah menyangka masalah dalam rumah tangganya begitu rumit.


Sekarang masalah anak yang menjadi patokan. Ia benar-benar merasa sakit kala bayangan beberapa tahun ke belakang hinggap begitu saja.

__ADS_1


"Ya Allah, sabarkanlah hamba. Hamba minta maaf ... ayah minta maaf, sayang," racaunya mengusap wajah gusar.


Sebagai korban keegoisan dari dirinya sendiri, Zidan sangat menyesali perbuatannya di masa lalu. Namun, nasi sudah menjadi bubur tidak bisa diputar kembali.


__ADS_2