Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 18


__ADS_3

Dari kedatangannya ke galeri besar di ibu kota, Ayana terus menerus terdiam tak bersuara. Pandangannya hanya mengikuti ke mana orang-orang berlalu lalang menyiapkan segala keperluan.


Sudah tujuh jam berlalu sejak ia meninggalkan rumah, dan selama itu pula dirinya mendapatkan lagi dan lagi chat masuk dari keluarga besar sang suami.


Sedari tadi ponselnya tidak pernah berhenti bergetar. Ayana murka, sedih, dan kecewa pada semua orang yang selalu mempertanyakan kapan ia akan mendapatkan anak lagi.


Tidak ada satu pun pesan masuk yang ia balas. Ayana menyimpan ponsel di balik saku mantel dan hendak menonaktifkannya.


Namun, sebelum benda pintar itu benar-benar mati, satu pesan datang dari suaminya.


Ayana menghentikan pergerakannya lalu membuka isi chat tersebut.


"Sayang, bisakah malam ini kita makan bersama di kediaman utama? Semua keluarga sedang berkumpul di sana, dan mereka juga ingin kita hadir. Nanti aku akan menjemputmu." Itu isi pesan dari Zidan.


Ayana pun membalasnya, "Tidak usah, Mas. Aku bisa pergi sendiri, maaf jika nanti aku datangnya telat masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."


Setelah mengirim balasan, helaan napas terdengar berat. Ayana memasukan kembali ponsel ke saku mantel dan hendak melangkahkan kaki, tetapi seseorang menghentikannya lagi.


"Apa ada yang mengganggumu?" tanyanya menyodorkan cup kopi hangat.


Ayana pun menerimanya dan mengucapkan terima kasih. "Tidak ada," jawabnya singkat.


"Kamu harus bisa berkonsentrasi, pameran kali ini tidak main-main. Banyak pelukis ternama dari berbagai negara turut hadir memeriahkan. Aku harap kamu bisa melakukan keduanya," ucap Arfan lagi.


Mendengar kata-kata terakhirnya membuat Ayana menghentikan langkah lalu melihat ke sebelah. Kening lebarnya mengerut dalam tidak mengerti.


"Melakukan keduanya? Maksud Mas Arfan?"


"Iya, antara pekerjaan dan menjadi istri," ungkapnya di pungkas senyum lembut.


"Ah, insyaAllah," jawab Ayana singkat dan terdiam di tempatnya berpijak.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita selesaikan pekerjaan hari ini," ajak Arfan membuat Ayana mengangguk singkat.


Di tengah lamunan, Ayana tidak memperhatikan sekitar. Dari arah samping beberapa orang tengah membawa kaca besar untuk dipasang di lantai atas.


Kegaduhan yang terjadi di sana pun tidak membuat Ayana maupun keempat pria itu menyadari keberadaan satu sama lain.


Arfan yang menoleh ke belakang terkejut saat melihat keduanya hendak bertubrukan. Ia pun berteriak kencang membuat semua orang yang ada di sana menatap pada satu titik.

__ADS_1


"AYANA AWAS!"


Ayana mengangkat kepala ke depan lalu dengan perlahan menoleh ke samping. Seketika itu juga manik jelaganya melebar sempurna menyaksikan kejadian yang langsung menimpanya.


Suara kaca pecah terdengar nyaring bergema ke segala penjuru. Peristiwa sekap mata itu pun tidak bisa dihindari dan terjadi begitu cepat.


Darah mengalir dari luka robek yang mengenainya. Orang-orang berduyun-duyun mendekat membantu mereka dan bergegas memberikan penanganan pertama.


...***...


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Ayana baru saja tiba di mansion utama keluarga Ashraf.


Kendaraan hitamnya terparkir di garasi memandang dingin ke depan. Bola matanya lalu bergulir ke arah kedua tangan yang masih menggenggam stir mobil.


Salah satu dari mereka terbalut kain kasa, ia menghela napas mengingat tadi siang.


"Sekarang, bagaimana aku bisa melukis?" gumamnya menarik tangan kanan memperhatikannya lekat.


Kejadian yang menimpanya membuat telapak tangan sebelah kanan robek akibat gesekan pecahan kaca.


Melihat kedatangan keempat pria yang tengah membawa kaca besar Ayana refleks ikut membantu. Namun, sayang kaca itu lebih dulu pecah hingga mengenai telapak tangan.


"Sekarang masalah besar akan mendatangiku lagi. Bismillah, ayo kita hadapi bersama." Ayana menyambar tas di jok sebelah lalu membuka pintu mobil.


Kedatangannya di sambut para maid, mereka mengatakan jika semua keluarga besar sedang berada di ruang tamu.


Satu langkah yang Ayana ambil terasa begitu berat, bagaikan kedua kakinya terborgol bola besi.


Sayup-sayup terdengar gelak tawa bergema, perlahan tapi pasti, Ayana pun tiba di ruangan itu mendapati keluarga besar Ashraf tengah berkumpul.


Ayana diam mematung menyaksikan keakraban mereka. Pemandangan tersebut membuat ia nostalgia, di mana saat pertama kali dirinya bertemu keluarga besar sang suami, kehadirannya sama sekali tidak disambut dengan baik.


"Mbak! Mbak sudah datang?" Gibran menyadarkannya dari lamunan. Buru-buru Ayana menyembunyikan tangan kanan ke belakang punggung.


Hal itu mengundang atensi yang lain menoleh ke arahnya. Menjadi pusat perhatian, Ayana menatap mereka satu persatu lalu kembali pada Gibran.


"Assalamu'alaikum, maaf aku telat," kata Ayana berusaha bersikap biasa. Kepala berhijabnya mengangguk pada sang adik ipar dan mengulas senyum simpul.


Ia berjalan mendekat lalu menyalami tangan para orang tua.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam," balas mereka.


Mega dan juga beberapa anggota keluarga lain memutar bola mata, jengah. Mereka saling pandang berbicara dalam diam.


"Sayang, kenapa tanganmu di perban seperti ini?" tanya Lina mendapati tangan menantunya terluka.


"Tadi aku tidak sengaja melukainya saat sedang bekerja," balas Ayana menarik tangan dari genggaman sang ibu mertua.


"Apa kamu tidak apa-apa, Sayang?" Zidan datang membawa tangan kanannya untuk diperiksa.


"Aku baik-baik saja, Mas," jawab Ayana, lagi dan lagi menarik tangannya lalu disembunyikan di balik punggung.


"Makanya kamu tidak usah terus menerus bekerja. Apa gaji Zidan tidak cukup menutupi kebutuhanmu? Sebegitu pentingnya kah pekerjaan itu?" cerocos Mega sembari menikmati keripik kentang.


"Itu benar, Nenek juga sudah mendengarnya dari Mega. Kamu-" Manik sayu sang tetua Ashraf memandang Ayana lekat.


"Kamu terlalu banyak bekerja, bagaimana bisa memberikan keturunan pada Zidan? Sekarang kamu sudah berhasil, kamu menganggap keluarga kita ini apa? Kamu ingin membalas dendam pada kita? Karena waktu itu keberadaan mu tidak sambut dengan baik? Kamu ingin mempermalukan keluarga dengan membuat cucu pertama keluarga ini tidak punya anak?" ujarnya terus menerus.


Basima Ashraf, wanita baya itu tidak sedikit pun melunturkan pandangannya dari Ayana. Ia terus menatapnya lekat membuat sang pelukis menggenggam tali tas kuat.


"Mah, tidak usah berkata seperti itu. Ayana-"


"Sekarang kamu membela menantu mu itu, Arshan?" tanya Basima menoleh pada anak pertamanya.


"Mas harusnya setuju apa yang dikatakan Mamah, ini juga untuk kebaikan mereka," lanjut Mega memandangi Ayana dan Zidan.


"Bagaimana kamu bisa punya anak jika terus menerus bekerja? Kamu jadi tidak bisa sepenuhnya konsentrasi pada keluarga," timpal adik pertama Arshan, Daniyah.


"Itu benar, kamu seharusnya jangan mementingkan pekerjaan terus. Keluarga harus yang utama, seharusnya sekarang kalian sudah punya anak," kata kakak dari pihak ibu mertuanya, Ghana.


Keluarga Lina pun ikut bergabung bersama mereka untuk memojokkan Ayana. Sudah menjadi rutinitas setiap minggu, mereka akan berkumpul bertemu satu sama lain guna mempererat tali silahturahmi.


"Apa kamu tidak malu terus didahului oleh Mega? Dia itu Tante kalian dan sekarang akan mempunyai anak ketiga," kata Basima lagi menatap mereka bergantian.


"Itu benar, apa jangan-jangan kamu memang tidak ingin punya anak dari Zidan? Apa itu benar, Ayana? Tujuanmu kembali pada keponakanku itu untuk balas dendam pada keluarga kami, kan?" kata Mega terus menerus memojokkan Ayana.


Zidan yang berada di sebelah sang istri pun menoleh melihat Ayana tengah memandang lurus ke depan. Air mukanya datar tanpa ekspresi, tanpa ia sadari sang pelukis tengah menahan kekesalan dalam dada.


Posisinya saat ini benar-benar tak karuan.

__ADS_1


__ADS_2