
Seolah waktu berhenti detik itu juga, tatapan penuh makna mengarah tepat padanya. Denyut jantung bertalu kencang tak tertahankan.
Layaknya seisi dunia runtuh mendapati diamnya sang kakak, bagaikan kebenaran terungkap secara tidak langsung.
Iris bulan Ayana melebar sempurna. Ia turun dari ranjang dan berjalan lunglai mendekati Danieal yang masih diam seraya memegang kasa.
"Ja-jangan katakan ka-kalau operasi itu-"
"Operasi itu berhasil, Ayana. Alhamdulillah, suamimu selamat, tapi saat ini masih dalam proses," ungkap Danieal menyerobot perkataan adiknya.
Mendengar penuturan sang kakak, kedua kakinya lemas seketika. Ayana limbung, duduk di kursi depan meja sang dokter.
Air mata mengalir tak tertahankan, menganak bagaikan sungai. Tetes demi tetes kristal bening meluncur di kedua pipi.
Ayana mengusapnya berkali-kali lalu menangkup wajah berair di kedua telapak tangan. Isak tangis penuh haru nan lega pun bergema di ruangan.
Danieal mengulas senyum simpul dan duduk tepat di hadapannya. Ia menepuk pelan puncak kepala sang adik sambung.
"Syukurlah, nyawanya bisa diselamatkan," kata Danieal lagi.
Ayana semakin terisak dan terisak. "Alhamdulillah," bisiknya lirih berulang kali.
Beberapa menit berlalu, di sana hanya terdengar suara menangis Ayana. Wanita itu tidak berhenti mengeluarkan air mata.
Danieal pun memberinya tissue yang kini sudah menumpuk menjadi sebuah gulungan besar.
"A-aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Mas Zidan ... suamiku, selamat, Mas," ucapnya menatap Danieal masih berlinang air mata.
"Em, syukurlah. Sekarang bersihkan ingusmu dulu, Mas mau mengobati luka di wajahmu itu. Lihat, wajah jelek mu semakin jelek," ejek Danieal dengan candaan.
Ayana hendak melayangkan pukulan di lengan kanannya, sedetik kemudian pergerakan tersebut terhenti. Ia menariknya kembali lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Tidak lama setelah itu wajahnya pun diobati. Berkali-kali ia meringis kesakitan kala alkohol dan obat luka diberikan.
"Pelan-pelan Mas, sakit tahu," dumelnya.
__ADS_1
Danieal tergelak mendengar rengekan itu. "Katamu ini sakit? Apa yang kamu rasakan? Saat mendapatkan pukulan dari pria-pria itu, HAH? Dasar gadis nakal bisanya berkelahi terus. Apa kamu ini seorang pria? Apa aku benar-benar memiliki adik seorang wanita? Atau pria?" cerocosnya mengalahkan lajunya kereta api.
Ayana terkekeh seraya menggaruk kepala canggung. "Maaf, aku melakukannya untuk pertahanan diri."
"Em, jangan lakukan lagi. Jika ada apa-apa langsung hubungi kami. Kamu tahu?" Danieal menjeda kalimatnya saat hendak mengambil plester yang sedikit jauh dari jangkauan.
"Suamimu benar-benar sangat khawatir. Dia bahkan tidak mempedulikan peringatan kami jika perjalanan ini bahaya, tapi ... dia keukeuh ingin menemui mu dan ... yah inilah akhirnya. Dia rela kehilangan nyawa untuk melindungi mu," ungkap Danieal lagi, sibuk dengan mengobati luka Ayana kembali.
Sang pelukis menatap lantai marmer sebagai objek pengalihan. Ia tidak percaya mendapati seorang Zidan rela kehilangan nyawa berkali-kali untuk melindunginya.
Ia yakin jika perasaan sang suami padanya saat ini benar adanya. Ia tidak akan ragu lagi untuk memberikan kesempatan kedua pada Zidan.
Zidan Ashraf pernah melakukan kesalahan yang tidak termaafkan. Ia sudah menyakiti istrinya berkali-kali bahkan membunuh calon anaknya sendiri. Namun, pengampunan berhak diberikan di saat ia benar-benar bertaubat dan mengakui kesalahan.
Terlebih saat ini, ia rela melakukan apa pun untuk Ayana. Maka, tidak mungkin baginya untuk tidak membuka hati lagi.
"Yah, Allah saja maha pemaaf. Apa iya aku tega mengabaikannya terus menerus? Ya Allah berikanlah kebaikan kepada kami," benak Ayana dalam diam.
Danieal memandang sang adik lekat. Ia tahu dan mengerti apa yang tengah dipikirkan Ayana saat ini.
Ia bisa melihat keraguan yang sempat mengendap dalam dada, perlahan memudar dan berganti ketulusan.
Wanita berhijab itu mendongak membalas tatapan lembut sang kakak. Ia mengangguk mengiyakan ucapannya.
...***...
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Operasi Zidan baru saja selesai satu jam lalu, Dokter Abizar yang menanganinya menjelaskan jika sang tuan muda mengalami koma.
Namun, mereka lega kala mendengar peluru yang bersarang di dada sebelah kiri tidak mengenai alat vital dan tidak membahayakan nyawanya. Itulah sebabnya Zidan bisa bertahan, tetapi ia tidak sadarkan diri entah sampai kapan.
Suara sepatu heels bergema di lorong rumah sakit. Wanita yang di wajahnya dipenuhi perban dan plaster berjalan mendekat ke salah satu ruangan VVIP.
Kedua tangan yang berada di saku mantel berwarna merah tua menyembunyikan kepalan. Ia terus melangkah dan melangkah mengenyahkan keheningan.
Tidak lama berselang ia pun tiba di ruangan yang dimaksud. Ia menatap sang pasien lewat kaca kecil di jendela pintu.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan mereka bebas begitu saja. Setelah apa yang dilakukannya padamu dan padaku ... aku bisa pastikan mereka menerima ganjarannya," geram Ayana menahan kekesalan.
"Mas tenang saja, tidak usah khawatir. Aku akan kembali sebelum kamu sadar," ucapnya lagi.
Beberapa menit kemudian ia berbalik meninggalkan ruangan tersebut. Langkah percaya dirinya membawa ia pergi dari rumah sakit.
Namun, sebelum itu terjadi pergerakannya terhenti. Seorang wanita berambut panjang tiba-tiba saja menatapnya dalam.
"Sedang apa kamu di sini, Bella?" tanyanya dingin.
"Tentu saja menjenguk suamiku," kata Bella percaya diri.
Ayana mendengus kasar. "Suamimu? Apa kepalamu terbentur sesuatu? Jika aku tidak salah, kalian sudah resmi berpisah satu tahun lamanya."
Bella tertawa kencang. Tanpa tahu malu setelah apa yang terjadi, ia menampakan batang hidungnya di sana.
Seolah tidak bersalah wanita itu melipat tangan di depan dada memberikan senyum mengejek.
"Itu adalah sebuah kesalahan. Kami sebenarnya tidak ingin berpisah, dia-"
"Hentikan ocehan mu. Kamu tidak diterima di sini," potong Ayana cepat.
"Oh yah? Lalu apa yang ingin kamu lakukan?" tantang Bella. "Apa kamu tidak kapok setelah menolak presdir Han? Saat ini dia sangat marah dan ... aku tidak bisa memastikan apa yang akan dilakukannya lagi padamu," ungkapnya.
Ayana berjalan ke arahnya hingga mereka saling berhadap-hadapan dengan jarak cukup dekat. Sebelah sudut bibirnya terangkat, menyeringai begitu kuat pada sang lawan.
"Aku tidak peduli apa yang mau dia lakukan atau kamu lakukan. Aku akan pastikan kalian membayar semua ini!" ucap Ayana tanpa gentar.
Setelah mengatakan itu ia menekan tombol lift dan pintu pun terbuka. Namun, sebelum meninggalkan Bella, Ayana kembali berujar, "bersiap-siaplah untuk membela dirimu nanti. Siapkan alibi terbaikmu, Bella."
Ayana pun melangkahkan kaki membuat Bella tidak bisa berkutik. Maniknya perlahan melebar mendengar keyakinan serta ketegasan wanita itu.
"Wah, apa-apaan dia itu? Bagaimana bisa dia berakting sebagus itu? Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang, aku? Atau kamu, Ayana," ujarnya.
Sepanjang lift turun Ayana terus memberikan tatapan nyalang. Kedua tangan meremas kuat kala melihat lagi wanita yang sudah merusak rumah tangganya.
__ADS_1
Rasa sakit semakin berkali-kali lipat menghantam diri. Ayana tidak gentar sama sekali untuk mencari dan mencari informasi guna memberikan peringatan pada mereka berdua.
Ia akan berusaha sekuat tenaga menegakan keadilan. Kasus yang menimpanya sudah termasuk ke dalam kasus besar, yaitu percobaan pembunuhan, penculikan, serta pelecehan.