
Detikkan jam memotivasi untuk terus berjalan sebagaimana mestinya. Meskipun tidak diperhatikan, kadang kala memberikan sebuah perubahan.
Jangan menyerah dan jangan putus asa ketika mendapatkan kesukaran. Karena masa bisa merubah segalanya. Kesedihan hanya bersifat sementara begitu pula dengan kebahagiaan.
Waktu tidak pernah salah memberikan kebahagiaan maupun kesedihan. Keduanya hanya membutuhkan masa kapan akan datang dan pergi.
Begitulah sampai masa tertentu yang telah Allah takdir kan.
Di ruang keluarga bernuansa putih lembut, keempat insan tengah berkumpul bersama.
Di temani empat minuman hangat dan beberapa cemilan, mereka siap mendengar semua kebenaran.
"Hana Tsubasa, datang pertama kali ke Desa X, setelah Ayana mendapatkan perawatan selama enam bulan."
"Dia datang dikawal layaknya orang penting dan berharga. Banyak orang-orang berpakaian hitam dan kacamata hitam mendampinginya."
"Pada saat itu Hana berwajah muram, tidak mengatakan sepatah katapun saat beberapa tenaga medis termasuk aku menanyainya."
"Ia seperti sedang dikendalikan, bagaikan kehidupannya direnggut orang lain."
"Dia diam seribu bahasa dengan tatapan kosong. Seolah... ada hal yang disembunyikan."
"Saat kami menelusuri kebenarannya, ternyata Hana Tsubasa sengaja diungsikan ke sana... sebab ayahnya tengah mengadakan kampanye. Pria tua itu mengatakan pada tenaga medis jika dirinya meminta bantuan kami untuk merawatnya."
"Dia juga mengatakan wanita itu mengidap skizofrenia dan sudah banyak dokter yang menanganinya, tetapi dia tidak sembuh-sembuh."
"Namun, setelah aku dan senior Duta memeriksanya Hana Tsubasa tidak mengidap skizofrenia, melainkan... anxiety disorder," jelas Danieal mengungkapkan rahasia masa lalu.
Ayana, Jasmine, maupun Zidan terkesiap, tidak percaya mendengar kebenaran seorang Hana Tsubasa.
Mereka juga baru mengetahui jika orang nomor satu di negaranya mempunyai seorang putri, yang mana hal itu adalah rencana Bagus Prakasa.
"Biasanya orang dengan penyakit mental ini pernah dihancurkan secara mental oleh orang terdekat, entah itu keluarga, orang tua, pasangan, sahabat, dan lain sebagainya."
"Tidak hanya itu kejadian demi kejadian terlalu menyakitkan bisa menjadi salah satu penyebabnya juga," lanjut dokter tampan itu lagi.
Ayana kembali tercengang, tidak menduga jika wanita yang menjadi teman selama di rumah sakit mengidap anxiety disorder.
Sang pelukis terdiam, menyelam jauh ke dalam lamunan. Ia memikirkan pertemanan selama hampir setengah tahun dengan Hana Tsubasa.
Namun, selama itu pula Ayana tidak melihat adanya tanda-tanda jika Hana mengalami hal tersebut.
Ia hanya tahu jika wanita itu mengidap skizofrenia, terlihat dari lukisan demi lukisan yang dibuatnya, tetapi Ayana tidak tahu kebenaran seorang Hana Tsubasa.
"Jadi, selama ini Hana memang sengaja disembunyikan agar kebusukan Tuan Bagus tidak terendus?" tanya Jasmine kemudian.
"Itu memang benar, mbak Bening juga mengatakan demikian. Hana menjadi satu-satunya kelemahan pria tua tidak tahu diri itu... tidak lain, tidak bukan adalah ayah kandungnya sendiri." Ayana mengutarakan kekesalan.
__ADS_1
Mendengar itu Jasmine termangu. Bibir ranumnya mengulas senyum simpul.
"Rasa-rasanya kehidupan dia sama sepertiku. Kami sama-sama menjadi korban keegoisan mereka."
"Tanpa tahu luka yang mereka berikan menjadi sebuah ketakutan sendiri dan menimbulkan kesakitan," ungkap Jasmine.
Dengan cepat Danieal menggenggam tangan istrinya, membuat sang empunya menoleh melebarkan senyum sendu.
"Aku tidak apa-apa," gumam Jasmine membuat Danieal mengangguk pelan.
Melihat itu Ayana bisa membayangkan seperti apa perasaan yang diidap oleh Hana. Sebagai sesama wanita dan mempunyai sakit mental, ia mengerti bagaimana sulitnya menghadapi semua itu sendirian.
"Mas... bisakah aku pergi ke kediaman Hana lagi?"
Pertanyaan Ayana seketika mengambil alih atensi ketiganya. Bola mata karamel pelukis berbakat tersebut menatap mereka bergantian.
Jasmine beranjak lalu duduk di sisi lain dan menggenggam tangan adik iparnya kuat.
"Aku tahu kamu sangat khawatir dengan keadaan Hana, tetapi... sekarang yang menjadi prioritas mu adalah bayi kalian. Jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi."
"Kamu tahu bagaimana terlukanya aku?"
"Aku pikir... aku pikir sudah gagal melindungi kalian. Jadi, jangan memikirkan orang lain dulu. Kamu-"
"Terima kasih... terima kasih banyak, Jasmine. Aku senang kamu bisa menjadi... kakak ipar ku," potong Ayana terharu.
Danieal dan Zidan hanya memandangi keduanya dalam diam.
...***...
Malam menjemput indahnya senja. Kegelapan mulai menguasai dan giliran sang raja gelap datang menemani keheningan.
Atmosfer di kediaman Arsyad perlahan menyepi, semua orang sudah masuk ke dalam kamar masing-masing, begitu pula dengan Ayana dan Zidan.
Pasangan itu tengah duduk berdampingan di tempat tidur saling memberikan kehangatan.
"Aku sakit saat melihatmu berdarah. Bisakah kamu jangan pernah melakukan resiko seperti itu lagi?" Zidan menyelami sepasang jelaga di sampingnya.
Ayana mendongak, melengkungkan bulan sabit sempurna. Maniknya berkaca-kaca menyaksikan kesedihan di sana.
Ia pun menggenggam tangan suaminya erat sambil menatap matanya lekat.
"Aku minta maaf tidak mengatakan yang sebenarnya padamu, kalau... aku mendapatkan undangan dari istana putih."
"Aku pikir itu pesta teh biasa, tetapi... kami juga mencurigai adanya sesuatu di sana. Siapa sangka kejadian tidak diharapkan terjadi begitu saja," tutur Ayana, jujur.
Zidan melepaskan sebelah tangan dan menangkup rahang kekasih hatinya hangat.
__ADS_1
"Em, aku juga minta maaf. Tidak jujur kalau aku juga mendapatkan undangan itu. Aku hanya ingin membuatmu bangga... karena aku bisa bermain piano di sana," kata Zidan menuturkan.
"Semua ini juga salahku, tidak bisa memperhatikan keadaanmu, Sayang," lanjutnya lagi.
Ayana mengulas senyum simpul dan menggeleng singkat.
"Kita jadikan kejadian ini sebagai pelajaran agar aku, Mas, atau siapa pun bisa lebih jujur lagi," balasnya kemudian.
Zidan mengiyakan lalu beranjak ke perut Ayana. Ia mengusap permukaannya pelan dan mendaratkan kecupan hangat di sana.
"Sayang, maafkan Ayah, yah. Ayah tidak menjaga Mamah dan kamu dengan baik. Ayah... benar-benar minta maaf," celoteh Zidan, kembali memberikan ciuman di perut istrinya.
Mendapati hal itu Ayana senang bukan main. Ia membelai lembut surai sang suami beberapa kali.
"Mas tahu? Sudah lama aku mengharapkan hal ini," ungkapnya.
Zidan melirik mendapati kedua sudut bibir pujaan hatinya melengkung indah.
"Maksudnya?" tanya Zidan, penasaran.
"Dari dulu... sejak kehamilan pertama, aku selalu membayangkan Mas akan bersikap manis seperti ini padaku."
"Setiap malam Mas akan mengelus perutku dan berbicara dengan bayi kita lalu setelah itu... Mas memberikan ciuman untuknya."
"Namun, satu hal yang paling aku harapkan dari Mas dulu... jika kehamilan bisa merubah mu menjadi lebih baik padaku, tetapi... semua itu hanya angan-angan ku saja."
"Mas lebih memilih Bella dibandingkan-"
Secepat kilat Zidan membungkam mulut Ayana dengan benda kenyal miliknya.
Sang pelukis terbelalak dengan jantung berdegup kencang. Setiap kaliĀ ada perkataan yang kurang mengenakkan pasangan hidupnya selalu menyerang.
Kelakuannya itu kadang kala membuat Ayana kelimpungan. Ia masih belum bisa memahami perubahan Zidan.
"Ma-Mas tunggu seben-"
Zidan tidak mengindahkan perkataan Ayana dan terus menyerangnya tanpa henti.
Sampai ia pun berbaring dan masih menerima sentuhan demi sentuhan magic yang terus dilayangkan sang suami.
Beberapa saat kemudian Zidan melepaskan pagutan mereka. Ia menarik tubuh kekarnya lagi dengan kedua tangan bertumpu di sisi kanan kiri Ayana.
Pandangan mereka saling bertubrukan dengan napas memburu hebat.
"Aku minta maaf, Sayang, tapi... aku tidak mau mendengar masa lalu itu lagi. Bisakah... bisakah kita tidak perlu membahasnya kembali? Terutama dia-"
Kini giliran Ayana yang menyerangnya lebih dulu. Ia menarik pakaian santai Zidan membuat penyatuan itu kembali terulang.
__ADS_1
Zidan terbelalak dan sedetik kemudian menikmati permainannya lagi.