
Malam menjemput pada saat Ayana tiba di Desa X. Kembali ke sana bagaikan mengorek masa lalu yang juga ingin ia lupakan.
Di mana, di tempat itu ia mendapatkan kejadian tidak mengenakkan. Namun, di sana juga ia menjumpai sebuah kekuatan sampai dirinya bisa seperti sekarang.
Ayana tiba di sebuah rumah sederhana yang tidak jauh dari rumah sakit tempatnya dulu di rawat. Ia memarkirkan kendaraannya tepat di depan bangunan.
Ia keluar dari sana dan bergegas mencari seseorang yang sudah hampir satu tahun ini tidak pernah ditemui lagi.
Keadaan nampak sepi ia rasakan, buru-buru Ayana mengetuk pintu kayu itu perlahan. Tidak lama kemudian sang penghuni datang dan membukanya.
Air muka cerah nan hangat seketika menyambut kedatangan Ayana.
"MasyaAllah, Nak Ayana," sapa Bening membuat perasaan Ayana terenyuh.
"Assalamu'alaikum, Bu. Ayana datang," balasnya menyalami tangan wanita paruh baya itu singkat.
"Wa'alaikumsalam, iya-iya ayo masuk," ajak Bening, Ayana pun mengangguk mengiyakan.
Di ruangan berbentuk kotak itu Ayana duduk di salah satu sofa tunggal memandangi beberapa foto terpajang di tembok.
Dadanya tiba-tiba merasa sakit menyaksikan wajah berseri putri tunggal keluarga ini. Dalam hati berbisik lirih kata maaf yang terus terulang.
Kurang lebih sepuluh menit kemudian, Bening datang sembari membawa dua gelas air putih. Ia meletakkan di hadapan Ayana dan juga dirinya.
Ayana diam lima detik memandangi cairan bening itu lekat.
"Bu, kedatanganku ke sini ingin mengatakan jika aku-"
"Ibu sudah tahu semuanya, Nak Ayana. Sejak kamu meninggalkan desa ini, Ibu selalu mengikuti mu. Mulai dari Erina meninggal sampai sekarang. Ibu tahu semuanya, hari ini kamu datang untuk meminta maaf, kan? Ibu memang sudah menunggumu, Ayana," ucap Bening memotong perkataannya cepat.
__ADS_1
Seketika itu juga sang pelukis terdiam kaku. Manik jelaganya melebar sempurna bagaikan terkena batu berton-ton beratnya di atas kepala.
Ayana tidak menyangka mendapatkan kejutan tak terduga seperti ini. Ia sudah kecolongan dan hampir tidak bisa bernapas mendengar pengakuan mendebarkan Bening.
Ia pun sadar, sebagai seorang ibu, Bening tidak akan membiarkan begitu saja orang mengurus pemakaman sang buah hati tanpa melibatkan dirinya sedikit pun.
"Ibu mengetahuinya dari Danieal, kakakmu itu tidak ingin ada kesalahpahaman di masa depan. Karena itulah sejak kamu mempunyai ide untuk memalsukan kematian dan memanfaatkan jenazah Erina, Danieal mendatangi Ibu dulu meminta persetujuan."
"Ibu mengizinkannya, sebab dari dulu Erina memang senang membantu orang lain. Di detik-detik terakhirnya, dia berpesan jika ada orang yang ingin meminta bantuannya, maka izinkanlah. Waktu itu Ibu tidak tahu apa yang dimaksud Erina, mungkin semacam firasat? Sampai Ibu mendapatkan pertanyaan itu dari Danieal dan mengizinkannya."
"Sekarang Ibu lega, kamu sudah ingin berterus terang," ungkap Bening yang mana hal tersebut membuat Ayana semakin tidak karuan.
Air mata meleleh, menganak, di kedua pipi putihnya. Ia turun dari duduk dan bersimpuh tepat di depan Bening.
Sang pelukis itu sungkem di pangkuan ibu dari wanita yang sudah membantunya selama ini. Meskipun mereka baru saja bertemu, tetapi keduanya sudah sangat baik.
"MasyaAllah, maafkan Ayana Bu. Ayana sudah memanfaatkan Erina menjadi diri Ayana. Ayana bersalah ... benar-benar bersalah. Ayana minta maaf." Ia menangis dan terus mengucapkan maaf berulang kali.
Bening mengulas senyum hangat dan mengusap puncak kepala Ayana lembut.
"Sudah tidak apa-apa jangan menangis. Erina juga pasti senang bisa membantumu," kata Bening lalu menatap lurus ke depan.
"Kamu tahu, saat pertama kali kita bertemu di taman rumah sakit? Sebenarnya Erina sudah melihatmu jauh sebelum itu. Ia sangat kagum pada keadaanmu yang berhasil melewati kesakitan. Erina tahu kamu sering menyakiti diri sendiri dan berkutat dengan pikiran. Meskipun keadaan mentalmu sangat kacau ... kamu masih bisa mengembangkan senyum pada orang-orang yang menyapamu. Di situlah Erina kagum pada ketulusan serta kebaikan yang kamu sebarkan, walaupun ada luka di baliknya."
"Waktu itu Erina mengatakan, bu aku kagum pada wanita itu yang bisa menyembunyikan rasa sakit lewat senyuman. Aku ingin seperti dia yang selalu menebar kebaikan pada orang lain, aku ingin berteman dengannya. Setelah mengatakan itu Erina memberanikan diri untuk menyapamu dan Ibu membantunya," ungkap Bening semakin membuat Ayana diam tak berkutik.
Ia ingat kurang lebih dua tahun ke belakang di saat dirinya tengah membuat sketsa di buku gambar di taman rumah sakit, tiba-tiba saja dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita cantik berada di kursi roda. Di belakangnya terdapat wanita paruh baya yang juga ikut mengembangkan senyum manis padanya.
Waktu itu Ayana masih ingat Erina mengatakan, "Ayo berteman." Dengan suara halusnya membuat ia mengembangkan senyum lebar sembari mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Sejak saat itu kita mulai berteman, kan? Erina benar-benar mengagumimu dan selalu saja memuji kebaikanmu. Ia juga senang melihat lukisanmu." Bening menangkup kedua pipi Ayana dan mengusap air matanya lembut.
"Erina berharap suatu saat nanti bisa sepertimu yang bisa mengekspresikan diri lewat lukisan. Meskipun harapannya tidak bisa terwujud, sebab Allah sangat menyayanginya. Untuk itu Ayana jangan menyerah menebar kebaikan bagi orang lain. Ibu tidak masalah jika kamu memanfaatkan jenazah Erina untuk kepentinganmu. Karena itulah keinginan Erina juga, jadilah hebat dengan dirimu sendiri," kata Bening membuat Ayana kembali dan terus mengalirkan cairan bening dari matanya.
Ia mengangguk singkat lalu melengkungkan bulan sabit sempurna.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih banyak, aku akan terus berjuang untuk Erina juga. Aku akan mewujudkan mimpi Erina sebagai pelukis hebat yang bisa menginspirasi banyak orang," balas Ayana yakin.
"Em, itulah harapan Ibu juga. Kamu sudah banyak melewati penderitaan, maka sekarang rebut kembali apa yang sudah mereka ambil," ucap Bintang kemudian.
Ayana mengangguk yakin, mendongak membalas tatapan itu.
"Em, Ibu benar aku harus merebutnya kembali. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengusik hidupku lagi," tegas dan lugas, Ayana memberikan tatapan penuh keyakinan.
"Itu baru anak Ibu, kamu benar-benar mirip Erina. Anak itu juga bersyukur wajah kalian mirip," katanya lagi.
"Aku juga bersyukur memiliki kembaran seperti Erina. Wanita itu sangat luar biasa, aku akan mendedikasikan keberhasilan kali ini untuknya."
"Ibu, bisakah aku memeluk Ibu?" pinta Ayana kemudian.
"Tentu." Bening langsung memeluk tubuh Ayana erat.
Di balik punggungnya, wanita itu menatap Erina yang berada di balik figura di atas mereka.
"Erina terima kasih sudah membantuku selama ini. Kamu tidak usah khawatir, aku akan membantu Ibumu. Aku akan mendulang keberhasilan untuk kalian berdua," benak Ayana mengulas senyum penuh arti.
Sorot mata tegas nan nyalang diberikan. Ayana semakin menguatkan diri untuk bisa melawan siapa pun orang yang sudah mengusik ketenangannya.
Namun, tanpa ia sadari di media sosial sudah banyak pemberitaan mengenai dirinya.
__ADS_1