Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 21


__ADS_3

"Aw." Ayana terpekik saat mendapatkan serangan tak terduga dari suaminya.


Kedua matanya melotot, marah sekaligus terkejut.


Zidan seketika menjauhkan wajahnya beberapa senti dari sang istri memandang bibir pujaan hatinya bengkak.


Ada luka di bagian bawah hasil karyanya barusan.


"Itu hukuman, karena kamu tetap ngeyel tidak mau mendengar perkataan ku."


Ayana menghela napas kasar dan memutar bola mata, jengah. Ia kembali memandangi Zidan yang berada tepat di atasnya lekat.


"Baiklah jika kamu tidak mengizinkan, aku tidak akan-"


Kini giliran Zidan yang menyerang Ayana.


Wanita itu terbelalak lebar mengimbangi tindakan sang suami.


Sampai lama kelamaan mereka kembali melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda.


Keesokan harinya, Ayana, Zidan, Bening, Danieal, serta Jasmine berkumpul di galeri.


Mereka tengah membahas lagi apa yang akan dilakukan sang pelukis.


Setelah kejadian semalam Ayana kembali mendapatkan konfirmasi mutlak dari suaminya. Jika ia berhasil mendapatkan izin sepenuhnya lagi untuk melancarkan aksi tersebut.


Di tengah pertemuan, tiba-tiba saja celetukan Danieal menarik atensi.


"Apa yang terjadi pada bibirmu, Ayana? Apa kamu disengat lebah?" tanyanya sambil menunjuk tepat di bibir sang adik.


Menjadi bahan pembicaraan, Ayana langsung menutupi objek itu dari pandangan orang lain.


Namun, Bening yang juga menyadari hal tadi dari awal sudah mengetahuinya.


"Lebahnya memang besar sekali, Danieal. Sepertinya semalam ada gempa yang hanya terjadi di kediaman mereka saja," ucapnya acuh tak acuh sambil membolak-balikkan kertas di atas meja.


Danieal melebarkan mata tidak percaya mendengar hal itu, sedangkan Jasmine terus menunduk merasa malu sendiri.


"Zidan... kamu benar-benar-" Danieal tidak sanggup melanjutkan ucapannya sendiri.


"Apa kita akan punya keponakan?" tanya Jasmine ikut dalam obrolan.


Mendapatkan godaan demi godaan dari mereka membuat Ayana malu. Sampai-sampai wajah putihnya sedikit memerah.


"Sudahlah kalian jangan membahasnya lagi." Ayana mengamuk memberikan death glare pada sang suami.


Zidan pun menutupi wajahnya dengan dokumen-dokumen yang tersebar di atas meja.


Sedetik kemudian suara tawa menggelegar, mereka senang bisa menggoda Ayana.


Sedikit candaan sebelum kembali ke pembahasan serius mencairkan suasana.


Ketegangan yang kemarin hinggap sedikit teratasi.


Satu jam kemudian, mereka kembali ke topik utama.


Ayana menjelaskan lebih jauh apa yang hendak dilakukannya di mansion Mahesa.

__ADS_1


Berkali-kali Jasmine tidak menyangka mendengar semua rencana tersebut.


"Jadi, maksudmu... kamu akan memanfaatkan kepergian itu untuk mencari tahu kebenaran?" tanya Jasmine mengutarakan pertanyaan.


Ayana mengangguk semangat.


"Itu benar, dua hari lalu tuan Alexa, tidak... Pamanmu mendatangi kami, dia memintaku datang ke mansion nya untuk melukis dia di sana."


"Dia juga mengatakan ingin menghadiahkan lukisan itu kepada keponakan tercinta. Apa selain kamu ada anggota keluarga tersisa?" tanya Ayana di tengah cerita.


"Tidak," balas Jasmine.


Mereka pun tahu jika Alexa sudah membantai keluarganya sendiri dan menyisakan Jasmine.


"Itu artinya lukisan yang akan aku buat nanti untukmu, Jasmine. Dia juga berharap lukisan itu bisa kamu kenang ketika dirinya sudah tiada," jelas Ayana lagi.


"Aku tidak sudi menerimanya," kata Jasmine menolak tegas.


"Kami mengerti. Jadi, sekarang kita langsung ke pembahasan pertama. Karena besok Ayana sudah mulai menjalankan aksi ini, kita harus merencanakannya sebaik mungkin. Jangan lengah, jangan terkecoh. Karena ini bisa saja menyangkut nyawa seseorang," ungkap Bening memandangi mereka bergantian.


Keempat orang di sekitarnya pun mengiyakan.


"Apa kamu yakin bisa mencari tahu?" tanya Danieal kemudian memandang pada adiknya lagi.


"Insyaallah, Mas. Aku akan pastikan mendapatkan petunjuk apa pun di sana," balas Ayana.


"Baiklah aku bisa mengandalkan mu," kata kakaknya lagi.


"Kenapa kalian semua mau repot-repot membantuku?" Jasmine kembali membuat mereka menatap padanya.


Sedari awal ia terus penasaran pada semangat yang mereka bawa mengenai keluarganya.


"Karena ini menyangkut keluarga kamu, Jasmine. Mereka berhak dikuburkan dengan layak dan diketahui oleh orang lain agar semua orang mendoakannya," jawab Ayana.


"Itu benar. Meskipun mereka sudah tiada, tetap saja pengakuan itu dibutuhkan, agar orang-orang bisa tadi, mendoakan," lanjut Zidan kemudian.


"Kamu jangan takut, jangan cemas, semua akan baik-baik saja. Jika Allah menghendaki semua pasti berjalan lancar," kata Danieal.


"Jangan pesimis, Jasmine. Kita belum tahu sebelum mencoba," timpal Bening.


Jasmine yang sedari tadi menunduk, mengangguk singkat.


Setelah itu Ayana kembali berbicara mengutarakan pendapatnya mengenai rencana mereka nanti.


Jasmine mendongak memandangi wanita itu dalam diam.


"Ayana memang luar biasa. Dia mampu memberi ku sebuah harapan yang semakin besar," benaknya.


...***...


Seperti yang sudah disepakati di awal, siang ini tepat setelah tiga hari berlalu, salah satu suruhan Alexa pun datang ke galeri.


Dia meminta Ayana untuk ikut bersamanya guna menemui sang tuan.


Ayana yang sudah dibekali dengan berbagai persiapan pun mengikutinya.


Seraya membawa peralatan melukis, di betis sebelah kanan pun terdapat sebuah pistol.

__ADS_1


Ia mendapatkan itu dari sang suami, sebagai jaga-jaga jika sesuatu tidak diinginkan terjadi.


Ayana menerimanya dan menyembunyikan di sana.


Sepanjang jalan, Ayana memindai dua pria yang tengah duduk di depan.


Mereka berpakaian jas hitam formal seperti pengawal kebanyakan.


Ada earphone kecil terpasang di telinganya untuk berkomunikasi dengan yang lain.


Begitu pula dengan Ayana. Sedari kepergiaannya beberapa saat lalu terdengar suara bising di seberang.


"Sejauh ini lancar, tidak ada sistem keamanan ataupun alat penyadap di dalam mobil," kata Bening yang mengikuti mereka dari belakang.


Ayana berdehem pelan guna menjawab perkataannya barusan.


Kurang lebih dua jam kemudian, Ayana sampai di mansion keluarga Mahesa.


Ia terkejut melihat penampakannya yang seperti bangunan tua termakan usia.


Nuansa kelam serta cat hitam yang digunakan di sana semakin menambah aura gelap.


Ayana mendongak melihat ke atas genting di mana dipuncak rumah megah tersebut terdapat patung berbentuk burung tengah melebarkan sayapnya.


"Tuan sudah menunggu, Anda," ajak salah seorang dari mereka mengejutkan.


Ayana mengangguk lalu kembali mengikuti ke mana keduanya pergi.


Ia menaiki beberapa anak tangga guna mencapai pintu masuk.


Pintu kayu jati besar pun tertangkap pandangan, sedetik kemudian terbuka menyambut kedatangannya.


Hawa dingin menyapa wajah putih Ayana. Ia menegang di tempat saat mendapati samar-samar bau amis menyapa keberadaannya.


"Jangan khawatir Ayana. Di sana memang ada alat perekam dan pemindai, tetapi aku sudah mematikannya agar barang yang tersembunyi di tubuhmu tidak terdeteksi. Kamu masuk dan bersikap sewajarnya saja," titah Bening lagi yang mengawasinya dari layar laptop.


Ia berhasil mendapatkan titik-titik kamera pengawas maupun alat pemindai serta penyadap di rumah itu.


Dibantu oleh beberapa rekannya yang juga ikut dalam pengintaian, ia dengan cepat mengetahuinya.


Setelah mendapatkan arahan dari sang kakak, Ayana mengembangkan senyum kala bersitatap dengan tuan besar tersebut.


Ia melangkahkan kaki ke dalam dan menunduk singkat sebagai penghormatan.


"Akhirnya Nona pelukis kebanggan bangsa kami datang di kediaman kita." Alexa merentangkan kedua tangan, senang.


"Terima kasih sudah mengundang saya, Tuan," kata Ayana, ramah.


"Tentu saja. Suatu kehormatan bisa mengundang Nona pelukis ke tempat ini," lanjut Alexa lagi.


"Panggil Ayana saja, Tuan," kata sang pelukis mengingatkan.


"Ah, maafkan saya. Kebiasaan buruk, maklum usia tua," jawabnya tersenyum lebar.


Ayana pun mengulas senyum yang sama dan tiba-tiba pintu di belakangnya tertutup menghasilkan bunyi berdentum bergema ke segala penjuru ruangan.


Ayana menoleh ke belakang, melihat ada sekitar sepuluh pria berdiri berjajar seraya meletakkan kedua tangan di belakang punggung.

__ADS_1


"Nampaknya dia sudah waspada," benak Ayana memperhatikan.


__ADS_2