Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 62


__ADS_3

Jalinan kasih terajut membentuk sebuah lukisan indah dalam benak. Catatan kelam yang menimpa tertutup dengan sendiri dan berganti lembaran baru.


Sejauh apa pun cerita berbisik, seberat bagaimanapun beban menimpa, jika sudah waktunya terlepas maka akan pergi dengan sendirinya.


Air mata hanya sebatas janji bisu seperti apa lembaran duka berdengung dalam benak.


Satu persatu karangan bunga dihadirkan sebagai ucapan selamat. Kehidupan baru yang akan dijalani hampir sampai di depan mata.


Tidak pernah terbayangkan selama kurang lebih tiga puluh tahun ia hidup peristiwa mendebarkan ini terjadi.


Selepas apa yang terjadi di rumah sakit, Jasmine Magnolia Mahesa menerima lamaran Danieal Arsyad.


Selang satu bulan dari sana, kedua insan itu tidak menunda niat baik mereka. Baik Jasmine maupun Danieal, sama-sama sudah yakin ingin melangkah ke jenjang lebih serius.


Jika niat itu sudah ada dan yakin sepenuhnya maka lakukanlah secepatnya agar tidak mengundang kesalahan.


Mengingat usia mereka yang juga sudah memasuki kepala tiga, keduanya tidak ingin menundanya lebih lama lagi.


Sampai rencana pernikahan pun dirundingkan dan tepat pada tanggal dua belas juni Jasmine dan Danieal resmi mengadakan acara sakral tersebut.


Berlokasi di kediaman keluarga Arsyad semua keluarga, kerabat dekat, serta para tamu undangan lain berdatangan.


Aroma bunga khas melebur menemani setiap langkah semua orang. Lantunan ayat suci Al-Qur'an bergema sebagai pertanda sebentar lagi acara dimulai.


Di ruang rias, Jasmine nampak kaku bak patung hasil pahatannya sendiri. Ia memikirkan banyak hal mengenai pernikahannya hari ini.


Tidak lama setelah itu pintu ruangan dibuka menampilkan Ayana tengah mengembangkan senyum. Wanita berbadan dua itu senang menyaksikan sang sahabat dalam balutan pakaian pengantin.


"Assalamu'alaikum, kakak iparku yang cantik. MasyaAllah, apa bidadari turun tadi malam?" godanya sembari masuk ke dalam.


Jasmine yang baru selesai dirias menoleh ke belakang dengan air muka tegang. Ayana terkekeh pelan lalu duduk tepat di hadapannya.


Ia pun menggenggam tangan Jasmine erat sembari memberikan sorot mata hangat.


"Akhirnya... akhirnya pangeran berkuda putih itu akan mempersunting mu. Bahagia lah bersama mas Danieal, aku yakin... dia bisa membahagiakanmu," tutur Ayana hangat.


"Bagaimana ini Ayana? Aku... aku tidak-"


"Shut, tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja, jangan takut ataupun bimbang. Pernikahan memang menjadi impian semua orang."


"Kamu tahu, saat aku menikah dulu... aku seperti mendapatkan kebahagiaan tiada tara. Namun, ternyata mengundang malapetaka... tetapi, itu dulu, sekarang mas Zidan sudah berubah dan kebahagiaan bisa aku dapatkan."

__ADS_1


"Cinta yang aku miliki bertepuk sebelah tangan, tetapi... cinta yang kamu punya saling berbalas. Aku yakin mas Danieal adalah hadiah yang telah Allah berikan padamu," celoteh Ayana lagi.


Jasmine terkesima, diam beberapa saat menyelami kata-kata menenangkan dari orang yang sudah menyelamatkannya dari kegelapan. Kepala berhijabnya mengangguk beberapa kali dan kembali memandangi sepasang jelaga sang pelukis.


"Kamu benar, Ayana. Semua ini buah dari kepelikkan yang aku jalani, terima kasih sudah menemaniku selama ini. Aku menyayangimu, Ayana."


Ayana pun tersenyum hangat lalu mengulurkan tangan memeluk tubuhnya erat.


"Sama-sama, Jasmine. Kita tidak boleh kalah dengan situasi seburuk apa pun itu. Kita harus perangi segala permasalahan yang melanda."


"Karena di balik itu semua ada kebaikan menyertai," bisiknya lagi.


Jasmine hanya bergumam hm sebagai jawaban.


Beberapa saat kemudian, seorang wanita membuka pintu ruangan menjelaskan jika ijab kabul akan segera digelar.


Sontak hal itu semakin mengejutkan Jasmine. Maniknya membola sempurna memandangi Ayana yang seketika terkekeh pelan.


"Tenang, ada Allah. Kita serahkan semuanya sama Allah. Ayo, aku akan membimbing mu ke depan," ajaknya mengulurkan tangan.


Jasmine menerimanya seraya beranjak dari duduk.


"MasyaAllah, tanganmu dingin sekali." Ayana menggodanya lagi, Jasmine hanya tersenyum canggung dan berjalan berdampingan keluar ruangan.


Dengan langkah perlahan Jasmine berjalan mendekat ke belakang sang calon imam. Sesampainya di sana, acara pun digelar.


Ketegangan nampak di wajah orang-orang hadir menyaksikan. Dengan sekali napas Danieal berhasil mengucapkan ijab kabul yang membuat para saksi mengatakan sah secara bersamaan.


Doa pun dipanjatkan agar kedua mempelai bisa menjadi pasangan suami istri sakinah mawadah warahmah.


Selepas berdoa Jasmine pun digiring duduk di samping sang pasangan hidup. Danieal melirik singkat tidak kuasa menyaksikan betapa cantik istrinya itu.


Sederet serangkaian acara dilakukan. Mulai dari menandatangani buku nikah sampai berfoto bersama digelar lancar.


Kedua mempelai dibawa ke pelaminan menerima ucapan selamat dari tamu undangan. Berbagai macam kesibukan pun diterima oleh Jasmine dan Danieal yang kini sudah sah sebagai pasangan suami istri.


Ayana yang duduk di kursi keluarga pun ikut bahagia melihat air muka lega serta gembira keduanya.


Sudah terlalu banyak air mata luka yang diterima Jasmine dan sekarang kebahagiaan tengah menghampiri.


"Aku senang akhirnya Danieal bisa mendapatkan wanita idamannya juga," kata Zidan membawakan sepiring cheese cake kesukaan sang istri.

__ADS_1


"Em, Mas benar. Aku turut bahagia melihat mereka bersama sepert itu," balas Ayana lalu memasukan sesendok makanan manis, gurih, serta sedikit asin ke dalam mulut.


"Ayana!"


Seseorang memanggilnya dari samping, sang empunya menoleh mendapati Mbaknya melambai dengan gembira. Bening berjalan mendekat dan mereka saling berpelukan.


Keduanya pun berbincang-bincang bersama seputar kehidupan masing-masing. Tidak lama setelah itu, Kirana ikut bergabung seraya memangku Raima.


Beberapa saat kemudian, Gibran juga turut duduk di sana, disusul oleh Ihsan beserta sang istri. Wali kota itu menerima surat undangan dari Danieal dan menghadiri pernikahan mereka.


Ia mengambil alih Raima yang mulai dekat dengan ayah kandungnya.


Mereka pun mengobrol bersama ikut senang atas pernikahan Danieal dan Jasmine. Semua orang tahu bagaimana kejadian yang menimpa keturunan Mahesa tersebut.


Beritanya tersebar luas ke segala penjuru kota di dalam negeri maupun luar negeri. Alexa Mahesa dengan tega menghabisi keluarganya sendiri dan memanfaatkan sang keponakan untuk kepuasan egonya semata.


Dari arah samping, Darius serta Rusli juga ikut senang dan terharu dengan kebahagiaan yang didapatkan Jasmine.


Mereka lega, pria sebaik Danieal berasal dari keluarga bergengsi menjadi suami yang mencintainya dengan tulus.


Siapa pun turut senang dengan hari bahagia mereka.


Selepas menerima ucapan selamat, Jasmine dan Danieal pun memiliki waktu luang. Mereka duduk di atas pelaminan memandangi satu persatu tamu yang datang.


Senyum tidak pernah lepas dari wajah cantiknya mengundang rasa syukur sang suami.


Danieal menggenggam tangan istri tercintanya membuat Jasmine menoleh.


"Terima kasih, sudah mau menerimaku. Aku... akan berusaha membahagiakanmu dan menghapuskan kesedihan yang pernah kamu terima dengan senyum kebahagiaan." Jujurnya tulus.


Jasmine terkesima dan setelahnya mengembangkan senyum haru.


"Terima kasih, aku senang mendengarnya. I love you."


Kini giliran Danieal yang terkejut. Ini kedua kali ia mendengar Jasmine mengungkapkan perasaan. Pada akhirnya cinta berbalas dan kini mereka bisa bersama, mengikat janji di hadapan Allah.


"I love you, Sayang!" balas Danieal memberikan kecupan lembut di punggung tangannya.


Tanpa sadar dari arah depan, Zidan, Gibran, Ihsan, Ayana, Bening, Kirana, dan lainnya berteriak heboh. Mereka menggoda pasangan pengantin baru itu dengan gencar.


Jasmine dan Danieal terkejut langsung memandangi mereka. Namun, sedetik kemudian bulan sabit melengkung indah di wajah menawan keduanya.

__ADS_1


Mereka pun kembali memperlihatkan genggaman tangan dengan mengacungkannya bangga. Di sana, dimasing-masing jari manis tersemat cincin pernikahan sebagai pengikat cinta tulus keduanya.


__ADS_2