
Selepas mendiskusikan segala hal dengan Ayana, Jasmine pun bergegas menemui keberadaan Rusli.
Ia mengetahui kediaman sang tante mencari tahu selepas terbebas dari kurungan Alexa.
Ia hanya tahu jika tante baiknya sudah diusir dari mansion begitu saja.
Tanpa Ayana ketahui, Jasmine menyuruh seseorang untuk menemukan di mana tempat tinggal Rusli sekarang.
Tidak butuh waktu lama ia pun akhirnya mendapatkan jawaban. Ia langsung bertandang ke sebuah desa terpencil di wilayah selatan.
Setelah bersusah payah mencari ke sana kemari, akhirnya berjam-jam berlalu menemukan titik akhir.
Ia tidak menyangka pria tua kejam itu mengasingkan sang istri ke tempat terpencil. Rusli hidup seorang diri dengan rumah sederhana jauh dari keberadaan orang-orang sekitar.
Hanya dengan melihatnya sekilas, Jasmine tahu jika sang paman takut jika istrinya menceritakan apa yang sudah terjadi.
Ia bertemu Rusli dengan keharuan menyeruak keduanya. Wanita yang sudah lama tidak bertemu kini kembali dipersatukan.
Rusli tidak percaya bisa melihat dan bertemu dengan keponakannya lagi. Ia menangis haru tidak bisa menahan kebahagiaan.
Kenangan saat-saat keduanya bersama pun hinggap lagi dan lagi dalam ingatan.
Mereka menangis bersama saling meminta maaf serta memaafkan atas apa yang terjadi.
Selepas melepaskan kerinduan satu sama lain, Jasmine pun menceritakan mengenai permasalahan yang melanda.
Di tengah-tengah cerita, Rusli tidak bisa menahan air matanya lagi yang terus berjatuhan.
Ia membayangkan bagaimana kejinya sang suami dalam memperlakukan keponakannya sendiri. Mendengar ceritanya saja dari Jasmine, sudah membuat Rusli begitu terluka.
Ia tidak menyangka dan menduga Alexa bisa menyiksa Jasmine begitu kejam.
Ia pikir selepas dirinya diasingkan ke tempat itu, kehidupan Jasmine jauh lebih baik. Namun, nyatanya hanyalah angan-angan semata.
Rusli juga sangat terkejut saat mendengar sang suami akan dihukum mati. Namun, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena perbuatannya memang layak untuk mendapatkan hukuman.
Setelah mendengar cerita mengenai Alexa, Jasmine pun mengetakan tentang Darius.
Sebagai seorang ibu yang sudah dipisahkan bertahun-tahun dengan anak semata wayangnya, Rusli sangat terkejut jika saat ini Darius sedang mengincar keponakan sekaligus orang terdekat Jasmine.
Selepas mengetahui rencana yang disampaikan Jasmine, Rusli pun mengiyakan segala rencananya.
Hingga semua itu direalisasikan malam ini.
Jasmine tengah berjalan di taman mansion keluarganya yang sudah ditumbuhi berbagai macam tanaman liar.
__ADS_1
Rumput-rumput semakin meninggi, banyak pepohonan dengan dedaunan rindang menutupi cahaya bulan masuk ke dalam.
Gelap begitu mendominasi, dengan bermodalkan cahaya dari senter ponsel, Jasmine terus mencari keberadaan Darius.
Ia tahu, sepupunya itu senang berada di gudang yang terletak di pojok taman.
Bangunan yang memiliki satu ruangan itu sejak mereka masih kecil, selalu dijadikan tempat main oleh Darius.
Terkadang ia juga sering tidur dan menghabiskan waktu sendirian di tempat itu.
Sekarang Jasmine tahu jika kemungkinan besar Darius ada di sana. Mengingat sudah bertahun-tahun ia berada di luar negeri, pasti sang sepupu belum mendapatkan tempat tinggal baru.
Terlebih saat Jasmine mengenai anak panah yang di ujungnya terdapat simbol keluarga Mahesa. Busur-busur itu hanya bisa didapatkan di mansion tersebut.
Beberapa saat kemudian selepas mencari keberadaan gudang yang sudah lama tidak terurus, Jasmine berhasil menemukannya lagi.
Di luar bangunan terdapat satu lampu menggantung sebagai penerang.
Jasmine semakin yakin jika Darius berada di sana.
"Darius, aku tahu kamu ada di sini. Keluar! Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." Jasmine berteriak di luar gudang seraya terus memanggil-manggil sang sepupu.
Namun, hingga beberapa menit berlalu sosok pria yang ingin ditemuinya tidak kunjung memperlihatkan batang hidung.
Dadanya naik turun, dengan napas memburu hebat. Jasmine lalu mendongak melihat pohon-pohon di sekitar bergoyang tertiup angin memberikan suara mengerikan.
Perkataan Jasmine terputus seketika saat anak panah melesat di sampingnya dan menancap di pintu gudang.
Disusul suara tawa yang bergema membuat Jasmine langsung mendongak ke salah satu dahan pohon tepat di depannya.
Ia melihat siluet seseorang di sana sambil membawa sekantung busur dan panah besar di belakang punggung, sama persis seperti kecelakaan terjadi di mansion Zidan.
Jasmine memandang emosi pada sepupunya yang tengah bersandar di pohon.
"Aku tahu apa yang akan kamu lakukan. Kamu benci kan padaku... karena sudah memenjarakan ayahmu? Apa kamu tahu kesalahan apa yang dia perbuat sampai aku melakukan semua itu? Aku-"
"BERISIK! KAMU BENAR-BENAR MUNAFIK, JASMINE. KAMU TIDAK TAHU DIUNTUNG PADA ORANG YANG SUDAH MENGURUSI MU SELAMA INI DAN MALAH-"
"Tante Rusli."
Mendengar nama itu sontak membuat Darius melebarkan pandangan. Ia kembali melayangkan busur hingga mengenai sebelah pipi kiri Jasmine.
Seketika darah merembes dari sayatan luka dari ujung anak panah tajam itu.
Ia pun turun dari dahan pohon dan melayangkan belati tepat di leher sang sepupu.
__ADS_1
Pandangan mereka saling memancarkan sorot mata tajam tidak ingin mengalah satu sama lain.
"Apa yang kamu katakan? Kenapa tiba-tiba saja membahas ibuku?" geram Darius tidak senang.
Jasmine menyeringai lebar dan mendengus kasar.
"Karena, beliau ada di belakang mu." Penjelasan Jasmine sontak membuat kedua mata sepupunya melebar sempurna.
Seketika itu juga Darius menoleh ke belakang. Hal tersebut dimanfaatkan Jasmine untuk menarik pistol yang dirinya sembunyikan di belakang punggung.
"Apa aku bilang, beliau tidak ada di sana, kan?" tanyanya lagi bermain-main.
Darius kembali berpaling padanya dan melihat Jasmine sudah menodongkan pistol.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan?" tanya Darius kembali yang lagi-lagi melayangkan belati ke hadapan Jasmine.
Kedua sepupu itu saling melayangkan senjata satu sama lain. Mereka sama sekali tidak ingin saling menyerah dan terus mementingkan ego masing-masing.
"Aku tidak mengira anak cengeng sepertimu sekarang sudah bisa mengangkat senjata," gertaknya.
"Kamu tahu siapa orang yang merubah ku sampai seperti ini? Itu... ayahmu, Alexa Mahesa yang terhormat." Jasmine terus melayangkan perkataan-perkataan yang semakin menambah emosi sang sepupu.
"Kamu juga tahu? Pistol ini sudah mencelakai siapa? Oh, tentu saja ayahmu juga, Alexa Mahesa."
Kata-kata yang terus Jasmine layangkan kembali menarik emosi Darius. Amarahnya terus bertambah seiring seringaian tercetus jelas.
Dada Darius naik turun menahan emosi yang kian memuncak. Tanpa memikirkan akibatnya, ia langsung menodongkan belati pada Jasmine.
Ia menerjang cepat hingga membuat wanita berhijab hitam itu terjatuh. Darius berada di atasnya masih dengan belati di leher sang sepupu.
"Apa yang sebenarnya kamu lakukan pada ayahku? Sejauh mana kamu mau menyakitinya? Apa tidak cukup hukuman yang kamu berikan?"
"Apa kamu Tuhan? Apa kamu orang berkuasa yang bisa menghukum siapa saja?" Darius semakin mendekatkan senjata tajam tadi ke leher Jasmine.
"Aku memang bukan Tuhan, tetapi ayahmu memang pantas mendapatkan balasan dari semua perbuatannya," kata Jasmine semakin melebarkan seringaian.
Darius mendengus kasar tidak ada keraguan untuk menyakiti keluarganya.
"Aku tidak akan segan-segan untuk membunuh mu," katanya yakin.
"Silakan, sudah lama aku menginginkannya. Aku... akan berterima kasih sekali padamu jika mau melakukan itu."
Seketika Darius terkesiap, kedua maniknya sedikit gemetar menyaksikan sendiri ekspresi putus asa seorang Jasmine.
Ia sama sekali tidak tahu apa yang sudah terjadi padanya selama lima belas tahun berlalu.
__ADS_1
Sorot mata sama sekali tidak bisa membohongi jika sudah terjadi hal menyakitkan yang Jasmine alami.