Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 53


__ADS_3

"Saya Ihsan Rauf, saksi di balik kejadian dua puluh tahun lalu."


Kata-kata lantang tersebut membuat keadaan di ruangan sunyi, senyap. Semua orang mengunci mulut rapat masih tidak percaya.


Salah satu jaksa di sana pun sampai menegaskan dengan memberikan pertanyaan, "Anda... bukankah Anda wali kota, Kota V?"


"Itu benar, saya wali kota, Kota V," aku Ihsan menarik perhatian Basima.


Wanita tua itu melebarkan pandangan, terkejut bukan main. Satu-satunya saksi yang pada saat itu mendengar semua rencananya guna mencelakai informan keluarga Ashraf pun hadir di persidangan.


Basima bangkit dari duduk dan menghadap Ihsan tidak percaya. Kedua tangannya mengepal kuat dengan bola mata cokelat kelamnya bergulir pada Ayana yang tengah duduk di belakang punggung sang wali kota.


Seketika kedua wanita itu saling tatap, sang pelukis menyeringai pelan membuat Basima semakin geram.


"Tidak! Hakim yang terhormat, wanita itu-" tunjuknya pada Ayana. "Wanita itu sudah bekerja sama dengan wali kota ini untuk menjebak saya."


"Pasti wanita itu memberikan sejumlah uang kepadanya untuk menyalahkan saya. Ba-bagaimana bisa wali kota-"


"Anda salah, Nyonya. Kami tidak menjebak Anda, tetapi... Anda sendiri yang mengakui kesalahan Anda," balas Ayana yang kini mengeluarkan suara.


"Ini bukti rekaman di CCTV gedung seni pusat kota. Sang pelaku mengakui kesalahannya sekaligus mencelakai korban. Hakim yang terhormat, Anda bisa melihat keadaan korban sendiri," lanut Haidan menyerahkan rekaman tadi pada hakim, lalu menunjuk pada Ayana sebagai korban atas kejahatan Basima tempo hari.


"Ada juga pin bros keluarga Ashraf yang tertinggal di tempat kejadian. Kemungkinan pelaku buru-buru pergi dan tidak menyadari ada barangnya yang terjatuh," lanjut pengacara Ayana menyerahkan benda kecil itu pada sang hakim.


Bukti-bukti lain pun diberikan dan semakin mengarah pada Basima.


"Kamu pikir aku tidak bisa melakukan ini? Seharusnya aku membunuhmu juga dua puluh tahun lalu, bersama abu orang tuamu."


Suara serak Basima berdengung di ruangan. Semua orang kembali terkejut mendengar pengakuannya, begitu pula hakim yang melihat adegan demi adegan sebelum ucapan tadi dilontarkan.


Pria baya berkacamata itu mendongak bersitatap langsung dengan Ayana. Ia mengerenyitkan dahi bagaimana perihnya luka yang masih basah di kepala terbungkus hijab itu.


"Bisa Anda ceritakan apa yang terjadi pada saat dua puluh tahun lalu?" pinta hakim kepada satu-satunya saksi.


Ihsan pun mengangguk dan mulai menceritakan dari awal kedatangannya ke perusahaan parfum keluarga Ashraf sampai diminta untuk menjadi saksi apa benar anak buah Basima melakukan pembakaran gedung Nakazima.


Ia juga membela diri, jika pada saat itu dirinya cepat menelpon pemadam kebakaran. Namun, tetap saja kejadian tersebut menewaskan sepuluh orang langsung di tempat kejadian.

__ADS_1


"Basima Ashraf Anda dinyatakan sebagai pelaku kejahatan dua puluh tahun lalu. Apa korban mau mengajukan kesaksian lagi? Apa kasus ini tetap dijalankan atau-"


"Ayana, kami mohon lepaskanlah nenek. Kasihan, jika nenek harus menghabiskan sisa waktunya di balik jeruji besi," kata Mega lagi.


Satu persatu dari mereka pun meminta bantuan pada Ayana untuk memaafkan kelakuan Basima. Wanita itu menyeringai dan menggelengkan kepala.


"Suasana hati mereka cepat sekali berubah, tadi... mereka mencaci maki kami dan sekarang meminta pengampunan? Sungguh luar biasa," kata Ayana dalam benak.


Sang pelukis bangkit dari duduk memandang semua anggota keluarga sang suami dan berakhir pada Basima.


Wanita tua itu pun mengembangkan senyum tanpa rasa bersalah. Ayana mendengus pelan seraya mengepal kedua tangan kuat.


Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Tiba-tiba saja ia terpikirkan bagaimana sakitnya api yang membakar sepuluh orang itu di sana, terutama ayah dan ibu.


Ia tidak bisa membayangkan seperti apa teriakan mereka pada saat si jago api melahap langsung tubuh mereka tanpa ada akses jalan keluar.


Ia menutup mata rapat berusaha menenangkan sendiri, lalu samar-samar bayangan mengenai orang tuanya pada saat ia tidak sadarkan diri hinggap kembali.


"Jangan menyimpan dendam dan maafkanlah kesalahan orang lain. Itulah yang bisa membuat hidup kita berharga. Karena semuanya sudah ada ketentuannya masing-masing."


Ia kembali membuka mata menampilkan iris beningnya lagi.


"Saya-" Hening menyambut, atmosfer di ruang sidang kembali sunyi, senyap. Semua atensi mengarah pada satu titik.


"Saya sudah memaafkan semua kesalahan yang dilakukan tetua Ashraf, Basima Ahsraf. Namun, seperti yang kita ketahui... apa yang sudah kita tanam suatu saat pasti dituai juga."


"Saya memaafkan semua kesalahannya, tetapi hukum harus tetap berjalan dan berlaku. Saya menyerahkan semuanya kepada pihak berwajib."


Setelah mengatakan itu Ayana keluar dari ruang persidangan yang seketika itu juga keadaan kembali memanas.


Satu persatu anggota keluarga melayangkan perkataan tidak mengenakan lagi sepanjang kakinya melangkah.


Wajah ayu Ayana berubah dingin nan tajam, sorot matanya memperlihatkan ketegasan tidak peduli apa yang mereka katakana serta lemparkan padanya.


Karena bagi Ayana berada di titik sekarang pun sudah sangat cukup. Ia tidak ingin mengorbankan diri lagi untuk hal yang tak berguna.


Seraya kedua tangan berada di saku mantel, langkah kaki berbalut sepatu boots berhak pun mengantarkannya kaluar.

__ADS_1


Semua orang yang mendukung Ayana pun tersenyum lebar. Buru-buru Zidan beranjak dari sana dan mengikuti ke mana istrinya pergi.


...***...


"Assalamu'alaikum, ayah, mamah... ini aku Ayana. Maaf, jika Ayana baru bisa menyempatkan datang."


"Mah, yah... apa di sana kalian baik-baik saja? Di sini, Ayana baik-baik saja. Mamah dan ayah tidak usah khawatir, di sini ada orang-orang yang menyayangi Ayana."


"Mah, yah... apa yang kalian rasakan pada saat itu? Apa sakit sekali?"


Ayana tidak bisa menahan tangisan, seketika air mata berjatuhan membasahi pipi. Kedua kakinya pun tidak bisa menopang berat badannya sendiri membuat ia langsung bersimpuh di samping gundukan tanah tersebut.


Ia menyembunyikan wajah berairnya di telapak tangan. Isakan pun seketika terdengar memilukan mengenyahkan keheningan di makam.


Tidak lama berselang ia merasakan seseorang menyematkan mantel lain di bahunya.


"Assalamu'alaikum, ibu, ayah... saya Zidan. Saya minta maaf sudah membuat putri kalian menangis dan terluka."


"Saya juga minta maaf atas tindakan yang dilakukan nenek. Kelakuannya sudah membuat Ayana sangat menderita."


"Namun, kalian tidak usah khawatir, saya akan membahagiakan Ayana sampai kapan pun. Untuk itu, ayah, ibu, saya mohon restui pernikahan kami."


"Saya... sangat mencintai Ayana. Saya ingin menghabiskan sisa hidup bersamanya dan juga saya harap kami bisa bersama di alam keabadian."


Ayana terpaku mendengar pengakuan sang suami. Selama ini ia tidak menduga jika Zidan sudah membantunya untuk mengungkapkan kebenaran Basima.


Meskipun ia juga sadar pasti tidak mudah bagi Zidan untuk melewati ini semua. Namun, sang suami tetap mendukung apa pun keputusannya.


Ayana menoleh ke samping menyaksikan ketegasan sekaligus keseriusan di wajah tampannya.


Mendapatkan perhatian, Zidan pun ikut menoleh dan beradu tatap dengan sang istri.


Ia langsung merangkul Ayana membawanya ke dalam pelukan. Seketika itu juga tangisan sang istri pecah yang selama ini ia tahan.


"Semua akan baik-baik saja, Sayang. Kamu hebat... kamu anak yang sangat hebat. Aku bangga padamu, Sayang. Menangis lah, aku akan selalu ada di sampingmu," ungkapnya hangat.


Ayana membalas pelukannya tak kalah erat menyalurkan rasa terima kasih lewat gerakan impulsif.

__ADS_1


__ADS_2