
Waktu hanya memberikan kesempatan untuk bertemu dan berubah menjadi lebih baik. Namun, kadang kala waktu tidak menyuguhkan penyatuan.
Masa lalu hanya sebuah cerita bukan untuk dikenang lagi. Keberadaannya hanya sebatas angin lalu dan hanya tertinggal dalam sebuah kisah.
Ayana masih terdiam, mencerna apa yang tengah terjadi saat ini. Sang mantan suami memeluknya semakin erat seraya terus mencetuskan kata-kata cinta.
Bagaikan tidak ada yang terjadi, bagaikan tidak ada yang terlewati, sang pianis mengumbarkan perasaan terdalam.
Penyesalan demi penyesalan tercetus, air mata mengalir tak tertahankan menunjukkan betapa seorang Zidan begitu terpukul.
Namun, sekuat apa pun, sekeras bagaimanapun ia menjelaskan perasaannya, Ayana tetap tidak bergeming sedikit pun.
"Lepaskan!" Satu kata terdengar ketus.
Zidan terperangah lalu melepaskan pelukan, kedua tangannya masih bertengger di bahu Ayana seraya menatap manik hazelnut itu.
Muka datar dengan sorot mata dingin seolah tidak mempunyai ekspresi apa pun membuat Zidan terkejut.
Ini pertama kali ia melihat Ayana menampilkan wajah seperti itu. Belum sempat ia mengucapkan sepatah kata lagi, sang pelukis menghempaskan kedua tangannya kasar.
Tanpa mengatakan apa pun, Ayana bergegas hendak masuk ke dalam mobil. Namun, pergerakannya lagi-lagi di tahan oleh Zidan.
"Ayana, aku mohon dengarkan aku dulu," pintanya kedua kali.
Ayana menarik pergelangan tangan dan kembali menatap nyalang. "Sudah tidak ada yang perlu aku dengarkan lagi. Aku sudah cukup dengan segala permainan yang kalian lakukan. Sekarang nikmatilah rasa penyesalanmu itu. Karena aku? Sudah tidak peduli lagi."
Secepat kilat Ayana menyambar kunci kendaraannya yang tergeletak di bawah dan membuka pintu mobil.
Ia pun berhasil masuk tanpa ada gangguan lagi. Ayana diam sebentar mengatur degup jantung yang bertalu kencang.
Tidak lama berselang ia menjalankan kendaraan roda empatnya, meninggalkan Zidan yang masih mematung di sana.
Ia tidak peduli, sungguh dirinya sama sekali tidak peduli apa yang akan dilakukan Zidan. Ayana ingin segera pergi jauh tanpa terlibat apa pun lagi dengan pria itu.
__ADS_1
"Bodoh, dasar bodoh," umpat Ayana berkali-kali.
"Astaghfirullahaladzim, Astaghfirullahaladzim, Astaghfirullahaladzim." Ia langsung beristighfar mengenyahkan kekesalan.
Zidan masih berdiam diri di parkiran seraya terus memandangi kepergian Ayana. Kedua tangan mengepal kuat saat menyadari kesalahan yang diperbuat.
"Astaghfirullahaladzim, Ayana sudah tidak adakah kesempatan untukku lagi?" gumamnya.
...***...
Jam setengah sembilan malam, Zidan kembali ke kediamannya. Ia berjalan gontai memasuki rumah yang dulu pernah ditinggali bersama Ayana.
Ia berdiri mematung di belakang pintu masuk memandangi ke sekitaran. Segala tempat yang tertangkap pandangan seketika menayangkan masa-masa Ayana berada di sana.
Senyum pun mengembang kala bayangan wanita itu berkeliaran seolah Ayana benar-benar tepat berada di depan matanya sendiri.
"Ayana." Panggil Zidan. "Biasanya kamu akan menyambut ku pulang, setelah itu menyiapkan makan malam dan air hangat. Kamu benar-benar sangat perhatian meskipun ... meskipun aku tidak pernah menanyakan apa pun padamu, tetapi kamu tetap memperhatikanku."
"Aku benar-benar bodoh sudah menyianyiakan istri sebaik, secantik, dan se sholehah sepertimu Ayana. Aku ingin kita kembali seperti dulu dan memulainya dari awal. Bisakah?" racaunya seorang diri dengan air mata menganak bagaikan sungai.
Di temani tablet berukuran sedang ia tengah menyaksikan rekaman CCTV kejadian satu tahun lalu. Di mana sebuah ruangan yang biasa Ayana tempati untuk melukis kini sudah tidak terpakai lagi.
Studio lukis Ayana di mansion itu pun tidak ada yang mengganggunya sejak kepergian sang pemilik. Ruangan itu terbengkalai, bahkan Zidan pun enggan masuk ke sana. Karena depresi dan halusinasi yang dimilikinya, Dokter Haikal menyarankan untuk tidak dekat-dekat dulu dengan kenangan orang tersebut.
Namun, malam ini ia memberanikan diri untuk melihat tayangan tersebut. Ia terkejut kala mendapati Ayana mengamuk sejadi-jadinya pada hari itu.
Malam terakhir di mana sang mantan istri masih berada di rumahnya. Waktu itu juga kepulangan Ayana dari rumah sakit setelah mereka kehilangan buah hati.
"Ya Allah, Astaghfirullahaladzim, Astaghfirullahaladzim." Zidan terus beristighfar menyaksikan apa yang terjadi.
Ia tidak menyadari jika saat itu Ayana mengamuk dan menghancurkan sebagian besar lukisan. Ia hanya menyisakan satu saja karyanya yang sampai detik ini masih ada di studio.
"Ya Allah, Ayana." Zidan kembali menangis sejadi-jadinya melihat sendiri bagaimana terpuruk, terpukul, serta kehilangan yang dialami Ayana pada hari itu.
__ADS_1
Namun, saat kejadian tersebut berlangsung ia tidak ada di rumah dan tengah menemani Bella. Waktu itu mereka menikmati makan malam bersama dan menginap di hotel mewah.
Tawa lebar mereka pun terjadi di atas penderitaan Ayana. Rasa bersalah semakin merajalela, meremas hatinya sangat kuat.
"Ya Allah Ayana aku benar-benar minta maaf. Aku tidak percaya jika malam itu kamu mengamuk seperti ini," gumamnya.
Zidan pun meletakkan tablet di atas nakas dan berjalan keluar. Lorong yang menghubungkan antara kamar dan studio hanya berjarak beberapa meter.
Ruangan itu berada di ujung dengan pintu bercat putih. Langkah demi langkah ia tempuh guna mencapainya.
Sampai ia tiba tepat di depan pintu, seketika itu juga jantungnya berdegup kencang. Tangan tegap itu pun bergetar dan terulur mencapai handle lalu membukanya pelan.
Hawa dingin seketika menyambut, aroma cat selama setahun tidak terjamah membuatnya merasakan bagaimana kejadian itu terjadi.
Sampai ia membuka pintu lebar-lebar dan melihat dengan jelas bagaimana ruangan sangat berantakan.
Banyak debu beterbangan, sarang laba-laba menghiasi setiap sudut, serta gambaran kejadian malam setahun lalu terlihat jelas.
Zidan masuk dan mendapati satu-satunya lukisan yang tersisa di sana. Dengan perasaan campur aduk ia semakin berjalan ke dalam memberanikan diri mendekat.
Tangannya yang masih gemetaran mencapai kain putih gading yang tertutupi debu. Ia menariknya cepat dan seketika juga debu beterbangan di sekitar.
Sedetik kemudian ia terdiam kaku menyaksikan lukisan di dalamnya. Ia merasakan sakit luar biasa, seperti ada tangan tak kasat mata meremas hatinya kuat.
Dadanya naik turun melihat dengan jelas apa yang sudah Ayana sisakan di sana. Ia melihat lukisan bayi yang tengah tertidur di atas awan dengan kata-kata menyayat perasaan.
"Anakku," gumamnya lirih.
Air mata tidak bisa dibendung lagi, kristal bening meluncur cepat menetes satu persatu di lantai kotor itu.
Tanpa bersuara dan tanpa berkata-kata, Zidan terus menangis membayangkan rasa sakit yang selama ini Ayana tanggung.
Ia sangat bersalah dan berdosa mengabaikan sang istri yang saat itu benar-benar membutuhkan kehadirannya. Namun, ia malah bersenang-senang dengan istri kedua tanpa mengindahkan rasa kehilangan Ayana.
__ADS_1
Saat ini rasa bersalah dan penyesalan pun tidak akan bisa mengembalikan apa yang sudah terjadi. Ia hanya berharap akan ada keajaiban mengenai hubungannya bersama Ayana.
Meskipun ia sadar tidak mudah untuk melupakan masa lalu menyakitkan.