Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 17


__ADS_3

Awan putih menghias langit pagi ini sepanjang jauh mata memandang. Udara cukup dingin mengantarkan kekakuan pada setiap aktivitas.


Lantunan nada-nada lembut mengalun ke segala penjuru perusahaan lantai lima puluh tersebut. Semua karyawan saling pandang mengetahui siapa sosok di balik yang sedang bermain piano di sana.


Mereka mengangguk mengerti jika sang pemimpin tengah dilanda keresahan.


Sudah menjadi kebiasaan, di kala suasana hati Zidan sedang tidak baik-baik saja maka ia akan bermain piano di perusahaan.


Berkat adanya musik menenangkan tersebut para karyawan semakin bersemangat bekerja di balik cuaca yang tak menentu.


Dari banyaknya orang-orang yang ada di perusahaan, Kirana muncul di lantai itu dan seketika menautkan kedua alis.


Langkahnya pun terhenti memfokuskan pendengaran kepada musik klasik yang terdengar nyaring.


Ia seolah teringat pada sesuatu yang membekukan diri.


"Apa Anda mendengar itu?" Seseorang datang mengejutkan.


Kirana sadar dari lamunan, menoleh ke samping mendapati salah satu karyawan wanita di sebelahnya. Ia mengangguk menjawab pertanyaannya tadi.


"Suara ini berasal dari tuan Zidan, beliau memang sering bermain piano di sini," ungkapnya kemudian.


"Begitukah?" tanya balik Kirana membuat wanita itu mengiyakan.


"Apa Anda baru mendengarnya?"


Lagi dan lagi Kirana hanya mengangguk, "Di mana ruangan piano itu berada? Saya perlu menyerahkan ini kepada tuan Zidan," jelasnya membuat wanita tadi menunjukkan di mana ruangan sang atasan berada.


Setelah mengucapkan terima kasih, Kirana melangkahkan kaki pergi dari hadapannya.


Tidak lama kemudian ia tiba di depan ruangan, tuts demi tuts piano dimainkan begitu harmonis menghasilkan lagu yang kian mengalir ke relung terdalam.


Kirana mematung mendengarnya lebih jelas, manik berlensa cokelat terang itu pun memandang pintu kayu jati di hadapannya.


"Musik ini ... dia pernah memainkannya di kediaman keluarga Arsyad beberapa hari lalu. Seolah lagu itu menggambarkan perasaan terdalam pada seseorang dan ... Zidan melantunkannya tepat di depan Ayana," gumamnya lirih.


Beberapa saat berlalu, Kirana pun membuka pintu dan seketika aroma bunga anyelir berpadu dengan magnolia menyambut kedatangannya.


Bermandikan cahaya kelam di balik jendela besar, sang penghuni nampak kesepian bersama piano di depannya.

__ADS_1


Jari jemari lentik itu masih menari indah di atas tuts piano. Keberadaan Kirana seolah tidak mengganggunya sama sekali, ia abai pada keadaan sekitar.


Wajah tampan nan datar memperlihatkan perasaan tersembunyi. Sekejap kelopak matanya menutup rapat menyelami lagu yang tengah ia mainkan.


Tanpa ia sadari, Kirana mematung di ambang pintu menyaksikan sosoknya. Bola mata itu bergulir memindai semua yang ada di ruangan.


Sampai perhatiannya terfokus pada lukisan berukuran cukup besar tepat di depan Zidan. Bibir ranumnya menyeringai kala menangkap inisial G di ujung kanvas.


"G? Apa lukisan ini buatan istrinya?" benak Kirana terus mengawasi lukisan Zidan yang tengah bermain piano.


"Oh Kirana?"


Suara baritone seketika menyapa, sang model terkesiap memandang kembali ke arahnya. Tatapan mereka pun saling bertubrukan melihat satu sama lain.


"Apa kamu sudah lama ada di sini?" tanya Zidan kemudian.


Kirana tersadar lalu berjalan mendekat dan meletakan dokumen yang dibawanya ke atas piano.


"Saya membawakan hasil pemotretan kemarin. Fotographer bilang, kita sudah bisa melaunching kan foto-fotonya," jelas Kirana, "maaf, saya menawarkan diri untuk membawakannya kepada Anda, Tuan," lanjutnya lagi.


Zidan mengembangkan senyum sembari mengulurkan tangan membawa hasil foto tersebut.


Kirana mengangguk seraya mengamatinya dalam diam. Kedua tangannya berada di belakang meremas kuat pergelangan sebelah kiri.


Pandangannya beralih ke depan melihat dua vas yang berisi bunga anyelir dan magnolia.


"Apa Tuan sering bermain piano di sini? Saya dengar dari salah satu karyawan Anda memang sering memainkannya," ucap Kirana lagi membuka suara.


Zidan mengangguk singkat tanpa melihat ke arahnya sedikit pun.


"Itu benar, jika suasana hati saya sedang baik ataupun tidak ... saya memang sering bermain piano di sini," jelasnya.


Kepala bersurai hitam panjang lembut itu pun mengangguk beberapa kali.


"Jadi, apa suasana hati Anda sedang baik sekarang? Atau ... sebaliknya?"


Pertanyaan yang diajukan Kirana barusan sukses membuat Zidan membeku. Melihat reaksinya, model cantik itu pun mengerutkan kening.


Ia tahu jika sekarang suasana hati sang rekan kerja sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Apa Tuan merasa tidak baik?" tanyanya lagi dan lagi.


Lama Zidan bungkam tidak langsung membalas ucapan lawan bicaranya. Dengan sabar, Kirana terus menunggu apa yang hendak disampaikan pria ini.


"Saya minta maaf jika sudah melen-"


"Tidak! Itu benar, saya ... sedang tidak baik-baik saja," potong Zidan cepat sambil mendongak menatap kembali manik jelaga di hadapannya.


Kirana terkesiap saat sepasang onyx memandangnya begitu lekat. Perlahan kedua kakinya selangkah mundur ke belakang menangkap sirat kesedihan di balik sorot mata sang pianis.


...***...


"Aku minta maaf, kamu jadi menemaniku ke panti lagi," kata Zidan yang siang ini tengah berkendara menuju panti terletak di bagian utara ibu kota.


"Tidak apa-apa, Mas tidak usah sungkan. Aku juga sedang luang, jadi tidak masalah menemani seperti ini," balas Kirana menatap ke samping.


Zidan mengulas senyum simpul dan menoleh singkat padanya.


"Terima kasih, rencananya aku ingin bertemu dengan Raima lagi," ungkap Zidan kembali.


"Aku turut sedih mendengar cerita Mas tadi. Anak memang sangat diharapkan bagi setiap pasangan menikah, terlebih jika keduanya menginginkan kehadirannya. Aku mengerti apa yang Mas rasakan, dan ... aku juga turut sedih atas kejadian yang menimpa anak pertama kalian."


"Bahkan beritanya masih ada sampai sekarang, aku minta maaf sudah mencari tahu masa lalu Mas," ujar Kirana menjelaskan.


"Ah, tidak apa-apa aku mengerti. Memang masa lalu tidak bisa dihapuskan dengan mudah, bagaimanapun kita sudah berubah di masa depan ... kenangan pada waktu itu akan tetap ada. Aku menyesal sudah melakukan itu pada Ayana." Tanpa sadar Zidan menceritakan kejadian masa lalu kepada Kirana.


Ia tiba-tiba saja sudah menganggap Kirana seperti saudari sendiri. Terlebih ia sangat dekat dengan keluarga Arsyad, tanpa tahu apa yang akan terjadi di depan sana.


"Ayana ... apa dia tidak ingin mempunyai anak lagi?" tanya Kirana begitu saja.


Zidan bungkam beberapa detik sampai, "Aku tidak tahu, hanya saja sikapnya menunjukan hal itu."


"Em, menurutku ... meskipun aku belum pernah menikah apalagi punya anak sebagai wanita yang sudah menikah terlebih suami menginginkan seorang anak ... bukankah kalian berdua harus mengusahakannya bersama? Maksudku, tidak hanya dari pihak Mas sendiri saja."


"Salah, jika salah satu dari kalian yang berjuang. Pernikahan bukan terjadi pada satu pihak saja, melainkan dua pihak. Ah maksudku ... aku minta maaf jika sudah lancang," kata Kirana saat melihat air muka Zidan berubah.


Sang pianis itu mengangguk cepat dan menghentikan mobil tepat di parkiran panti. Ia menoleh ke samping melihat lawan bicaranya.


"Iya kamu benar, pernikahan dibangun oleh dua orang bukan salah satunya," balas Zidan tegas.

__ADS_1


Kirana diam-diam mengangkat sebelah sudut bibir.


__ADS_2