Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 58


__ADS_3

Masa akan datang menggantikan kepedihan dengan keceriaan. Jam terus berputar memenuhi tugas sebagai pengingat waktu.


Terhitung sejak kedatangan Zidan ke galerinya waktu itu, Ayana tidak pernah melihatnya lagi. Sudah hampir dua bulan ia mendapatkan ketenangannya lagi.


Ia bisa melukis tanpa terbebani, melayani para pembeli dengan suka cita, serta melakukan apa pun yang ia mau secara leluasa.


Ia tidak lagi was-was, cemas, ataupun khawatir akan kedatangan Zidan. Namun, ada satu yang ia inginkan darinya, yaitu tandatangan di surat perpisahan mereka.


Sampai detik ini Ayana masih belum mendapatkan kabar apa pun mengenai perceraiannya. Ia terus berharap jika Zidan bisa membubuhkan tandatangan di atas kertas tersebut.


Hari ini awan gelap kembali datang, langit begitu kelabu tanpa adanya sang raja siang menemani. Matahari bersembunyi di balik mega mendung enggan mengeluarkan sinarnya.


Ayana turun dari lantai dua menapaki satu persatu anak tangga. Tatapannya lurus ke depan menyaksikan layar televisi besar yang berada di ruang tamu tepat menghadap ke tangga.


Langkah demi langkah ia lalui dengan bola mata menatap lekat pada satu sosok tengah di sorot kamera. Pria yang selama ini sudah menjungkir balikan dunianya tertangkap pandangan lagi.


Sosok itu masih menawan sama seperti pertama kali ia melihatnya. Jari jemari lentiknya begitu lihai menekan tuts demi tuts piano.


Musik lembut serta permainan yang cantik membuat Ayana terpaku. Ia berhenti tepat di belakang tangga masih memandangi pria di dalam layar.


Tidak lama berselang pertunjukkan pun selesai. Sang pianis di wawancarai dan diberondongi beberapa pertanyaan.


"Sungguh musik yang sangat indah, apa lagu tadi ciptaan Anda sendiri?" tanya MC di sana.


"Itu benar," jawabnya singkat.


"Wah, seorang pianis seperti Zidan Ashraf memang tidak dipungkiri lagi jika setiap performance selalu membawa para pendengar hanyut. Saya juga sampai terbawa suasana," kata MC-nya lagi tertawa ringan, Zidan pun mengikutinya.


"Jadi, apa arti lagu yang Anda bawakan tadi?" tanyanya lagi.


Zidan menoleh ke arah kamera menatap pada satu titik membuat layar di penuhi wajah tampannya. Bibir menawan itu mengembang membuat siapa pun yang menyaksikan akan berdebar.


"Lagu ini saya ciptakan untuk seseorang yang sangat saya cintai," ungkapnya kemudian.


"Wow, kira-kira siapa wanita beruntung itu?" goda sang MC.

__ADS_1


"Istriku. Dia wanita yang benar-benar luar biasa. Kebaikannya, ketegasannya, dan kegigihannya sudah mengubah saya. Saya ... sangat mencintainya." Sepasang manik elang itu berkaca-kaca membuat pria di sebelahnya ikut terharu.


Sang MC kembali menggodanya, Zidan tersenyum lebar dan terus menjawab semua pertanyaan yang diberikan.


Ayana mematung di tempatnya berdiri seolah dunianya hanya berpusat pada acara tersebut. Ia melupakan tujuan untuk segera pergi ke toko dan tidak mengindahkan para pelayan di sekitar.


Danieal yang baru saja keluar dari kamar terkejut mendapati sang adik terdiam tanpa bergerak. Buru-buru ia turun dari tangga dan bersamaan dengan itu iklan pun datang.


"Ayana, kamu tidak apa-apa?" tanyanya mengejutkan.


Ayana tersadar dan tersentak dari lamunan. "Ah, Mas Danieal? Iya, aku tidak apa-apa, kenapa?" tanyanya balik.


"Tadi aku melihatmu melamun, apa yang kamu lihat?" Danieal menoleh singkat ke arah televisi.


"Tidak ada hanya acara tidak penting. Oh yah, Mas mau pergi ke rumah sakit?" tanya Ayana mengalihkan pembicaraan.


"Iya, hari ini rumah sakit kebanjiran pasien. Mungkin Mas tidak bisa pulang," jawabnya mengerucutkan bibir.


Ayana terkekeh melihatnya. "Tidak apa-apa itu memang sudah menjadi tugas Mas untuk menyembuhkan mereka. Kalau begitu yang semangat kerjanya, Mas. Aku berangkat dulu Assalamu'alaikum."


...***...


Sepanjang jalan pikiran Ayana dipenuhi dengan pertunjukan Zidan tadi. Entah kenapa ia tidak bisa mengenyahkan ingatan itu di kepalanya.


"Astaghfirullah, kenapa aku terus kepikiran dia? Ya Allah, hamba mohon lupakanlah. Lupakan Ayana ... lupakan," racaunya seraya terus menyetir.


Senyum serta kata-kata yang diucapkannya tadi terus berkeliaran. Ayana tidak pernah melihat Zidan seperti itu selama mereka hidup bersama enam tahun lamanya.


Zidan di masa lalu hanya akan memberikan raut muka datar dan dingin. Tidak ada senyum tulus yang diberikan, semua itu hanya topeng untuk menutupi kebohongan di hadapan orang tuanya.


Meskipun berkali-kali dibohongi, dikhianati, serta disakiti, Ayana tetap mencintainya dengan tulus. Ia terus melakukan tugas sebagaimana istri yang baik untuk Zidan.


Namun, di usia pernikahannya yang keenam, ia mendapatkan kejutan tak terduga. Zidan menghadirkan Bella ke rumah tangga mereka dan menjadikan wanita itu sebagai madunya.


Hari-hari berat semakin bertambah berat kala ada orang ketiga yang tanpa Ayana sadari sudah ada sejak pertama kali mereka menikah.

__ADS_1


Ia disuguhkan pemandangan mengiris-iris perasaan dan membuat luka di hatinya terus tumbuh. Ia semakin disakiti tanpa disayangi.


Puncaknya kala ia harus kehilangan buah hati. Luka itu semakin terbuka dan bertambah parah, Ayana pun memutuskan untuk pergi berharap bisa menata hatinya kembali.


Tahun berganti Ayana berhasil lepas dari kurungan rasa sakit dan merubah dirinya menjadi lebih kuat. Namun, tanpa ia duga sang suami hadir mengatakan cinta yang dulu dirinya harapkan.


"Kenapa? Kenapa harus sekarang?" racau Ayana. Kristal bening meluncur tak tertahankan di kedua pipi.


Ia menghapusnya kasar berulang kali, "Apa tidak cukup dulu kamu mempermainkan ku, Mas? Apa tidak ada sedikit saja hatimu untuk membiarkanku bahagia?"


"Aku sakit dan terluka mendengar mu mencintaiku seperti ini. Bagaimana aku harus menyikapinya jika-" ucapan itu pun terhenti dengan sendirinya.


Ayana menyadari apa yang hendak dikatakannya barusan. Kepala berhijab itu menggeleng beberapa kali mencoba mengusir selintas bisikan.


"Aku ingin berpisah denganmu ... aku sangat ingin berpisah denganmu Mas Zidan," katanya lagi meracau.


Di temani dengan deru mesin mobil, Ayana melanjutkan perjalanan menuju tokonya berada. Ia tidak bisa menahan air mata yang terus menerus mengalir.


Pikiran serta hatinya tidak sejalan, keduanya mempunyai keinginan masing-masing yang saling mendahului.


Ayana tidak tahu harus mementingkan yang mana. Jika condong kepada hatinya ia takut terluka lagi, dan apabila lebih memilih pikirannya ia tetap ingin berpisah. Ia terus berkutat dengan dirinya sendiri.


Di tempat berbeda, Zidan yang baru saja menyelesaikan konsernya mendapatkan undangan lagi. Haikal sebagai asisten pribadinya pun kembali menyodorkan undangan berwarna hitam pada tuan muda tersebut.


"Apa lagi ini? Tidak bisakah kosongkan jadwalku sehari saja?" tanya Zidan sembari mengacungkan undangan tersebut.


"Tidak bisa Tuan Muda. Anda sendiri yang mengatakan ingin disibukan dengan berbagai pekerjaan, jadi nikmatilah selagi ada. Oh yah, jangan lupa siang ini Anda harus bertemu para ustadz di masjid Al-Barokah, mereka mengadakan pengajian di sana," jelas Haikal yang tengah duduk di jok depan.


Zidan yang berada di belakangnya mengangguk mengiyakan. Ia lalu membuka undangan itu dan terkejut melihat siapa yang mengundangnya.


"Presdir Han? Orang hebat ini mengundangku?" tanyanya terkesima.


Haikal pun menoleh ke belakang. "Itu benar, beliau ingin Anda memberikan pertunjukan di pestanya."


"Baiklah." Zidan kembali melipat undangan itu dan meletakkannya di jok sebelah. Haikal pun bergegas menjalankan mobil pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2