Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
Chapter 59


__ADS_3

Angin berhembus kencang menerbangkan beberapa pepohonan di sisi jalan raya. Banyak kendaraan berlalu lalang membuat keramaian tidak bisa dihindari.


Hidup akan senantiasa mendapatkan kejutan tak terduga yang tidak bisa disangka-sangka. Kedatangannya mendatangkan kebahagiaan maupun sebaliknya.


Namun, meskipun begitu percaya dan yakin jika Allah tidak mungkin memberikan keburukan pada hamba-Nya.


Ayana baru saja tiba di parkiran. Ia membuka tas dan mengeluarkan cermin berukuran sedang melihat tampilannya di sana.


"Ya Allah, aku kacau," ujarnya.


Kedua mata bengkak dengan hidung merah memperlihatkan dengan jelas jika dirinya sudah menangis sepanjang jalan.


Ayana pun menghela napas pelan akan keadaannya saat ini. "Aku benar-benar kacau," katanya lagi. Ia mengobrak-abrik tas bahunya berharap ada sesuatu yang bisa di pakai.


"Alhamdulillah, ada masker dan kacamata juga." Ia pun segera mengenakan kedua benda itu dan berhasil menghalau wajah berantakan.


Setelah persiapan selesai, Ayana turun dari mobil dan berjalan masuk ke galeri. Setibanya di sana ia disambut oleh Seruni yang buru-buru berlarian mendekat.


"Eh, kenapa Mbak mengenakan masker? Mbak sakit?" tanyanya bingung.


Bola mata Ayana bergerak gelisah menghindari tatapan sang lawan bicara. "A-ku sedikit tidak enak badan," dustanya.


Seruni mengangguk tanpa mempedulikannya lagi. Ia lalu tersadar akan tujuan awalnya mendekati sang pelukis.


"Oh iya, beberapa menit lalu aku mendapati undangan ini. Mbak di undang ke acara Presdir Han," jelasnya.


Ayana pun langsung merampas undangan hitam dari Seruni dan membukanya. Ia melihat di sana terpampang nyata nama Ghazella Arsyad/ Ayana Ghazella Arsyad.


Ia pun melebarkan pandangan menyaksikan nama itu tercetus jelas di undangan tersebut. Ayana sadar jika ia sudah benar-benar kembali pada jati dirinya lagi.


Di tengah kebingungan itu ponsel di dalam tas bergetar kencang. Buru-buru ia merogoh nya dan mendapati nomor tidak dikenal.


Ayana menyerahkan tas dan undangan tadi pada Seruni yang langsung diterimanya. Ia berjalan beberapa langkah ke depan menerima panggilan tersebut.


"A-assalamu'alaikum," jawabnya gugup.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam," balas orang di seberang. "Halo nona Ayana, saya sekertaris Presdir Han ingin memberitahukan kepada Anda, jika beliau menginginkan semua lukisan di toko Anda untuk dibawa ke kediamannya. Nanti siang ada beberapa orang yang akan mengambilnya, silakan Anda jumlah dulu berapa yang harus kami bayar," jelasnya lagi.


Seketika itu juga Ayana terdiam bak bongkahan es. Ia tidak menyangka mendapatkan berita mendebarkan tersebut.


"Anda juga sudah menerima undangannya, kan? Presdir Han mengadakan pesta besar-besaran di kediamannya dua hari lagi. Untuk itu beliau berharap Anda bisa datang dan menemuinya langsung. Karena beliau selama ini sering membeli lukisan Anda," ungkapnya lagi.


Ayana masih tidak bisa berkata-kata. Orang sepenting dan sekaya Presdir Han mau berurusan dengan pelukis pemula sepertinya. Ia pun menjawab sekertaris itu dengan terbata-bata.


Tidak lama berselang panggilan pun berakhir. Ayana tersenyum lebar lalu menoleh cepat ke belakang di mana Seruni menatapnya lekat.


"Maa syaa Allah, Presdir Han ingin memborong semua lukisan kita di sini," jelasnya.


Seruni melebarkan pandangan tidak percaya. Ia ikut bahagia dan bergegas membantu Ayana menyiapkan semua lukisan yang tersedia di toko magnolia.


...***...


Dua hari berlalu begitu cepat, kediaman Presdir Han yang terletak di kota sebelah disulap menjadi sangat mewah.


Satu persatu tamu undangan hadir untuk ikut memeriahkan pesta yang digelar di sana. Acara itu dilakukan untuk menyambut kepulangan Presdir Han ke tanah air.


Selama ini sang pengusaha perhiasan itu berada di luar negeri. Ia melebarkan sayapnya ke beberapa negara untuk memasarkan hasil karyanya.


Ayana yang datang bersama dengan Danieal terkejut bukan main melihat bangunan megah di depannya. Ia hampir tidak bisa bernapas kala menyaksikan banyak sekali ornamen-ornamen dengan harga fantastis terpajang di sana.


Ia berjalan bersama sang kakak menelusuri lorong yang di kedua sisi terdapat berbagai lukisan mewah. Ia pun tersenyum kala dari deretan lukisan yang terpajang ada satu karyanya terpasang.


"Mas lihat, itu lukisanku," katanya bangga sembari menunjuk lukisan bambu klasik yang ia buat satu tahun lalu.


Di mana pada saat membuatnya ia masih dalam keadaan kacau balau. Emosinya belum stabil dan kadang memberontak.


Danieal mengikuti arah tunjuk nya dan mengerutkan dahi dalam. "Hm, bukankah itu lukisan mu dari satu tahun lalu? Kenapa ada di sini? Apa mungkin waktu itu Presdir Han yang membelinya?"


Ayana meletakan jari telunjuk di bawah dagu dengan kedua mata menerawang ke atas.


"Hm ... aku tidak tahu, tapi yang jelas pada saat itu lukisan ini yang paling tinggi harga jualnya."

__ADS_1


"Aku tidak mengerti, apa Presdir Han sudah mengenalmu sejak lama?" Danieal menoleh ke belakang di mana sang adik masih berpikir.


"Aku tidak tahu," jawab Ayana acuh tak acuh.


"Yah sudah biarkan saja, ayo kita masuk," ajak Danieal mendapatan anggukan dari adiknya.


Tidak lama berselang mereka tiba di sebuah ruangan yang mirip aula. Di sana banyak sekali orang-orang luar biasa dari segala bidang.


Ayana tidak henti-hentinya berdecak kagum menyaksikan pemandangan memanjakan mata tepat di depannya.


Di sana juga terdapat stand makanan yang begitu banyak makanan tersaji di meja panjang. Ada juga beberapa pelayan yang menjaganya guna mengenalkan makanan tersebut.


Ayana menyapukan pandangannya dan tidak lepas dari makanan manis di salah satu meja. Maniknya melebar kala melihat macaron kesukaannya ada di sana.


Ia pun hendak berjalan mendekat sebelum suara sang kakak menginterupsinya. Ayana berhenti melangkah dan menoleh ke samping.


"Hati-hati sepertinya di sini juga ada alkohol," bisik Danieal tepat di samping telinga kanannya.


Ayana melebarkan pandangan, terkejut. "Benarkah?"


Danieal mengangguk dan menunjuk menggunakan dagu ke arah minuman di meja serta ke beberapa pelayan yang membawa gelas di atas nampan tengah mengitari para tamu.


"Minuman berwarna emas itu adalah alkohol. Kamu harus berhati-hati jangan sampai menyentuhnya, tidak hanya itu ... bisa saja makanan di sini pun tidak semuanya halal," kata Danieal lagi.


"Tapi kenapa? Bukannya Presdir Han beragama sama seperti kita?" tanya Ayana yang juga berbisik.


"Kamu tahu sendiri bagaimana pergaulan di luar. Lihat saja, pesta ini dirancang seperti mereka juga, bukankah tidak ada tempat duduk seperti kursi untuk makan?" Danieal menoleh ke segala arah diikuti Ayana.


Ia pun baru menyadarinya sekarang. "Mas benar juga, kalau begitu kita harus berhati-hati."


"Harus, kamu jangan pergi jauh-jauh dari Mas. Jika sampai kamu lepas dari pengawasan Mas, bisa gawat nanti," kata Danieal lagi memperingatkan.


"Iya aku mengerti. Aku bukan anak berusia tujuh tahun, Mas," balas Ayana, Danieal tergelak mendengarnya.


Tanpa ia sadari, sedari tadi sepasang mata kelam tengah memperhatikannya dari lantai dua. Pria paruh baya, di usianya yang tidak muda lagi itu pun nampak gagah dalam balutan jas mahal.

__ADS_1


Ia terus mengawasi Ayana yang tengah bercanda dengan kakaknya, Danieal. Ia memasukan kedua tangan ke saku celana seraya berbisik ke orang di sebelahnya.


"Baik Tuan," katanya langsung pergi dari sana. Ia menyeringai lebar menyaksikan wajah memesona tepat di bawahnya.


__ADS_2