
"Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah: 216)
Ketegangan masih tercipta di toko magnolia. Bau cat minyak memenuhi ruangan menemani kebersamaan.
Tidak ada yang membuka suara, ketiganya diam seribu bahasa dan hanya sorot mata saja berbicara. Sang pelukis terus menatap kedua pria di hadapannya bergantian.
Di tengah ketenangannya, Ayana berkutat dengan diri sendiri ketika sekarang berhadapan dengan sang suami.
Sudah tiga bulan berlalu mereka tidak saling bertemu dan mengetahui keberadaan masing-masing. Ayana sengaja menghindari Zidan untuk tidak menimbulkan masalah baru.
Ia pun sudah dicap tidak baik oleh keluarga Zidan akibat kelakuannya yang memanfaatkan jenazah Erina. Tanpa ia sadari jika Bella menyebarkannya pada mereka, yang mana hal tersebut semakin memberatkan Ayana.
Keluarga besar Ashraf yang semula tidak menyukai Ayana pun kini bertambah parah. Mereka lebih pro kepada Bella dan terus menerus memujinya.
Lina dan Arshan yang semula tidak percaya dan kontra pada Bella kini perlahan-lahan membuka hati. Mereka tersentuh akan kedatangannya yang setiap hari mengunjungi Zidan di rumah sakit, serta membimbingnya dalam pengobatan.
Ayana yang mengetahui hal tersebut hanya bisa tersenyum masam. Ia sadar lambat laun kepercayaan seseorang bisa luntur seiring terus mendapatkan suntikan bujuk rayu.
Kini waktu mempertemukannya lagi dengan sang tuan muda sekaligus pianis terkenal di negaranya. Pria yang masih berstatus sebagai suami di atas kertas tersebut menatap nanar padanya.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Ayana berusaha terlihat sebiasa mungkin.
"Kenapa?"
Satu kata mewakili segala perasaan dalam dada. Zidan memberikan tatapan penuh tanya serta raut penasaran pun tergambar jelas.
Ia tertatih, jatuh bangun selama tiga bulan agar bisa segera keluar dari rumah sakit untuk menemui Ayana.
Rindu yang begitu bergelora tidak bisa dibendung lagi. Keinginannya untuk bertemu Ayana sudah tak tertahankan, ia pun nekad datang ke sana hingga pada akhirnya mereka bisa saling melihat satu sama lain lagi.
Namun, kenyataan tidak sesuai ekspetasi. Ayana terlihat biasa saja tidak seperti bayangan, Zidan berharap sang istri sedikit membuka hati lagi untuk dirinya.
"Kenapa Ayana?" tanya Zidan kedua kali kala tidak mendapatkan jawaban.
__ADS_1
"Kenapa? Apa maksud Anda?" tanya balik Ayana.
Zidan memijat pelipisnya pelan dan tanpa Ayana maupun Haikal sadari, sang pianis bangkit dari kursi roda.
Pemandangan tersebut seketika mengejutkan keduanya, buru-buru Haikal yang berada di belakangnya langsung mencekal lengan sang pianis.
Zidan menghempaskannya kasar, "lepaskan aku," ucapnya tegas.
"Tapi Tuan Muda belum bisa menggunakan kedua kaki untuk berjalan," ungkapnya.
Zidan mendengus, kepala bulatnya menoleh ke samping kiri. Lewat ekor matanya ia memandangi tangan kanannya lekat.
"Jangan mencegahku!" ucapnya lagi tidak mau dibantah, Haikal tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya membiarkannya saja.
Dalam diam Ayana maupun Haikal melihat apa yang hendak dilakukannya. Selangkah demi selangkah Zidan tapaki mendekati sosok menawan di depannya.
Ayana terdiam menyaksikan sang suami berjalan mendekat. Sampai tanpa keduanya pikirkan, Zidan langsung melemparkan diri ke dalam pelukan sang istri.
Ayana terdiam bak bongkahan es beku. Ia merasakan kedua tangan kekar pria itu melilit posesif di pinggangnya.
Ia juga merasakan air mata membasahi bahu sebelah kanan. Ia tidak bisa berbuat apa pun, selain ada rasa sakit yang entah apa artinya bersemayam dalam dada.
"Aku merindukanmu, Ayana. Aku sangat merindukanmu. Aku benar-benar merindukanmu," ungkap Zidan dengan suara lirih dan bergetar.
Ini pertama kalinya Ayana mendapati Zidan menangis serta mengucapkan kata-kata rindu padanya. Selama enam tahun berumah tangga hanya ada perlakuan pedas secara verbal untuknya.
"Aku minta maaf, Ayana. Aku benar-benar menyesal sudah menyakitimu selama enam tahun. Sekarang aku sadar jika ... kamulah istri yang aku butuhkan. Aku mencintaimu ... benar-benar mencintaimu. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, Ayana. Aku ... rela mati jika itu bisa melindungi mu. Aku akan mengorbankan diri sendiri agar kamu tidak terluka," ungkap Zidan jujur.
Ayana bisa merasakan kesungguhannya di balik punggung lebar itu. Tubuh kekarnya pun bergetar hebat, Zidan yang semula diketahui sebagai pria arogan sekarang sudah berubah.
Entah sadar atau tidak Ayana, membalas pelukannya. Kedua tangan ramping itu terangkat mencengkram sweater sang suami.
Zidan terperangah lalu tersenyum simpul dan semakin mengerutkan pelukan. Ia kembali mengumbar cinta pada Ayana yang masih diam seribu bahasa.
__ADS_1
Haikal yang berdiri tidak jauh dari keberadaan keduanya pun menyaksikan drama tepat di depan mata kepalanya.
Ia tahu seberapa besar rasa cinta Zidan untuk Ayana. Bahkan dirinya rela tertabrak agar bisa melindungi wanita itu.
"Depresi dan halusinasinya sudah menyadarkan. Semoga Nona Ayana bisa merasakan kesungguhan Tuan Muda," benak Haikal kemudian.
...***...
Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Ayana dan Zidan duduk berdampingan menghadap jendela besar toko magnolia.
Beberapa pejalan kaki hilir mudik sebagai peneman kebersamaan. Kisah tak bertuan kembali terajut pada benang merah tak kasat mata yang masih melilit di jari kelingking keduanya.
Tidak ada yang tahu bagaimana cerita itu berakhir selain Allah sebagai pemilik kehidupan. Namun, skenario-Nya kadang kala mengejutkan dan juga mendebarkan.
Waktu akan terus berputar memberikan kesempatan pada apa pun untuk datang. Penyesalan yang kian menerjang menjadikan sosok Zidan berubah total.
Pria arogan yang sering menyakiti istrinya itu pun kini telah luluh. Ia bersungguh-sungguh dalam mencintai Ayana.
"Kenapa kamu tidak menjengukku di rumah sakit? Bukankah kita ada di gedung yang sama?" tanya Zidan yang sedari tadi memandangi wajah damai sang pujaan.
"Aku harus melakukan terapi dan ... tidak sempat menjenguk mu. Aku ... terima kasih sudah melindungi ku dua kali," balas Ayana membuat manik bulan Zidan membola.
"Jangan berterima kasih, aku seperti orang lain saja bagimu. Melindungi mu sudah menjadi kewajiban ku ... aku ingin menebus segala kesalahan yang dibuat di masa lalu dengan mencintaimu," katanya lagi.
Sekilas Ayana menatap padanya, sorot mata itu terlihat serius dan tidak main-main. Di bawah meja panjang ia mengepalkan kedua tangan.
"Kenapa? Kenapa di saat semuanya terlihat sudah baik, ada saja halangan yang menghadang? Ya Allah jika memang hamba dan Mas Zidan sudah tidak berjodoh, maka lancarkan lah perpisahan kami. Hamba tidak ingin terluka lagi dan melihatnya terus mengorbankan diri sendiri."
"Dua kali dia menaruhkan nyawanya untukku, apa yang dipikirkan Mas Zidan? Apa benar dia mencintaiku?" monolognya dalam benak.
Ayana kini sepenuhnya menghadap sang suami, mereka saling pandang menyelami keindahan bola mata masing-masing.
Ada perasaan asing menyapa sanubari, sudah satu tahun lebih mereka tidak saling sapa dan berbicara. Berada dalam satu waktu seperti ini membuat Ayana merasakan keanehan.
__ADS_1