
Satu minggu berlalu begitu saja, tepat di hari ahad, Zidan pergi ke kota sebelah untuk melakukan konser.
Waktu yang dinanti-nanti telah tiba. Perasaan sang pianis semakin berbunga-bunga menyambut momen berharga itu.
Seharusnya ia pergi dua hari sebelum acara dilangsungkan, tetapi Zidan lebih memilih pulang pergi. Karena tidak ingin meninggalkan istri serta kedua buah hatinya.
Ayana juga sempat mengatakan jika Zidan harus segera pergi ke sana, mengingat jarak yang harus ditempuhnya tidaklah dekat. Namun, sang pianis keukeuh teguh pada pendirian.
Dengan perbekalan yang telah Ayana siapkan, Zidan sampai di hotel tempatnya menginap di kota sebelah. Malam harinya ia hendak melakukan performance di hadapan orang-orang penting di sana.
Setelah melakukan gladi resik, mereka bersiap untuk tampil.
Zidan dan beberapa musisi lain yang diundang, bekerjasama dengan baik serta berusaha keras untuk melakukan pertunjukan terbaik.
Di saat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, semua tamu undangan sudah berada di gedung putih. Banyak pejabat yang hadir mulai dari petinggi di kota tersebut maupun kota-kota lain.
Mereka semua senang dengan permainan alat musik klasik yang kadang kala memberikan ketenangan. Di belakang panggung, Zidan serta musisi-musisi lain tengah bersiap-siap serta begitu antusias dengan banyaknya orang-orang penting itu.
Mereka lalu mengadakan doa bersama untuk kelancaran acara.
Tidak lama setelah itu, Zidan melangkahkan kaki ke atas panggung setelah mendengar MC memanggilnya.
Ia memperlihatkan batang hidungnya dengan penuh percaya diri dan menyapukan pandangan ke setiap tamu yang datang. Ia mengangguk singkat dan kembali memperhatikan orang-orang di sana.
Sampai ia menyadari jika di antara banyaknya tamu yang hadir, ada satu sosok membuatnya terpaku. Manik kelamnya melebar melihat lengkungan bulan sabit dari sang pujaan.
"Ayana." Panggilnya dalam benak.
Sedetik kemudian ia terharu dan berjalan menuju pianonya berada. Jari jemari lentik itu kini berada di atas tuts-tuts, siap melakukan aksi.
Hening menyapa, semua pasang mata memandangi keberadaan sang pianis lekat. Hingga tidak lama kemudian jari jemari Zidan menari indah di atas tuts piano.
Ia memberikan pertunjukan yang begitu menenangkan. Melodi-melodi indah mengalun, menyapa indera pendengaran setiap penikmat musik klasik.
Semua orang ikut hanyut ke dalam permainan Zidan. Mereka menyadari serta mengakui jika sang pianis belum mati.
Meskipun banyak hal menimpa Zidan, tetapi bakatnya sebagai pianis tidak pernah redup. Bahkan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
Ia mampu memberikan rasa ke dalam lagu yang tengah dimainkan dan sampai ke para pendengar.
Beberapa dari mereka, khususnya kaum hawa sampai menjatuhkan bulir air mata.
Di tengah kelimpahan kebahagiaan ditemani melodi hangat sang pianis, di tengah-tengah bangku penonton, Ayana hadir sebagai tamu tambahan.
__ADS_1
Ia sama sekali tidak mengatakan apa pun pada Zidan, jika dirinya juga menjadi tamu di acara tersebut. Ayana sengaja tidak menceritakannya, sebab ingin memberi kekuatan pada sang suami.
Lagu demi lagu diberikan Zidan dan juga musisi lain yang berkolaborasi dengannya.
Mereka begitu apik dan sangat baik memberikan pertunjukan. Para penonton sampai terkesima. Pejabat-pejabat itu sangat menyukai performa musisi handal tersebut.
Acara demi acara berlangsung lancar dan meriah. Semua orang terkesan akan penampilan yang musisi-musisi itu berikan.
Selepas acara selesai, Zidan tunggang langgang mencari keberadaan sang istri. Di dalam lautan manusia, ia berdiri di tengah-tengah, menyapukan pandangan ke sekitar.
Sampai beberapa saat kemudian, ia mendapati Ayana tengah bercengkrama dengan beberapa pejabat wanita serta pria.
"Sayang!" Panggil Zidan menarik atensi mereka.
Ayana menoleh dan mengembangkan senyum hangat.
"Mas," balasnya.
"Wah, ternyata kalian pasangan yang sangat serasi sekali. Saya senang bisa bertemu secara langsung dengan pianis serta pelukis kebanggan bangsa." Puji salah satu pejabat di sana.
"Maa syaa Allah, terima kasih banyak Nyonya. Terima kasih sudah mendengarkan pertunjukan kami," balas Zidan merendah.
"Terima kasih banyak, Nyonya," lanjut Ayana kemudian.
Mereka pun berbincang-bincang bersama mengenali pertunjukan tadi.
Zidan menarik Ayana ke ruangan kosong dan mendorongnya ke tembok lalu langsung memeluknya erat. Pelukis cantik itu terkekeh pelan menyadari kelakuan sang suami.
Zidan begitu manja, seperti seorang anak berusia lima tahun.
"Lepaskan, Mas... apa yang kamu lakukan?" kata Ayana seraya tergelak senang.
"Kamu licik, Sayang. Kenapa datang tanpa memberitahu?" tanyanya sambil mengendus leher jenjang Ayana yang terhalang hijab.
"Aku memang sengaja. Karena aku ingin memberikan kejutan untukmu," jelas Ayana.
Seketika Zidan langsung melepaskan pelukannya dan menatap serius manik jelaga sang kekasih hati.
"Lalu, di mana anak-anak?" tanyanya kemudian.
"Aku menitipkannya pada orang tua kita," jelas Ayana mengelus pelan rahang tegas kekasih halalnya.
Zidan mengangguk singkat dan kembali memeluknya erat.
__ADS_1
"Kamu benar-benar berhasil membuatku terkejut. Kamu tahu... aku tadi sempat gugup kedatangan tamu istimewa, seperti mu," jelas Zidan lagi.
Ayana kembali terkekeh pelan dan membalas pelukannya tak kalah erat.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Ternyata kekuatanku berjalan lancar."
Mendengar itu Zidan kembali melepaskan pelukan mereka dan langsung menyambar benda kenyal yang begitu menggoda di depannya. Ayana yang tidak siap menerima serangan mendadak itu pun kelimpungan.
Ia mencengkram kuat jas belakang Zidan seraya melenguh singkat. Ia mendongak, berusaha mengimbangi permainan sang suami.
Zidan yang tidak memberikan kesempatan Ayana kabur pun mendorongnya menuju meja panjang di belakang.
Ia lalu menidurkan Ayana di sana dan melepaskan penyatuan mereka. Benang saliva pun tertarik di antara mulut keduanya.
Napas mereka saling berhembus kencang dengan dada naik turun.
"Aku sangat bahagia, terima kasih banyak, Sayang." Zidan kembali mengungkapkan kesenangannya.
Ayana mengulas senyum lembut, sebelah tangannya terulur dan kembali bersandar di pipi kanan sang suami.
"I love you. Permainan mu sangat luar biasa, seperti aku jatuh cinta pada pandangan pertama... seperti dulu," bisik Ayana lembut.
Zidan terkesiap seketika, "terima kasih, i love you too, Sayang."
Kebahagiaan yang Zidan rasakan berkali-kali lipat menyapa perasaan. Ia menarik tangan Ayana dan menjatuhkan ciuman dalam di telapak nya.
Ia lalu beralih ke jari jemari, lengan, sampai ke benda kenyalnya lagi. Mereka melakukan penyatuan untuk kedua kali, mengungkapkan perasaan masing-masing lewat gerakan impulsif.
Kebahagiaan yang tengah keduanya rasakan kian meluap. Tidak ada yang bisa menggambarkan seperti apa kelegaan di hati keduanya.
Di temani lantunan musik lembut dari musisi lain, Ayana dan Zidan masih melayang kesyahduan. Di ruangan itu keduanya masih melakukan penyatuan yang kian memabukkan.
Ayana serta Zidan begitu senang dan bahagia, kehidupan rumah tangga mereka sudah berjalan baik-baik saja.
Di tempat berbeda, Danieal serta Jasmine terus berjuang untuk buah hati mereka. Segala pengobatan di jalani guna mempertahankan sang buah hati.
Kehamilan yang tidak mudah dilewati memberikan tantangan tersendiri. Baik Jasmine selaku ibu yang tengah mengandung maupun Danieal sebagai calon ayah, bekerja sama dengan baik.
Mereka sama-sama ingin mempertahankan sang buah hati yang sudah lama diharapkan. Namun, keduanya tidak berharap lebih mengingat kondisi Jasmine, tetapi Allah menunjukkan kuasa-Nya.
Ia menghadirkan janin di rahim Jasmine sebagai penguji mereka. Keduanya pun sepakat untuk melakukan berbagai cara, agar sang buah hati bisa lahir ke dunia dengan selamat.
"Terima kasih sudah mau berjuang bersamaku," ucap Jasmine, haru.
__ADS_1
"Apa pun untukmu, Sayang," balas Danieal yang tengah memeluknya di belakang.
Mereka berada di balkon kamar, menikmati keheningan malam sendirian.