
Begitulah jika skenario Allah bekerja, yang tidak mungkin menjadi mungkin, dan yang tidak nyata menjadi fakta. Kebenaran akan datang di waktu yang tepat dan sebagaimana mestinya.
Jadi, jangan pernah berputus asa dan menyerah pada keadaan. Karena kita belum tahu apa yang terjadi di masa depan. Bisa saja mendatangkan kebahagiaan maupun kesengsaraan, tergantung apa yang tengah dilakukan pada masa kini.
Waktu tidak pernah salah menyuguhkan segala kejadian serta keajaiban bagi setiap hamba. Semesta pasti memberikan kebaikan di balik kejadian demi kejadian menyakitkan.
Meskipun berkali-kali air mata menerjang, luka menyayat perasaan, tetapi tetap akan ada balasan di ujung sana.
Apa pun yang terjadi, ujian datang bertubi-tubi, dan hanya air mata saja menjadi teman setia, suatu saat pasti memberikan akhir terbaik. Setiap langkah yang ditapaki memberikan jejak untuk mendapatkan masa lalu.
Sesakit apa hari kemarin jangan pernah melihatnya lagi. Jadikanlah pembelajaran berharga agar di masa depan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Jangan mengulangi hal sama, jikapun melakukannya lagi maka teruslah berubah sampai perubahan itu menghapuskan kesalahan. Karena pintu rahmat Allah begitu luas bagi siapa saja hamba-Nya yang ingin bertaubat.
Di ruangan berbentuk segiempat bernuansa putih bersih itu dua pasangan saling merangkul satu sama lain dengan ketegangan menimpa mereka.
Pernyataan yang dicetuskan oleh dokter kandungan di sana memberikan sebuah tanda tanya besar.
"Ada hal yang harus saya sampaikan!"
Perkataan Bintang seketika masih menari indah di indera pendengaran. Keseriusan serta ketegasan di raut wajahnya begitu menarik atensi, terutama bagi Jasmine serta Danieal.
Wanita berhijab milo itu mencengkeram kuat kemeja yang tengah dikenakan sang suami. Jasmine yang masih duduk di atas ranjang dibuat harap-harap cemas. Ia takut, sangat tidak berdaya mendengarkan apa yang hendak disampaikan sang dokter.
Ia begitu ketakutan jika penyakit di dalam dirinya semakin ganas.
Sedari tadi ia begitu mual tak tertahankan. Rasanya jauh lebih kuat dari hari-hari biasanya. Ia takut benar-benar gelisah, jika penyakit yang mengendap dalam diri semakin bertambah parah.
Ia tidak ingin dan tidak bisa membuat pasangan hidupnya terus menerus terluka serta kecewa. Ia berharap Danieal bisa mempertimbangkan apa yang pernah dikatakannya.
Jasmine berharap sang suami bisa menemukan wanita lain yang bisa memberinya keturunan. Namun, mau sekuat apa pun ia berusaha menyuruhnya berpoligami, tetap saja Danieal tidak akan melakukan hal tersebut.
Kini ketakutan itu kembali membayangi, menusuk relung hati terdalam yang mana pegangan di pakaian Danieal semakin menguat.
Sang empunya yang merasakan itu mengusap punggung Jasmine beberapa kali dan pandangannya tidak beranjak sedikitpun dari dokter kandungan di depannya.
__ADS_1
"Semua baik-baik saja, tidak ada yang tidak mungkin," bisik Danieal melirik sekilas sang istri.
Jasmine sedari tadi memperhatikan kekasih hidupnya. Ia mendapati air muka serius nan mendalam dari Danieal.
Lengkungan bulan sabit terpendar di wajah cantiknya dan semakin mencondongkan tubuh mendekati sang suami.
"Berjanjilah padaku jika penyakit ini semakin parah... Mas harus mencari wanita lain agar kamu bisa mendapatkan keturunan. Karena-"
Belum sempat Jasmine menyelesaikan kalimatnya, Danieal seketika memandangnya lekat. Sorot mata semakin serius mengintai sepasang manik keabuan sang pasangan.
Baru saja ia membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, Bintang langsung menyambarnya cepat.
"Tidak usah meminta suami mu mencari wanita lain. Karena-" Bintang sengaja menjeda kalimatnya membuat keempat orang di ruangan semakin bertambah penasaran.
"Ka-karena apa Bintang? A-apa penyakit Jasmine-"
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, istri mu sedang mengandung. Selamat yah, Danieal, Allah memperlihatkan kuasa-Nya," lanjut Bintang kembali memotong perkataan mereka.
Hening melanda, Danieal, Jasmine, Ayana, serta Zidan mencoba mencerna apa yang disampaikan dokter kandungan tersebut. Pikiran mereka masih merespon apa yang sebenarnya terjadi.
Menyaksikan dua pasangan di hadapannya seakan kebingungan, Bintang kembali angkat bicara.
"Kenapa kalian diam saja? Apa kalian tidak senang dengan kehamilan Jasmine?" tanyanya lagi.
Mendengar penjelasan kedua kali membuat mereka sadar dan kegirangan. Pasangan suami istri itu pun saling berpelukan satu sama lain, bahagia tak terkira.
Di tengah kelimpahan suka cita yang mendera, Bintang menarik kursi kebesarannya menimbulkan decitan cukup kencang. Hal tersebut kembali menyadarkan mereka dan langsung menatap padanya lagi.
Wanita kepala tiga itu pun meletakkan kedua siku di atas meja dan menautkan jari jemarinya erat dan meletakkan dagu lancipnya di sana.
Sorot mata Bintang semakin berubah dan bertambah serius. Menyaksikan ada sesuatu yang hendak disampaikan, Danieal menuntun Jasmine turun dari ranjang secara perlahan kemudian membawanya duduk, berhadapan dengan Bintang.
"Apa ada yang ingin disampaikan? Apa kehamilan Jasmine ini-"
"Itu yang ingin aku diskusikan denganmu. Mengenai kondisi Jasmine yang mengidap PCOS... maka banyak hal yang harus diperhatikan."
__ADS_1
"Kemungkinan diusia dua puluh minggu kandungan, Jasmine akan mengalami preeklamsia yaitu naiknya tekanan darah. Jika sampai Jasmine mengalami kondisi ini, dia perlu mendapatkan perawatan medis yang tepat. Karena preeklamsia dapat menyebabkan risiko kesehatan lebih fatal."
"Juga dapat beresiko pada janin. Karena janin yang dikandung oleh ibu dengan kondisi PCOS berisiko lebih besar untuk lahir prematur. Bayi yang lahir juga bisa berukuran besar, istilahnya makrosomia, di mana ia lahir dengan berat badan lebih besar dari bayi pada umumnya. Hal ini dapat menyebabkan bayi obesitas, serta saat proses persalinan tidak lancar, yang mana bisa membahayakan ibu dan janin itu sendiri."
"Di samping itu, janin kemungkinan bisa menderita kadar gula rendah, hingga diabetes tipe dua."
"Jadi, untuk kondisi ibu hamil yang mengidap PCOS kita harus benar-benar menjaganya. Karena dapat menyebabkan keguguran juga," ungkap Bintang.
Bagaikan disiram air dingin, kebahagiaan yang mereka rasakan beberapa saat lalu menguap tersapu angin.
Danieal menggenggam erat tangan Jasmine, menyalurkan kekuatan. Mendengar semua penjelasan dokter kandungan barusan membuat wajah cantik itu pucat pasi.
Ayana yang juga ikut mendengarkan terbawa suasana. Air mata menitik di kedua pipi gembilnya, tidak kuasa mendengar fakta yang harus dialami sang kakak ipar.
Zidan yang berada di sampingnya langsung membalikkan tubuh sang pujaan dan menyembunyikan wajah berair itu di dada bidangnya.
"Shut! Semua akan baik-baik saja. Kita belum tahu apa yang terjadi ke depannya. Kita harus ber-husnuzan pada Allah," bisik Zidan, menenangkan.
Ayana hanya mengangguk singkat, tidak kuasa menahan kesedihan.
...***...
Setelah mendapatkan berita membahagiakan sekaligus menegangkan beberapa saat lalu, dua pasangan suami istri itu pulang bersama dalam satu mobil.
Aura di sekitar mereka dipenuhi dengan keheningan. Sedari tadi Jasmine menoleh ke samping kanan menyaksikan pemandangan malam lewat jendela.
Di sisinya, Danieal terus menggenggam tangannya kuat. Ia tidak melepaskannya barang sedetik saja. Ia ikut terpukul sekaligus senang mendengar kondisi pasangan hidup.
Namun, di balik kebahagiaan yang mereka dapatkan tersimpan luka jangka panjang.
Dari jok depan Ayana serta Zidan berkali-kali memperhatikan keduanya. Mereka pun tidak bisa mengatakan apa pun selain diam seribu bahasa.
Pasangan pianis serta pelukis itu saling tatap, hanya sorot mata saja yang saling bicara. Baik Ayana maupun Zidan merasakan apa yang tengah dialami Danieal dan Jasmine.
Sebagai calon orang tua, Ayana dan Zidan pernah berada di posisi seperti itu. Namun, yang tengah di hadapan Jasmine serta Danieal lebih parah.
__ADS_1
Keduanya berharap kakak serta kakak iparnya lebih tabah dan sabar dalam menjalani semua kondisi ini. Karena Allah menguji setiap hamba tidak jauh dari batas kemampuan hamba-Nya. Percayakan dan serahkan semuanya pada Allah semata.