Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 9


__ADS_3

Gelenyar kenangan masa lalu hinggap dalam ingatan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, semua butuh proses untuk menggapai kejayaan.


Kadang kala kebahagiaan dilalui derai air mata. Kekecewaan datang bersama harapan terlalu tinggi untuk digapai.


Cinta tidak luput dari kehidupan, semua mempunyai perasaan tersebut yang datang dari Allah. Sebagai hamba yang percaya pada takdir-Nya, maka serahkan semua pada sang pemilik kehidupan.


Gorean demi goresan kuas di atas kanvas membentuk lukisan baru. Senja, hadir terpampang nyata menemani siluet rasa sedih di kedua mata.


Di tengah kesendirian, pintu ruangan terbuka.


Ayana yang tengah duduk memunggunginya pun tidak tahu keberadaan orang lain di sana.


Namun, sedetik kemudian aroma maskulin terendus indera penciuman. Sepasang lengan kekar pun melilit di antara bahunya.


“Aku minta maaf, Sayang. Tadi … aku terbawa emosi. Aku benar-benar minta maaf.”


Suara lembut nan mendalam sampai ke relung hati. Ayana diam membeku mendapati Zidan kembali datang untuk meminta maaf.


Jika dibandingkan dengan hari itu, sangat jauh berbeda. Zidan tidak akan pernah merasa bersalah dan terus memberikan kata-kata menyakitkan.


Jangankan meminta maaf, menyapanya saja ia acuh. Seolah keberadaan Ayana pada masa itu hanyalah angin lalu.


Enam tahun … enam tahun mereka bersama membina rumah tangga. Namun, tidak ada satu hari pun tanpa kebahagiaan yang ia rasakan.


Bagaikan hidup dalam sangkar emas, kemewahan yang diberikan hanyalah dusta nestapa. Tanpa punya hati Zidan menghadirkan Bella ke dalam pernikahan mereka.


Sang suami terang-terangan mencintai wanita lain tepat di depan mata kepalanya. Mereka saling mencumbu tanpa mengindahkan perasaannya.


Ayana sakit, sangat terluka, tetapi, tidak bisa berbuat apa-apa. Karena baginya pernikahan adalah sebuah ikatan suci di hadapan Tuhan.


Namun, satu kejadian membuat Ayana sadar jika melepaskan lebih bari daripada digenggam menyakitkan.


Keputusan yang ia buat pun mendatangkan berkah. Suami yang dulu acuh, kini berbalik mencintainya.


Mengingat lagi akan hal itu mengalirkan air mata di kedua pipi. Ayana tidak bisa menahannya hingga liquid bening tersebut terus menerus keluar.


Zidan yang menyadari jika sang istri menangis pun beralih ke sampingnya. Ia menggenggam tangan Ayana hingga sang empunya beralih menjadi menghadapnya.


Ia melihat suami yang begitu mencintainya memberikan kecupan mendalam di punggung tangan.

__ADS_1


Kehangatan dari bibir menawan itu pun terus mengalir mencapai perasaan terdalam.


Selang beberapa detik kemudian, Zidan mengangkat kepala dan pandangan mereka saling bertubrukan.


Ia terkejut melihat air mata membasahi wajah sang pujaan. Ia pun menghapusnya pelan seraya ikut menitikkan kristal bening.


“Aku membuat kamu menangis lagi, Sayang. Aku suami yang buruk, benar-benar bu-“


Belum sempat Zidan menyelesaikan ucapannya, seketika Ayana langsung memotongnya dengan meraup benda kenyal sang suami.


Mendapatkan serangan mendadak, kedua mata Zidan melebar sempurna dan mengikuti permainannya.


Tidak lama setelah penyatuan terjadi, Ayana menjauhkan diri lagi lalu menangkup wajah menawan suaminya.


“Terima kasih,” ucapnya sendu.


Zidan menautkan kedua alisnya, tidak mengerti. Ayana menangkap gesture itu pun mengulas senyum singkat.


“Terima kasih … karena sudah kembali dan meminta maaf. Aku juga minta maaf, tidak langsung membicarakannya denganmu.”


“Aku sadar Mas mungkin berpikir aku tidak bisa mengandalkamu.” Kepala berhijabnya menggeleng beberapa kali. “Tentu tidak seperti itu, Mas. Aku hanya … tidak ingin membebani mu saja.”


Kini giliran Zidan yang memutus ucapan Ayana dengan memeluknya erat. Ia menangis di bahu sempit sang terkasih dan semakin mengeratkan rengkuhannya.


“Em, aku mengerti sekarang, tapi kamu harus ingat. Aku … suamimu berhak menanggung semua beban yang kamu pikul. Aku ingin menebus kesalahan di masa lalu dengan menjadi suami yang terbaik.”


“Untuk itu Ayana-“ Zidan menjeda kalimatnya seraya melepaskan diri dari tubuh sang istri.


Mereka kembali saling pandang menyelami iris masing-masing. Zidan menangkup kedua pipi Ayana hangat masih memandanginya kuat.


“Aku ingin kamu terbuka. Jangan menyembunyikan apa pun lagi dariku, terutama rasa sakit di hatimu. Aku ingin menjadi penopang hidupmu.”


“Karena aku mencintaimu,” kata cinta kembali tercetus mengakhiri ungkapan perasaan.


Zidan mengembangkan bulan sabit menambah ketampanan. Ayana terperangah tidak menyangka bisa mendengar kalimat itu darinya.


Zidan benar-benar sudah berubah, pikirnya.


Ayana pun melemparkan diri ke dalam pelukan sang suami. “Em, aku janji mulai sekarang akan membicarakan semuanya padamu,” ucapnya kemudian.

__ADS_1


Zidan terpaku lalu mengangguk antusias.


Mereka pun saling berpelukan menyalurkan kasih sayang. Kesalahpahaman pun sudah teratasi menjadikan hubungan pasangan suami istri itu menjadi lebih baik lagi.


...***...


“Apa katamu? Kirana bekerja sama dengan menantu Mamah?” Suara Celia menggelegar di mansion.


Danieal yang baru saja pulang dari pertemuannya bersama mantan tunangan langsung membicarakannya dengan sang ibu.


“Itu benar, Mah. Aku juga tahu dari seseorang, ternyata selama ini Kirana bekerja sebagai model. Bahkan di negara tempat tinggalnya kemarin, ia sudah dikontrak menjadi model di sebuah perusahaan besar, dan sekarang bekerja di bawah naungan perusahaan Zidan,” ungkapnya lagi.


Celia tidak habis pikir mendapatkan kejutan tak terduga. Bertahun-tahun Kirana menjadi sahabat dekat Eliza dan selama itu pula, ia sudah menganggapnya seperti anak sendiri.


“Bagaimana dengan Ayana? Apa dia tahu?” tanya Celia khawatir.


Danieal mengiyakan. “Ayana tahu, bahkan tadi kami sempat makan siang bersama.”


“APA? Ma-makan siang bersama?” Untuk kedua kali nyonya besar itu pun berteriak.


Para maid yang tengah bekerja di sekitar keduanya pun berpura-pura tidak tahu dan bergegas meninggalkan ruang keluarga.


Danieal tahu apa yang tengah ibunya pikirkan.


“Mamah tidak usah khawatir, Ayana … berbeda dengan Eliza. Dia, walaupun sempat ingin mengakhiri hidup, sekarang sudah baik-baik saja. Lagi pula ada Zidan di sisinya,” kata sang putra menenangkan.


“Justru itu yang Mamah khawatirkan. Kamu tahu firasat seorang ibu untuk anak-anaknya sangat kuat, meskipun Ayana tidak lahir dari rahim Mamah, tetapi anak itu mempunyai ikatan tersendiri dengan kita.”


“Setelah mengetahui Kirana kembali ke sini dan bertemu dengan kita … entah kenapa Mamah merasa dia ingin mendapatkan janji itu,” celoteh Celia memandang ke bawah.


“Janji? Janji yang Eliza buat untuknya?” tanya Danieal, ibunya pun mengangguk singkat.


“Jadi, apa mungkin dia datang ke sini ingin mendapatkan nama Arsyad di belakang namanya dan … menjadi bagian keluarga kita?” tanya dokter tampan itu lagi.


Celia mengangkat kepala lalu menoleh pada putra pertamanya. “Jika bukan karena itu? Apa lagi yang kamu pikirkan? Sudah delapan tahun berlalu, apa dia sudah melupakannya? Tidak! Dia masih mengingat hal itu dengan jelas.”


“Apa kalian sudah berbicara tentang hubungan masa lalu?” Celia memberikan pertanyaan yang membekukan buah hatinya.


Danieal mengatupkan mulut rapat mendapatkan pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Selama ini ia tidak pernah menyinggung masa lalunya.

__ADS_1


Karena bagi Danieal, sosok wanita yang dulu pernah dirinya cintai dengan sangat telah menghilang bersama kepergiannya delapan tahun lalu.


__ADS_2