
Dua hari berlalu begitu cepat layaknya kedipan mata. Di kediaman Zidan, tepatnya di mansion megah berlantai dua itu pun digelar pesta penyambutan Ayana sekaligus sembuhnya sang tuan muda.
Satu persatu tamu hadir, mulai dari kalangan pebisnis, musisi, sampai seniman, turut merayakan syukuran pasangan suami istri tersebut.
Gaun-gaun menjuntai indah pada setia wanita yang datang. Mereka nampak sopan tidak memperlihatkan lekuk tubuh ataupun mengenakan pakaian terbuka.
Kebanyakan dari mereka mengenakan hijab menambah kecantikan.
Begitu pun dengan para pria yang nampak rapih dan gagah dalam stelan jas formal. Mereka bersuka cita, berbaur bersama mengikuti rangkaian acara yang ada.
Lantunan ayat suci bergema ke penjuru ruangan mansion. Mereka mengikutinya dengan sangat khidmat bersama tuan rumah.
Sanak saudara pun turut hadir menambah kebahagiaan. Ayana dan Zidan juga mengundang anak-anak panti asuhan untuk menikmati rezeki yang sudah Allah berikan.
Dua jam berselang, selepas pengajian di gelar, orang-orang penting khususnya pemuka agama dan juga anak-anak yatim membubarkan diri.
Di sana tersisa rekan-rekan bisnis dan keluarga melanjutkan acara masing-masing.
Di tengah keceriaan melanda, langkah tegap seorang pria tua yang dikawal beberapa orang mengundang perhatian.
Ayana dan Zidan yang tengah bercengkrama bersama keluarga pun menoleh ke arah pintu masuk.
Di sana sang pengusaha berdiam diri memandang kepada para tamu undangan dan juga pemilik pesta tersebut.
Presdir Han datang sembari membawa tongkat kayunya menyapukan pandangan seraya tersenyum mengejek.
"Oh, tamu terhormat kita sudah datang rupanya." Zidan maju beberapa langkah ke depan memberikan seringaian tajam.
"Apa Anda sudah siap untuk kejutannya?" ujar pianis itu lagi.
Baik Presdir Han maupun Ayana juga orang-orang di sekitar mengerutkan dahi dalam.
Ayana menoleh pada Danieal dan Bening bergantian. Keduanya pun menggelengkan kepala kompak tidak mengerti apa maksud dari Zidan tadi.
Ketiganya lalu melihat dan menunggu apa yang hendak terjadi selanjutnya. Tiba-tiba semua jendela tertutup rolling door yang turun otomatis, juga semua pintu dikunci rapat.
Zidan menatap nyalang pada pria tua itu seraya terus menyeringai tajam.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi?" bisik Bening mendekati Ayana.
Ia menoleh singkat dan kembali memandang suaminya. "Aku tidak tahu, Mbak. Bukankah persiapannya nanti?" tanya Ayana balik.
"Apa-"
Sebelum menyelesaikan ucapannya tiba-tiba saja datang rombongan para pria berseragam lengkap dengan senjata api di tangannya.
Seketika pesta menjadi tidak kondusif, banyak tamu berteriak histeris terutama wanita. Mereka bak semut berlarian ke sana ke mari menghindari orang-orang berseragam tadi.
"Tenang semuanya, tidak perlu takut. Mereka datang ke sini untuk menjemput seseorang," kata Gibran menjelaskan.
Ayana yang tidak tahu dengan kondisi di sana pun menautkan alis tajam. Ia berjalan mendekati sang suami lalu menatapnya lekat.
Merasakan keberadaan pasangan hidupnya, Zidan pun menoleh ke sebelah kanan. Bibir menawan pianis itu melengkung sempurna.
"Lihat dan saksikanlah," ucapnya kemudian.
Zidan melangkahkan kaki ke depan meninggalkan berjuta kebingungan dalam kepala berhijab Ayana.
Ia terus memperhatikan dalam diam apa yang hendak dilakukannya lagi. Sampai beberapa saat kemudian Zidan mencengkram leher Presdir Han erat.
"Hentikan, biarkan saja!" titah Presdir Han membuat beberapa bodyguard nya mundur di belakang Zidan.
Bibir keriput itu pun terangkat memberikan senyum mengejek. Tatapan mereka saling beradu menebarkan kemarahan dalam benak.
"Apa yang mau kamu lakukan, hah?" tanya Presdir Han congkak. "Kamu tahu? Sejengkal saja kamu menyentuh saya maka kehidupanmu akan berakhir," ancamnya kemudian.
Zidan mendengus kasar mendengar penuturannya, "oh yah? Sayang sekali ancaman Tuan tidak ada pengaruhnya bagi saya."
"Siapa pun orang yang sudah membuat Ayana menderita maka tidak akan lolos begitu saja. Tuan tahu bagaimana hebatnya istri saya? Dia mampu memberikan kejutan yang tidak pernah Anda sangka-sangka," balas Zidan emosi lalu menghempaskan pria tua itu.
Presdir Han kembali berdiri tegak sembari membenarkan jasnya kasar. Ia menyeringai tajam dengan mengangkat kepala, pongah.
"Saya tidak akan membiarkan kalian hidup dengan tenang."
Setelah mengatakan hal tersebut pria-pria berseragam dengan senjata api itu pun bergegas mencekal kedua tangan Presdir Han.
__ADS_1
Sang empunya tidak berontak sedikit pun dan masih memberikan senyum mengejek. Ia sama sekali tidak gentar kala empat orang di masing-masing sisinya siap siaga.
Di tengah keheningan yang sekejap melanda, suara langkah tegap sepatu pantofel menarik perhatian.
Sosok pria bertubuh tinggi tegap, berkulit putih bersih dengan tatanan rambut rapih, turun dari lantai dua.
Satu demi satu anak tangga ia tapaki menebarkan aura maskulin yang kuat.
Ayana menoleh mendapati pria yang beberapa minggu lalu mereka sempat bertemu bersama Bening dan Danieal.
Mereka berempat membicarakan banyak hal mengenai Presdir Han, terutama tentang kekuasaannya yang dipakai pada jalan tidak benar.
"Ma-Mas Haidan?" cicit Ayana membuat sang empunya nama menoleh padanya singkat.
Senyum manis pun berpendar di wajah tampannya, Ayana terbelalak menyadari sorot mata penuh makna di sana.
Haidan, pria itu terus berjalan tanpa gentar menuju Presdir Han berada. Sesampainya tepat di depan sang pengusaha, ia menunjukkan selembar kertas yang memperlihatkan surat penangkapan untuknya.
"Anda ditahan dengan beberapa kasus yang sudah merugikan banyak orang. Korban Anda pun tidak terhitung lagi, untuk itu menyerah lah dan serahkan diri Anda," ungkapnya kemudian.
Sekejap saja, acara pesta di mansion sang pianis dan pelukis berubah fungsi. Tepat pada saat jam menunjukkan pukul setengah sebelah malam, Presdir Han atau Han Bose resmi ditangkap pihak penyelidik.
Semua tamu yang hadir di sana tidak menyangka sekaligus terkejut bukan main. Ada beberapa dari mereka yang baru tahu jika Presdir Han adalah orang yang sangat berbahaya.
Seketika itu juga mansion Zidan ramai kembali, banyak para wartawan yang sudah menunggu di luar.
Di saat jendela dan pintu kembali di buka, lampu kamera pun menyoroti keberadaan sang pengusaha itu. Potret demi potret diambil guna mendapatkan berita menghebohkan negeri ini.
Ayana diam mematung di tempatnya berdiri. Seluruh tubuhnya membeku bagaikan terkena air es, ia sungguh tidak menyangka menyaksikan pertunjukan yang luar biasa.
Bola mata cokelat susunya menatap lekat sang suami yang tengah berdiri tegak dengan aura kharismatik menyebar.
Perlahan tapi pasti, degup jantung mulai bertalu kencang. Ayana menyadari sesuatu jika saat ini perasaan asing itu mulai menyapa kembali.
Ia mengepalkan kedua tangan menyaksikan senyum manis bertengger di wajah tampannya. Sosok Zidan sudah berbeda dari satu tahun lebih yang lalu.
Ia melihat ketulusan serta kejujuran dalam dirinya. Ayana tidak pernah tahu jika selama ini sang suami pun sudah bertindak di belakangnya.
__ADS_1
Selama hidup bersama lagi, Ayana tidak melihat tanda-tanda mencurigakan dari Zidan. Ia berpikir jika pria itu hanya disibukan dengan kegiatannya sebagai pianis.
"Namun, siapa yang sangka jika kejadian ini benar terjadi?" gumamnya lirih.