Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 3 CHAPTER 59


__ADS_3

Harapan hanya sebatas sebuah rencana yang menjadi sebuah cita-cita. Keberadaannya terkadang jadi misteri dan datang tanpa diduga. Segala ketentuan itu datangnya dari Allah untuk memberikan kejutan tak terduga bagi setiap hamba.


Apa pun yang menjadi ketentuan-Nya itu pasti terbaik. Ikuti alur-Nya, jalani apa yang diperintahkan, jauhi larangan-Nya, maka tidak ada yang tidak mungkin.


Berdoa sepenuh hati, percaya sepenuh jiwa, yakin sekuat tenaga, beribadah yang terbaik, maka jalur langit akan berbicara. Segala ketentuan-Nya, apa pun jalan-Nya, sudah pasti yang terindah.


Allah Maha Pengatur Kehidupan yang membagikan kebahagiaan selepas ujian menghadang.


Danieal percaya, setelah cobaan yang datang padanya ia bisa mendapatkan kebaikan dari-Nya. Perasaan menggebu itu sangat ia rasakan selepas perginya hujan badai, serta pengakuan Jasmine menjadikan diri luluh.


Netra beningnya sedari tadi masih menyaksikan dua wanita itu saling berpelukan. Pikirannya begitu semerawut perihal ungkapan Jasmine dan juga keinginan lain.


Dalam diam, ia sudah menyusun rencana baru untuk melamarnya. Ia tidak ingin terjebak dalam sebuah hubungan yang salah.


"Jasmine... bisakah, setelah kita keluar dari sini, aku... melamar mu?"


Suara tegas nan yakin mengejutkan mereka. Ayana dan Jasmine saling melepaskan pelukan dan kembali memfokuskan perhatian pada Danieal.


Dahi tegas Jasmine pun mengerut dalam, mencoba mencari kebohongan dalam irisnya. Namun, ia sama sekali tidak mendapati hal itu.


"A-apa? Melamar?" gugup Jasmine sadar jika air muka Danieal sangat serius.


"Iya, melamar mu untuk menjadi istriku dan juga... ibu dari anak-anakku kelak."


"Aku tidak ingin terjebak dalam perasaan ini yang bisa saja melenakan. Bismillah, dengan izin Allah, aku ingin menyempurnakan separuh agama bersamamu, Jasmine."


Tidak ada kata yang lebih tulus selain menginginkan seseorang untuk menjalankan ibadah terlama bersama. Menjalin mahligai rumah tangga berlandaskan cinta kepada Allah, merupakan satu keinginan terbesar.


Wanita manapun jika mendapatkan pernyataan tersebut sudah pasti berbunga-bunga. Bagaikan ada ribuan kupu-kupu dalam perut yang memberontak ingin keluar.


Itulah yang tengah dirasakan oleh sang pelukis. Ayana yang menjadi saksi hidup mendengar serta melihat pernyataan sang kakak tidak kuasa menahan senyum. Ia membungkam mulut menganganya dengan wajah merah padam.


Entah kenapa ia merasa seperti seorang wanita yang juga sedang mendapatkan pengakuan tersebut. Diam-diam ia mendorong kursi tunggal yang tengah ditempatinya ke belakang.


Ia memberikan kesempatan pada mereka untuk menyelami waktu berharga hanya seorang diri saja. Kelereng karamelnya bergulir ke sana kemari memperhatikan dua orang di sekitarnya.


"Ayo katakan iya, Jasmine. Katakan iya, aku mohon... aku ingin kamu jadi kakak iparku. Ayo, katakan iya, okay?" bisiknya yang masih bisa didengar oleh kakak dan juga sahabatnya.

__ADS_1


Dua insan itu melirik Ayana langsung membuatnya terkekeh pelan. Ia canggung mendapatkan tatapan mendalam dari mereka.


"A-ah, sepertinya aku mengganggu kalian, kan? Baiklah, aku akan duduk di sana saja."


Ayana melarikan diri dan menepi di sofa panjang dekat pintu masuk. Di sana, ia mengusap perut membuncitnya seraya menunduk dalam.


"Sayang, kamu juga setuju bukan? Jika tante Jasmine jadi keluarga kita? Mamah harap ada keputusan terbaik dari mereka," lirihnya berkomunikasi dengan sang jabang bayi.


Tanpa diduga janin dalam kandungan menendang pelan, mengejutkannya. Ayana kembali terkekeh senang tidak bisa menahan rasa bahagia.


"MasyaAllah, jadi kamu juga setuju. Kalau begitu kita minta sama Allah, agar dua orang itu memberikan keputusan terbaik."


Setelahnya Ayana menengadahkan kedua tangan seraya menutup mata rapat. Bibir ranumnya melengkung sempurna mengutarakan isi hati dalam diam.


Sedari tadi, Danieal maupun Jasmine tidak melepaskan pandangan dari Ayana. Perasaan hangat pun seketika menyapa cepat.


Keduanya tahu seberapa tulus Ayana dalam mendukung mereka untuk bisa bersatu.


Secara bersamaan Jasmine dan Danieal melirik satu sama lain lalu terpaku saat kedua mata mereka saling bertubrukan.


Degup jantung bertalu tak tertahankan menyebarkan rona merah di pipi. Seakan ada perasaan yang tidak bisa dihindari, Danieal maupun Jasmine saling menundukkan pandangan.


Zidan yang baru saja tiba di lantai enam seraya menggendong Raima terkejut kala mendapati wanita asing tepat di depan ruangan Jasmine.


Perlahan-lahan ia berjalan mendekat sambil memperhatikannya dari ujung kaki sampai kepala.


Merasakan tatapan seseorang, wanita itu menoleh membuat keduanya terkejut. Zidan menganggukkan kepala gugup masih dengan melihat ke arahnya.


"Anda... siapa?" tanya Zidan langsung.


Wanita itu membaca sorot mata penuh tanya pria muda di hadapannya lalu mengembangkan senyum. Kerutan di sekitar mata terlihat jelas, Zidan bisa melihat jika dia bukanlah orang mencurigakan.


"Apakah, Jasmine baik-baik saja?" tanyanya balik.


Mendengar nama itu disebut, Zidan mengerutkan dahi dalam.


"Sebelumnya, bolehkah saya tahu siapa Anda?" ucapnya lagi mengajukan pertanyaan yang sama.

__ADS_1


"Saya, Rusli... Rusli Mahesa, Tante Jasmine yang masih hidup," tegas wanita baya melebarkan kedua manik Zidan.


Ia lalu mengajak Rusli duduk di kursi tunggu dan di sana mereka berbincang-bincang bersama seputar Jasmine.


Zidan pun menjelaskan jika selama ini keponakan Rusli tinggal bersamanya. Ia menceritakan dari awal pertemuannya dengan Ayana sampai sekarang.


Berkali-kali Rusli tidak percaya mendengar kisah yang telah dilewati sang keponakan. Begitu rumit, begitu terjal, serta begitu curam jalan yang harus ditempuhnya.


Sebagai seorang ibu, ia bisa memahami bagaimana terlukanya Jasmine menghadapai semuanya sendirian. Ia juga sangat menyayangkan sikap serta balas dendam yang salah dilakukan oleh suaminya sendiri.


"Itulah kenapa Jasmine tidak segan mengangkat senjata api untuk melindungi orang-orang tersayangnya. Dia... tidak ingin siapa pun terluka," jelas Zidan mengingat perbuatan Jasmine yang langsung menembak kaki Alexa tanpa gentar waktu itu.


"Jadi, sekarang suamiku ada di penjara? Jasmine yang melakukannya?" tanya Rusli mendapatkan anggukan dari lawan bicaranya.


"Awalnya Jasmine tidak peduli apa yang akan terjadi pada paman. Entah itu dipenjara atau langsung eksekusi, ia sama sekali tidak peduli. Karena baginya hukuman apa pun itu tidak bisa mengembalikan orang tua, keluarga, juga... luka di hatinya."


"Sudah terlalu banyak jahitan luka yang berhasil ia lalui, tetapi... tidak menutup kemungkinan jika kenangan itu masih ada dalam ingatan."


"Jadi, saya harap Anda bisa berada di samping Jasmine sebagai satu-satunya keluarga yang tersisa. Karena dia sudah banyak menderita, jadi... saya ingin Jasmine-"


"Siapa kamu?"


Suara lain mengejutkan pertemuan mereka, Zidan dan Rusli pun menoleh ke samping mendapati satu sosok memandangi keduanya serius.


Zidan mengerutkan dahi, seolah melihat Jasmine versi pria. Mata mereka yang menjadi ciri khas keluarga Mahesa langsung menjelaskan jika ia adalah keluarga Jasmine yang lain.


"Aku tanya sekali lagi, siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu kenal sepupuku, Jasmine?" gertaknya berjalan mendekati Zidan.


Sang pianis menyeringai lalu beranjak dari duduk dan saling berhadapan satu sama lain dengannya.


"Apa kamu keluarga Jasmine yang lain? Di mana saat sepupumu melewati kesulitan yang pamannya ciptakan? Ah, kamu pasti tidak tahukan? Bagaimana kejamnya tuan Alexa memperlakukan keponakannya sendiri?"


Zidan tersenyum penuh makna seraya menganggukkan kepala beberapa kali mendapati ekspresi dari lawan bicaranya.


"Melihat dari reaksimu, sepertinya... kamu memang tidak tahu. Iya, yang aku tahu Jasmine memang sudah kehilangan keluarga sejak kecil. Jadi, sekarang kalian ada di sini, aku harap... bisa memberikan harapan lebih padanya. Good luck!"


Zidan menepuk pundak pria itu beberapa kali membuat sang empunya diam membeku.

__ADS_1


Sampai satu suara lain mengejutkan mereka yang sekejap menatap pada ambang pintu ruang inap tersebut.


"Apa yang terjadi di sini?"


__ADS_2