Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 2 CHAPTER 20


__ADS_3

"Ayana, Mas masuk yah," ucap Danieal setelah mengetuk pintu bercat putih itu tanpa jawaban.


Sedetik kemudian ia menarik gagang pintu ke bawah hingga terbuka.


Kosong, tidak ada siapa pun terlihat. Danieal bergegas masuk dan berjalan semakin ke dalam lalu mendapati bayangan seseorang di balkon.


Jendela besar yang terbuka menampakan sang adik tengah duduk sendirian. Ia bergegas mendekat melihat muka datar di sana.


Ia menghela napas pelan, meletakkan kotak P3K di meja kemudian berjongkok tepat di depan adiknya.


Kedua tangan terampil itu bekerja membuka balutan perban yang kembali ternoda. Darah yang telah mengering membuatnya menempel pada luka menganga.


"Apa yang terjadi? Kenapa tanganmu sampai terluka seperti ini? Hei, Ayana, apa kamu lupa? Tanganmu sangat berharga? Bagaimana nanti kamu melukis, hah?" ucapnya terus meracau tanpa jeda.


Ayana yang sedari tadi memperhatikan langit kelam pun mengulas senyum singkat. Ia membiarkan sang kakak melakukan apa pun pada lukanya.


"Dokter bisa memberikan obat pada luka, tetapi-"


"Dokter tidak bisa mengobati luka hati. Kamu hanya harus berpegang erat pada Allah, jangan pikirkan apa pun. Jangan pernah berpikir untuk melakukan hal bodoh lagi seperti itu. Jika sampai terjadi, Mas benar-benar akan mengurung mu. Apa luka ini kamu hasilkan sendiri?" cerocosnya lagi.


Ayana langsung memberikan pukulan pelan di kepala sang dokter.


"Aku tidak sebodoh itu. Luka ini ... aku dapatkan dari kecelakaan kecil tadi siang. Luka ini ... bahkan tidak lebih sakit," ungkapnya memandangi luka sayatan di balik telapak tangan.


Danieal yang tengah memberikan obat merah pun terhenti. Ia mendongak menyaksikan sepasang manik kelam sedang memandang langit malam.


"Kenapa kamu tidak menangis? Biasanya kamu-" Danieal menghentikan ucapannya sendiri menyadari satu hal.


"Jika saat ini luka di hatinya benar-benar parah. Ayana, kenapa kamu tidak menangis? Apakah sesakit itu sampai tidak mengeluarkan air mata?" lanjut benaknya.


"Menangis ... apa bisa merubah keadaan menjadi lebih baik? Tidak, menangis hanya memperlihatkan kelemahan saja."


"Tidak Ayana, menangis justru sebagai ungkapan perasaan agar hatimu menjadi lebih lega," balas Danieal lagi yang kini menyelesaikan tugasnya membalut luka adiknya.


"Sudah selesai," ujarnya membuat Ayana menunduk melihat balutan yang dibuat sang kakak.


"Mas memang pandai mengobati. Pantas saja Mas menjadi dokter favorite di rumah sakit," puji Ayana, Danieal terkekeh pelan lalu duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Hening memberikan jeda bagi adik dan kakak itu untuk berkutat dengan pikiran masing-masing. Awan kelabu menutupi indahnya langit malam enggan mengeluarkan keindahan.


Sesekali angin hadir menyapu wajah menawan keduanya. Gelenyar luka kian menumpuk menjadikan diri luluh pada kesedihan.


"Apa kali ini masalah anak lagi? Apa kamu sudah membicarakannya dengan Zidan?" tanya Danieal tanpa melihat pada adiknya.


Ayana menyeringai pelan sembari meremas jari jemari kuat.


"Selain pandai mengobati, ternyata Mas juga bisa memprediksi kejadian yang sudah menimpa seseorang. Aku ... tidak akan pernah bisa berbohong padamu, Mas," balas Ayana disertai senyum simpul.


Danieal mendengus pelan dan terkekeh singkat.


"Itu sebabnya kamu tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Mas. Jadi, apa tebakan Mas benar?" tanyanya kembali.


"Yah, keluarga besarnya terus memojokkan ku untuk mendapatkan anak. Padahal ... anak adalah rezeki yang datangnya dari Allah. Kita tidak bisa memaksakan kehendak-Nya, kan?" Ayana menghela napas kasar mendongak lagi ke atas.


"A-apa? Keluarga besarnya? Astaghfirullah yang benar saja, lalu apa tindakan Zidan?" Danieal langsung menoleh mendapati adik sambungnya mengembangkan kedua sudut bibir.


Kepala berhijab itu membalas tatapannya dengan sorot mata penuh kecewa.


"Mas Zidan ... memperlihatkan bayi berusia lima bulan kepada keluarganya. Bayi itu anak dari panti asuhan tempatnya memberikan donasi."


...***...


Pagi menjelang, Ayana yang baru selesai dandan pun dikejutkan akan kegaduhan di lantai bawah. Buru-buru ia keluar kamar dan seketika itu juga maniknya memandang wanita masa lalu sang kakak.


Tatapan mereka saling bertemu satu sama lain, wajah cantik itu dihiasi senyum tulus. Ia menatap ke depan menyambut kedatangan Ayana.


"Oh rupanya kamu ada di sini?" tanyanya begitu saja.


Kedua alis tegas sang pelukis itu pun saling bertautan tidak mengerti. Kakinya membawa ia turun mendekat ke arah sosoknya.


"Kirana? Sedang apa kamu di sini?" tanya balik Ayana.


"Aku ingin mengunjungi om dan tante sekalian memberikan bunga ini." Kirana memperlihatkan karangan bunga yang dibawanya.


"Karangan bunga?" gumam Ayana yang masih bisa didengar oleh Kirana.

__ADS_1


"Iya, untuk peringatan delapan tahun Eliza meninggal," katanya lalu melangkahkan kaki.


Namun, sebelum benar-benar pergi jauh Kirana menoleh lagi ke belakang.


"Ah, benar aku baru ingat. Kemarin siang aku dan mas Zidan pergi ke panti asuhan, sepertinya suamimu benar-benar ingin mempunyai anak. Dia ... sangat senang saat bertemu Raima, bayi berusia lima bulan."


Sekejap jantungnya seolah berhenti berdetak, perlahan kedua tangan mengepal erat. Ayana terkejut mendengar perkataan Kirana barusan.


Dalam diam wanita itu melengkungkan sebelah sudut bibir. Sorot mata nyalang menatap lekat pada Ayana yang tengah terpaku.


"Itu saja yang ingin aku sampaikan, bye." Kirana berbalik lalu memanggil dua tuan di rumah itu. "Assalamu'alaikum, om, tante, Kirana datang!" ucapnya lantang.


Ayana masih mematung di tempat mengikuti ke mana sosok Kirana pergi. Luka semalam yang belum sembuh pun, nyatanya harus ditimpa lagi dan lagi.


"Jadi, kemarin mereka pergi bersama? Kenapa? Kenapa mas Zidan tidak mengajakku saja?" gumamnya lirih.


Dari lantai dua Danieal menyaksikan ketegangan mereka. Ia pun tidak habis pikir apa yang dilakukan adik iparnya.


Ia melihat kekecewaan begitu kuat di balik manik jelaga Ayana. Sebagai seorang kakak yang sudah dua tahun bersamanya, Danieal ikut merasakan kepedihan itu.


"Zidan! Berani-beraninya dia melukai Ayana lagi. Kenapa dia melakukan itu? Apa dia sadar kelakuannya menyakiti Ayana?" geramnya menahan kekesalan.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Zidan yang baru saja mengadakan rapat penting bergegas mendatangi rumah sakit.


Sejak pagi tadi ponselnya tidak berhenti bergetar. Ia mendapati satu nama yang mengajaknya untuk bertemu.


Di rasa ada sesuatu yang tidak beres, Zidan menyanggupinya dan berjanji akan bertemu satu sama lain.


Setelah memarkirkan mobil, Zidan bergegas masuk ke dalam gedung dan langsung menuju ke salah satu ruangan di sana.


Ia mengetuk pintu sekilas lalu membukanya. Hal pertama yang tertangkap pandangan adalah wajah bengis sang dokter.


Entah keberanian dari mana Danieal melayangkan pukulan telak di pipi mulusnya. Zidan tersungkur ke bawah menyaksikan seringaian tercetak di wajah tampan sang kakak ipar.


"A-apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu memukulku?" tanyanya terkejut.


Tidak sampai di sana saja, Danieal dengan cepat mencengkram kuat jas mahal adik iparnya. Sepasang mata elang itu memindai mangsanya untuk diburu.

__ADS_1


Emosi kian membuncah kala ingatan kesakitan sang adik tergambar jelas dalam ingatan membuatnya terkurung amarah.


__ADS_2