
Sang raja malam memberikan sinarnya begitu ia indah. Cahaya bulan menyinari, menemani bintang bertaburan.
Indah, satu kata menjelaskan langit gelap kali ini.
Angin sejuk pun datang menebarkan ketenangan dalam heningnya malam.
Di dalam kemilau pesona gelapnya cakrawala, orang-orang hilir mudik sibuk dengan segala aktivitas yang mulai selesai dilakukan.
Di tengah banyaknya lautan manusia di ibu kota, di salah satu restoran keluarga sebuah keluarga kecil dengan orang lain tengah makan bersama.
Kehangatan yang kian mendera perlahan-lahan dirasakan. Kebersamaan itu membuat perasaan seorang ayah semakin melebar.
Ihsan, sangat ingin bersama buah hati menjalani hari-hari.
Permintaannya yang dilayangkan untuk bisa bersama putri tercinta berdengung dalam indera pendengaran masih belum ada kepastian.
Bibir menawan pria yang menjabat sebagai ayah angkat Raima pun terkatup rapat, belum ada tanda-tanda hendak menjawab keinginannya tadi.
"Apa kamu akan mengizinkannya Zidan?" tanya Ihsan lagi saat tidak mendapati balasan apa pun dari lawan bicara.
Zidan berdehem pelan lalu melirik pada Raima yang masih menikmati makanannya.
Ia senang menyaksikan betapa lahap putri sambungnya itu. Pipi bulatnya semakin mengembang layaknya bapau.
Ia gemas dan mencubit sebelah pipinya pelan.
"Sayang." Panggil Zidan kemudian.
"Eng?" Raima menoleh pada sang ayah angkat.
Kedua manik bulatnya serta bulu mata yang lentik memandangi Zidan seolah menunggu kata selanjutnya.
"Apa kamu mau digendong oleh-" Zidan menoleh pada Ihsan membuat balita itu mengikuti arah pandangnya.
Seolah memahami perkataan Zidan, Raima terkekeh pelan pada ayah kandungnya.
Ihsan terharu, tersenyum lebar, bahagia mendapatkan air muka ceria sang buah hati.
"Sayang... mau Ayah gendong?" tanya Ihsan seraya merentangkan kedua tangan.
Raima memandangi orang tua angkatnya bergantian seolah meminta persetujuan.
Baik Ayana maupun Zidan, mereka sama-sama mengangguk sambil memperlihatkan lengkungan bulan sabit.
Raima kembali menoleh pada ayah kandungnya yang masih mempertahankan posisi tadi.
"Gak mau," katanya dengan suara lembut dan masih belepotan.
__ADS_1
"Eh? Kenapa tidak mau, Sayang?" Ihsan tercengang, matanya berkaca-kaca, tidak percaya.
Sang wali kota pun berpaling pada Ayana dan Zidan meminta bantuan.
"Sayang, Paman ini adalah Ayah mu juga," jelas Ayana, meskipun ia tahu balita satu setengah tahun itu pasti tidak mengerti.
Raima hanya mengedip-ngedipkan mata lucu sama sekali tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Kepala bulatnya berpaling lagi pada Ihsan yang masih menatapnya sendu.
"Aku mengizinkan kamu membawa Raima, tetapi... kita juga harus melihat dulu keadaan anaknya bagaimana. Jika memang tidak mau, lebih baik jangan dipaksa. Kita harus mengkondisikan mentalnya juga," kata Zidan diberi anggukan oleh Ayana.
"Iya, aku mengerti. Ini semua memang salahku... sudah mengabaikan putri kandungku sendiri, dan... ini balasannya," keluh Ihsan menunduk dalam.
"Bahkan aku sempat tidak menerima keberadaannya." Ihsan mendongak mengusap puncak kepala Raima, sayang.
"Ayah benar-benar minta maaf yah, Sayang," kata Ihsan lagi.
Tanpa terasa air mata pun menetes di pipi putihnya. Buru-buru sang empunya menghapus kasar seraya menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan.
Ia sadar, benar-benar sadar jika reaksi Raima saat ini atas kesalahannya sendiri.
Raima hanya memandanginya lekat dengan wajah penuh tanya. Bayi itu sama sekali tidak tahu apa yang dibicarakan orang dewasa di sekitarnya.
"Mas Ihsan tenang saja, meskipun saat ini Raima tidak tahu dan tidak mau padamu, tapi aku yakin... suatu saat Raima bisa menerima semua keadaan ini," ujar Ayana menenangkan.
Ihsan hanya mengangguk sebagai jawaban dan menerima apa pun konsekuensi yang pernah dirinya perbuat.
...***...
"Apa kamu pikir Raima bisa memahami keadaan kita?" tanya Zidan yang tengah memeluk sang istri dari belakang, sedangkan Ayana sedang membelai puncak kepala putri kecilnya, sayang.
Mereka saat ini sudah berbaring di tempat tidur. Tadi, sesudah makan malam bersama Ayana dan Zidan membawa kembali Raima ke kediamannya.
Mereka berpamitan kepada Ihsan dan meminta maaf jika anak itu masih belum menginginkan bersamanya.
Ihsan hanya menerima maklum dan membiarkan orang tua angkat putri kandungnya membawa Raima.
"Aku yakin suatu saat nanti Raima bisa menerima keadaan kita. Lalu, kalau Allah mempercayai kita mempunyai anak sendiri, aku akan tetap menyayangi Raima seperti putri kandung ku sendiri," tutur Ayana mengulas senyum manis.
Zidan tersenyum haru dan mengangguk setuju.
"Iya kamu benar, Sayang. Aku tidak akan membiarkan Raima begitu saja. Karena dia adalah anugerah yang telah Allah hadirkan dalam keluarga kecil kita," jawab Zidan yang hanya dijawab anggukan oleh Ayana.
Ketiganya pun tertidur bersama dan terbuai mimpi indah.
Pagi kembali menjemput hari yang baru. Semua orang melanjutkan kesibukan seperti biasanya.
__ADS_1
Ayana pun sudah kembali ke galeri hendak menyelesaikan pesanan beberapa orang lagi.
Rencananya setelah menyelesaikan keenam pesanan tersebut, ia akan vakum dulu untuk fokus kepada program hamilnya.
Di tengah kesenangan menerima beberapa pengunjung, Ayana dikejutkan dengan kedatangan seseorang.
Seorang wanita yang sudah melahirkan itu pun datang lagi ke kehidupannya.
"Bagaimana bisa kamu cepat hamil kalau terus sibuk seperti ini? Apa gunanya banyak uang kalau tidak punya anak?"
Pertanyaan itu seketika menarik atensi orang-orang yang ada di sana.
Ayana dan beberapa pengunjung menoleh ke arah sama memandangi wanita tidak diundang datang menghadang.
"Tante Mega?" Ayana sudah tidak terkejut lagi melihat wanita itu kembali berkeliaran.
"Pesanannya akan saya kirimkan nanti siang. Terima kasih banyak sudah memesan lukisan di toko kami," kata Ayana ramah.
"Terima kasih kembali, Ayana. Kami senang bisa mendapatkan lukisan luar biasa dari pelukis hebat seperti Anda. Ah, kalau begitu kita permisi dulu. Assalamu'alaikum," ucap salah satu dari mereka mengajak yang lain untuk pergi dari sana.
"Wa'alaikumsalam."
Ayana pun mempersilakan dan mengantar mereka sampai pintu keluar.
Tidak lama setelah itu, Ayana kembali berhadapan dengan Mega. Adik dari ayah mertuanya ini selalu saja datang menjadi parasit.
"Aku rasa kita sudah tidak ada urusan apa pun lagi yah, Tante. Masalah anak atau apa pun itu tidak ada kaitannya dengan Tante," balas Ayana cuek.
"Kamu-"
"Mohon maaf, mengganggu... sepertinya terjadi ketegangan di sini? Saya tidak bermaksud ikut campur, tetapi jika ini menyangkut Ayana, saya tidak bisa membiarkannya. Apa Anda mau saya panggilkan security atau keluar sendiri? Ini tempat umum lebih baik Anda perhatikan sikap." Jasmine datang membantu Ayana.
Mega seketika naik pitam dengan wajah menggelap memandangi mereka bergantian.
"Bisa-bisanya kamu membawa kaki tangan? Sungguh kurang ajar sekali." Mega mencak-mencak tidak terima.
"Tidak se-kurang ajar ibumu kan, Tante? Lebih baik Anda keluar sebelum kami panggil keamanan," lanjut Ayana yang semakin menambah kekesalan di hati Mega.
Wanita itu menghentakkan sebelah kaki seraya melihat keduanya bergantian.
Ia tidak percaya niat ingin memberitahu istri dari keponakannya untuk tidak terlalu sibuk bekerja malah mendapatkan hal tidak biasa.
"Aku tahu dari Zidan kalau mereka mau program hamil, bisa-bisanya dia menodai niat baikku? Owh, aku tidak percaya!" celoteh Mega sepanjang kakinya melangkah.
Ayana dan Jasmine saling pandang lalu tersenyum singkat.
Ayana kembali dibuat terkejut mendapatkan hal-hal tidak penting mengusik rumah tangganya.
__ADS_1
Ia berharap setelah ini dirinya dan Zidan bisa fokus pada program hamilnya.
Ia juga berharap semoga ada hasil terbaik yang bisa mereka dapatkan.