
Ketegangan masih tercipta di ruangan layaknya kamar tersebut. Ayana masih berhadapan dengan Bagus berusaha tenang dengan situasi yang dialaminya.
Ia tidak percaya akan bertemu dan bertatap secara langsung dengan pria tua ini, setelah apa yang dikatakan Jasmine.
Ia masih tidak menyangka jika di tempat itu terpasang alat pelacak. Ia tidak bisa berkomunikasi dengan siapa pun sekarang dan benar-benar hanya sendirian.
Diam-diam, sebelah tangan kanannya bergerak ke belakang dan seketika menemukan benda tersemat di punggungnya.
Dari pengalamannya melawan Alexa Mahesa, Ayana dan Jasmine menyiapkan beberapa senjata api sebagai bentuk pertahanan.
Keduanya pun sudah memperingatkan Bening untuk membawanya, tetapi wanita itu selalu menolak dengan alasan tidak akan ada yang bisa menemukan keberadaannya.
Namun, wanita informan itu keliru dan saat ini masih berhadapan dengan orang-orang suruhan Bagus.
Keberadaan Bening terancam dan sekuat tenaga tengah berusaha keluar dari permasalahan yang menimpanya.
"Oh tenang saja, Ayana. Aku tidak akan menyakiti wanita hamil seperti mu... kamu bisa menyimpan pistol itu tetap aman di belakang punggung mu."
Untuk kedua kali Ayana terkesiap dengan perkataan Bagus. Ia menyadari jika mungkin pria tua itu sudah tahu apa yang hendak dilakukannya.
"Benar juga, dia pasti tahu semuanya," benak sang pelukis kemudian.
"Jadi, apa yang ingin Anda lakukan pada saya?" tanya Ayana penasaran.
Sebelah sudut bibir Bagus tertarik membentuk seringaian tajam. Ia lalu menjentikkan jari sebagai pertanda sesuatu keluar.
Hingga tidak lama berselang, pintu kayu di samping tempat tidur tepat di samping Ayana terbuka. Suara roda mengalun memenuhi indera pendengarannya.
Sedetik kemudian Ayana kembali dikejutkan dengan pandangannya lagi. Ia tidak menduga apa yang dilihatnya saat ini benar adanya.
Entah sadar atau tidak liquid bening meluncur begitu saja di pipi. Bagus yang sedari tadi memperhatikan Ayana mendengus pelan.
"Jangan berpura-pura sedih Ayana, dia seperti ini gara-gara kamu!" Ia menunjuk Ayana tanpa gentar.
Dadanya naik turun tak karuan, seolah tengah menahan sakit yang teramat dalam. Napasnya pun memburu teringat kejadian demi kejadian telah lalu.
Bagus Prakasa dilingkupi dendam dan sakit hati hingga entah sadar atau tidak menarik senjata api di belakang punggungnya juga lalu diarahkan pada Ayana.
__ADS_1
Namun, sebelum kejadian tidak diinginkan itu melayang padanya, seseorang lebih dulu menarik pelatuk dan menjatuhkan pistol dalam genggaman Bagus. Sang empunya benar-benar terkejut, ia pikir dirinya sudah tertembak.
Ia tidak bisa merasakan sakit apalagi melihat darah, yang mana hal itu bisa membuatnya tidak tenang hingga berhari-hari lamanya.
Bola matanya bergetar dan perlahan menoleh ke samping kanan di mana ada seseorang di sana.
Adegan tersebut seketika menarik atensi Ayana juga yang mengikuti arah pandang Bagus. Ia melebarkan manik jelaganya lagi menyaksikan kakak iparnya.
"Ja-Jasmine." Panggilnya lemah.
Kedua kakinya menyerah dan jatuh begitu saja di atas lantai dengan air mata masih berderai. Jasmine yang masih mengacungkan senjata api ke arah Bagus berjalan mendekatinya.
Mereka pun saling berhadapan dengan sorot mata nyalang diberikan oleh wanita bak boneka tersebut.
"Bagus Prakasa, kaki tangan Alexa Mahesa. Saya bertanya-tanya, bagaimana Anda lolos tidak menjadi buruan polisi juga? Ah, saya mengerti sekarang... Anda bersembunyi menggunakan nama kembaran Anda... Bagas Prakasa."
"Seharusnya adik Anda yang menjabat sebagai orang nomor satu di negara, bukan? Kenapa? Kenapa Anda dengan tega mengorbankan beliau menjadi kambing hitam?"
"Bahkan dengan tangan sendiri Anda... menghabisinya. Orang-orang tidak pernah tahu jika orang yang memimpin negaranya mempunyai kembaran. Sungguh ironis sekali bukan? Orang sebaik itu harus tewas di tangan kakak kembarnya sendiri yang pandai me-manipulatif," tutur Jasmine seraya berjalan pelan menghampirinya lalu meletakkan senjata api tepat di pelipis pria tua itu.
Seperti yang sudah dikatakan Jasmine barusan, jika ia adalah kaki tangan Alexa Mahesa. Ia ikut dalam pembantaian keluarganya bahkan ikut membunuh orang tuanya dengan kejam.
Namun, ia tidak menyangka Bagus masih bisa bebas tanpa kecurigaan apa pun dari pihak kepolisian.
Mereka mengira semua anak buah Alexa sudah berada di jeruji besi dan ada beberapa yang tewas begitu saja, salah satunya Bagas Prakasa menggantikan sosok Bagus.
"Ba-bagaimana kamu tahu?" tanya Bagus gugup.
Jasmine mendengus pelan dan menarik senjatanya lalu mundur beberapa langkah ke belakang.
"Tentu saja, saya mendengar semua yang kalian bicarakan. Apa Anda tidak ingat pada saya?"
"Saya Jasmine Magnolia Mahesa, wanita yang sudah Anda bunuh orang tuanya!" jelas Jasmine kembali meletakkan pistol di pelipisnya membuat Bagus melebarkan pandangan.
Diam-diam Ayana melihat dan mendengar apa yang tengah Jasmine serta Bagus katakan. Ia terkejut dengan keyakinan sang kakak ipar untuk mengungkapkan kebenaran.
Ia juga tidak percaya saat Jasmine menceritakan mengenai Bagus dan Bagas. Mereka adalah kakak beradik kembar yang sudah dipisahkan sejak kecil.
__ADS_1
Ia tercengang, terkejut tidak percaya melihat Jasmine mengangkat senjata apinya lagi.
Orang tua Bagus dan Bagas yang telah bercerai membuat mereka hidup secara terpisah. Ayah dan ibu yang kembali menikah lagi serta mempunyai keluarga baru membuat kehidupan keduanya ikut berubah.
Bagus yang ikut bersama sang ayah setiap hari dibeda-bedakan oleh ibu tirinya. Pada saat itu mereka memiliki anak baru dan semakin melupakan dirinya, termasuk sang ayah.
Bagus hidup dalam bayang-bayang rasa sakit sampai diusia remaja ia berkelana dan sampai ke sebuah mansion terletak di ujung hutan.
Ia bertemu dengan Alexa dan menjadi akrab satu sama lain.
Beberapa tahun berlalu, di saat ia menginjak remaja Bagus menerima kabar jika kembarannya Bagas hidup dalam kemewahan.
Sang ibu dan suami barunya benar-benar mengelu-elukan Bagas. Apa pun yang diinginkannya pasti dipenuhi, salah satunya masuk ke dunia politik.
Ia dibantu serta didanai sepenuhnya oleh ibu dan ayah tiri. Bagus yang mengetahui perihal itu pun naik pitam dan tidak terima.
Selama ini ia hidup dalam kemiskinan dan kesusahan. Ia pun gelap mata, Alexa yang mengetahui itu ikut membantu dalam rencananya.
Mereka menculik Bagas yang pada saat itu sedang mencalonkan diri sebagai Presiden. Malam itu merupakan malam terakhir Bagas bisa menghirup kebebasan.
Setelahnya ia digantikan oleh Bagus sampai saat ini. Jasmine yang mendengar semua rencana mereka terkejut sekaligus takut.
Ia benar-benar menjadi saksi seperti apa kejamnya mereka dalam menghabisi Bagas pada saat itu. Suara-suara itu masih terngiang dalam pendengaran.
Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa, sebab kehidupannya juga bukanlah milik Jasmine sepenuhnya.
"Saya ada di sana saat kalian dengan tega menghabisi nyawa Tuan Bagas. Apa Anda lupa saya selalu ada di ruangan itu dan terikat layaknya binatang buas?" bisik Jasmine berlinangan air mata.
Bagus terbelalak, sadar jika Jasmine adalah satu-satunya saksi kunci seperti apa Bagas menghilang. Selama bertahun-tahun ia hidup dalam bayang-bayang kembarannya.
Ia bisa tinggal bersama ibunya lagi dan mendapatkan kemewahan yang seharusnya dinikmati oleh Bagas. Ia memenangkan pada pemilihan presiden tahun itu sampai menjabat tiga kali.
Semua itu atas bantuan ayah tirinya yang berpengaruh besar di negara tersebut.
Ayana diam tidak berkutik saat mendengar semua kebenaran mengenai Bagus Prakasa, orang yang pandai me-manipulatif dan dengan tega menghabisi nyawa kembarannya sendiri.
Seorang kaki tangan Alexa yang berhasil lolos dengan keberadaan adik kembarnya.
__ADS_1