
Teka-teki mengenai kehidupan tidak ada yang tahu. Potongan puzzle untuk menyusunnya menjadi bagian utuh harus menghadapi ujian serta rintangan tidak mudah.
Sirine ambulans bergema di jalanan ibu kota. Kendaraan tersebut tengah membawa seorang pianis berbakat di negaranya.
Sepanjang jalan Danieal dan Haikal bekerja sama untuk menghambat pendarahan dari luka tembak di tubuh Zidan.
Tidak henti-hentinya Ayana pun menangis dan menangis menyaksikan keadaan sang suami yang semakin melemah. Bening yang berada di sampingnya langsung merangkul cepat.
Ia mengusap bahu Ayana pelan sembari memberikan kata-kata penenang.
"Jangan menangis, Mbak yakin suamimu pasti akan baik-baik saja," ucapnya.
Ayana hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata. Hatinya terasa sangat sakit melihat Zidan seperti itu lagi.
Ini ketiga kali sang suami menyelamatkan hidupnya. Ayana begitu terpukul saat menyadari betapa besar perjuangan Zidan untuk melindunginya dari berbagai permasalahan.
Kurang lebih dua puluh menit kemudian, ambulans pun tiba di rumah sakit pusat kota. Buru-buru Danieal dan Haikal mendorong berankar di mana Zidan terbaring lemas di atasnya.
Kedatangan mereka menjadi pusat perhatian. Orang-orang penasaran apa yang sudah terjadi, terutama kala menyadari jika itu adalah pianis kebanggaan negara.
Zidan pun di bawa ke ruang operasi dan segera dilakukan tindakan.
Ayana, Bening, dan Gibran menunggu di luar. Mereka duduk di kursi tunggu, memanjatkan doa untuk menyelamatkan serta diberikan kelancaran bagi Zidan.
"Mbak jangan memikirkan apa pun yah, ini murni kecelakaan. Jangan menyalahkan diri sendiri lagi," ucap Gibran mengingat kejadian beberapa bulan lalu. Ia takut depresi Ayana kambuh kembali dan membuat keadaan menjadi tak terkendali.
Ayana terus diam, ia sangat terkejut menghadapi kenyataan yang ada. Luka lama yang belum sembuh harus ditimpa lagi.
Ia menyadari jika sang suami benar-benar sudah berubah. Ia terlalu dalam termakan trauma hingga tidak menyadari Zidan tulus mencintainya.
Beberapa detik kemudian Ayana mendongak memandangi dua orang yang berada di masing-masing sisi. Ia berusaha mengembangkan senyum, meskipun ada air mata mengalir.
"Apa aku benar-benar sangat dicintai sekarang? Kenapa mas Zidan terus menerus menyelamatkanku?" gumamnya lirih.
Gibran dan Bening melihat kedua tangannya bergetar. Mereka saling pandang mengerti, Ayana terguncang hebat setelah peristiwa yang baru saja terjadi.
Di perjalanan tadi, Bening mendapat kabar mengenai kejadian yang sebenarnya menimpa Ayana. Ia turut prihatin serta menyimpan amarah.
"Pria tua itu," benak Bening.
__ADS_1
Ia lalu menggenggam hangat kedua tangan Ayana menyalurkan kekuatan.
"Kamu ... benar-benar sangat dicintai. Suamimu ... Zidan telah mengakui dan menerima balasan dari perbuatannya di masa lalu. sekarang dia ... tulus mencintai dan menyayangimu, Ayana," ungkap Bening.
Atensi Ayana pun beralih padanya, kejujuran terpancar di balik sorot mata teduh Bening.
"Em, aku mengerti," balasnya singkat.
"Mas Zidan sudah banyak menderita. Ia juga menerima karma dari perbuatannya pada Mbak di masa itu dan ... sekarang mas Zidan menyadari perasaannya. Jadi, tidak ada alasan untuk Mbak meninggalkannya lagi, kan?" Gibran ikut ke dalam pembicaraan.
Kepala berhijab Ayana menoleh lalu mengangguk pelan.
"Em, terima kasih," jawabnya kembali singkat.
...***...
Operasi pun tengah berlangsung. Para tenaga medis bekerja sama untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuh Zidan.
Denyut jantung sang pasien berangsur-angsur melemah. Kepanikan serta ketakutan melanda mereka, semua orang berusaha untuk tetap tenang dan berdoa dalam diam.
Danieal yang ikut dalam tindakan tersebut menyadari satu hal, jika pria ini sangat tulus mencintai adiknya.
Ia sempat tidak menyetujui sang adik kembali bersamanya, tetapi setelah menyaksikan sendiri ketulusan tersebut Danieal bisa mempercayakan Ayana pada Zidan lagi.
"Semoga setelah kejadian ini kalian benar-benar bisa bersama kembali," benaknya di tengah-tengah operasi. "Ya Allah selamatkan lah Zidan," lanjutnya.
Selang satu jam kemudian, Ayana dikejutkan dengan kedatangan Lina dan Arshan. Ia bangkit dari duduk memandangi wajah orang tua sang suami nampak cemas, ketakutan.
Ia menghadapi mereka dengan berdiri tepat di depan kedua mertuanya seraya menunduk dalam.
"Aku sangat menyesal. Aku minta maaf, sudah membuat mas Zidan kembali terlibat masalahku lagi. Aku-"
Belum sempat Ayana menyelesaikan kalimatnya, Lina pun langsung memeluknya erat. Ia mengusap punggung sang menantu perlahan membuat sang empunya terkesiap.
"Tidak Ayana, jangan meminta maaf, ini semua bukan salahmu. Karena Zidan sendirilah yang memilih untuk melindungi mu, sebab ... dia tidak bisa kehilanganmu lagi, Ayana," ungkap Lina kemudian.
Air mata mengalir tak tertahankan. Ayana menangis dalam diam sembari membalas pelukan sang ibu mertua.
Ia menangis menyadari akan ketulusan seorang Zidan sekarang. Ia yakin jika sang suami telah mencintainya.
__ADS_1
Pemandangan tersebut membuat ketiga orang yang menyaksikannya mengembangkan senyum.
Bening tahu bagaimana keadaan Ayana saat di Desa X. Tanpa wanita itu sadari, ia selalu mendapatinya mengamuk.
Ia pun mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi menimpa Ayana. Kegagalan dalam berumah tangga serta meninggalnya sang jabang bayi menjadi faktor utama.
Bening tidak menyangka di balik senyum yang setiap saat Ayana hadirkan kala menyambut Erina menyimpan luka teramat dalam.
Ia pun terkesima dengan ketahanan Ayana dalam menghadapi setiap permasalahan. Sampai sang putri pernah berkata, "Bu aku ingin seperti kak Ayana yang selalu tersenyum manis. Meskipun kita tahu kak Ayana juga sedang menghadapi masalah hebat."
Bening kini menyadari bagaimana kekaguman Erina terhadapnya.
"Sayang, apa kamu melihat Kak Ayana di atas sana? Lihat, dia semakin hebat," benaknya.
Selang beberapa saat kemudian, Ayana pun duduk berdampingan dengan sang ibu mertua. Lina memperhatikannya dalam diam menyadari jika wajah menantunya penuh luka.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa wajahmu penuh luka seperti ini? Dan lagi-" Lina membalikan berulang kali kedua tangan Ayana. "Kenapa tanganmu juga lecet-lecet?" tanyanya khawatir.
"A-ah, i-ini. Tadi aku tidak sengaja jatuh, Mah," bohong Ayana.
Lina menyipitkan kedua mata memperhatikan dengan lekat.
Belum sempat ia mengucapkan sepatah kata, pintu ruang operasi dibuka seseorang. Kedua wanita itu pun menoleh ke arah yang sama dan mendapati Danieal keluar.
"Bagaimana operasinya, Mas?" tanya Ayana langsung.
Danieal berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan sang adik. "Maaf yah, Bu. Saya harus mengobati adik kecil ini dulu," ucapnya sembari menarik tangan Ayana menjauh dari Lina, tanpa mengindahkan pertanyaannya tadi.
Wanita itu hanya mengangguk mengerti dan mempersilakan. Ia tahu sudah ada yang terjadi, Ayana tidak memberitahunya sebab tak ingin memperpanjang masalah.
"Mamah yakin setelah kejadian yang menimpa sekarang kalian bisa bersama seperti dulu lagi. Ayana ... semoga dia melihat ketulusanmu, Zidan," gumamnya seraya melihat kepergian sang menantu.
Tidak berselang lama, Danieal membawa Ayana ke ruang kerjanya. Ia mendudukkan sang adik di atas berankar lalu bergegas mencari obat-obatan.
"Mas, bagaimana operasinya?" tanya Ayana langsung.
Di tengah kesibukannya di atas meja, Danieal mengangkat kepala hingga pandangan mereka bertemu. Ayana menautkan kedua alis melihat air muka sang kakak sulit ditebak.
Seketika perasaan tidak mengenakan pun hinggap di jurang hati terdalam mengenai kondisi Zidan saat ini.
__ADS_1