
"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (Q.S. Al-Baqarah: 153)
Setiap perjalanan hidup pasti ada saja ujian datang menerjang. Air mata menjadi teman setia kala bibir tidak bisa mengutarakan perasaan.
Hanya diri sendiri yang memahami bagaimana luka itu tumbuh seiring berjalannya waktu. Kepedihan, kesakitan, serta perihnya pengkhianatan melunturkan kepercayaan.
Namun, setelahnya akan ada senyum kelegaan hadir atas peristiwa yang berhasil di lalui.
Ayana adalah wanita korban keegoisan. Ia terjebak cinta pada pandangan pertama yang menjerumuskannya pada kengerian semata.
Kini tepat di hadapannya ia bertemu kembali dengan pria yang dulu sangat dicintai. Hari itu tidak ada yang lain, selain nama Zidan Ashraf di hatinya.
Ayana dibutakan oleh pesona kepalsuan yang dipancarkan Zidan. Sang pianis menghipnotisnya dalam lantunan nada-nada manis.
Pernikahan nyatanya tidak membuat Ayana bahagia. Ikatan suci itu hanya memperlihatkan dusta nestapa semata.
"Oh Tuan Zidan? Apa yang membawa Anda ke sini lagi?" tanya Ayana kembali bersikap formal.
Zidan masih menatap lekat sepasang manik jelaga tepat di hadapannya. Degup jantung bertalu kencang, ia merasakan darahnya berdesir membuat kedua pipi merona.
Detik itu juga Zidan ingin merengkuh dan membisikan kata-kata yang selama ini mengendap dalam dada. "Aku sangat merindukanmu, Ayana," benaknya.
"Tuan?" Ayana mengibas-ngibaskan tangan tepat di depan wajahnya.
Zidan terperangah, tersadar dari lamunan. "Ah, aku minta maaf. Bisakah kamu tidak bersikap formal padaku? Aku ... ingin lebih dekat denganmu."
Ayana mengulas senyum simpul. "Kenapa? Karena aku mirip dengan mendiang istrimu?" Nada ketus terdengar.
Belum sempat Zidan mengelak, suara pintu dibuka menarik perhatian. Kedua insan itu pun menoleh kompak ke samping di mana wanita bersurai hitam legam sepunggung tengah menatapnya lekat.
Bibir semerah cerry itu tersungging lebar. Ia melipat tangan di depan dada menyaksikan kebersamaan mereka.
"Sungguh situasi yang mengingatkan pada masa lalu. Kenapa Mas Zidan ada di sini? Oh, apa mungkin selama ini kalian sering bertemu? Ah, atau Mas Zidan menganggap dia Ayana?" tunjuknya menggunakan dagu ke arah Ayana.
__ADS_1
"Bella? Kenapa kamu datang ke sini? Apa mau, hah?" Zidan geram mengepalkan kedua tangan kuat.
Ayana yang menyaksikan itu pun mengerutkan dahi dalam. Ia beranjak dari duduk memperlihatkan gamis putihnya banyak sekali terkena noda cat warna yang memperlihatkan gradasi begitu indah.
"Sepertinya kalian butuh waktu untuk bicara, silakan selesaikan apa yang harus diselesaikan," kata Ayana yang hendak pergi dari sana.
Namun, secepat kilat Zidan mencengkram pergelangan tangannya membuat sang empunya menoleh ke belakang.
Pandangan hangat, penuh harap pun terpancar. Ayana kembali menautkan alis singkat baru pertama kali melihat ekspresinya itu.
"Jangan pergi, aku mohon." Nada lembut terdengar menyapu indera pendengaran.
Ayana merinding, menggelengkan kepala berhijabnya pelan tidak mengerti apa yang terjadi pada sosok di depannya ini.
"Siapa orang ini? Apa dia benar-benar Mas Zidan yang aku kenal?" benaknya berkutat dengan diri sendiri.
"Oh, sungguh pemandangan yang mengharukan. Apa ini namanya reuni sepasang suami istri yang sudah lama terpisah?" Perkataan Bella menyadarkan.
Ayana menarik tangannya kasar menghempaskan jari jemari kekar Zidan. Seketika tangan sang pianis mengambang di udara.
"Saya tidak mengerti apa maksud, Anda," kata Ayana lagi.
Bella menyeringai lebar, kedua kaki jenjangnya melangkah membuat hentakan heels bergema di ruangan.
Tidak lama berselang kedua wanita itu pun saling berhadapan. Seperti naga dan harimau, pandangan mereka mengalirkan arus listrik yang tidak ingin mengalah satu sama lain.
Ayana paham ada apa di balik seringaian yang terus menerus diberikan Bella. Wanita itu tidak sedikit pun mengalihkan pandangan.
Firasatnya mengatakan jika akan ada sesuatu datang menerjang. Diam-diam Ayana melipat jari jemarinya kuat.
"Aku tahu ... dia pasti sudah menemukan sesuatu tentangku. Tidak mungkin dia seberani ini ... jika tidak menggenggam kelemahan orang lain. Bella, bukanlah wanita yang bisa di hadapi dengan mudah. Sekali curiga, dia akan terus mencari tahu untuk mengalahkan musuhnya."
"Seperti waktu itu ... saat kami masih sekolah, dia pernah bermain curang untuk membuat anak pintar di kelas kami turun peringkat. Dia menggunakan kekayaan keluarganya agar anak itu mau mengikuti apa yang diinginkannya. Sangat licik, dia wanita yang sangat berbahaya," monolog Ayana memperhatikan Bella lekat.
__ADS_1
"Namun, setelah kedekatan kami ... aku jadi tahu bagaimana dia sebenarnya. Aku yakin, bisa membuat dia sadar. Aku tidak boleh menyerah begitu saja," lanjutnya lagi.
"Apa Mas selama ini mengira Ayana benar-benar sudah meninggal?" tanya Bella tanpa mengalihkan pandangan.
Zidan diam menatap mereka yang enggan mengalah. Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban, Bella pun menoleh ke samping kiri seraya tersenyum lebar.
"Apa Mas menganggap Ayana sudah meninggal?" tanyanya sekali lagi.
Zidan bingung tidak tahu harus berkata apa. Di satu sisi ia melihat sendiri bagaimana jenazah wanita satu tahun lalu mirip dengan sang istri. Namun, di sisi lain ia percaya jika wanita bernama Ghazella ini adalah Ayana.
"Aku ... tidak tahu," ungkapnya ragu.
"Aku tahu Mas akan berkata seperti itu. Baiklah-" Bella mundur beberapa langkah lalu kembali melipat tangan di depan dada.
"Dua belas januari, satu setengah tahun yang lalu Ayana Ghazella pergi dari rumah suaminya. Dia-"
"Tunggu! Apa? Kamu tadi menyebutkan siapa?" Zidan memotong ucapan Bella cepat lalu berjalan ke depan sangking penasaran.
Bella semakin tersenyum lebar. "Sayang, apa kamu sebegitu penasarannya dengan apa yang aku katakan tadi?" ujarnya menggoda.
Zidan memasang wajah dingin membuat Ayana terdiam kaku. Bari kali ini ia melihat ekspresinya seperti itu saat menatap Bella.
Ia tidak tahu apa yang sudah terjadi selama dirinya menghilang. Karena selama itu pula Ayana sama sekali tidak mencari tahu keadaan mereka.
Baginya dua orang itu sudah menghilang dalam kamus kehidupan. Namun, entah kenapa takdir kembali mempersatukan.
Ia menonton dalam diam drama tepat di depan mata kepalanya. Ia masih memperhatikan permainan apa lagi yang hendak Bella rencanakan.
"Mari kita lihat apa yang akan dia lakukan padaku sekarang. Aku tidak akan pernah mundur, sekalipun kamu tahu kebenarannya," benak Ayana mengangkat sebelah sudut bibir menyaksikan interaksi Zidan dan Bella.
Kedua orang itu pun masih saling pandang, Zidan menunggu apa yang hendak Bella sampaikan. Wanita di hadapannya masih membungkam mulut rapat seraya mengangguk-anggukan kepala.
Senyum yang melengkung di wajah cantiknya semakin menambah misteri. Zidan tidak tahu jika selama ini Bella mencari tahu siapa itu Ghazella Arsyad sebenarnya.
__ADS_1
Rasa penasaran mendorong ia untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya mengenai sosok yang mirip Ayana tersebut.
Selama itu pula Bella sudah menyuruh orang guna mencari tahu masa lalu Ghazella. Sampai ia pun mendapatkan informasi akurat yang bisa mengalahkan Ayana. Ia sudah mengantongi kelemahannya membuat ia percaya diri.