
"AYANA!"
Suara teriakan bergema di mansion mengejutkan para penghuni lain. Mereka bergegas mendekati asal bunyi tadi di ruang piano.
Di sana Zidan tengah sibuk berkutat dengan benda pintar miliknya. Berkali-kali ia mencoba menghubungi sang istri kembali, tetapi nihil tidak ada jawaban apa pun.
Ia dilanda panik saat beberapa saat lalu mendengar suara tembakan di seberang sana. Ia terus berusaha menghubungi Ayana dan hasilnya sama saja.
"Apa yang terjadi?" Haikal datang mendekat.
"Ayana ... tadi, tadi aku mendengar suara tembakan. Aku takut terjadi sesuatu padanya," jawab Zidan lemas.
"Tuan tenang dulu, jangan berpikiran yang macam-macam," timpal Haikal lagi.
"Bagaimana aku bisa tenang? Istriku sedang di luar dan tadi terdengar tembakan, BAGAIMANA AKU BISA TENANG?" Zidan meninggikan nada suara.
"Aku harus menghubungi Danieal." Ia pun beralih menghubungi sang kakak ipar.
Tidak sampai sepuluh detik Danieal langsung menjawab panggilannya.
"Apa yang terjadi pada Ayana?" tanyanya to the point tanpa mengucapkan salam sangking takut akan keberadaan sang istri.
"Ayana diculik, saat ini aku sedang menuju ke tempat di mana ia berada," ungkapnya semakin mengejutkan.
"APA? Bagaimana bisa? Beritahu aku ke mana kamu akan pergi?"
"Lebih baik kamu di rumah saja, masalah ini-"
"Bagaimana mungkin aku bisa diam di rumah, sedangkan di luar sana istriku sedang dalam bahaya? CEPAT BERITAHU AKU!" teriak Zidan murka.
"Baiklah-baiklah." Danieal pun mematikan sambungan telepon.
Tidak lama setelah itu Zidan menerima pesan masuk ke salah satu aplikasi chat dan mendapati lokasi yang dimaksudkan Danieal.
Tanpa pikir panjang ia langsung mengajak Haikal untuk segera ke tempat tersebut.
...***...
Bau laut seketika merambat ke indera penciuman. Samar-samar ia bisa mendengar deburan ombak menyapa pendengaran.
__ADS_1
Perlahan kesadaran menguasai, Ayana terkejut saat dirinya tengah duduk di sebuah kursi kayu dengan kedua tangan terikat ke belakang serta kakinya pun diikat kuat.
Mulut menawannya pun diplester dan kedua mata ditutup seutas kain hitam. Ia tidak bisa melihat di mana dan dengan siapa saja berada di sana.
"Sepertinya kamu sudah siuman, Sayang."
Suara itu membuat Ayana menggigil dan langsung memalingkan wajah kala belaian menyapa pipi sebelah kanan.
"Eum ... hemm." Ia berusaha mengeluarkan suara.
"Jangan takut Honey, saya tidak akan menyakitimu, tetapi ... saya bisa memberikanmu kenikmatan tiada tara."
Ayana kembali merinding mendengar kata-kata menjijikan tepat di samping daun telinganya. Gerakan jari jemari sensual itu pun membuatnya semakin tidak karuan.
Ayana berusaha menjauh dengan menggeser kursi yang tengah diduduki.
"Jangan takut." Pria tua di samping pun menahannya kuat. "Kamu akan melihat semesta yang sesungguhnya."
Tidak lama setelah itu kain penghalang matanya dilepas. Ayana membuka kelopaknya lagi dan seketika melihat beberapa orang di sana.
"Sudah aku duga, merekalah dalang di balik semua ini. Bella ... apa yang sebenarnya ia inginkan dariku? Apa selama enam tahun tidak cukup membuatku menderita? Setelah merencanakan keguguran anakku, apa sekarang dia ingin mengambil nyawaku juga?" benak Ayana menyaksikan sang mantan madu tengah melipat tangan di depan dada.
Bella menyeringai padanya seraya memberikan tatapan pongah. Dalam diam ia bersorak, yakin akan kemenangan yang dirinya pikir sudah didapatkan.
Ayana semakin menatapnya nyalang. Dadanya naik turun menahan emosi yang kian membuncah. Ia berusaha melepaskan tali yang melilit di pergelangan tangannya.
Bella seketika tertawa kencang menyaksikan sorot mata serius dari Ayana. Setibanya di hadapan sang lawan bicara, ia merunduk lalu mencondongkan tubuh tepat di samping telinga sang pelukis.
"Selamat datang di kehidupanmu yang sesungguhnya, Ayana. Mulai hari ini kamu akan hidup bersama Presdir Han dan aku ... akan hidup bahagia dengan mas Zidan. Tenang saja, pria tua itu sangat mencintaimu. Kita akan sama-sama bahagia." Bella pun kembali menarik dirinya sembari mengulas senyum lebar.
"Dalam mimpimu," benak Ayana.
"Aku memang sudah tahu jika kalian dalang di balik semua ini," lanjutnya membatin.
"Sungguh reuni yang tidak disangka-sangka. Saya tidak mengira jika kalian berdua pernah hidup bersama dengan satu pria." Presdir Han menyela membuat atensi kedua wanita itu beralih padanya.
Lagi dan lagi pria tua tidak tahu diri itu memandang penuh memuja pada Ayana. Ia beralih ke hadapan sang pujaan dan menyamakan tingginya.
Kedua wajah mereka saling berdekatan membuat Ayana kembali memalingkan wajah. Namun, tua bangka itu tidak mengizinkannya.
__ADS_1
Ia menggenggam dagu tegas Ayana membuatnya bertatapan lagi. Wanita itu tidak gentar dan terus memberikan sorot mata tidak suka.
"Apa kamu ingin mengatakan sesuatu, Sayang? Biar saya lepaskan plester ini." Presdir Han lalu melepaskan penutup di mulut Ayana.
Seketika benda kenyal berwarna merah cerah itu pun terlihat. Presdir Han menggerakkan lidah pada bibirnya sensual. Melihat itu baik Ayana maupun Bella merasa mual.
"Apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Ayana dengan suara teredam.
"Tentu saja, saya ingin memilikimu, Sayang," kata Presdir Han lagi sembari membelai pipi kanan Ayana.
Ia lalu beralih pada Bella yang berdiri tepat di belakang pria itu. Sang pianis masih menyeringai sembari melipat tangan di depan dada.
"Baiklah saatnya ke permainan utama." Senyuman sang pengusaha pun mengandung makna berbeda.
Ayana menyaksikan Presdir Han melepaskan jas tiga stel yang membungkus tubuhnya lalu diberikan pada sang asisten.
Ia lalu melihat Bella memasang tripod dan juga menyiapkan kamera. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Perbuatan tidak senonohnya ini bisa menjadi boomerang baginya," benak Ayana.
Tidak lama setelah itu Presdir Han pun kembali mendekat lalu merunduk hendak mencapai wanita yang sudah lama digilainya.
Obsesi parah membuat pengusaha ternama tersebut melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Ia tidak peduli dengan keluarganya sendiri dan mementingkan hasrat semata.
"Mari kita bersenang-senang, Sayang," ucapnya semakin merunduk seraya menggenggam erat kedua bahu Ayana.
Wanita itu diam tidak bergeming membuat Bella yang berada di balik kamera tersenyum lebar. Ia sangat bersyukur bisa melihat kejadian tersebut tepat di depan mata kepalanya sendiri.
Ia tertawa puas dalam benak menyaksikan kehancuran seorang Ayana.
"Rasakan, mulai saat ini kamu tidak bisa pergi ke manapun. Siapa suruh melawan Bella? Kamu sudah salah berurusan denganku, Ayana. Balasan yang aku berikan jauh lebih parah, bukan?" benaknya melihat Presdir Han mengungkung tubuh Ayana.
Ia berpikir jika pria tua itu sudah menguasai mantan teman sekolahnya dulu. Ia semakin kegirangan kala kemenangan sudah berhasil diraih.
Kamera yang berada dalam pengendaliannya pun sedari tadi sudah merekam kejadian di depan.
Semua orang yang berada di belakangnya hanya bisa melihat punggung Presdir Han seolah sudah menguasai Ayana.
__ADS_1
Mereka saling pandang ikut senang kala obsesi sang tuan kini tengah disalurkan. Beberapa anak buah Presdir Han juga mengabadikan momen tersebut untuk mendapatkan kompensasi besar.
Mereka yakin dengan perasaan berbunga-bunga sang pengusaha bisa memperoleh penghasilan lebih banyak.