
Ayana yang masih dilingkupi harap-harap cemas dari dua orang di hadapannya memudarkan senyum saat samar-samar dari luar ruangan mendengar beberapa orang tengah melemparkan kata-kata menarik.
Apa yang sampai pada pendengarannya membuat ia terpaku.
Rasa penasaran membawanya bangkit dari duduk dan melangkah perlahan mencapai pintu. Manik jelaga itu memandangi handle dalam diam masih mencoba memfokuskan pendengaran.
Sampai perasaan itu tidak bisa ditahan lagi membuat Ayana langsung menggeser pintu. Baik penghuni di dalam maupun di luar sama-sama menatap ke arahnya. Mereka terkejut akan pergerakan secara tiba-tiba yang ia lakukan.
Seketika itu juga Ayana mendapati sang suami dan putri pertamanya tengah tertidur lelap, serta dua orang lain yang sama sekali tidak ia ketahui.
Ia menatapnya bergantian, sampai perhatiannya hanya pada Zidan semata.
"Apa yang terjadi di sini?"
Pertanyaan itu mengundang atensi mereka untuk tetap bertahan padanya. Ayana kembali memandangi kedua orang asing tersebut menuntut penjelasan.
"Ah, Sayang... kenalkan mereka ini adalah keluarga Jasmine."
"APA? Ke-keluarga? Bagaimana-"
"Itu benar Ayana, mereka adalah Tante Rusli dan juga Darius," ungkap Jasmine dari arah belakang.
"EH?"
Sontak penjelasan Jasmine tadi juga sangat mengejutkan Danieal. Sedari tadi ia menahan rasa penasaran untuk tidak menanyakan siapa dua orang dimaksud Jasmine pun, kini sosoknya tepat berada di depan mata kepalanya sendiri.
Perlahan bibir menawannya terbuka menyaksikan dua anggota keluarga Jasmine muncul.
Tidak lama berselang, Rusli dan Darius melangkahkan kaki masuk ke dalam melewati Ayana begitu saja.
Tentu, pelukis cantik itu mengerutkan dahi dalam, masih tidak percaya bisa mendapati keluarga sahabatnya, Jasmine.
"Tunggu! Jadi mereka orang yang kamu ceritakan?" tunjuk Ayana kepada dua orang di sebelahnya dan menatap lurus pada Jasmine.
"Itu benar, Ayana. Mereka Tante Rusli dan Darius yang sudah aku ceritakan," jelas Jasmine lagi.
Seketika Ayana membungkam mulutnya menggunakan kedua tangan. Ia berjalan selangkah ke depan memperhatikan mereka, terutama Darius.
Sama seperti yang dipikirkan suaminya beberapa saat lalu, pria itu tidak jauh berbeda dengan Jasmine. Wajah, bola mata, warna kulit, sama persis, dan yang membedakan hanyalah gender mereka saja.
"MasyaAllah, kalian terlihat kembar." Ayana berkaca-kaca memandangi keduanya bergantian.
Di tatap sebegitu nya oleh orang lain membuat Darius pun mengerutkan dahi, heran. Ia langsung menunjuk pada Ayana dan menatap Jasmine.
__ADS_1
"Dia siapa? Apa wanita ini orang aneh? Kenapa dia terus menatapku seperti itu?" tanyanya to the point."
"Apa, aneh? Hei! Siapa yang kamu sebut aneh itu, hah?" Ayana berkacak pinggang dan menatap nyalang pada Darius.
Perseteruan keduanya pun mengundang gelak tawa, menghilangkan ketegangan di antara mereka. Zidan sebagai suami siaga mencoba melerai keduanya.
Namun, bak kakak dan adik yang sudah lama terpisah, Ayana serta Darius tidak ada yang ingin saling mengalah.
Mereka terus melemparkan kata-kata yang semakin membuat suasana di sana menjadi lebih hangat.
...***...
Selepas kejadian beberapa saat lalu, mereka berkumpul bersama di dekat ranjang Jasmine. Ayana duduk di ujung tempat tidur dengan Raima terlelap di depannya, Rusli di sofa tunggal, sedangkan ketiga pria itu berdiri di sana sini.
"Tante, Darius, kenalkan wanita di depanku ini adalah Ayana Ghazella... atau yang lebih dikenal sebagai Ghazella Arsyad. Beliau seorang pelukis ternama yang selama ini sudah membantuku."
"Berkat bantuan Ayana, suaminya Mas Zidan, dan kakaknya Mas Danieal... aku bisa bertahan sampai sejauh ini. Ayana lah orang pertama yang menarik ku dari kegelapan, dia juga yang memperlihatkan padaku warna-warni kehidupan."
"Lewat lukisannya, aku termotivasi dan juga mendapatkan dukungan penuh. Berkat bantuan mereka, aku bisa melewati semuanya. Jika bukan karena Ayana dan yang lain, mungkin... aku masih berada di sangkar emas mengerikan itu dan-"
"Apa maksudmu bertemu mereka? Bukankah selama ini kamu dikurung?" potong Darius cepat.
Jasmine langsung memfokuskan perhatian pada sepupunya.
Darius mengangguk mengerti dan kembali membiarkan sepupunya bercerita.
Jasmine pun mengatakan semuanya pada Rusli dan Darius siapa ketiga orang di ruangan itu sebenarnya. Keduanya pun terkejut, ternyata mereka bukanlah orang sembarangan. Terlebih saat mendengar nama belakangnya disebutkan.
Dua nama itu berasal dari keluarga konglomerat dan dokter yang sudah turun temurun dari dulu, sama seperti keluarga Mahesa.
Setelah beberapa saat kemudian, Rusli menghadap Rania dan menggenggam tangannya hangat. Sang empunya pun terkejut dan mendapati sorot mata lembut dari wanita baya itu.
"Tante ingin mengucapkan banyak terima kasih. Karena selama ini sudah membantu Jasmine keluar dari permasalahannya. Tante sebagai orang tua... tidak bisa membantu apa pun dan membiarkan dia tersiksa baik secara fisik maupun mental."
"Ayana... namamu sangat indah. Tante benar-benar berterima kasih sekali padamu, Nak. Berkat kebaikan serta ketangguhanmu, Jasmine terbebas dari siksaannya."
"Sekali lagi terima kasih." Rusli tidak sanggup menahan air mata haru, lega, dan tenang datang bersamaan.
Sebagai orang tua yang sudah membesarkan Jasmine sepuluh tahun, Rusli merasa bertanggungjawab atas kehidupannya.
Namun, tanpa sadar ia malah memberikan luka teramat dalam, sebab tidak bisa mencegah perbuatan sang suami.
Menyaksikan Rusli yang begitu berterima kasih padanya, Ayana ikut terharu. Cairan bening menitik seraya kepala berhijabnya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Sudah menjadi kewajiban saya, Tante untuk melepaskan Jasmine dari rantai kejam itu. Saya tidak bisa melihatnya terus disakiti oleh pamannya sendiri. Jangan berterima kasih... karena semua ini atas perjuangan Jasmine seorang diri," katanya.
Mereka pun saling berpelukan erat mengutarakan perasaan lega secara bersamaan.
"Berkat Ayana juga... aku bisa lebih mengenal Tuhan... dan memakai hijab ini. Bagaimana penampilanku?" tanya Jasmine selepas mereka melepaskan pelukan.
"Aku sangat terkejut saat pertama kali melihat perubahanmu," kata Darius membuat Jasmine mengulas senyum lebar.
"Em, Alhamdulillah. Tante minta maaf tidak menerapkan pelajaran agama padamu sejak dini," kata Rusli menyesal.
"Tidak apa-apa, Tante... aku mengerti," balas Jasmine tulus.
Kini giliran mereka yang berpelukan melepaskan penyesalan satu sama lain. Melihat itu Danieal merasa damai bisa menyaksikan keluarga tersisa dari Jasmine.
Keinginan itu semakin menguat, kedua tangan saling mengepal erat dengan sorot mata serius. Zidan yang berada di sampingnya sedari tadi terus memperhatikan.
Ia memahami isi hati sang kakak ipar, sebagai sesama pria, Zidan bisa membaca apa yang tengah dipikirkannya.
Ia pun menepuk pundak Danieal pelan membuat sang empunya langsung menoleh.
"Lakukanlah, jika menurutmu ini yang terbaik!" bisiknya memberikan dukungan.
"Kamu-"
"Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Lakukan, sebelum kesempatan itu hilang, kamu... ingin mendapatkannya, kan?"
Pertanyaan itu seketika membuat maniknya melebar sempurna. Danieal mengangguk pelan lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan.
Selepas meyakinkan diri dan mendapatkan dukungan penuh dari adik iparnya, Danieal memandangi Jasmine serta keluarganya dengan tegas.
"Bisa... bisa saya berbicara sebentar?" pintanya menarik atensi.
Semua perhatian langsung tertuju padanya. Darius menautkan alis kala membaca gerak-gerik dokter tampan itu.
"Apa ada yang salah?" tanya Jasmine langsung.
"Tidak! Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu."
"Jasmine, aku tidak bisa menahan perasaan ini lebih lama lagi. Detik ini juga, di hadapan Tante dan juga sepupumu, aku ingin melamar mu sebagai calon istriku."
"Aku sangat mencintaimu, Jasmine. Maukah kamu menikah denganku?"
Pertanyaan kedua kalinya tercetus jua, semua orang yang ada di sana terbelalak tidak percaya.
__ADS_1
Ayana dan Zidan terkesan pada keseriusan serta keberanian Danieal melamar Jasmine lagi.