Bunga Air Mata

Bunga Air Mata
SEASON 4 CHAPTER 5


__ADS_3

Untuk kesekian kali ujian datang menghadang. Kali ini begitu perih jika dibandingkan dengan hari-hari saat dikurung bagaikan sangkar emas.


Benda itu nyata terlihat jelas di depan mata kepalanya sendiri, bagaimana besi tersebut melilit kedua kakinya.


Namun, saat ini ada ikatan tak kasat mata yang tengah membelit perasaan. Bagaikan tertimpa batu berton-ton tepat di atas pundak, Jasmine tidak sanggup harus melangkahkan kedua kakinya lagi.


Bagaikan anak panah melesat tepat sasaran, memberikan lubang tak kasat mata begitu dalam.


Perih, sakit, nan pedih fakta yang harus diterimanya. Ia pikir dirinya baik-baik saja, tetapi nyatanya harapan tinggallah harapan semu semata.


Ia duduk di bangku taman depan rumah sakit mengistirahatkan mentalnya yang begitu lelah di sana. Sambil menggenggam hasil pemeriksaan mengenai dirinya beberapa saat lalu.


Masih segar dalam ingatan perkataan dokter kandungan di ruangan tadi menjelaskan perihal kondisinya sekarang.


Ingatannya pun berputar ke beberapa saat yang lalu.


"Sindrom ovarium polikistik ini memang jarang terjadi pada wanita. Hanya lima sampai sepuluh persen saja wanita yang mengalaminya."


"Wanita yang mempunyai PSOC ini terdapat kista-kista kecil terbentuk di dalam ovariumnya. Hal tersebut akibat tidak adanya ovulasi atau pelepasan sel telur dan... sel telur tidak bisa dibuahi. Inilah yang menjadi dasar kenapa penderita PSOC-" Dokter Halimah menjeda ucapannya membuat Jasmine semakin tak karuan.


Iris beningnya menatap dalam sang pasien, penuh makna dan sedikit tidak tega. Namun, sebagai seorang dokter itulah kenyataan yang harus diberikan.


Jasmine pun dibuat sangat penasaran sekaligus takut di waktu bersamaan. Sebelah tangannya mengelus pelan perut ratanya sendiri mencoba tenang pada apa yang akan terjadi.


Baik dan buruk, situasi saat ini harus tetap Jasmine jalani.


"Wanita yang menderita sindrom ini... akan sulit hamil."


Manik keabuan Jasmine melebar sempurna, hatinya begitu sakit mendengar hasil dari dokter secara langsung.


Ia pikir dengan muntah-muntah sepanjang waktu adalah tanda-tanda dirinya hamil. Namun, ternyata ada gejala lain yang tengah mengendap di dalam diri.


Jasmine diam, merasakan perih, seperti ada belati menyayat-nyayat perasaan. Ia tidak bisa berbuat apa pun selain bungkam dan menerima kondisinya.


"Apa selama ini mentruasi Anda tidak teratur?" tanya dokter itu lagi.


Jasmine terkesiap, mengingat kembali hari-hari telah lalu beberapa tahun ke belakang. Di saat dirinya masih terkurung di ruangan mansion keluarga Mahesa, ia mengalami masalah dalam mentruasi.


Tamu yang seharusnya datang setiap bulan, nyatanya datang secara tidak teratur.


Dengan lemah, kepala berhijab itu mengangguk singkat. Halimah mengulas senyum simpul, mengerti dan memahami keadaan sang pasien.

__ADS_1


Memang tidak mudah menerima fakta yang menyakitkan, terutama berhubungan dengan kewanitaan, apalagi pada seseorang yang sudah menikah, seperti Jasmine. Pasti keberadaan sang buah hati benar-benar didambakan.


"Kemungkinan itu menjadi faktor kenapa Anda bisa mengalami sindrom ini. Juga, ada yang disebabkan oleh faktor keturunan," jelas Halimah kembali.


"Apa bisa disembuhkan, Dok? Apa saya masih bisa hamil?" tanya Jasmine buru-buru, berharap lebih.


Dokter kandungan itu pun mengembangkan senyum singkat. "Tentu, tidak ada penyakit tanpa obatnya. Allah menurunkan penyakit pasti dengan obatnya, kecuali... penyakit tua, dan tua juga bukanlah penyakit, tetapi faktor umur yang tidak bisa diganggu gugat," ujarnya dengan sedikit candaan.


Jasmine tersenyum simpul, ada sedikit kelegaan dalam dada.


...***...


Namun, kondisinya sekarang benar-benar membuatnya terpukul. Ia tidak bisa memberikan keturunan dalam waktu dekat.


Sudah beberapa kali ibu mertua menanyakan perihal kapan mereka punya anak dan jawaban Daenial tetap sama, belum dipercaya.


Jauh di lubuk hati paling dalam, Jasmine tahu seperti apa perasaan sang suami kala ibunya bertanya mengenai anak.


Sakit, tentu saja. Pertanyaan bersifat pribadi itu memang tidak layak ditanyakan oleh siapa pun, termasuk keluarga sendiri.


Pertanyaan sensitif tersebut bisa saja menimbulkan luka teramat perih pada seseorang. Kita tidak pernah tahu apa yang dirasakan oleh si penerima, sang penanya bisa bersikap biasa saja, tetapi dampaknya sangat besar.


Ia menikmati angin yang berhembus di sekitar. Iris indahnya memandangi orang-orang berlalu lalang, tanpa melakukan pergerakan berarti.


Tanpa sadari kristal bening meluncur begitu saja di kelopak matanya. Jasmine terkesiap dan mengusapnya pelan lalu memperhatikannya dalam.


"Sudah berapa lama aku tidak menangis sedih seperti ini? Ya Allah, apa lagi sekarang?"


"Astaghfirullah, Jasmine... apa yang harus kamu lakukan?" Ia merunduk menyembunyikan wajah pilu di lengannya sendiri.


Beberapa saat kemudian ponsel di tas selempang bergetar. Jasmine tersentak dan buru-buru mengeluarkan benda pintar tersebut dan melihat nama Ayana di layar.


"Apa yang harus aku katakan? Pasti Ayana akan bertanya di mana aku sekarang," gumamnya masih memandangi layar ponsel.


Sampai panggilan itu pun berakhir dengan sendirinya. Baru saja Jasmine menghela napas kasar, ponselnya kembali bergetar.


Ia melebarkan pandangan, melihat nama yang sama di sana.


"Baiklah," katanya lagi dan menerima panggilan tersebut.


"Assalamu'alaikum, Jasmine kamu di mana?"

__ADS_1


Suara di seberang sana terdengar khawatir, sekaligus takut.


"Benarkan apa yang aku pikirkan? Ayana pasti bertanya aku di mana," benaknya kemudian.


"Wa'alaikumsalam, ah, aku sedang keluar sebentar. Aku sudah minta izin sama mamah... ada apa? Apa kamu butuh sesuatu?" tanya balik Jasmine.


Ayana di ujung sana diam beberapa saat, sang mantan pemahat patung itu pun mengerutkan dahi dan sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Tidak, aku tidak membutuhkan sesuatu. Hanya saja aku khawatir ke mana kamu pergi... tidak biasanya kamu pergi sendiri. Biasanya kamu selalu mengajakku," jelas Ayana.


Jasmine terkekeh pelan dan kembali meremas surat dalam genggaman.


"Oh, aku kira kamu mau titip sesuatu. Em... aku hanya sedang mencari keperluan memahat batu kristal, kamu tahu sendiri alat-alat di rumah sudah jelek, lagipula kamu baru saja habis melahirkan, bagaimana bisa aku mengajakmu jalan-jalan di luar?" dusta nya diselingi candaan.


"Kamu juga yang menggunakannya terlalu berlebihan. Ah, iya kamu benar juga. Oh iya, di mana kamu sekarang? Cepat pulang, sebentar lagi mas Danieal pasti bangun, jangan kelamaan," kata adik iparnya lagi.


Jasmine mengangguk singkat, walaupun ia tahu Ayana tidak bisa melihatnya.


"Em, aku akan segera pulang. Assalamu'alaikum."


"Baiklah, wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan."


Setelah itu panggilan pun berakhir. Jasmine mendongak, melihat langit yang tidak memperlihatkan keindahannya.


Awan gelap terus datang mengenyahkan kecerahan. Ia kembali menghela napas pelan memikirkan nasib apa yang akan mendatanginya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak mungkin memberitahu mas Danieal, Ayana, ataupun mamah kalau... aku mengidap kisata."


"Kemungkinan hamil sangatlah kecil dan bahkan lama. Bagaimana kalau aku tidak bisa memberikan keturunan untuk mas Danieal? Terlebih usia kami berdua tidak muda lagi."


"Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Hamba percaya Engkau Maha Tahu, pasti memberikan yang terbaik untuk kami. Maka... kuatkan lah hamba ya Rabb," racau Jasmine masih mendongak memandangi langit sore ini.


Hiruk pikuk di sekitar masih terdengar riuh, tetapi tidak sedikitpun mengganggu kesendirian. Jasmine terus meremas surat pemberitahuan tersebut menjadi kusut seketika.


Tidak ada kejadian tanpa izin dari Sang Pemilik Kehidupan. Semua yang terjadi di muka bumi tidak terlepas dari takdir-Nya.


Begitu pula dengan kondisi serta keadaan setiap hamba. Masing-masing darinya mempunyai kehidupan berbeda-beda.


Kisah satu sama lain tidak ada yang sama, serupa? Mungkin bisa, tetapi hanya diri sendiri yang tahu seperti apa rumitnya kisah ini.


Jasmine, berusaha tegar menghadapi penyakit yang dideritanya.

__ADS_1


__ADS_2